Bab 10. Batas Penyesalan

1029 Words
"Andaikan aja bisa segampang itu, aku yakin sekarang pun Abang udah nikah juga," sindir Intan seraya melayangkan tatapan mautnya pada sang kakak. Billy langsung tergelak. Tidak percaya sekarang malah dirinya dibalas dengan serangan itu dari sang adik. Tiba-tiba wajahnya jadi kaku, entah apa yang sedang dia pikirkan. Intan tidak pernah mendengar berita kedekatan abangnya dengan seorang wanita. Kisah cintanya sangat tertutup. Terkadang dia merasa penasaran, tipe ideal kakaknya wanita seperti apa. "Bang Billy nggak pernah pacaran kah?" Intan akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. "Atau jangan-jangan selama ini Bang Billy jadi simpanan istri orang, makanya rahasia mulu." "Heih, ngawur! Gila aja." Pria itu tampak menampik anggapan sang adik, bahwa kisah cintanya seburuk itu. Dia pria yang bermartabat, sehingga pikiran seperti itu tidak pernah terlintas dalam otaknya. "Atau ... Bang Billy masih terjebak friendzone, mencintai sahabat sendiri yang udah punya pacar, ya?" goda Intan dan kali ini ia tidak bisa lepas dari rangkulan ketek abangnya. "Ngomong apa lagi, kamu?" "Ah! Ampun, Bang!" sergah Intan sambil terkekeh-kekeh. Ia mencoba untuk melepaskan diri dari rangkulan Billy, meskipun pada akhirnya ia malah memeluknya dengan erat. Billy perlahan-lahan melepaskan gayutan tangannya, lalu beralih mengusap lembut rambut sang adik kesayangannya. Wanita yang selalu menjadi prioritasnya setelah ibu mereka meninggal karena kecelakaan. "Kamu harus bahagia, Intan. Dan jangan menganggap bahagiamu cuma saat bersama Danan. Aku sebagai abangmu, sebenarnya cukup cemburu dikalahkan pria b******k itu dalam meraih perhatianmu," ucap Billy pelan, setelah mengatakan itu ia pun menghela napas panjang. "Aku minta maaf, Bang. Aku nggak akan bucin lagi mulai sekarang. Aku juga bakal langsung mengajukan perceraian aja, karena udah nggak ada yang tersisa, yang mungkin akan jadi pertimbangan untuk tetap mempertahankan pernikahanku." "Oya? Apa selama ini, Danan nggak pernah memperlakukanmu dengan baik?" toleh Billy, mencoba untuk mendapat sinyal kejujuran dari kedua mata sang adik. "Andaikan Bang Billy tahu, kalau selama menikah, Danan cuma menganggapku sebagai perawat ibunya," batin Intan, seraya menundukkan kepala, mencoba untuk menghindari tatapan abangnya. "Ayo pulang. Papah udah nungguin kita di rumah. Dia kangen banget sama kamu." Entah kenapa, ucapan kakaknya mengenai sikap ayah mereka malah membuat air mata Intan kembali mengalir membasahi pipinya. "Jadi ... papah udah tahu tentang keadaan rumah tanggaku?" Intan diliputi rasa malu luar biasa setelah menyadari bagian kekeliruannya. "Kamu boleh menenangkan pikiranmu di sini untuk sementara, tapi jangan terlalu berlarut-larut." "Aku akan pulang, setelah membersihkan rumah ini," janji Intan, merujuk pada rumah kosong peninggalan nenek yang ia tinggali untuk sementara ini. "Oke. Kalau gitu Bang Billy balik dulu, ya. Ada kerjaan yang udah mepet deadline soalnya," pamit Billy sambil mengusap-usap pundak sang adik, penuh kasih sayang dan semangat. "Hm. Makasih ya, Bang." "Aku seneng kamu balik ke rumah. Jangan berpikir kalau kamu nggak punya siapa-siapa. Kami selalu support kamu, meskipun beberapa di antaranya hanya lewat doa." Intan mengangguk penuh haru, atas pengertian sekaligus kepedulian yang ditunjukkan kakak padanya. Saat ini, ia merasa benar-benar tidak sendirian lagi. *** Di sisi lain, Danan terjebak dalam kebingungan. Ancaman cerai yang diajukan Intan membuatnya sadar akan kesalahan besar yang telah dia lakukan. Namun, rasa bersalahnya bukan hanya tentang menghancurkan rumah tangga mereka, melainkan juga tentang kehilangan yang tidak pernah terbesit dalam pikirannya. Danan memutuskan untuk mengejar Intan pulang ke rumah neneknya. Untung saja dia bertemu dengan gadis itu di sana. Intan terlihat sedang membereskan beberapa pot bunga yang sudah tidak terawat. "Intan," panggilnya, setelah membuka pagar lalu masuk melintasi halaman rumah. Danan berdiri tidak jauh dari Intan, meskipun tampak perempuan itu tidak menganggap kedatangannya. Di dalam pikiran Danan, ia hanya perlu memohon kesempatan untuk memperbaiki segalanya. "Intan! Kasih kesempatan aku buat ngomong, please." Intan bergeming, berdiri di sisi pagar teras tanpa sudi bersitatap dengan pria yang dulu selalu menjadi prioritasnya itu. "Kita pulang, dan selesaikan ini dengan kepala dingin. Aku mohon sama kamu, Tan." "Bukankah aku udah bantuin kamu menyelesaikannya? Apa masih ada yang kurang?" sahut Intan, dengan nada tak acuh. Intan tahu, saat ini Danan sedang terdesak oleh situasi yang sudah berada di luar kendalinya. Itulah kenapa, ia sampai sejauh ini datang hanya untuk merayunya kembali pulang. "Apa yang terjadi antara aku dan Rena sama sekali nggak seperti yang kamu pikirkan, Intan." "Sampai kapan Mas Anan akan menyembunyikan hubungan gelap itu? Bukankah dua tahun sudah cukup untuk memainkan drama rumah-rumahan bersamaku?" "Intan! Mas tahu ini salah. Mas janji, akan memutuskan hubungan dengan dia." “Oya? Mas Anan pikir, ini sepenuhnya hanya karena Rena? Nggak sih,'' tepis Intan seraya mengalihkan pandangannya dari taman rumah yang terbengkalai ke arah Danan. Intan menyedekapkan keduanya tangannya, menghadapi suaminya dengan segenap keberanian yang tumbuh, seiring dengan rasa kecewanya yang berkobar. "Tapi, kamu ninggalin rumah, Tan. Kalau nggak gara-gara masalah ini, kamu nggak mungkin—" "Aku lelah, Mas. Sepertinya perjuanganku buat mendapatkan balasan cinta darimu cukup sampai di sini aja." "Intan, pikirkan ibuku juga. Kamu nggak boleh cuma gara-gara aku dan Rena makan malam bersama lalu ... lalu kamu ninggalin ibuku begitu aja," sergah Danan, mencoba untuk mendapatkan pengertian dari Intan lagi. Dia tahu, perempuan ini sangat tergila-gila padanya, sampai dua belas tahun ini bertahan untuk mendampinginya. Tidak mungkin, semudah itu pergi dari rumah, tanpa mau dibujuk kembali. "Aku janji, nggak akan banyak lembur lagi dan memberikan banyak waktu luang di rumah sama kamu." "Untuk apa? Toh aku udah memutuskan untuk berhenti gangguin kamu lagi kok. Kita akan urus cerainya dan kamu bebas hidup bahagia bersama perempuan itu." "Intan! Kenapa kamu malah ngomongin cerai sih? Padahal aku nggak pernah sekalipun berpikir sampai di sana." "Oya? Terus pesan Mas Anan pada perempuan itu untuk bersabar sebentar lagi buat apa dong, kalau bukan menunggu perceraian kita?" cecar Intan, kali ini tidak seperti biasanya, sorot mata kebencian begitu kuat terlontar kepada Danan. "Intan ...." "Mas juga menjanjikan buat nggak pernah anggap aku sebagai istri demi dia, 'kan?" "Aku ...." Danan ingin mengelak. Namun, dia kehabisan kalimat untuk menyangkal, karena apa yang diucapkan Intan merupakan fakta andalannya agar Rena tidak terus merengek, meminta kejelasan hubungan mereka. “Kamu sudah mengkhianati aku, dan aku nggak bisa hidup dengan bayang-bayang itu. Jangan memaksaku untuk bersabar lebih lama lagi. Apalagi alasanmu nggak mau menyentuhku selama ini juga karena demi menjaga perasaan perempuan itu. Jadi, untuk apa pernikahan ini dilanjutkan, Mas? Untuk apa?” Danan hanya bisa terdiam. Raut wajahnya mulai keruh, tetapi Intan tidak tergerak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD