Bab 19 Low batt

1072 Words
Danan terlihat sedikit goyah. Tatapan mata Intan menusuknya seperti belati tajam yang ia tahu tak akan bisa ditangkis. Ia berusaha membuka mulut, tetapi tidak ada satu pun kata yang sanggup keluar. “Lucu,” lanjut Intan, suara tawanya getir. “Setelah semua yang kamu lakukan, kamu masih bisa tampil seolah-olah orang paling suci di dunia ini. Sungguh, Danan. Bahkan mengenaliku selama dua belas tahun pun tidak membuatmu hafal siapa aku. Itu yang paling menyedihkan.” Danan memalingkan wajahnya, wajah yang tadinya penuh percaya diri kini terlihat dipenuhi ego yang terluka. Namun, bukannya meminta maaf, Danan memilih bertahan dengan kebisuannya. “Kalau nggak ada hal lain, permisi. Aku nggak mau membuang waktuku dengan drama yang kamu ciptakan sendiri,” ucap Intan dingin sebelum berjalan melewati Danan. Satu langkah, dua langkah, tapi tiba-tiba suara Danan memecah udara di koridor itu. “Jadi kamu benar-benar nggak mencintaiku lagi, ya?” Intan menghentikan langkahnya, namun tidak menoleh. Dengan napas yang ia tahan, ia berkata, “Perasaan itu sudah mati, Danan. Kamu sendiri yang membunuhnya.” Dan kali ini, Danan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya menatap punggung Intan yang semakin menjauh, meninggalkannya di sana—sendirian bersama penyesalan yang mulai merayapi hatinya. Danan masih berdiri di tempatnya, mematung dengan pikiran berkecamuk. Kata-kata Intan barusan terasa seperti tamparan keras yang menghantam ego dan hatinya. "Aku yang membunuh perasaannya?" Sungguh, itu tidak mudah untuk ia terima, meskipun di dalam lubuk hati terdalamnya, ia tahu Intan benar. Dengan langkah terburu-buru, Danan mengejar Intan yang sudah hampir sampai di pintu keluar kantor. Suara langkah sepatunya yang berderap di lantai membuat Intan mau tak mau berhenti, menolehkan kepala dengan tatapan jengah. “Apa lagi, Danan?” tanya Intan, nadanya lelah. Danan berdiri di hadapannya, napasnya sedikit tersengal. “Aku hanya ingin bicara lebih baik.” Intan menyilangkan tangan di d**a, ekspresi wajahnya tidak berubah. “Bicara tentang apa lagi? Tentang bagaimana kamu merasa tersakiti hanya karena aku bicara dengan Hamka? Kamu nggak punya hak untuk cemburu, Danan. Kita sudah bukan apa-apa lagi. Hubungan kita nggak lebih dari mantan suami istri.” “Aku hanya ....” Danan menggantungkan kalimatnya, mencari kata yang tepat. “Aku hanya khawatir. Hamka bukan seperti orang yang kamu kira.” Intan tertawa kecil, getir. “Oh, sekarang kamu peduli padaku? Bukankah kamu dulu bahkan nggak mau tahu bagaimana aku bertahan ketika kamu sibuk lembur sampai larut malam bersama perempuan simpananmu?” Danan terdiam. Ucapan itu menusuk, karena ia tahu Intan tidak berbohong. Perempuan itu selalu bertahan, selalu menunggu—sampai akhirnya ia berhenti menunggu. “Intan, aku tahu aku salah. Aku tahu aku bukan suami yang baik, tapi ....” Danan menelan ludah, suaranya melembut, hampir seperti memohon. “Tapi, jangan anggap aku musuhmu.” Intan menatap Danan lama, sorot matanya penuh penilaian. “Aku nggak pernah menganggapmu musuh, Danan. Kamu hanya bagian dari masa lalu yang mengajarkanku untuk lebih kuat. Tapi itu saja.” Danan menghela napas panjang, menunduk sejenak, lalu mengangkat kepalanya kembali, mencoba terlihat lebih tenang. Namun, dalam tatapannya yang redup, terlihat jelas kelelahan yang selama ini ia tutupi. “Kamu nggak pernah berpikir untuk ... memaafkan aku?” “Memaafkan?” Intan mengulang kata itu, seolah mencerna maknanya. “Aku sudah memaafkanmu, Danan. Tapi memaafkan bukan berarti melupakan. Kamu nggak perlu merasa bersalah lagi. Aku sudah melepaskan semuanya. Kamu juga harus belajar melakukan hal yang sama.” “Intan ....” Danan mencoba menahan, tapi Intan sudah melangkah menjauh. “Kita selesai, Danan. Terimalah itu.” Di dalam mobilnya, Intan duduk terdiam sejenak sebelum menyalakan mesin. Pertemuannya dengan Danan barusan benar-benar mengaduk perasaannya. Bukannya ia masih menyimpan dendam atau cinta, tetapi ada luka yang seolah diaduk-aduk kembali setiap kali melihat pria itu. Dulu, ia begitu mencintai Danan. Seluruh hidupnya ia dedikasikan untuk pria itu. Tapi apa balasan yang ia dapat? Sebuah pengkhianatan, bukan hanya fisik tetapi juga emosional. Danan tidak pernah memberikannya perhatian, apalagi kasih sayang. Pria itu bahkan menganggapnya tidak lebih dari kewajiban yang harus dipenuhi. Intan menatap pantulan dirinya di kaca spion, menghela napas panjang. “Sudah cukup, Intan. Jangan biarkan masa lalu menghancurkan kebahagiaanmu lagi,” gumamnya pada diri sendiri. Namun, tak bisa ia pungkiri, interaksi tadi masih meninggalkan jejak kecil di hatinya—bukan cinta, melainkan rasa iba. Mungkin Danan memang terlambat menyadari segalanya. Sayangnya, beberapa hal memang tidak bisa diperbaiki, sekeras apa pun usaha yang dilakukan. Danan berjalan lunglai menuju parkiran, pikirannya masih penuh dengan kata-kata Intan. Rasa sesak menyelimutinya, seperti ada beban berat yang menghimpit dadanya. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar kalah. Intan, perempuan yang dulu begitu ia abaikan, kini berdiri tegak tanpa dirinya. Danan menyalakan rokok, menghirup asapnya dalam-dalam, tapi bahkan itu tidak bisa menenangkan kegelisahan yang ia rasakan. “Aku bodoh,” gumamnya pelan. Bayangan Intan yang dingin, tatapan kecewa yang tak lagi menyiratkan cinta—semua itu menusuknya lebih dalam daripada yang ia duga. Ia berpikir kembali pada semua kesalahan yang ia buat. Perselingkuhan dengan Rena, ucapan-ucapan kasarnya, bahkan kebiasaannya mengabaikan Intan saat masih menjadi istrinya. Danan tertawa kecil, getir. Karma memang tidak pernah main-main, batinnya. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Danan melihat layar dan mendapati nama Rena muncul di sana. Dengan perasaan kesal, ia mematikan panggilan itu. Rena—perempuan yang dulu membuatnya buta, kini tidak lagi berarti apa-apa baginya. Sementara Intan, perempuan yang selalu ada, malah ia sia-siakan. Danan menatap langit sore yang mulai memerah, kemudian bergumam pada dirinya sendiri. “Aku akan menebus semuanya, Intan. Bagaimanapun caranya.” Namun, di lubuk hatinya, ia tahu itu hanya harapan kosong. Karena bagi Intan, semuanya sudah selesai. *** Intan memandangi dashboard mobilnya dengan gelisah. Suara mesin yang mulai aneh membuat dahinya berkerut. Dia melirik ke layar GPS yang tiba-tiba mati total. Tak ada sinyal, tak ada panduan arah. Jalanan di depannya pun terlihat semakin sepi dan menyeramkan. “Ah, kenapa tiba-tiba begini sih?” gumamnya sambil meraih ponsel dari kursi sebelah. Layar ponselnya menunjukkan baterai low batt dan hanya tinggal dua persen. “Ah! Sial.” Sejak siang tadi, dia sibuk bekerja dan lupa mengisi daya. Sekarang, saat sedang dalam perjalanan untuk menemui klien di luar kota, semua teknologi yang seharusnya membantunya malah berkhianat. Jalanan berliku di tengah perkebunan kelapa sawit yang membentang membuatnya semakin kebingungan. Langit mendung, dengan gerimis kecil yang mulai jatuh menambah suasana mencekam. “Tetap tenang, Intan. Pasti ada jalan keluar.” Ia menepi sejenak, mematikan mesin mobil untuk menghindari kerusakan lebih parah. Namun, begitu mesin mati, mobilnya mendadak tak bisa dinyalakan lagi. “Ya, Tuhan! Apa-apaan ini?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD