"Iyap, aku memang sengaja."
"Kamu juga sengaja merancang acara dansa malam itu, sampai aku tidak bisa berkutik dari tuduhan Intan atas hubungan kita?" cecarnya lagi, ingin mendengar pengakuan langsung dari Rena.
"Kamu benar."
"Kenapa kamu melakukan itu, Ren? Apa kamu sudah hilang kewarasan?"
"Karena aku capek harus jadi kedua, Mas."
Tangisan Rena pun terdengar terisak-isak dari seberang sana. Danan hanya bisa menyimak dalam diam.
"Aku capek jadi simpanan!"
"Aku capek setiap di kantor, semua orang menceritakan tentang betapa enak masakan yang dibuat istrimu, padahal jelas beberapa di antara bekal yang kamu pamerkan, itu buatanku!" jerit Rena kesal bukan main.
"Jadi benar, kamu nulis pesan di wadah bekal makan siangku?"
"Iya, itu memang tulisanku."
Danan menggeleng tidak percaya atas kebodohan yang dilakukan Rena. Jelas-jelas dia selalu menjaga hati perempuan itu, tetapi sebuah kesabaran ternyata tidak dia peroleh.
"Kamu tahu, Ren. Bahkan sejak aku menikah dengannya, setelah kita memutuskan untuk berpacaran. Yah, aku nggak bisa membatalkan pernikahan yang sudah aku rancang dan kamu menyanggupi untuk jadi kekasih gelapku. Kamu ingat, 'kan?"
"Kenapa kamu membicarakan itu sekarang?" Rena tidak nyaman membicarakan tentang kedatangannya saat Danan sudah dalam rencana menikahi Intan.
"Aku belum pernah menyentuh Intan sebagai seorang istri. Itu aku lakukan demi kamu. Menjaga perasaanmu."
"J-jadi ... kamu benar-benar ...."
Mata Rena terbelalak kaget, saat mengetahui Danan benar-benar melakukan apa yang ia wanti-wanti selama ini.
"Aku berharap cinta Intan padaku bisa padam dan kami bisa bercerai. Tapi, ternyata aku salah besar, Ren. Kamu membuat semuanya menjadi lebih rumit."
Danan menyandarkan kepalanya pada dinding, matanya menerawang memandang langit-langit ruangan.
Mengingat betapa Intan selalu memiliki energi yang besar untuk menghadapi sikap cuek dan ketidak peduliannya. Bahkan dengan rela mengurus ibunya dan rumah tanpa pernah mengeluh, selayaknya istri yang penurut. Danan dilanda perang batin.
"Dia nggak pernah memaksa aku untuk menjadi suami seutuhnya, sampai aku mencintainya, Ren."
"Omong kosong!" Rena mendesis tidak percaya.
"Aku belum siap melepaskan dia, Ren. Setelah aku mendengar kata cerai dari mulutnya, jujur saja aku nggak pernah berpikir akan seperti ini ras—"
"Kamu b*****h, Danan! Kamu bilang akan selalu membelaku, tapi ini apa!"
"Aku bilang akan membelamu, dengan maksud nggak akan melibatkan kamu ke dalam masalah rumah tanggaku, Ren. Aku ingin melindungimu agar namamu tetap bersih dan hubungan kita masih baik seperti biasanya."
"Danan, astaga! Kamu tuh benar-benar berengsek, yak! Wah ...."
Tawa getir Rena terdengar nyaring di telinga Danan. Yap, perempuan itu menertawakan betapa miris dirinya.
Entah apa yang sebenarnya dipikirkan perempuan itu. Tapi, Danan merasakan ketidakberdayaan setelah semua ini terjadi. Nyatanya, dia belum siap bila hubungan gelapnya diketahui Intan.
"Kamu yang membuat semuanya jadi keruh, Rena. Seandainya saja kita berdiskusi, mungkin aku bisa bersiap-siap dulu. Bukan dengan cara seperti ini, saat kehidupan kita bahkan masih acak-marut. Ekonomi kita belum mapan, Rena." Danan mendesah, hatinya resah.
"Tapi sampai kapan aku harus menunggu? Kamu pikir pengorbananku selama dua tahun ini nggak melelahkan? Aku cemburu setiap kali tempatmu pulang bukan aku!"
"Iya aku tahu, Ren. Tapi, bagaimana kalau ini semua membuat kita kehilangan pekerjaan? Perselingkuhan kita tersebar sampai rekan-rekan kantor kita tahu?" tambah Danan lagi, merasa Rena sudah mulai melupakan akal sehat.
"Aku minta maaf, Mas. Aku nggak berpikir sampai sejauh itu."
"Sudah terlanjur, Ren. Intan, perempuan yang bucin padaku sudah pergi dari rumah. Ibuku ditelantarkan dan aku nggak tahu bagaimana caranya agar membuat dia kembali ke sini," ungkap Danan penuh penyesalan.
Komunikasi mereka pun terjeda beberapa detik. Mereka diam, larut dalam tekanan psikologis masing-masing.
"Mas Danan," panggil Rena setelah beberapa detik kemudian.
"Hm," Danan menyahut pelan.
"Boleh aku bertanya?" Suara Rena terdengar ragu-ragu.
"Hm, tanya saja."
"Apa kamu benar-benar nggak mencintai Intan, seperti yang kamu katakan selama dua tahun hubungan kita?" tanya Rena berhasil membuat ponsel yang berada dalam genggaman tangannya terlepas begitu saja.
"Cinta? Itu nggak mungkin!" batin Danan, merasa itu kemustahilan.
Dia membutuhkan keberadaan Intan, perempuan yang mengejar-ngejar cintanya sejak gadis itu berusia empat belas tahun demi merawat sang ibu. Bukan sebagai istri karena baginya, dia tidak menyukai perempuan yang tidak membutuhkan tantangan untuk menaklukkannya.
Perselingkuhan dengan Rena ternyata membawa efek luar biasa dalam dirinya.
Dia juga tidak menyangka, setelah perselingkuhannya terbongkar, debaran itu ikut musnah. Seolah-olah terbawa pergi bersama kekecewaan yang dirasakan Intan.
"Mas Danan? Apa kamu masih mendengarku?" Suara Rena terdengar sangat frustrasi. "Kenapa malah diam nggak menjawab?"
Danan pun sama sekali tidak menyahut pertanyaan Rena.
"Kupikir, setelah hubungan kita terbongkar, kamu bisa segera menikahiku dan memudahkan kamu menceraikannya. Nggak aku sangka." Rasa frustrasi Rena pun kian menjadi-jadi.
Namun, Danan masih memilih tidak menjawab. Dia malah mematikan ponsel lalu beranjak pergi setelah meletakkan barang itu ke atas meja.
Dering panggilan yang terus melengking pun tidak juga membuat hatinya tergerak untuk mengangkat.
Pria itu memasuki kamarnya, melongok ke dalam dan rasa hampa pun mulai menyergap kuat. Intan tidak ada di sana.
Pemilik senyuman manja dan celotehan yang menggatalkan telinga setiap kali dia pulang pun sudah tak terdengar lagi.
"Rena ternyata sangat bodoh," geramnya seraya menggemeratakkan gigi. Dia tidak menyangka, Rena akan berbuat nekad seperti ini.
Danan merebahkan tubuhnya ke atas kasur dan mendapati secarik kertas yang tertempel pada dinding kaca rias.
Pria itu langsung bangkit, lalu meraih kertas itu sambil duduk. Tulisan tangan Intan sangat rapi, meskipun terlihat begitu emosional.
"Aku kira hanya cukup bersaing dengan egomu, maka aku bisa mendapatkan balasan rasa sayang darimu. Tapi, nggak aku sangka. Ternyata aku bersaing dengan perempuan lain, yang selalu jadi tempatmu pulang. Aku iri, kenapa bisa Rena mendapatkan curahan hatimu, cintamu, dan juga bisa mereguk kasih sayang bersamamu, sedangkan aku yang setiap hari harus berperang dengan mentalku, menjaga ibumu seperti ibuku sendiri, tetap saja terlihat tidak berharga bagimu."
"Aku menyerah, Mas. Setelah yang aku dengar semalam tentang bagaimana kamu menjaga hati perempuan itu, meskipun melukaiku. Jadi mulai sekarang, aku putuskan untuk menenggelamkan rasa cinta yang aku jaga selama dua belas tahun ini. Aku akan berusaha untuk melupakanmu, dan doakan aku jatuh cinta lagi dan mendapatkan pengganti suami yang bisa mencintaiku."
"Oya, tentang Rena. Baiknya kamu memastikan dia sudah putus dari sopir mantan suaminya. Karena aku lihat, beberapa kali dia menginap di kontrakan pria itu. Fyi, kostnya kebetulan dekat dengan rumahku."
"Mari bercerai dan akhiri hubungan kita dengan baik, agar aku nggak jadi penghalang kebahagiaanmu bersama perempuan pujaan hatimu."
Ttd : Intan
Danan meremas kertas itu kuat-kuat. Dia merasa kaget membaca pesan tentang Rena. Istrinya bahkan lebih mengenal Rena daripada dia sendiri sebagai orang yang menghidupi perempuan itu selama dua tahun.
"Rumahmu dekat dengan kost sopir mantan suaminya Rena?" Danan cukup dibuat bingung dengan pemberitahuan itu.
"Bukankah rumah Intan ada di daerah ...."
Ah, Danan merasa sangat bodoh, karena selama ini dia sama sekali tidak memikirkan untuk mengenal pribadi istrinya lebih jauh.
Dia sibuk dengan kehidupannya sendiri, dan melupakan bagian Intan yang sebenarnya menjadi tanggung jawabnya sebagai suami.
Danan keluar kamar setelah menyadari bahwa ibunya sendirian. Namun, alangkah kagetnya saat mendapati Rena sudah mematung di depan rumahnya. Kebetulan pintunya belum sempat ditutup.
Ibunya pun sedang menatap perempuan itu, bergeming di atas kursi roda kesehariannya. Danan dibuat kebingungan, bagaimana caranya menghadapi para perempuan yang hadir di dalam hidupnya itu.
"Ren, kok kamu ke sini nggak bilang-bilang?"
Danan segera mendekat ke arah ruangan tamu. Namun, langkahnya terhenti saat mendapati tatapan ibunya ke arah perempuan itu layaknya sebuah peperangan. Danan tidak punya cukup nyali untuk menghadapi sang ibu, demi membela perempuan pujaan hatinya.
"Aku nggak akan berbuat senekat ini kalau kamu nggak menutup teleponnya dan nggak mau mengangkatnya lagi," ujar Rena, terlihat sangat kusut dan sembab air mata.