Intan menghela napas pelan, berusaha meredam gejolak dalam dirinya. Ia menyisir rambut panjangnya dengan jemari, mencoba terlihat tidak terpengaruh.
“Hamka, aku bisa pergi sendiri. Aku bukan anak kecil yang perlu diantar-jemput.”
Hamka tidak bergeming. “Aku tahu. Tapi aku hanya ingin memastikan kamu memulai harimu dengan baik. Lagi pula, bukankah lebih nyaman jika kita berangkat bersama? Perjalanan ke kantor akan jadi lebih menyenangkan.”
Intan mendekat beberapa langkah, menatap Hamka lekat-lekat. “Hamka, aku nggak tahu apa yang kamu pikirkan, tapi aku ingatkan sekali lagi. Jangan pernah berpikir hubungan kita bisa lebih dari sekadar rekan bisnis atau—” Intan berhenti sejenak, suaranya lebih dingin, “sebatas teman ngopi.”
Hamka menatapnya dengan tenang, sama sekali tidak tersinggung. Matanya yang penuh pengertian membuat Intan semakin kesal, karena ia tidak bisa membaca sedikit pun niat buruk di sana.
“Aku mengerti, Intan,” jawab Hamka lembut.
“Kamu nggak perlu khawatir. Aku bukan tipe pria yang suka memaksa atau melewati batas. Tapi, izinkan aku menjadi seseorang yang bisa kau anggap sebagai teman, tanpa tekanan, tanpa ekspektasi apa pun.”
Intan terdiam. Kata-kata Hamka menusuk relung hatinya yang paling dalam. Ia ingin marah, ingin menegaskan lagi bahwa dirinya tidak butuh perhatian siapa pun, namun entah kenapa, suaranya tercekat.
“Aku cuma ingin memastikan kamu nyaman,” lanjut Hamka. “Kalau keberadaanku membuatmu nggak nyaman, aku akan pergi sekarang juga.”
Intan menatap Hamka dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada perang kecil dalam dirinya—antara pertahanan yang ia bangun sekokoh benteng baja dan kehangatan yang pelan-pelan mulai merambat dari sikap Hamka.
“Naiklah, Intan,” bujuk Hamka akhirnya. “Aku janji, nggak akan banyak bicara selama perjalanan.”
Intan mendengus kecil, setengah tertawa, setengah kesal. “Kamu benar-benar keras kepala, ya?”
Hamka hanya mengangkat bahu sambil tersenyum, penuh kemenangan. “Nggak lebih keras kepala dari dirimu.”
Di dalam mobil, suasana hening di awal perjalanan. Intan duduk di kursi penumpang dengan tangan terlipat di d**a, memandang ke luar jendela.
Hamka, seperti yang dijanjikannya, tidak banyak bicara. Ia hanya fokus menyetir sambil sesekali melirik Intan dari sudut matanya.
“Musik?” tanya Hamka tiba-tiba. “Aku bisa nyalakan radio kalau kamu mau.”
Intan menghela napas pendek. “Nggak usah. Diam saja seperti ini sudah cukup.”
Hamka terkekeh pelan. “Baik, Nona Intan.”
Sekilas, nada suaranya seperti candaan, tapi tidak ada niat mengejek di sana.
Intan hampir tersenyum, namun buru-buru menekuk wajahnya lagi. Ia tidak ingin memberi Hamka celah sedikit pun untuk berpikir dirinya luluh.
“Kamu selalu begini, ya?” Intan akhirnya angkat bicara setelah beberapa menit hening.
“Begini bagaimana?” tanya Hamka, bingung.
“Memberikan perhatian kecil yang membuat orang merasa … ehm nyaman, terus baper.” Intan menekankan kata terakhir dengan lirih.
Hamka menoleh sekilas, senyumnya tipis. “Memberikan perhatian itu bukan hal besar, Intan. Kamu pantas mendapatkan perhatian itu. Nggak ada salahnya membuat seseorang merasa dihargai, bukan?”
Intan menelan ludah. Kata-kata Hamka, sesederhana apa pun, seperti memiliki kekuatan untuk menghancurkan sebagian kecil temboknya.
Namun, ia cepat-cepat menegakkan dinding itu kembali.
“Berhenti di sini saja,” ujar Intan tiba-tiba ketika mereka hampir sampai di parkiran kantor.
Hamka mengerutkan dahi. “Kenapa? Kita hampir sampai di pintu masuk.”
“Nggak perlu. Aku bisa berjalan sendiri dari sini.”
“Intan—”
“Hamka,” potong Intan cepat, menatap pria itu dengan serius. “Kamu pria baik. Tapi jangan terlalu baik padaku. Aku nggak pengen ada harapan atau—” Intan mencari kata yang tepat, “perasaan yang tidak seharusnya muncul.”
Hamka terdiam sejenak sebelum mengangguk kecil. “Baiklah. Aku akan menghormati keinginanmu.”
Tanpa berkata lagi, Intan turun dari mobil dan melangkah dengan cepat.
Hamka hanya bisa menghela napas panjang, tangannya memegang kemudi dengan erat. Dari kaca spion, ia melihat Intan berjalan dengan kepala tegak—sosok wanita yang kuat dan mandiri. Namun, di balik itu, Hamka tahu ada luka yang belum sembuh sepenuhnya.
“Pelan-pelan saja, Hamka,” gumamnya pada diri sendiri. “Tembok yang tinggi nggak bisa dihancurkan dalam semalam.”
***
Sementara itu, di dalam kantor, beberapa rekan kerja menyadari kedatangan Intan yang lebih pagi dari biasanya. Nia, seperti biasa, menjadi yang pertama menggoda.
“Bu Intan, senyum Anda hari ini lebih cerah dari biasanya. Apa ada yang spesial?”
Intan melirik tajam ke arah Nia, tetapi bibirnya tidak bisa menyembunyikan lengkungan kecil.
“Kerjaan menumpuk, Nia. Fokus saja pada tugasmu.”
Nia hanya terkikik, lalu berbisik pelan, “Kalau soal Pak Hamka, saya dukung sepenuhnya, Bu.”
Intan menghela napas. Namun, diam-diam, hatinya terasa lebih ringan pagi itu.
Entah karena apa—atau karena siapa—hari-hari yang biasanya terasa berat kini terasa lebih mudah dijalani. Dan untuk pertama kalinya, Intan mulai bertanya pada dirinya sendiri, apa salahnya jika seseorang peduli padamu?
Namun, ia belum siap mencari jawabannya. Tidak sekarang. Tidak ketika hatinya masih mencoba untuk pulih.
Intan baru saja keluar dari ruang meeting ketika langkahnya terhenti oleh sosok yang sudah lama tidak ingin dilihatnya terlalu dekat.
Danan berdiri bersandar di dinding koridor dengan tangan terlipat di d**a, ekspresinya penuh sindiran tajam. Pintu kantor sudah mulai sepi, hanya suara langkah-langkah samar dari kejauhan yang menemani suasana itu.
“Aku dengar kamu sering keluar bareng Hamka,” ucap Danan tiba-tiba, nada suaranya sengaja diperlambat. “Bagaimana rasanya menikmati perhatian dari pria lain, hm?”
Intan menegakkan punggungnya, menatap Danan dingin tanpa sedikit pun keraguan. “Apa urusanmu, Danan? Statusku sekarang sudah bebas.”
Danan mendengus sinis, berjalan mendekat dengan langkah santai namun sikapnya penuh penilaian.
“Aku hanya mengingatkan, jangan merasa terlalu istimewa karena perhatian itu. Kamu pikir Hamka benar-benar tertarik padamu? Dia sudah punya pasangan, Intan. Kamu nggak lebih dari pelarian.”
Intan mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya, tapi tetap berdiri dengan kepala tegak. Hatinya panas, tapi wajahnya tetap tenang. Danan, benar-benar menyebalkan, batinnya.
“Kenapa, Danan? Kamu cemburu?” Intan menyipitkan mata, suaranya sarat akan sarkasme. “Aku ini siapa buatmu? Mantan istri yang kamu sia-siakan, perempuan yang selama dua belas tahun sangat mencintaimu mulai sadar akan kebodohannya? Jangan khawatir, aku nggak sepicik itu untuk meniru kelakuan murahanmu.”
Danan mengernyit, tatapan matanya seperti api yang menyala. “Maksudmu apa?!”
“Maksudku,” potong Intan tegas, matanya menatap tajam hingga menusuk Danan, “aku bukan seperti Rena yang kamu sembunyikan di balik pintu kantor ini. Jangan pikir aku akan bersikap sama. Aku punya martabat, Danan. Dua tahun kita menikah, satu hal yang harusnya kamu tahu, aku selalu setia, selalu berkomitmen.”
Danan tercekat. Rahangnya mengeras, seolah ingin membalas, tapi kata-kata Intan benar-benar menusuk dalam.
Intan melanjutkan, suaranya lebih pelan tapi penuh penekanan.
“Bahkan ketika kamu nggak pernah memberikan hak-hakku sebagai istri, aku nggak pernah sekali pun berpikir untuk berpaling atau membalasmu. Jangan samakan aku dengan perempuan yang kamu pacari di belakangku.”