Berita yang terjadi malam itu menyebar dengan cepat, sampai ke telinga atasan Rena di kantor. Reputasinya sebagai wanita simpanan yang mencampuri rumah tangga orang lain menjadi buah bibir, bahkan namanya viral di berbagai media sosial, seolah ada gelombang besar yang menghembuskan berita tentangnya sampai ke inti bumi.
Rena sendiri merasa sangat kaget, karena menjadi sasaran bahan gunjingan sekaligus bullyan di mana-mana.
Tidak butuh waktu lama bagi manajemen perusahaan untuk mengambil tindakan. Rena dipanggil ke ruang HR dan langsung diberhentikan dengan tidak hormat.
“Perusahaan ini tidak bisa membiarkan karyawan kontrak dengan reputasi seperti Anda bekerja di sini,” kata manajer HR tanpa basa-basi.
"T-tapi, Pak—"
"Silakan ambil uang pesangon Anda, lalu keluar dari ruangan ini. Jangan lupa, tutup pintunya rapat-rapat," ucap pria itu, memotong perkataan Rena. Ia enggan mendengar lebih jauh alasan perempuan itu, karena keputusan ini langsung diambil pihak pemilik perusahaan, bukan dirinya sebagai HR.
"Tapi kenapa saya harus sampai dipecat, Pak. Sedangkan ... ini hanya tuduhan tanpa bukti. Perusahaan ini nggak bisa memberhentikan karyawan dengan nggak adil seperti ini," protes Rena, mencoba untuk mendapatkan keringanan berupa skorsing, bukan pemecatan tiba-tiba, tanpa mendengar penjelasan dari pihaknya.
"Maaf, itu sudah menjadi kebijakan management dan pemilik perusahaan, bukan lagi ranah HR seperti saya," tukas pria itu, seolah menegaskan bahwa keputusan pemberhentian itu bersifat final, dan nggak bisa diubah lagi.
"Lalu, bagaimana dengan pak Danan? Saya merasa nggak enak karena fitnah ini melibatkan beliau juga," tanya Rena, pura-pura merasa menjadi korban atas kezaliman istri rekan kerjanya di kantor.
'"Nggak habis pikir, kenapa lakinya yang nggak betah di rumah, bisa-bisanya aku yang dipersalahkan. Dituduh jadi selingkuhan pula, padahal kami cuma kebetulan ketemu di restoran itu lalu barengan semeja buat makan malam," omel Rena, masih berusaha untuk berakting agar pria itu menaruh simpati padanya, atas kemungkinan kesalahpahaman yang bisa saja terjadi.
"Danan masih dibutuhkan di perusahaan ini karena statusnya sudah karyawan tetap. Pemilik perusahaan memutuskan untuk memberikan kesempatan karena beliau masih memiliki tanggungan pengobatan ibunya yang sedang sakit," jawab pria itu, sedikit banyak telah melegakan hati Rena. Ya, setidaknya mesin ATMnya masih berjalan.
"Maaf, kalau tidak ada kepentingan lagi, silakan keluar dan pergi dari perusahaan ini secepatnya," ujar pria itu seraya fokus pada layar monitor di hadapannya lagi.
Rena hanya bisa mengembuskan napas berat, lalu keluar dari ruangan itu seraya membawa surat pemecatannya beserta sejumlah uang pesangon sebagai karyawan kontrak.
Acuh tak acuh ia mengumpulkan barang-barangnya ke dalam kardus, lalu membawanya keluar dari kubikel ruangannya.
Tidak ada satupun rekan kerja yang memberikan sekedar salam perpisahan. Ia tidak paham, kenapa semua orang menggunjingnya, seolah dirinya manusia paling kotor. Padahal, sudah jadi rahasia umum, perselingkuhan seperti ini biasa terjadi di lingkungan pekerjaan, terutama di kantornya ini juga.
Tidak sampai di sana karena lebih buruk lagi, pemilik apartemen yang Rena tempati ternyata juga mendengar berita viral tersebut. Mereka tidak ingin properti mereka digunakan untuk skandal seperti itu. Dalam waktu seminggu, Rena dipaksa mengosongkan apartemen.
“Kamu bisa cari tempat lain, tapi bukan di sini,” tegas pemilik apartemen.
"T-tapi, Bu. Bukankah saya sudah membayar lunas selama setahun ke depan? Ini sangat nggak adil!" rengek Rena, merasa sudah diperlakukan secara tidak adil oleh semua orang.
Benar-benar sial, Rena merasa sangat terzolimi.
"Kamu melanggar pasal yang diberlakukan bagi penghuni apartemen ini. Kamu punya andil mencemarkan nama apartemen ini dengan berita viral. Aku nggak bisa membiarkan semua orang menghujat media sosial usahaku, gara-gara tindakanmu," cetus perempuan itu dengan nada marah kepada Rena.
"Cepat kemasi barang-barangmu!" Perempuan itu meninggalkan Rena yang terduduk lesu di ruangan tamu apartemennya.
***
"Kamu pasti sudah membuat kekacauan deh," rutuk seorang perempuan paruh baya dari balik pintu sambil menghentakkan kaki, begitu putrinya mengetuk pintu rumah sambil membawa tas besar.
Rena hanya bisa memandang perempuan yang telah melahirkannya itu sambil mengembuskan napas berat.
"Aku lagi pusing! Kenapa Ibu malah nambah-nambahin bikin aku kesal sih!" hardik Rena, merasa tingkah ibunya sangat menyebalkan.
"Salahmu sendiri! Udah enak-enak kita tinggal menikmati hidup, kamu malah melakukan tindakan ceroboh, tanpa memikirkannya dengan matang. Tahu sendiri 'kan gimana akibatnya, kalau kamu nggak pakai otakmu buat berpikir dulu sebelum bertindak?" Perempuan berusia lima puluhan itu masih saja merutuki kesilapan anaknya.
Ibunya, yang selama ini hanya melihat Rena sebagai anak manja, akhirnya turun tangan. Namun, alih-alih membantunya memperbaiki situasi, sang ibu justru mendesak Rena untuk bertahan dan merebut posisi sebagai istri sah Danan.
"Aku nggak tahu, kalau hasilnya bakal kacau begini!" rutuk Rena, pada kesialan yang menimpanya.
“Kamu harus kuat. Kamu sudah terlanjur masuk ke dalam masalah ini, jadi jangan menyerah. Pastikan Danan menceraikan perempuan itu dan menikahimu!” ujar ibunya dengan suara tegas.
"Ibu juga malas menampung orang pengangguran! Lekas pindah ke rumah Danan sana, kalau perempuan itu sudah meninggalkan rumah itu!"
"Iya, aku tahu!" balas Rena, tidak kalah sengak dengan ibunya.
"Lagian, bisa-bisanya pemilik apartemen mengusirmu. Apa jangan-jangan pemiliknya itu teman istrinya Danan, ya?" telisik ibunya Rena, merasa aneh dengan sikap pembelaan yang dilakukan pemilik apartemen, karena biasanya mereka tidak terlalu peduli dengan masalah penghuninya, selama masih mampu untuk membayar uang sewa.
"Nggak mungkin ah! Setahu aku istrinya Danan itu cuma perempuan cupu. Dia adiknya sahabat mas Romi. Aku kenal betul, lingkaran pertemanan mas Romi tuh cuman karyawan biasa."
"Bagus deh kalau begitu. Kamu lekas usaha buat mengambil hati ibunya Danan. Buktikan kalau kamu lebih baik dari mantan mantunya yang dulu. Jangan sia-siakan waktumu, sebelum Danan berubah pikiran."
"Iya, ntar sore aku bakal ke sana."
"Bucin banget 'kan istrinya itu? Jangan sampai mereka balikan lagi. Biasanya, perempuan itu mau memaafkan, kalau lakinya janji bakal berubah."
Rena mengangguk, tidak punya pilihan lain. Dengan segala kehancuran yang menimpanya, ia memutuskan mengikuti rencana ibunya.
***
Pada malam itu Danan langsung ke rumah. Dia harus bertemu Intan untuk menyelesaikan urusan dengannya.
Namun, saat dia memasuki rumah ternyata kosong. Timbul rasa tidak enak dalam dirinya. Dia tidak menyangka Intan meninggalkan ibunya begitu saja, tanpa membuatkan menu makan malam.
"Mana Intan, Bu?" tanya Danan pada sang ibu.
Perempuan itu terlihat habis menangis. Entah apa yang diceritakan Intan pada ibunya. Namun, tatapan kemarahan dan kekecewaan terlihat mendominasi saat Danan menghadap pada sang ibu.
"Kamu apakan Intan, sampai dia menangis histeris seperti itu?" Sikap tegas, tanpa kompromi yang ditunjukkan Nurmah membuat Danan paham, saat ini urusannya tidak semudah yang dipikirkan.
"Aku ...."
"Apa benar kamu berselingkuh, Danan!" teriak perempuan yang telah melahirkannya itu dengan tatapan tajam.
"Kenapa kamu lakukan itu, hah? Dasar bodoh!"
"Ibu, aku sama sekali nggak mencintai Intan, Bu."
"Kenapa kamu menikahinya kalau nggak cinta! Kamu pikir dia nggak punya keluarga, yang berharap putrinya disayangi dan hidup bahagia?"
"Maaf, Bu. Danan—"
"Tunggu sampai ibu mati, baru kamu boleh menginjakkan kakimu bersama perempuan murahan yang jadi simpananmu itu di rumah ini!" potong Nurmah, tidak sudi mendengar alasan apapun dari putranya.
Nurmah membelokkan tuas kursi roda lalu menariknya menuju ke arah kamar. Tidak lupa, dia menutup pintu kamarnya rapat-rapat lalu menangis keras di dalam ruangan itu.
Semalaman Danan tidak bisa tidur. Sampai siang menjelang sore, ia hanya terduduk lesu di lantai ruangan tamu. Dia tidak menyangka akan jadi begini. Intan sudah pergi dan susah dihubungi.
Kepala Danan terasa pusing, karena ia sendiri mendapat pemberitahuan melalui email, bahwa ia kena skorsing selama tiga hari, sampai berita panas itu mereda.
Nada dering ponsel yang berada dalam saku celananya membuat pria itu tersadar. Nama Rena yang terpampang di layar membuat suasana hatinya kian keruh.
"Aku diusir ibuku dari rumah dan tiba-tiba aku mendapat surat berisi pemutusan kontrak kerja dari perusahaan, Mas. Aku harus gimana?" ucap perempuan yang selama dua tahun ini menjadi tempatnya melabuhkan hasrat sambil menangis.
Danan tidak menyangka, imbas berita perselingkuhannya akan jadi sebesar ini terhadap hidupnya.
"Kamu tenang aja, ya? Aku akan menemui Intan dan membicarakan ini dengannya."
"Apa yang akan kamu bicarakan dengannya? Memohon maaf lalu mengakhiri hubungan kita, begitu, Mas!"
Suara Rena terdengar frustrasi. Danan pun tidak memiliki ide, selain apa yang baru saja diucapkan Rena.
"Nggak akan ada penyelesaian yang diberikan Intan, selain kita harus putus, kan? Jawab, Mas!" ulang Rena lagi dengan suara nyaris menjerit.
Danan mengembuskan napas panjang lalu melonggarkan dasinya yang terasa mencekik leher.
"Kamu sendiri 'kan, yang sebenarnya membuat segalanya jadi rumit begini, Ren," ucap Danan lirih.
"Apa yang telah kulakukan?!" Rena kesal dituduh seperti itu.
"Apa kamu yang mengirimkan pesan malam itu, agar Intan datang ke restoran dan memergoki kita?"
Danan mengembuskan napas sekali lagi. Dia berharap Rena mengatakan kejujuran, karena tidak biasanya perempuan itu bertingkah sembrono seperti itu. Mengingat, hubungan gelap mereka bahkan sudah berlangsung lebih dari dua tahun.
"Jawab! Kamu bukan perempuan sembrono, Rena!"