Bab 21. Sisi Lain Intan

1160 Words
“Biasanya, aku melihatmu dengan sikap profesional yang luar biasa, selalu memancarkan ketegasan dan kepercayaan diri. Tapi ... saat kamu terkejut dan panik tadi, aku melihat sisi yang sangat manusiawi darimu. Sesuatu yang lebih lembut, yang lebih tulus,” jelas Hamka, menatap Intan dengan pandangan yang dalam. Intan terdiam, sedikit terguncang dengan kata-kata Hamka yang menembus jauh ke dalam hatinya. Ia selalu merasa harus menjaga penampilannya di luar, harus selalu menunjukkan sisi yang kuat dan tidak boleh tampak lemah. Namun, di hadapan Hamka, seolah tembok-teguh itu runtuh dengan sendirinya, dan dia hanya merasa menjadi dirinya sendiri, yang penuh kekhawatiran dan ketakutan, seperti manusia biasa lainnya. “Jadi, aku kelihatan cemas, ya?” Intan mencoba tertawa kecil, meskipun suaranya masih terkesan gugup. Hamka mengangguk perlahan, matanya menyiratkan pemahaman. “Iya, tapi itu tidak buruk. Malah, itu membuatku semakin ingin mengenalmu lebih baik.” Rasa hangat mulai menyelusup di d**a Intan, namun ia segera menepis perasaan itu. Masih ada begitu banyak tembok yang harus dihancurkan dalam hatinya, banyak luka yang belum sembuh. “Aku nggak mau membuatmu salah paham, Hamka,” ujar Intan dengan suara yang lebih tegas, meskipun sedikit ragu. “Aku sudah banyak terluka. Aku takut kalau aku membuka hatiku lagi ... itu hanya akan menambah rasa sakit.” Hamka hanya diam, menyimak setiap kata yang keluar dari bibir Intan. Setelah beberapa saat, ia mengangguk dengan bijak, dan tatapannya menghangatkan. “Aku mengerti. Aku nggak ingin terburu-buru. Kita bisa berjalan pelan-pelan. Aku hanya ingin ada untukmu, apapun yang terjadi.” Kata-kata itu menghangatkan hati Intan. Ada kenyamanan dalam suara Hamka, yang tak memaksakan apa pun, yang hanya ingin menemani tanpa ada beban. Bukan seperti Danan, yang selalu menuntut perhatian, atau selalu mencari alasan untuk merendahkan. Hamka justru memberi ruang, memberi waktu, tanpa paksaan apa pun. Intan merasa sesak di dadanya, dan seketika itu juga, ia menyadari bahwa ia tidak pernah merasa dihargai seperti ini sejak lama. Tidak ada yang pernah berkata begitu kepadanya—bahwa ia bisa berjalan pelan-pelan, bahwa tidak ada tekanan untuk membuka hati lebih cepat. Kepala Intan terasa pusing karena perasaan yang bergejolak. Rasa takut dan harapan yang bertarung dalam hatinya. Ia ingin percaya, tapi rasa takut itu selalu ada. Namun, entah kenapa, entah bagaimana, di hadapan Hamka, rasa itu sedikit demi sedikit mulai terobati. “Terima kasih, Hamka,” ucapnya lirih, hampir tidak terdengar. Hamka mengulurkan tangannya, menawarkan dukungan yang sederhana. “Kapan pun kamu butuh seseorang untuk berbicara ... aku ada di sini.” Intan memandang tangan Hamka sejenak, sebelum akhirnya ia meraihnya dengan lembut. Sentuhan itu terasa hangat, bukan sekadar kenyamanan fisik, tapi juga kedamaian yang mengalir masuk ke dalam hatinya yang terluka. Mereka berdiri dalam diam, di bawah hujan yang kini mulai reda, dengan satu rasa yang tak terucapkan, kedekatan yang baru mulai terbentuk, perlahan namun pasti, di antara dua hati yang berbeda namun saling memberi ruang untuk tumbuh. "Oya, ini ponselmu." Intan menyerahkan ponsel milik Hamka yang ternyata benar-benar terbawa di dalam tasnya. "Terima kasih," sahut Hamka lalu menyimpannya ke dalam saku jas. Kecelakaan itu terasa seperti mimpi buruk yang tidak pernah ingin Intan alami. Hatinya masih berdebar kencang meskipun keadaan sudah mulai mereda. Di sekitar mereka, orang-orang yang menyaksikan kejadian itu masih berbicara satu sama lain, beberapa mengambil ponsel untuk merekam kejadian yang baru saja terjadi. Mobil derek telah tiba, dengan suara mesin yang menggema di udara, menambah ketegangan yang masih terasa di sekeliling mereka. Intan berdiri di pinggir jalan, tubuhnya sedikit gemetar, mencoba menenangkan diri. Hamka berdiri di sampingnya, wajahnya penuh perhatian, tapi tetap tenang. Di luar sana, mobil-mobil yang lewat melaju dengan cepat, mengabaikan kecelakaan yang baru saja terjadi. Beberapa orang yang terlibat dalam kejadian tersebut sudah mulai berbicara di telepon, kemungkinan menghubungi teman-teman mereka. "Aku nggak bisa percaya ini terjadi," kata Intan dengan suara yang serak, matanya melihat ke arah mobilnya yang kini sedang dipindahkan ke mobil derek. Ada rasa cemas yang terus menghantui dirinya, perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan. Hamka menatapnya dengan lembut. "Yang penting kamu baik-baik saja. Mobil bisa diperbaiki, tapi kalau sesuatu terjadi padamu, itu yang paling nggak aku inginkan." Intan mengangguk perlahan, berusaha menerima kenyataan itu. Namun, saat matanya tertuju pada mobil yang mulai dibawa pergi, perasaan cemas itu semakin kuat. Mobil yang sejak dulu sudah menjadi bagian dari hidupnya, kini rusak. Tidak hanya itu, kejadian ini menambah lapisan trauma yang semakin dalam, terutama bila mengingat bahwa ibunya dulu meninggal karena kejadian serupa. "Bagaimana perasaanmu? Apa ada rasa sakit di mana pun, katakan padaku?" tanya Hamka, mengalihkan perhatian Intan. Intan menoleh ke arahnya, merasa ada rasa khawatir yang tulus di dalam mata Hamka. “Aku baik-baik saja, nggak ada luka serius,” jawab Intan, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. “Aku hanya ... cemas. Mobil ini baru saja diberikan ayah untukku, dan sekarang ....” Suaranya tertahan. "Jangan khawatir. Ini pasti ada sebabnya. Paling nggak, kita harus tahu kenapa mobilnya nggak berfungsi dengan baik." Hamka menepuk lembut bahu Intan, memberikan semangat meskipun tahu perasaan wanita itu masih kacau. "Ayo, kita naik taksi dulu. Kita bisa bicarakan ini nanti." Dengan langkah pelan, mereka berdua menuju taksi yang sudah menunggu di tepi jalan. Intan merasa agak lega bisa duduk di dalam mobil setelah perasaan cemas yang terus menerpa dirinya. Dalam taksi yang bergerak perlahan meninggalkan lokasi itu menuju ke kota, suara mesin kendaraan yang tak henti-hentinya berderu, suasana jalan raya yang sibuk dengan kendaraan yang berdesak-desakan membuat suasana semakin kontras dengan apa yang baru saja terjadi. Di dalam taksi, Hamka melirik Intan dengan seksama, lalu menghela napas. "Kamu pasti sudah banyak berpikir tentang ini, ya?" Intan menoleh dan mengangguk pelan. "Aku takut kalau semua ini memang ada hubungannya dengan kecelakaan tadi. Aku merasa ada yang nggak beres, Hamka. Mobil ini nggak mungkin tiba-tiba mggak bisa berfungsi seperti itu. Aku merasa ... seperti sedang diburu oleh takdir." Hamka tersenyum tipis. "Takdir nggak bisa diburu, Intan. Tapi aku paham apa yang kamu rasakan. Kejadian-kejadian buruk kadang datang tanpa peringatan, dan kita harus siap menghadapinya." Intan menatap ke luar jendela, melihat gedung-gedung tinggi yang berdiri kokoh di sepanjang jalan. Namun, hatinya masih terasa goyah. Hanya suara lembut Hamka yang membuatnya sedikit merasa tenang, meskipun ia tahu dirinya harus menghadapi perasaan yang lebih besar. "Aku ... aku akan memeriksa mobil ini, seperti yang kamu bilang. Aku nggak mau kejadian seperti ini terulang lagi." "Jangan khawatir. Aku akan menemanimu jika kamu butuh bantuan," jawab Hamka dengan nada penuh pengertian. "Tapi jangan lupa, kamu juga harus jaga diri. Kejadian hari ini bisa jadi peringatan bahwa kamu butuh lebih berhati-hati, bukan hanya soal mobil, tapi juga soal diri sendiri." Intan diam sejenak, mencerna kata-kata Hamka. "Aku tahu, tapi kadang hidup ini memang terasa seperti kita terus berjalan tanpa tahu kemana kita akan berakhir." "Percayalah, Intan. Semua akan baik-baik saja. Setiap langkahmu penting, dan aku di sini untuk mendukungmu." Hamka menyampaikan kata-kata itu dengan keyakinan yang perlahan meresap ke dalam hati Intan. Kata-kata itu menyentuh, meskipun sedikit demi sedikit Intan merasa ragu apakah dirinya benar-benar bisa membuka hati lagi setelah semua yang telah terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD