Bab 22. di Balik Sabotase

1211 Words
Taksi itu melaju lebih jauh, menuju jalan-jalan yang lebih sepi. Dalam perjalanan yang tenang itu, ada perasaan campur aduk dalam diri Intan—ketegangan, kekhawatiran, namun juga ada harapan yang datang begitu saja. Keberadaan Hamka dalam hidupnya, meskipun tidak bisa dipungkiri membuatnya sedikit lebih tenang, juga memunculkan perasaan yang membuatnya bertanya-tanya apakah ia sudah siap untuk membuka hatinya lagi. Namun, untuk saat ini, ia tahu bahwa dirinya belum siap untuk sepenuhnya melupakan masa lalu. Ia hanya ingin berjalan perlahan, menikmati setiap detik yang ada dan memberi kesempatan pada dirinya untuk sembuh. Entah bagaimana, langkah kecil ini—berada di samping Hamka—seperti memberikan rasa aman di tengah segala ketidakpastian yang masih membelenggunya. Saat taksi berhenti di depan gedung kantornya lagi, Intan menarik napas panjang. Ia tahu, meskipun perasaan dan pikirannya masih terbebani, ada sesuatu yang perlahan mulai berubah dalam hidupnya. "Terima kasih, Hamka," ucap Intan, begitu turun dari taksi. "Hati-hati, ya. Jangan lupa hubungi aku kalau ada apa-apa." "Hm, sampai jumpa," sahut Intan seraya melambaikan tangan dan membiarkan taksi itu membawa Hamka meninggalkan pelataran gedung perkantorannya. Intan pura-pura tidak melihat saat mendapati Danan menatapnya dari kejauhan. Dia tidak peduli dengan pria itu, apapun yang dikerjakan. Billy pernah memberikan masukan agar pria itu segera didepak saja dari perusahaan—sama seperti Rena, tetapi Intan masih memiliki misi lain, yaitu membuktikan pada Danan bahwa ia baik-baik saja, dengan satu atap di kantor yang sama. Intan duduk di ruang kerjanya, menatap layar ponselnya yang baru saja menerima laporan dari pihak bengkel. Hati dan pikirannya terasa kacau, seperti ada sesuatu yang tidak beres, namun ia masih berusaha untuk tetap tenang. Laporan itu tertera jelas—ada beberapa kejanggalan pada sistem mobil yang diperbaiki. Bagian-bagian tertentu sepertinya telah dimanipulasi, dan beberapa komponen yang seharusnya berfungsi normal justru mengalami kerusakan yang tak wajar. Kecurigaan sabotase semakin menguat. "Sabotase?" Intan bergumam pelan, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya perasaan sesaat. Namun, perasaan itu terus menghantuinya, lebih keras dan lebih jelas. Siapa yang akan melakukan ini padanya? Kenapa? Semua pertanyaan itu mengalir di benaknya, membuatnya semakin gelisah. Intan mengerutkan kening, lalu menatap ponselnya lagi, membaca laporan bengkel itu satu kali lagi. Hatinya semakin gelisah. Mungkin tidak ada salahnya jika ia mempercayakan hal ini pada Hamka. Meskipun ini mungkin terdengar seperti masalah yang besar, dan Intan tahu bahwa itu bisa melibatkan banyak pihak, ia merasa lebih tenang jika berbicara dengan pria itu. Hamka sudah cukup banyak membantunya, dan entah mengapa, Intan merasa ada ketenangan yang muncul ketika berada di dekatnya. Mungkin ini juga saatnya untuk membuka diri lebih jauh. Meskipun perasaan ragu itu masih ada, setidaknya Hamka telah membuktikan dirinya sebagai seseorang yang bisa diandalkan. Intan menghela napas, kemudian memutuskan untuk menelepon Hamka. Beberapa detik kemudian, suara Hamka terdengar di ujung telepon. "Halo, Intan. Ada yang bisa aku bantu?" "Hamka, ada yang ingin aku bicarakan." Suara Intan terdengar sedikit gemetar, meskipun ia berusaha untuk tetap tegar. "Iya, Intan." "Tadi aku mendapat laporan dari bengkel. Mereka menemukan beberapa kejanggalan pada mobilku. Sepertinya ada yang sengaja merusaknya." "Sabotase?" tanya Hamka, nada suaranya langsung berubah, lebih serius. Intan mengangguk meskipun Hamka nggak bisa melihatnya. "Iya. Aku masih belum yakin sepenuhnya, tapi kecurigaanku semakin besar. Aku nggak tahu harus berbuat apa. Aku nggak mau melibatkan polisi untuk sementara ini, Hamka." Suasana di seberang telepon terasa hening sejenak. Intan bisa merasakan bahwa Hamka sedang berpikir dengan serius, mencoba memahami situasinya. "Kamu benar, kalau melibatkan polisi bisa memperumit segalanya, apalagi kalau kamu belum punya bukti yang cukup. Tapi, jika kamu merasa ada yang mencurigakan, kita harus mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas ini." "Aku ingin kamu menolongku," ujar Intan, nadanya sedikit lebih lembut, meskipun masih dipenuhi kecemasan. "Aku nggak tahu harus mulai dari mana, Hamka. Aku takut kalau aku salah langkah lagi." Hamka terdiam sejenak, memberi waktu bagi Intan untuk merasakan ketenangan dari ucapannya. "Jangan khawatir. Kita akan cari tahu siapa yang ada di belakang semua ini, pelan-pelan. Aku akan membantumu, Intan." Intan merasa sedikit lega mendengar suara Hamka yang penuh keyakinan itu. Untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu, ia merasa ada orang yang benar-benar peduli dan bisa membantunya mengatasi masalah ini. "Terima kasih, Hamka," katanya, kali ini dengan suara yang lebih tenang. "Untuk kamu, Intan, nggak ada yang terlalu sulit. Kita akan menyelesaikan ini bersama." Setelah panggilan telepon itu berakhir, Intan merasa sedikit lebih tenang. Ia tahu, meskipun masalah ini masih jauh dari selesai, setidaknya ia tidak lagi sendirian dalam menghadapinya. Ada seseorang yang akan membantunya mencari tahu siapa yang berusaha mencelakakan dirinya. Namun, bayangan akan siapa yang bisa menjadi pelaku itu terus mengganggu pikirannya. Apakah itu Danan? Kenapa harus ada orang yang berusaha menyakitinya? Rasanya, setelah semua yang terjadi, perasaan itu semakin nyata, semakin mengikat dirinya pada masa lalu yang penuh luka. Namun, Intan berusaha menepis. Ia tahu, kalau dirinya ingin melangkah maju, ia harus melawan rasa takut itu. *** Di pagi hari yang cerah, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Dari Hamka. "Aku sudah menyewa seseorang untuk menyelidiki lebih dalam tentang masalahmu. Kami mendapatkan beberapa informasi. Temui aku nanti." Intan merasa sedikit cemas. Ia tahu, di balik setiap penyelidikan, ada potensi kebenaran yang bisa membuatnya terkejut. Ketika perasaan ragu itu semakin menguat, ia memutuskan untuk pergi menemui Hamka, berharap bisa menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang membelenggu pikirannya. Sore itu, setelah rapat panjang dan pekerjaan yang menumpuk, Intan memutuskan untuk menemui Hamka. Mereka bertemu di kafe yang sudah biasa mereka kunjungi setelah jam kerja. Tempat yang nyaman, jauh dari kebisingan kota dan hiruk-pikuk kehidupan yang kadang terasa sangat melelahkan. Hamka sudah menunggu di meja, duduk santai dengan secangkir kopi di depan wajahnya. Ketika Intan mendekat, ia tersenyum tipis, senyum yang membuat hati Intan sedikit lebih ringan. "Ayo duduk," kata Hamka. "Kamu pasti lelah setelah kerja seharian." Intan tersenyum kecil dan duduk di hadapan Hamka. "Terima kasih, Hamka, sudah menyempatkan waktu untuk menemuiku." Hamka mengangguk. "Kita akan selesaikan semuanya dengan tenang. Jangan biarkan rasa takut menguasaimu." Senyuman Hamka memberikan kenyamanan yang sangat dibutuhkan Intan. Meskipun perasaannya masih ragu dan bimbang, perasaan yang mulai tumbuh dalam dirinya terhadap Hamka memberikan secercah harapan baru—sebuah harapan untuk bisa melangkah lebih jauh tanpa terbelenggu oleh bayang-bayang masa lalu. Namun, meskipun ada ketenangan yang datang dalam pertemuan ini, Intan tahu, ini baru permulaan. Masih banyak teka-teki yang harus dipecahkan, dan dirinya harus siap untuk menghadapi kenyataan apapun yang akan datang. Setelah dirasa Intan sudah cukup tenang, Hamka memberikan sebuah amplop kecil yang berisi hasil penyelidikan. "Ini dia," kata Hamka sambil meletakkan amplop itu di atas meja. "Dari rekaman CCTV yang ada di sekitar tempat mobilmu diparkir, kami menemukan sesuatu yang mengarah ke pelaku yang memanipulasi mobilmu." Intan mengambil amplop itu dengan hati-hati. Ia membuka dan menemukan foto-foto serta laporan tentang rekaman CCTV. Di antara gambar-gambar itu, ada satu pria yang sedang terlihat mengutak-atik mobil Intan dengan sangat hati-hati, memperbaiki sesuatu di bawah kap mesin, seakan tahu persis apa yang sedang dikerjakannya. Tak ada yang perlu dipertanyakan lagi. Intan menatap tajam pada foto tersebut. Mata yang masih sedikit berkabut oleh ketegangan, semakin tajam memfokuskan pada sosok yang tampak di dalam rekaman. Gambar pria itu begitu jelas. Wajahnya terlihat penuh konsentrasi, tak ada tanda-tanda kecurigaan. Namun, saat melihat lebih dekat lagi, sesuatu yang tak terduga muncul di dalam kepala Intan. "Tunggu ... ini ... ini ...." Suara Intan terbata, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD