Malam itu, di restoran yang remang dan penuh dengan alunan musik jazz, Intan berdiri di tengah keramaian.
Napasnya tertahan, dadanya naik-turun menahan gemuruh perasaan yang bercampur antara amarah dan kepedihan. Matanya terpaku pada pasangan yang tengah berdansa di lantai dansa.
Di sana, Danan dan Rena terlihat hanyut dalam alunan musik, tubuh mereka bergerak selaras dengan irama, seolah dunia di sekitar mereka tak ada.
Pandangan Intan mengeras. Seluruh rasa sakit yang ia pendam selama ini serasa mencuat ke permukaan, menekan dadanya hingga terasa sesak. Tanpa sadar, kedua tangan gadis itu terkepal erat, membentuk guratan kemerahan pada lipatan telapak tangannya.
Danan tiba-tiba menghentikan gerakannya ketika tatapannya menangkap sosok Intan. Wajahnya berubah pucat, seperti seorang anak kecil yang tertangkap basah melakukan kesalahan besar.
Mata mereka bertemu, dan saat itu Intan tahu, tidak ada lagi yang perlu dikatakan. Danan segera melepaskan gayutan tangannya pada pinggul Rena, tetapi bingung cara membuat alasan agar bisa diterima Intan.
“Jadi ini alasan yang sebenarnya, Mas?" Intan membuka suara, suaranya rendah tetapi penuh penekanan. “Sengaja bilang lembur biar bisa seperti ini sama simpananmu?”
Kata-kata itu menyayat udara seperti belati tajam. Orang-orang di sekitar mereka mulai memperhatikan, bisik-bisik kecil terdengar dari segala arah.
Rena, yang semula menikmati situasi, merasakan hawa dingin yang tiba-tiba menyelimuti. Ia mencoba menarik tangan Danan untuk pergi menyingkir dari area dansa, tetapi pria itu tetap terpaku di tempatnya, tatapannya tertuju pada Intan. Sesuatu di wajahnya—penyesalan? Ketakutan?—semua bercampur menjadi satu.
“Intan ... kenapa kamu ada di sini?” Danan akhirnya membuka suara, suaranya bergetar, nyaris tidak terdengar.
“Kamu sendiri yang meminta aku datang ke sini,” jawab Intan, matanya membara. “Cuma biar aku bisa lihat langsung apa yang kamu sembunyikan. Dan sekarang, aku melihatnya dengan jelas.”
“Apa? Aku nggak pernah—” Danan terhenti, lalu menoleh ke arah Rena. Matanya menyipit, meneliti ekspresi perempuan itu. Ada sesuatu yang tiba-tiba ia sadari.
“Rena, apa yang kamu lakukan?” tanyanya, nadanya berubah tajam.
Rena tetap diam, menghindari tatapan Danan. Ia tahu, semua telah terbuka.
Intan mendekat, perlahan tetapi tegas. Tangannya masuk ke dalam tas, mengeluarkan dokumen yang telah ia siapkan. Dengan gerakan mantap, ia meletakkan dokumen itu di atas meja di depan Danan.
“Ini untukmu,” katanya dingin. “Mulai hari ini, aku akan menggugat cerai. Kamu bebas. Bersama simpananmu, sesuka hatimu, Mas Anan.”
Danan meraih dokumen itu dengan tangan gemetar, tetapi matanya tidak lepas dari Intan. “Intan, dengar dulu—”
“Tidak ada lagi yang perlu aku dengar.” Intan memotong ucapannya dengan nada datar. “Semua ini sudah cukup jelas. Aku udah lihat dengan mata kepalaku sendiri.”
Danan mencoba mendekat, tapi langkahnya terhenti ketika Intan memutar tubuh dan berjalan pergi. Beberapa tamu yang melihat adegan itu tanpa sadar membuka jalan baginya.
“Intan! Tunggu!” Danan memanggil dengan putus asa, tetapi langkah Intan tidak terhenti.
Ia hanya bisa berdiri mematung, melihat punggung Intan semakin jauh, semakin hilang di antara kerumunan. Di dalam dadanya, perasaan sesak yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya mulai menguasai.
Ketika akhirnya Danan berbalik, matanya menyala penuh kemarahan. “Kamu bisa jelasin ini, Ren?” tanyanya kepada perempuan yang kini terlihat gugup dan mulai kehilangan kendali.
Rena tidak menjawab. Tubuhnya gemetar, matanya melirik ke segala arah, mencari celah untuk pergi dari situasi yang kini sepenuhnya lepas kendali. Bisikan tajam dari tamu-tamu lain semakin menusuk telinganya.
“Kamu—” Danan menahan amarahnya. Ia melempar dokumen itu ke atas meja, lalu pergi, meninggalkan Rena sendirian.
Kini, di tengah restoran yang perlahan kembali dipenuhi oleh bisikan dan tatapan tajam, Rena berdiri kaku.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan apa yang selama ini tidak ia bayangkan, kehancuran yang ia ciptakan dengan tangannya sendiri.
***
Intan pulang dari restoran diantar Niken. Sepanjang perjalanan gadis itu menangis terisak-isak. Niken hanya bisa menghela napas berat, saat menyadari sahabat baiknya ini sedang dilanda badai besar dalam rumah tangganya.
Benar yang dikatakan kakaknya tadi siang, Intan harus menyiapkan mental, karena perpisahannya dengan Danan sudah berada di ujung mata.
Untung saja, kakaknya membantu menyiapkannya beberapa berkas untuk Intan dibantu pengacara keluarganya. Sebagai persiapan apabila Danan memang mengajak perpisahan, Intan bisa melenggang keluar dari restoran itu dengan kepala tegak.
"Tidak tahunya, ternyata rencana perpisahan itu direncanakan Danan bersama selingkuhannya," decak Niken, merasa ikut marah dengan tingkah laki-laki b******k seperti Danan.
Intan yang mendengar kekesalan Niken, hanya bisa mengusap wajahnya dengan tisu lalu berdeham demi mengurangi rasa sesak di dalam rongga dadanya.
"Dia yang kirim pesan padaku buat dateng. Aku nggak nyangka dia bakal ...."
"Beneran b******k sih suami kamu tuh! Hih, rasanya aku pengen jedotin kepala mereka berdua ke cor-coran jalan tol deh, biar tahu rasa," geram Niken, sambil menghentakkan giginya, tangannya beberapa kali memukul stir kemudi.
"Aku tadi langsung kasih dokumen persetujuan perceraian itu tanpa sudi mendengar penjelasan dari dia."
"Bagus, aku setuju dengan langkah yang kamu ambil tadi. Bahkan, aku bisa lihat, kepanikan di wajah suamimu itu waktu kamu melemparkan dokumen itu di hadapannya. Nenek sihir itu pasti nggak nyangka, kamu bakal berani mengambil sikap itu alih-alih menangis histeris dan memohon agar suamimu memilih antara dirimu dan dirinya."
"Kamu yakin, aku nggak akan jadi bahan bullyan?" Mata Intan menatap polos ke arah Niken.
"Mana ada orang t***l yang bakal belain pelakor, kalau dia bukan salah satunya? Hah! Nggak mungkin!" tepis Niken, mencoba menyakinkan agar Intan tetap kokoh pada sikapnya yang tegas.
Intan malah merenung setelah mendengar perkataan Niken. Dirinya akan baik-baik saja setelah ini. Tapi, masalahnya, ia sama sekali tidak memiliki gambaran masa depan seperti apa, setelah berpisah dari Danan. Ia benar-benar merasa sangat terpuruk dan malu.
"Aku antar kamu pulang untuk mengemasi barang-barangmu. Kamu harus secepatnya pergi, sebelum suamimu sampai lebih dulu dan mencegah niatmu untuk pergi dari rumah itu," ujar Niken, seraya membelokkan kendaraannya menuju ke arah rumah mertua Intan, di mana tadi sore ia menjemputnya.
"Aku nggak tahu, setelah ini nasib aku gimana, Nik," ucap Intan, menampakkan suara ragu pada keputusannya tadi.
"Kamu putri satu-satunya keluarga Harun, kenapa pula kamu masih pusing mempertanyakan gimana nasib hidupmu setelah ini sih, Intan? Ya ampun!" gemas kali Niken dibuatnya. Sambil menghentakkan giginya, ia segera mencubit ringan pipi sahabatnya itu.
"Maksudmu pulang ke rumah?" Tanpa daya Intan melontarkan pertanyaan itu.
"Hem, aku yakin pasti papahmu akan menerimamu dengan tangan terbuka, begitu kamu memohon maaf padanya," tukas Niken, melirik ke arah wajah Intan yang terlihat sangat kusut dan sayu.
"Oya, kamu bakal kasih pelajaran apa buat mereka berdua?" tanya Niken, ia benar-benar merasa penasaran dengan rencana yang dibuat Intan, karena tidak mungkin Intan hanya sekedar gertak sambal semata untuk meminta cerai.
"Aku nggak akan melepaskan perempuan itu begitu aja. Dia nggak boleh hidup nyaman, setelah berani menghancurkan hidup dan pernikahanku seperti ini," ujar Intan.
Kali ini sepenuhnya Intan menoleh pada Niken yang sedang menyetir. Tatapannya menyiratkan sebuah kemisteriusan yang nyata.
"Ih, kamu bikin aku merinding aja deh, Tan."