Bab 17. Cahaya di Ujung Jalan

1137 Words
Pagi itu, sinar matahari menembus jendela besar di ruang kerja Intan. Udara masih segar, dan suara deru kota terdengar samar dari kejauhan. Intan duduk di kursinya, jemarinya lincah mengetik laporan akhir bulan yang harus ia serahkan hari itu. Rutinitas pekerjaan yang dulu terasa melelahkan kini menjadi hal yang ia nikmati sepenuh hati. Ada kepuasan ketika melihat timnya tumbuh dan bekerja dengan baik. Bahkan Danan—yang dulu memandangnya sebelah mata—tidak punya alasan untuk meremehkan kinerjanya. Sejak Intan kembali ke perusahaan, ia menjadi sosok yang disegani. Tegas, profesional, dan berwibawa. Namun, di balik sosok pemimpin itu, ada seorang wanita yang mulai berdamai dengan dirinya sendiri, menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan hidupnya. “Bu Intan?” Suara lembut dari pintu membuatnya menoleh. Seorang rekan kerjanya, Nia, berdiri dengan senyum cerah sambil menggenggam dua cangkir kopi. “Saya bawakan Roti dan kopi, Bu. Anda pasti lupa sarapan lagi.” Intan tersenyum kecil, menerima cangkir itu. “Terima kasih, Nia. Tapi nggak usah repot-repot. Saya bisa pesan kopi sendiri.” “Ah, nggak apa-apa, Bu. Saya senang kok.” Nia lalu duduk di kursi tamu, wajahnya berbinar. “Oh ya, Bu, ada kabar apa nih dengan investor kita? Pak Hamka sering sekali main ke kantor belakangan ini.” Intan melirik Nia sambil menaikkan alis. “Dan? Apa yang mau kamu tanyakan?” Nia terkikik kecil. “Bukan apa-apa sih. Tapi sepertinya beliau perhatian sekali dengan Ibu. Saya dengar, beberapa kali Ibu diajak minum kopi sepulang kerja.” Intan hanya menggeleng sambil menyesap kopinya. “Hamka hanya rekan bisnis. Nggak ada yang lebih dari itu.” “Tapi Pak Hamka beda, Bu. Beliau itu ramah, sopan, nggak seperti laki-laki kebanyakan. Dan—” Nia berhenti, melihat tatapan Intan yang tegas. “Oke-oke, saya berhenti gosip. Tapi, kalau ada apa-apa, jangan lupa cerita ya, Bu. Saya penasaran!” Intan hanya tersenyum tipis dan kembali pada pekerjaannya. Dalam hati, ia tahu Nia benar. Hamka memang berbeda. Sore itu, ketika Intan menyelesaikan pekerjaan terakhirnya, ponsel di mejanya bergetar. Sebuah pesan singkat dari Hamka. “Butuh rehat sejenak? Ada kedai kopi baru di dekat kantor. Bisa temani saya?” Intan menatap layar itu lama. Biasanya, ia akan menolak tanpa berpikir dua kali. Tapi hari ini, entah kenapa, ia merasa ingin keluar sejenak dari rutinitas. “Baik. Setengah jam saja.” "Oke, siap!" Kedai kopi mungil itu terletak di sudut jalan yang ramai. Lampu temaram, aroma kopi yang memenuhi udara, dan suara denting gelas membuat suasana terasa nyaman. Hamka sudah duduk di meja dekat jendela ketika Intan datang, mengenakan blazer krem yang dipadukan dengan blouse putih. “Terima kasih sudah mau menemani aku,” ucap Hamka sambil berdiri menyambutnya. "Nggak usah berterima kasih. Aku juga butuh istirahat,” jawab Intan singkat, duduk di kursi yang disiapkan. Hamka memesan dua kopi hitam dan memulai percakapan santai. Tidak ada pembicaraan tentang pekerjaan, tidak ada tekanan. Hanya dua orang dewasa yang menikmati waktu luang. “Jadi, apa yang membuat seorang Intan senang belakangan ini?” tanya Hamka tiba-tiba, matanya menatap Intan dengan penuh perhatian. Intan terdiam sejenak, memutar cangkir kopinya. “Karierku. Pekerjaan yang berjalan baik. Tim yang solid. Itu cukup membuat aku bahagia.” Hamka mengangguk pelan. “Bagus. Nggak semua orang bisa merasa cukup dengan dirinya sendiri.” “Dulu aku nggak begitu,” lanjut Intan dengan suara pelan, hampir seperti gumaman. “Aku terlalu sibuk membahagiakan orang lain sampai lupa caranya membahagiakan diri sendiri.” Hamka mendengar tanpa menyela. Ada kehangatan dalam tatapannya, sesuatu yang membuat Intan merasa aman untuk bercerita. “Tapi sekarang, aku udah belajar. Aku udah lelah berkorban untuk orang yang nggak pernah menghargai keberadaanku. Hidupku adalah milikku sendiri.” Hamka tersenyum. “Itu pemikiran yang hebat. Kamu kuat, Intan.” Intan menatap pria di depannya, mencari tanda-tanda bahwa kalimat itu hanya basa-basi. Tapi Hamka terlihat tulus, tanpa ada niat untuk mengambil keuntungan dari apa pun. Itu membuat Intan merasa aneh. Mengapa pria ini bisa begitu berbeda? “Kamu terlalu baik, Hamka,” ucapnya tiba-tiba. “Tapi, aku harap kamu nggak salah paham. Aku hanya ingin berteman. Lebih dari itu … aku nggak bisa.” Hamka mengangkat kedua tangannya, seakan menyerah. “Tenang saja. Aku nggak meminta lebih. Aku cuma pengen lihat kamu tersenyum, itu aja. Lagipula, aku bukan tipe pria yang memaksa.” “Bagus kalau begitu,” balas Intan singkat, tapi ia tidak bisa menahan senyum kecil di bibirnya. *** Hari-hari berlalu dengan cepat. Intan tenggelam dalam pekerjaannya, menikmati peran barunya sebagai pemimpin yang dihormati. Ia tertawa lebih sering bersama rekan-rekannya, berkumpul di sela-sela makan siang, dan pulang dengan perasaan puas setelah menyelesaikan tugasnya. Namun, di sela-sela hari-hari itu, kehadiran Hamka seperti menjadi warna baru dalam hidupnya. Pria itu tidak pernah memaksa, tidak pernah mendesak, hanya hadir dengan cara yang lembut dan hangat. Setiap ajakan minum kopi darinya selalu disertai dengan candaan ringan atau obrolan yang menyenangkan. Hamka tahu kapan harus berhenti, kapan harus memberi ruang, dan itu membuat Intan merasa dihargai. Bagi Intan, ini adalah hal yang baru. Setelah bertahun-tahun menjadi istri yang diabaikan, ia akhirnya bertemu seseorang yang tidak melihatnya hanya sebagai objek. Tidak ada paksaan, tidak ada harapan berlebihan, hanya penghargaan yang tulus. Meski demikian, tembok itu tetap ada. Sekokoh hari pertama ia membangunnya. Intan tahu ia belum siap untuk membuka hatinya lagi. Masa lalu masih bersemayam di sana, membayangi setiap langkahnya. Namun, setidaknya sekarang, ia mulai belajar untuk menikmati hidupnya kembali. Suatu sore, ketika Intan dan Hamka bertemu di kafe langganan mereka, pria itu berkata pelan, “Aku nggak akan buru-buru, Intan. Jika suatu hari kamu siap untuk percaya lagi, aku akan ada di sini. Tapi sampai saat itu tiba, mari kita jalani aja hari-hari seperti ini.” Intan menatap Hamka lama, perasaannya campur aduk. Di satu sisi, ia ingin percaya. Di sisi lain, ia masih terlalu takut untuk memulai segalanya dari awal. “Terima kasih, Hamka,” ucapnya akhirnya, suaranya bergetar. “Terima kasih sudah menghargai aku.” Hamka hanya tersenyum. “Kamu pantas dihargai, Intan.” Dan di hari itu, untuk pertama kalinya sejak lama, Intan merasa ada harapan kecil yang mulai tumbuh di hatinya—harapan yang masih samar, namun nyata. Pagi itu, mentari belum sepenuhnya naik ketika Intan membuka pintu rumahnya. Udara masih sejuk, sisa embun menyelimuti pepohonan. Ia berjalan dengan langkah cepat menuju mobilnya yang terparkir di halaman, namun pandangannya langsung tertumbuk pada sosok pria yang berdiri bersandar di kap mobil hitam elegan di tepi jalan. Hamka. Dengan kemeja biru langit yang digulung hingga siku dan jam tangan mewah di pergelangan, Hamka tampak santai. Senyum ramahnya langsung merekah begitu melihat Intan. “Selamat pagi, Intan.” Intan menghentikan langkahnya, memandang Hamka dengan alis terangkat. “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya tajam, berusaha menutupi rasa heran sekaligus gugupnya. “Menjemputmu. Aku pikir, nggak ada salahnya kalau kita berangkat bersama,” jawab Hamka dengan nada ringan, seolah ini adalah hal biasa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD