4. Kemunculan yang Tak Terduga

2971 Words
Sherly Zanna Hari ini gue bakalan bawa calon suami gue ke butik. Jadi lo bisa ukur size badannya. See you jam 11. Lisa menghela nafas setelah membaca pesan yang baru saja diterimanya. Rangkaian kata di layar ponselnya bagaikan sebuah serangan kabar buruk di pagi hari yang cerah ini. Sherly memang tak pernah gagal untuk selalu membuatnya frustasi.  Wanita itu seenaknya saja membuat jadwal temu dadakan dengannya. Padahal ia bukanlah pengangguran yang tanpa kesibukan dan bisa dengan bebas menerima kedatangan klien tanpa membuat janji. Sherly memang sesuai sikap khasnya. Berbuat sesukanya. Lisa tak mungkin menolak permintaan Sherly. Ia harus memenuhinya apapun kesibukannya hari ini. Bagaimanapun Sherly memang klien VVIP butik tempatnya bekerja. Wanita gila itu memang harus mendapat perlakuan istimewa, meskipun sebenarnya Lisa sudah merasa kelakuan Sherly sudah keterlaluan. Lisa menghentikan pekerjaannya sementara yang semula sedang mengawasi para tukang jahitnya. Ia berjalan kembali ke ruang kerjanya. Ia membuka sketsa design yang ada di dalam laci kerjanya. Lisa memeriksa sekali lagi rancangan gaun yang telah dibuatnya sebelum akan ditunjukan ke Sherly. Lisa tak ingin membuat kesalahan sekecil apapun. Karna Sherly terkenal akan sikap perfeksionisnya jika berhubungan dengan penampilan dan busana yang sedang ia pakai. Setelah memastikan semuanya sempurna, Lisa memasukan sketsa itu ke dalam sebuah map plastik. Kemudian membawanya keluar ruangan. Lisa lalu berjalan mengampiri Tina, staffnya yang tampak sedang sibuk memeriksa penataan koleksi gaun dan jas  Ia menepuk pelan pundak Tina, memberi kode pada staffnya itu untuk menghentikan sementara pekerjaannya. "Tina... hari ini Sherly Zanna bakalan datang jam 11. Kamu siapkan ruangan ya. Pastikan ruangan tidak berbau dan kasih hiasan bunga. Kamu kan tau sendiri dia orangnya kayak apa," ucap Lisa. Tina terkejut dengan mata terbelalak. "Saya kok gak tau kalo dia bakalan datang hari ini, Bu." "Emang kenapa?" Lisa tak mengerti mengapa staffnya itu begitu terkejut dengan pemberitahuannya yang memang sengaja mendadak. "Saya kan harus menyiapkan mental kalo ketemu dia, Bu." Tina tampak sungguh khawatir. Staffnya itu terlihat ketakutan. Lisa tersenyum dan menatap lekat Tina. "Kan yang ketemu dia itu bukan kamu, tapi saya. Udah tenang aja. Kamu siapkan semuanya dengan rapi ya," ucap Lisa sambil menepuk bahu Tina. Berusaha menenangkan staffnya itu. Setelah melihat Tina mengangguk dan berlalu pergi,  Lisa kembali menyibukan diri dengan memeriksa gaun yang baru selesai dijahit. Matanya berubah menjadi tajam ketika berurusan dengan pekerjaan. Ia memeriksa dengan teliti setiap jahitan yang dibuat oleh tukang jahitnya. Ia memastikan semua rapi dan tak ada benang yang keluar dari kain. Setelah itu, ia kembali menghampiri Tina. Lisa memastikan ruangan yang akan dipakai untuk menerima wanita itu dalam keadaan bersih, rapi, wangi, dan sempurna. Ia tak ingin wanita gila itu komplain hanya untuk masalah ruangan. Setelah memastikan semuanya rapi, Lisa memilih duduk di sofa dan menunggu kedatangan Sherly di sana. Lisa lalu melihat jam tangannya. Seharusnya Sherly sudah datang sekarang. Wanita itu tak pernah terlambat datang dari waktu yang sudah ia janjikan.  "Bu... Nona Sherly udah datang. Mobilnya lagi parkir." Tina menghampirinya dengan raut wajah penuh kecemasan. Lisa tersenyum lalu menepuk pelan pundak Tina. "Iya. Saya akan temui dia sekarang." Lisa memastikan kertas sketsanya ada didalam map plastik yang ia pegang, lalu membawanya untuk ditunjukan kepada Sherly. Lisa menunggu kedatangan pelanggan VVIP itu di ruang tamu. Hatinya sedikit penasaran akan calon suami yang akan dibawa oleh Sherly. Ia sangat tau selera high class Sherly, termasuk dalam hal pria. Jika bukan karena tampan atau kaya, Sherly tak akan memamerkan ke hadapannya. Wanita itu mana mau bersanding dengan pria miskin, tak tampan dan miskin. Setidaknya pria itu minimal harus memiliki popularitas agar tak malu jika menggandengnya ke pesta. Namun ini bukan sekedar pria yang akan diajak bersenang-senang ke pesta. Ini calon suaminya. Tentu tampan dan kaya harus dipenuhi pria itu untuk menjadi pendamping Sherly seumur hidup. Keluarga Sherly juga pasti akan lebih menyukai pria yang memiliki latar belakang sosial dan ekonomi yang menguntungkan untuk bisnis mereka. Bukannya pria miskin yang hanya akan merugikan keluarga mereka. Lisa tertawa pelan ketika membayangkan Sherly akan menikah. Rasanya sangat sulit diterima akal sehat jika wanita angkuh dan gemar berpesta itu akan menyatakan janji suci dihadapan Tuhan dan kerabat. Menyatakan komitmen untuk seumur hidup hanya pada satu pria. Padahal wanita itu terkenal sering berganti pacar. Lisa benar-benar berharap pernikahan itu akan selamanya dan bukan hanya sekedar permainan. Lisa menyipitkan matanya ketika mobil Sherly mulai terbuka pintunya. Ia tersenyum datar ketika melihat pelanggan VVIP-nya itu keluar dengan busana seksi sekaligus elegan seperti kebiasaannya. Namun keningnya berkerut ketika melihat sesosok pria yang juga keluar dari mobil itu. Lisa bisa menebak jika pria itu adalah calon suami Sherly. Lisa lalu memberi kode ke Tina agar membukakan pintu butiknya untuk para pelanggan VVIP-nya itu. Ketika pintu terbuka, Sherly berjalan masuk dengan langkah penuh percaya diri. Seorang pria berjalan mengikutinya dari belakang. Lisa mencoba melihat wajah pria itu yang masih tersembunyi di belakang punggung Sherly. Namun ketika ia berhasil mengintip, matanya justru terbelalak karena terkejut. Lisa syok hingga membeku dalam posisi berdirinya. Lisa terdiam. Ia hanya menatap pria itu tanpa berkedip dengan raut wajah yang masih begitu terkejut. Ia tampak tak percaya dengan sosok yang kini ada di depan matanya. "Rey..." gumam Lisa dalam hati. *** Jika aku bisa melompat waktu, maka saat terbaik menggunakan kemampuan itu adalah detik ini. Dia, masa laluku, lembar lama yang tak ingin aku buka, kini berdiri tegak dengan sepasang mata yang tak henti menatapku. Aku mengepalkan tanganku, berusaha menyembunyikan rasa yang mulai bergejolak. Aku menolak kemungkinan fakta jika hati ini masih menyukainya. Tidak... Rey hanyalah masa laluku. Romansa kisah cinta SMA hanyalah penghias masa remajaku, termasuk Rey di dalamnya. Detik ini, aku hanya sedang terkejut dan tak percaya jika dia kembali dalam jangkauan mataku. Aku hanya terkejut melihat fakta bahwa dia adalah calon suami pelanggan VVIP-ku, Sherly Zanna. Itu artinya Rey juga akan menjadi Pelanggan VVIP yang harus aku layani dengan ramah. Aku harus memasang senyum manis dan melayaninya dengan penuh kesungguhan, meski hasrat hati ini ingin mengabaikannya. Sebuah takdir yang benar-benar ironi. "Lis, ini calon suami gue. Namanya Rey Hutomo. Lo juga harus bikinin dia jas buat hari kawinan gue," ucap Sherly sambil mengedipkan matanya. Aku mencoba tersenyum, meski mungkin terkesan seperti dipaksakan. Tanpa Sherly perkenalkan, aku sangat tau pria yang berdiri disebelahnya itu. Aku bukan hanya tau nama dan wajahnya, tapi juga ke dalaman hatinya. Dia pernah menjadi milikku. Dia pernah mengisi hari-hariku. Dia masa laluku. "Hai. Aku Lisa Nataline," ucapku sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman. Ya... berpura-pura tak mengenalnya, mungkin sebuah keputusan yang tepat. Aku enggan untuk menambah kerumitan jika harus berbicara jujur dihadapan Sherly. Aku enggan untuk menjelaskan peran Rey dalam kisah masa laluku. Aku juga enggan untuk meyakinkan Sherly jika tak akan ada yang terjadi diantara kami di masa depan. Lebih baik diam dan berpura-pura tak mengenal mantan kekasihku itu. Rey menyambut tanganku dan menggenggamnya dengan sedikit lebih erat. "Hai. Aku Rey. Aku gak sabar liat seberapa bagusnya design-mu. Sherly selalu membangga-banggakan hasil karyamu. Jadi aku gak sabar," ucap Rey dengan tersenyum. Aku tersenyum sinis. Mataku sedikit menyipit ketika melihat Rey ternyata ikut berpura-pura tidak mengenalku. Dia ikut bermain dalam sandiwara yang ku buat ini. Rey lebih memilih menjaga perasaan tunangannya dan memutuskan mengabaikan masa lalu kami. Mungkin Sherly memang begitu berharga untuk Rey. "Tentu dong. Penilaianku gak pernah salah. Termasuk penilaian dalam pilih calon suami." Sherly merangkul lengan Rey dengan tatapan penuh makna. Sherly seolah sengaja menampilkan kemesraan di hadapanku. Wanita itu seakan ingin memamerkan pasangan yang akan menjadi terakhir dalam hidupnya. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan bibirku agar tidak tersenyum sinis menatap dua sejoli yang akan merajut janji suci pernikahan itu. Aku benar-benar muak dengan panggung sandiwara ini. Rasanya ingin segera pergi dan berhenti berpura-pura. Menonton adegan mesra Rey dan Sherly bukanlah perkara menyenangkan. Bukan karena aku iri. Namun menyembunyikan emosi hati bukan hal yang mudah. Baru tadi malam aku membaca email dari Rey. Pria itu masih menuliskan pesan kata cinta dan rindu padaku. Dia masih berkata menginginkanku untuk kembali. Masih berusaha membujukku dan meluluhkan hatiku dengan menjabarkan kenangan kisah cinta kami sewaktu SMA. Namun apa yang aku lihat sekarang? Pria itu justru sedang dirangkul manja oleh tunangannya. Berani berdiri dihadapanku tanpa rasa malu. Secara nyata menunjukan fakta bahwa ia akan menikahi wanita lain. Kemudian ikut bersandiwara seolah ini kali pertama kami bertemu. Seolah apa yang terjadi saat ini sebuah proses yang wajar. Tak ada raut rasa bersalah di wajahnya. Aku hanya memiliki pilihan untuk melanjutkan sandiwara ini. Aku pun juga tak ingin menjadi penyebab suasana menjadi canggung. "Kita ke ruang fitting yuk. Aku akan ukur badan Pak Rey. Terus aku juga bakalan tunjukin design gaun pernikahan yang udah aku buat ke Nona Sherly," ucapku. Aku ingin semua ini cepat selesai, sehingga tak perlu berlama-lama menatap dua sejoli ini. "Kan, gue udah bilang... jangan panggil gue Nona," protes Sherly. "Baiklah. Sekarang kita ke ruang fitting ya," pintaku dengan ekspresi memohon. Aku enggan meladeni perdebatan kekanak-kanakan pelanggan VVIP-ku itu. Sherly dan Rey akhirnya mengikuti langkah kakiku menuju ruang fitting. Sekilas aku melirik mereka dari cermin yang ada dihadapanku. Sherly berjalan seperti menjaga jarak dari Rey, meski ia tetap melangkah anggun dan percaya diri seperti biasanya. Rey juga tidak merangkul Sherly dengan mesra layaknya pasangan yang akan menikah dan dimabuk cinta. Setelah sampai di ruang fitting dan para pelanggan VVIP-ku itu telah duduk di sofa, aku segera menunjukan sketsa design gaun pengantin yang baru selesai dibuat itu ke Sherly. "Gimana? Ini oke? Atau ada yang perlu dirubah?" tanyaku. "Ini amazing. Gue suka! Anggun tapi juga terkesan seksi. You know me so well, Lis." Sherly tersenyum puas sambil terus menatap kertas design-ku. Aku tersenyum datar. Pujian dari Sherly memang tak pernah membuatku bergembira. Wanita itu memang selalu menyukai apapun design gaun yang aku buatkan untuknya. Terkadang aku sampai bingung apakah setiap pujian yang ia lontarkan adalah sebuah ketulusan atau sekedar basa-basi saja. Karena Sherly memang tak pernah mengkritik dan memberikan keluhan padaku. Semua karyaku seolah selalu memuaskan hati wanita itu. "Sebentar..." Sherly mengambil ponselnya dari dalam tas. Sepertinya panggilan telepon yang masuk ke ponsel wanita itu. "Ada telepon nih. Lo ukur badan Rey aja. Gue mau angkat telpon dulu." Sherly segera berjalan keluar dari ruang fitting untuk mengangkat panggilan telepon itu. Aku segera memberi kode ke Tina untuk segera memberiku alat ukur. Selepas Tina pergi, hanya ada aku dan Rey di ruangan itu. Kami berdua berdiri tanpa saling menatap dan berbicara. Membiarkan keheningan menguasai ruangan ini. Aku mengalihkan pandanganku ke lantai. Berusaha mengabaikan tatapan mata Rey yang begitu terasa ke arahku. Bersikap dingin dan enggan berbincang akrab dengan mantan kekasihku itu. Tak berapa lama Tina kembali sambil membawa alat ukur. Tina memberikannya, lalu berlalu pergi meninggalkan ruangan itu. Staff ku itu memang telah meminta ijin untuk tak berada di ruangan itu selama ada Sherly. Aku tidak mempermasalahkannya. Namun selepas Tina pergi, aku kembali hanya berdua saja dengan Rey. Aku kemudian berjalan mendekati Rey yang masih duduk terdiam sambil menatapku. "Pak Rey... bisa berdiri? Aku mau ukur badan bapak," ucapku sambil tersenyum datar. Aku masih memerankan sandiwara itu, meski Sherly sedang tidak ada saat ini. Rasanya memang lebih nyaman berperilaku seolah ini kali pertama kami bertemu. Rey lalu segera berdiri sesuai dengan permintaanku. Aku pun segera melingkarkan meteran untuk mengukur panjang bahunya dan bagian tubuh yang lain. Jarak kami yang begitu dekat ini tentu membuat jantungku berdegub kencang. Debaran ini tentu saja membuatku merasa tak nyaman. Pria yang ada di hadapanku ini bukanlah milikku. Dia adalah mantan kekasihku yang tak akan pernah bisa menjadi milikku. Terlebih lagi dia adalah calon suami Sherly. Sebuah fakta yang tak mungkin bisa ku ubah sesukanya. Rey, memang hanyalah klien yang harus ku urusi secara professional. Namun mata Rey yang terus menatap ke arah ku tanpa henti menjadi hambatan diriku untuk tetap fokus mengukur tubuhnya. Pria itu tak berpaling. Matanya tepat mengikuti gerak-gerik mataku. Seolah hanya aku yang menarik perhatiannya untuk dipandang. Aku berusaha tak peduli dan pura-pura tak tau pandangan matanya. Berusaha tetap bersikap acuh.  Namun tiba-tiba Rey berbisik pelan ke arah telingaku. "Kamu apa kabar?" Bisikan itu tentu terdengar oleh telingaku. Namun aku hanya diam dan mengabaikan pertanyaannya. Aku memilih untuk terus mengukur tubuhnya dan mencatat di selembar kertas. Berusaha menyembunyikan debaran dan emosi yang begitu membara di hatiku. Setelah pria itu bersandiwara tak mengenalku, kini tanpa rasa malu mulai menyapaku dengan bisikan yang lebut. "Ternyata memang harus dengan cara ini supaya aku bisa menatap wajah kamu. Cara yang menyakitkan memang, tapi aku bahagia bisa ketemu kamu," bisik Rey sambil menatapku dengan lekat. Aku menghentikan aktivitasku dan membalas tatapan matanya. Untuk pertama kalinya aku menampakan senyum sinis dan sinar kebencian dari sorot mataku. "Hentikan omong kosongmu. Mari kita fokus ke rencana pernikahanmu. Aku akan menyiapkan busana terbaik untukmu," ucapku dengan nada pelan tapi menusuk. "Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu," ucap Rey. Aku tertawa pelan, lalu melanjutkan mengukur badannya. Setiap kata yang keluar dari bibir Rey benar-benar sebuah omong kosong dan lelucon yang menggelikan. Ia berkata merindukanku, sementara aku sedang membuatkan busana pernikahannya dengan wanita lain. Benar-benar omong kosong! "Rey... kayaknya aku harus cabut deh." Sherly tiba-tiba muncul di ruang fitting dengan wajah panik. Aku menoleh ke arah Sherly yang muncul secara mendadak. Kemudian menarik alat ukurku dan membiarkan mereka berbincang berdua. "Why?" tanya Rey. "Daddy minta aku buat segera ke perusahaan. Ada dokumen penting yang harus aku urus. Kamu tetep disini ya sampe Lisa bilang kelar. Bye Lis!" Sherly segera pergi tanpa menunggu balasan perkataanku. Wanita itu meninggalkan calon suaminya di sini tanpa tau kalau aku adalah mantan kekasihnya. Setelah Sherly pergi, Rey kembali menatapku dengan lekat. Tatapan matanya benar-benar membuatku muak dan gerah. "Aku udah selesai ngukur. Jadi kamu pengen design yang kayak gimana?" tanyaku sebagai designer. Aku mencoba untuk tetap profesional dalam situasi ini. Meski Rey terus memancing emosi hatiku. "Sesuai selera kamu aja. Apapun yang kamu suka, aku suka," jawab Rey. Aku menghela nafas kesal. Perkataannya terasa tak masuk akal. Ini bukan pernikahanku. Kenapa seleraku menjadi pendapat yang penting untuk busana pernikahannya. Rey benar-benar keterlaluan! Aku mulai tak sanggup lagi untuk terus berpura-pura tak ada yang terjadi diantara kami. Aku tak bisa lagi menyembunyikan sorot kemarahan dari mataku. "Kita bicara di ruanganku," ucapku dengan pelan, tapi penuh kegeraman. Aku tak ingin satu butik tau hubungan kami. Aku juga tak ingin mereka melihat emosiku terhadap Rey. Aku tak mau merusak imej profesional yang selama ini ku jaga. Karena itu aku lebih memilih menarik Rey ke ruanganku dan mengajaknya berbicara di sana. Rey pun terlihat menurut, tanpa membantah. Aku segera berjalan pergi ke ruangan kantorku dengan Rey yang mengikuti langkah kakiku di belakang. Setelah sampai, aku segera menutup pintu dengan rapat, memastikan tak akan ada yang bisa menguping percakapan kami. Namun setelah pintu tertutup, tiba-tiba Rey menarik tanganku ke dalam pelukannya. Ia merangkulku dengan erat dan enggan melepaskan tubuhku. Rangkulannya begitu kuat hingga tanganku tak kuat untuk mendorong tubuhnya menjauh dariku. Rey begitu memaksa untuk mendekapku. "Aku benar-benar merindukanmu, Lis," bisik Rey. Bisikannya begitu lembut hingga membuat bulu kudukku merinding. Bukan merinding karena terharu. Namun karna begitu ketakutan. Bagaimana mungkin dia berani melontarkan kata rindu setelah melemparkan fakta rencana pernikahannya. Aku masih berusaha terus mendorong tubuh Rey untuk segera menjauh. Memukul pundaknya sekeras yang ku bisa. Berusaha melepaskan pelukannya sekuat tenaga. Setelah rangkulan Rey terasa melemah, aku segera melangkah mundur dan melepaskan diri dari pelukannya. PLAK! Aku menampar wajah Rey dengan cukup keras dan menatapnya dengan sorot penuh kebencian. Aku sudah tak sanggup lagi membendung gejolak emosi hati ini. Mataku penuh amarah. Nafasku terengah-engah seiring dengan amarah yang baru saja ku lepaskan. Rey lalu membalas tatapan mataku sambil memegang pipinya yang kini terlihat memerah akibat tamparan dariku. Tatapan mata pria itu membangkitkan kembali amarah hatiku. Aku tak menangkap rasa bersalah dari pancaran sinar matanya. "Berhenti mempermainkan aku! Aku bukan w**************n yang bisa jadi mainan pria yang akan beristri sepertimu! Aku designer busana pernikahanmu, Rey! Jadi mari tetap profesional dan hentikan sikap kurang ajarmu itu," teriak ku penuh emosi. "Aku sedang menciptakan jalan supaya kita bisa kembali bersama Lis! Aku gak akan menikahi Sherly! Gak ada cinta diantara kami..." Mataku semakin terbelalak. Nalar pikiranku tak dapat mengerti ucapan Rey itu. Kalimat itu terasa kontradiksi. Berlawanan. Dia sedang mengusahakan kami supaya kembali bersama, tapi dengan cara menikahi gadis lain? Benar-benar tak masuk akal! "Berhenti mengucapkan kalimat omong kosong, Rey! Kau sadar gak sih ucapanmu itu terdengar konyol?!" seruku dengan emosi yang masih meluap-luap. Rey berjalan mendekatiku. Namun secara refleks kakiku melangkah mundur. Tubuhku secara spontan menunjukan keengganan untuk didekati oleh pria itu. "Jangan mendekat! Kamu bukan siapa-siapa aku. Berhenti menyentuhku!" teriakku. "Maaf," balas Rey dengan suara lirih. Pria itu terdiam sesaat, lalu melanjutkan ucapannya. "Aku gak ada maksud bikin kamu marah, apalagi ketakutan. Aku hanya kangen kamu, Lis. Ini pertama kalinya kita bertemu setelah bertahun-tahun." Aku tersenyum sinis. "Kangen? Kamu bener-bener aneh, Rey! Aku muak denger omong kosongmu itu. Kamu selalu kirim aku pesan email selama bertahun-tahun. Bilang sayang dan kangen aku. Cuma apa yang aku liat sekarang? Kamu tunangan orang! Kamu calon suami wanita lain! Terus kamu bilang apa tadi? Kamu mau balikan sama aku?! Kamu bener-bener gila, Rey!" Rey tertunduk dan terdiam selama beberapa saat. Kemudian kembali menatapku, lalu berkata, "Aku dan Sherly menikah bukan karna cinta, Lis. Itu karna kesepakatan. Kami hanya menuruti kemauan keluarga, lalu bercerai. Kemudian aku bisa memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang aku mau. Termasuk kembali ke kamu, Lis. Aku bisa punya kesempatan untuk gak diatur sama keluarga. Ke depannya aku bisa memilih pasangan sesuai kemauan hatiku. Gak diatur-atur lagi sama kepentingan keluargaku. Kamu kan tau gimana power keluargaku dan bagaimana mereka mencampuri kehidupanku. Ini caraku untuk bisa bebas. Ini kesempatan supaya jalan kita bisa kembali bersama terbuka lebar, Lis." Aku menutup telingaku. Aku enggan terus mendengar kalimat Rey yang bukan hanya mengiris hatiku, tapi juga memukulnya begitu hebat. Aku membalasnya dengan teriakan dengan ke dua tanganku yang masih menutup telingaku. "Aku gak peduli! Hidupmu ya hidupmu. Hidupku ya hidupku. Hubungan kita udah berakhir lebih dari delapan tahun yang lalu. Kita gak punya ikatan di masa depan. Apapun yang kamu rencanakan di hidupmu, gak ada kaitannya denganku. Kita sudah berakhir! Camkan itu!" teriak ku dengan mata mulai memerah, menahan tangis. Aku lalu berjalan keluar dan menutup pintu dengan cukup keras. Aku memilih meninggalkan Rey seorang diri di ruangan kantorku. Aku tak peduli lagi dengan para staff yang menatapku terkejut dengan perilaku tak biasaku ini. Aku pun tak sanggup menyembunyikan raut amarah dari wajahku di hadapan mereka. Aku hanya terus berjalan tanpa memberikan penjelasan kepada mereka.  Aku bergegas menuju mobil. Kemudian menyalakan mesin, lalu memacu laju mobilku untuk meninggalkan butik. Aku hanya ingin pergi sejenak dan mencari udara segar. Meninggalkan kesesakan yang Rey ciptakan dan tinggalkan di hati ini. CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD