Bab 11. Bahan Perbandingan

1080 Words
Sementara itu, Rena tidak bisa diam saja melihat situasi yang dialaminya. Ia takut Intan dan Danan benar-benar balikan. Ia pun memutuskan untuk mengisi kekosongan di rumah Danan. Dia ingin mengambil alih tanggung jawab merawat ibu Danan, Nurmah, dengan harapan itu akan membuat Danan lebih bergantung padanya dan segera melepaskan Intan. Namun, apa yang ia pikir akan menjadi langkah mudah ternyata berbalik menjadi sebuah mimpi buruk. Kondisi Nurmah yang menderita komplikasi diabetes jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan. Luka di kaki wanita tua itu mengeluarkan bau anyir yang menusuk hidung, membuat Rena muntah-muntah apabila harus membersihkannya. "Kenyataan b******k macam apa ini," batin Rena, mencoba menahan diri agar tidak sampai memuntahkan isi perutnya, di hadapan perempuan tua itu. "Bagaimana mungkin Intan kuat merawat perempuan busuk seperti ini?" "Untuk apa lagi kamu datang ke sini?" tegur Nurmah, saat melihat Rena hanya diam mematung di hadapannya. "Saya datang untuk mengganti perban di kaki Ibu," ucap Rena ragu-ragu. "Kamu yakin mampu?" Nada Nurmah jelas diucapkan sebagai ejekan. Rena mencoba untuk merekatkan masker yang menutupi hidung dan mulutnya, sebelum berjongkok di hadapan Nurmah. Ragu-ragu tangannya mulai terulur pada perban yang menutupi luka di ujung jemari kaki perempuan di hadapannya itu, nyatanya rasa jijik pun kian menjadi, dan terjadilah pergolakan batin di dalam dirinya. “Intan selalu melakukannya dengan sabar dan telaten. Kenapa kamu nggak bisa seperti dia?” kata Nurmah, suaranya lemah tetapi penuh sindiran. "Selamanya kamu nggak mungkin seperti dia." Rena terdiam, merasa dipermalukan. Ia mencoba mengabaikan komentar itu, tetapi kata-kata Nurmah berikutnya menghancurkan benteng terakhir kesabarannya. “Kamu itu hanya perempuan murahan yang bermodal tubuh untuk mendapatkan apa yang kamu mau. Intan beda. Dia tulus, dia nggak pernah berharap imbalan apa pun dari Danan atau aku,” kata Nurmah lagi, suaranya cukup tajam untuk didengarkan. "Kalau kamu merasa, setelah merawatku, merebut Danan lalu merasa kalau kamu lebih baik dari Intan. Kamu nggak lebih dari seorang perempuan gila yang obsesif, kamu paham!" cerca Nurmah dengan nada yang sangat halus, hingga tidak ada orang lain yang tahu bahwa perkataannya begitu menyakitkan bagi orang yang menerima ejekan itu. "Sudah cukup kamu menghina aku, dasar perempuan bau busuk!" teriak Rena sambil melotot tajam ke arah perempuan yang telah melahirkan Danan itu. Rena marah besar. Dia melemparkan obat-obatan milik Nurmah hingga berhamburan jatuh ke lantai, lalu pergi meninggalkan kamar dengan perasaan sangat jengkel. Rena merasa semakin frustrasi dan ketidakpuasan. Ia mencoba mendekati Danan, berharap pria itu akan berpaling sepenuhnya padanya setelah Intan pergi. Tetapi, Danan malah terkesan semakin menjauh. Siang itu, Rena berusaha menemui Danan pada jam istirahat makan siang. "Aku dipecat dari perusahaan, Mas," ungkap Rena sambil menangis sesenggukan. "Aku juga diusir dari apartemen, tanpa kompensasi pengembalian dana sepeserpun." “Aku nggak tahu, Ren,” kata Danan saat Rena mencoba membahas masa depan hubungan mereka. “Aku juga nggak yakin bisa melanjutkan hubungan ini.” Rena tidak percaya dengan apa yang ia dengar. “Kamu bercanda, kan? Setelah semua yang kita lalui, kamu mau ninggalin aku gitu aja, hah?!” “Aku butuh waktu, Ren,” jawab Danan singkat sebelum pergi meninggalkan Rena. "Butuh waktu? Terus kamu pikir, aku nggak terguncang juga gara-gara kejadian ini, hah! Kamu b******k, Danan!" Rena meneriaki Danan, tapi nyatanya pria itu benar-benar meninggalkannya tanpa menoleh sedikitpun. Sementara itu, kejadian tentang perilaku buruk Rena yang memperlakukan ibunya dengan kasar akhirnya diketahui Danan malam harinya sepulang kerja. Hal itu menjadi pukulan terakhir yang membuat Danan menyadari betapa berharganya Intan dalam hidupnya. "Bu! Kenapa jadi berantakan begini?" "Siapa lagi kalau bukan ulah perempuan simpananmu itu," ujar Nurmah, seraya melengos kesal pada anak laki-lakinya. “Bu, aku salah,” kata Danan sambil berjalan mendekat. “Aku salah memilih.” Sambil memunguti barang-barang termasuk obat-obatan yang berceceran di lantai, Danan menghela napas, mencoba untuk menguasai emosinya. Nurmah hanya bisa menatap putranya dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa kamu tega melakukan tindakan jahat seperti ini sih, Nan!" Nurmah pun mulai menangis sesenggukan. "Kurangnya Intan apa sih sebenernya? Dia mencintai kamu, bersabar atas semua tindak-tandukmu. Kamu sebenarnya butuhnya istri seperti apa lagi, sih Danan!" "Aku minta maaf, Bu." “Kamu harus minta maaf pada Intan, Danan. Tapi, ibu nggak yakin dia mau kembali, setelah selama ini kamu udah membuat Intan menghabiskan sisa-sisa kesabarannya dalam menghadapi sikapmu.” Danan terduduk di sofa ruang tamu dengan kepala tertunduk. Keputusannya mengusir Rena dari rumah adalah langkah yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Namun, rasa muak dan amarahnya memuncak saat mengetahui Rena tidak menghormati ibunya, bahkan sampai melemparkan obat-obatannya. “Sebaiknya kamu pergi dari sini sekarang juga!” seru Danan begitu melihat kedatangan Rena, suaranya bergetar antara emosi dan penyesalan. "Kamu tega ngusir aku, Mas?" Rena melotot tidak percaya, mendengar kata pengusiran yang keluar dari mulut Danan, tanpa memberinya kesempatan untuk menjelaskan, kenapa tadi pagi ia bersikap seperti itu pada ibunya. "Kamu pikir, selama ini siapa orang yang paling aku prioritaskan dalam hidupku, Rena? Kamu dan ibuku, tapi apa! Kamu telah menghancurkan semuanya dengan drama-drama yang kamu susun, sampai aku harus mengalami kehancuran seperti ini!" teriaknya, sambil melemparkan tatapan sinis pada Rena. "Kamu juga menginginkan aku! Jangan munafik, Danan! Kamu menikmati hubungan kita!" Rena mencoba membela diri, tetapi Danan tidak memberi ruang untuknya berbicara. “Aku sudah cukup membayar apa yang kamu berikan. Itu impas. Mulai sekarang, hubungan kita selesai. Kamu pergi sekarang dari sini!” "Aku nggak ngira kamu bakal seegois ini, Danan!" teriak Rena, merasa tidak terima diperlakukan rendah seperti ini. "Pergi! Jangan lagi menampakkan wajahmu di hadapan ibuku!" Tanpa ampun, Danan mengusirnya keluar dari rumah. Rena, yang merasa kalah telak, pergi dengan penuh amarah. Di balik tatapan kecewanya, ada rasa takut akan kenyataan bahwa semua usahanya untuk merebut Danan telah gagal. Sebaliknya, Danan mulai mempersiapkan dirinya untuk menerima kenyataan, bahwa ia mungkin kehilangan Intan selamanya. *** Intan lega, karena seluruh keluarga menerima kepulangannya dengan tangan terbuka. Ayahnya bahkan menawarkan bantuan untuk mengurus proses perceraiannya dengan Danan, tetapi Intan menolak. “Aku akan mengurusnya sendiri, Pah. Aku harus menyelesaikan apa yang sudah aku mulai,” katanya tegas. "Kamu yakin, nggak ingin papah membantumu melakukan sesuatu pada pria kurang ajar itu?" "Nggak usah, Pah. Buat apa? Di sini anggap aja aku yang salah. Udah bebal banget, sampai semua yang papah dan bang Billy katakan nggak ada yang mau aku dengarkan." "Baiklah kalau begitu. Kalau kamu butuh apa-apa, jangan sungkan buat minta sama papah. Mau bagaimanapun, kamu putri yang paling papah sayangi," ucap Harun, langsung ditanggapi Intan dengan anggukan kepala yang pasti. "Kalau misalnya Intan ingin kembali ke posisi di mana dulu Intan berada, apakah itu mungkin?" toleh Intan pada ayahnya, dengan tatapan penuh harap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD