Bab 20. Malaikat Dalam Bayangan

1134 Words
Napas Intan mulai memburu. Satu-satunya yang ia andalkan kini hanya ponsel, tapi baterainya mati tepat saat ia mencoba menghubungi kantor. “Sial, kenapa harus sekarang? Ah, aku harus gimana ini. Mana jalanan sepi lagi.” Sekelilingnya hanya sunyi. Pohon-pohon kelapa sawit menjulang tinggi seperti raksasa yang mengawasinya dalam diam. Intan menelan ludah. Angin berhembus membawa suara-suara samar, entah dari mana asalnya. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Mobil Intan kembali bergetar hebat saat dirinya berhasil menyalahkan mesinnya lagi. Suara mesin menggeram, seperti memaksa dirinya bertahan di tengah jalanan menanjak yang licin dan berbatu. “Ayo, ayo, kita harus pergi dari sini!” gumam Intan panik, kedua tangannya mencengkeram kemudi erat. Dia menginjak pedal gas dalam-dalam, tapi mobil seakan-akan kehilangan tenaga. Roda belakang berputar, menggerus kerikil, sebelum akhirnya ... “Ya Allah!” Intan berteriak histeris saat mobil tiba-tiba meluncur mundur. Kecepatannya kian bertambah seiring gravitasi menariknya ke bawah. Jantung Intan berdegup kencang. Kedua tangannya bergetar, kakinya panik menekan rem sekuat tenaga, tapi tidak ada yang terjadi. Mobil terus bergerak mundur, makin liar. Jalan sempit yang curam membuat segala gerakannya tak terkendali. “Allahu Akbar... Yaa Allah, tolong selamatkan aku!” Suaranya pecah, air mata mulai memburamkan pandangan. Dalam kepanikan, ingatannya berkelebat—tentang semua perjuangan yang telah ia lalui, tentang rasa sakit yang selama ini ia pendam, dan tentang betapa ia hanya ingin bahagia dengan caranya sendiri. Dalam hitungan detik, semua ketakutan itu terasa nyata. Kepalanya membayangkan hal terburuk—mobil ini akan terguling, hancur, dan mungkin nyawanya akan ikut melayang. “Tolong ....” Suaranya lirih. Namun, tepat saat Intan sudah pasrah, terdengar benturan keras dari belakang mobilnya. Gerakan liar itu seketika terhenti. Mobilnya berhenti total—seolah malaikat turun tangan, menghentikan lajunya yang nyaris menuju jurang. Napas Intan memburu, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Tangannya menutupi wajah, air mata tumpah tak terbendung. Untuk sesaat, ia tak mampu berpikir. “Aku ... apa aku selamat?” gumamnya pelan, seperti meyakinkan dirinya sendiri. Setelah mengatur napas dengan susah payah, Intan menoleh ke kaca spion. Matanya membelalak ketika melihat mobil lain terparkir tepat di belakangnya. Bagian depannya tampak penyok parah akibat benturan yang kuat tadi. “Oh, tidak ....” bisiknya panik. Cepat-cepat, ia melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Langkahnya terhuyung, tubuhnya masih lemas akibat syok yang belum hilang. Intan berlari kecil menuju mobil di belakangnya. Di sepanjang langkah itu, pikirannya dipenuhi kecemasan—bagaimana jika pengemudi mobil itu terluka parah? Atau mungkin lebih buruk... Setelah sampai di sisi mobil tersebut, pintunya terbuka perlahan. Intan berhenti mendadak, matanya membulat penuh keterkejutan. “Ha—Hamka?!” Suaranya nyaris tak terdengar. Pria itu keluar dengan tenang, hanya sedikit merapikan kemeja yang dikenakannya. Wajahnya tampak baik-baik saja, meskipun jelas ada sedikit tanda kelelahan di sana. Hamka mengangkat pandangannya, bertemu dengan mata Intan yang sudah memerah akibat tangisan. “Intan? Kamu nggak apa-apa, 'kan?” Suara Hamka terdengar khawatir, meski tetap lembut seperti biasa. Saat itu juga, Intan tak bisa menahan diri. Tangisannya pecah, begitu pula kekuatan yang selama ini ia paksakan untuk tetap tegar. Ia melangkah maju, mendekat ke arah Hamka, lalu tanpa berpikir panjang, memeluk pria itu erat. “Terima kasih ... Ya Allah, terima kasih, Hamka!” Suaranya bergetar, seperti anak kecil yang baru saja diselamatkan dari mimpi buruk. Tubuhnya masih gemetar hebat. “Aku pikir aku akan mati ... aku pikir ... aku sudah mencelakakan orang ....” Hamka terdiam sejenak. Pelukan itu membuatnya kaget, tetapi dalam sekejap, kedua tangannya terangkat dan dengan perlahan membalas pelukan Intan. “Tenang ... kamu selamat, Intan. Aku juga baik-baik saja,” bisiknya menenangkan, suaranya rendah namun begitu tulus. “Aku ada di sini.” Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Hanya suara rintik hujan dan helaan napas Intan yang masih tersedu. Hamka tak berkata apa-apa, hanya membiarkan Intan meluapkan semua ketakutan dan kesedihannya. Ia tahu, apa pun yang dialami Intan tadi pasti meninggalkan trauma besar. Setelah tangisnya sedikit mereda, Intan melepaskan pelukannya perlahan. Ia menyeka air mata dengan tangan yang masih bergetar. “Maaf ... aku nggak seharusnya bersikap seperti ini.” Hamka menggeleng kecil, senyum tipis muncul di bibirnya. “Nggak perlu minta maaf. Kamu baru saja melalui sesuatu yang berat.” Matanya menatap Intan dengan penuh kelembutan, seolah ingin meyakinkan perempuan itu bahwa semuanya sudah baik-baik saja. Intan menunduk, masih tak sanggup menatap mata Hamka. “Mobil kamu ... aku ... aku nggak tahu harus bilang apa. Ini salahku.” Hamka menoleh ke mobilnya yang penyok parah. Alih-alih marah, ia hanya terkekeh pelan. “Mobil bisa diperbaiki, Intan. Yang penting, kamu selamat. Itu jauh lebih berharga.” Kata-kata itu membuat Intan semakin tercekat. Bukan hanya karena ketenangan Hamka yang luar biasa, tetapi juga karena bagaimana sikapnya bertolak belakang dengan Danan—mantan suaminya yang hanya bisa menyalahkan, menghakimi, dan mematahkan hatinya berkali-kali. “Kenapa ... kamu bisa ada di sini?” tanya Intan pelan, mencoba menahan rasa emosionalnya yang masih meluap. Setelah beberapa detik terdiam, Hamka akhirnya mengeluarkan suara, membuat Intan yang masih berada dalam kebingungannya terkejut. “Sejujurnya, Intan ... aku mengikuti mobilmu sejak tadi dari restoran tempat kita makan siang bareng,” kata Hamka dengan nada santai, seakan mengungkapkan sesuatu yang sangat biasa. Intan menoleh, alisnya terangkat, dan ia memandangi Hamka dengan tatapan bingung. "Apa?" katanya, hampir tidak percaya. "Kamu mengikuti aku?" Hamka tersenyum tipis. “Iya, tapi itu hanya karena kamu ... tidak sengaja karena kamu membawa ponselku.” Intan tercengang. “Ponselmu?” Dia cepat menoleh ke tasnya yang tergeletak di kolong mobil, dan seketika ingatan siang tadi kembali menghampirinya. Saat itu, Hamka memang menitipkan ponselnya ketika pria itu hendak pergi ke toilet. Namun, tidak pernah ia sangka bahwa kejadian kecil itu bisa berlanjut hingga mengarah pada sebuah pertemuan yang tak terduga di tengah jalan. Tanpa berkata apa-apa lagi, Intan langsung berlari ke arah mobilnya. Pandangannya tertuju pada tas yang ada di bawah kendaraan, terlupakan dalam kepanikannya saat mobil meluncur mundur tadi. Begitu tas itu berada dalam genggamannya, ia buru-buru kembali ke arah Hamka. “Ternyata ... itu sebabnya kamu tahu aku ada di sini,” ucapnya terbata-bata, masih terkejut dengan apa yang baru saja diungkapkan Hamka. Senyum Hamka tetap mengembang. Ia tak berusaha menutupi kegembiraannya melihat reaksi Intan yang terburu-buru, cemas, dan sedikit panik. Itu sisi yang sangat berbeda dengan sosok Intan yang selama ini ia kenal—tegas, profesional, dan penuh kontrol. Di hadapan Hamka, Intan menjadi sosok yang jauh lebih manusiawi, lebih nyata. Intan berhenti sejenak, meletakkan tas itu di samping tubuhnya, sebelum kemudian melirik Hamka dengan mata yang sedikit kebingungan namun juga tercampur rasa malu. “Aku minta maaf, Hamka. Aku hanya terkejut dan ... nggak menyangka ini semua akan terjadi.” Hamka mengangkat bahunya ringan, senyumannya masih tidak hilang. “Nggak perlu minta maaf. Aku justru merasa lucu melihat sisi lain dari dirimu, Intan.” Intan menatapnya dengan bingung. “Sisi lain? Apa maksudmu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD