"Aku janji pulang tepat waktu hari ini," ucap Danan, setelah selesai menyantap sarapan yang dibuat Intan untuknya.
Entah kenapa, Danan mendadak menjadi canggung di hadapan sang istri. Apalagi, setelah semalam ia merasakan ada gairah tersendiri pada diri Intan, yang sulit ia jabarkan dengan kata-kata. Semacam rasa, yang baru dikenalnya dari sosok perempuan yang masih belum terjamah oleh laki-laki manapun.
Diam-diam, Danan merasakan penyesalan tersendiri, kenapa baru memikirkan sekarang. Kenapa selama ini ia harus patuh pada keinginan Rena, untuk tidak pernah menyentuh Intan selayaknya sebagai istri, hanya demi menjaga perasaannya sebagai kekasih gelap.
"Rena nggak akan marah?" sindir Intan, tanpa menolehkan wajahnya pada Danan. Ia saat ini sibuk memetik sayuran untuk menu diet khusus bagi ibu mertuanya.
Danan menghela napas berat. Ia tahu, tidak ada jawaban yang bisa menyakinkan Intan mengenai Rena. Pada akhirnya, ia hanya bisa diam tanpa menjawab sindiran itu.
"Hari ini jadwal check up ibu, 'kan?" tanya Danan, akhirnya memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Iya, aku udah pesen taxi langganan, seperti biasanya."
Jawaban Intan lagi-lagi berhasil mengoyak pikiran Danan, bahwa selama menikah, ia memang telah membebankan segala keperluan sang ibu kepada istrinya. Danan hanya bisa memijat keningnya sambil melirik ke arah Intan.
"Aku yang akan antarkan ibu nanti siang ke rumah sakit."
"Sendirian?" toleh Intan sekilas.
"Tentu aja sama kamu. Aku nggak apal ruangannya, kalau nggak ditemani sama kamu," tukas Danan, akhirnya memiliki alasan kuat kenapa ia harus tetap bersama Intan siang nanti.
"Terserah Mas aja."
Intan melewati meja makan begitu saja setelah mengucapkan kalimat itu. Danan mengamati langkah Intan sampai ke pintu kamar ibunya dengan ekor matanya. Rasanya sangat tidak nyaman diperlakukan sedingin itu.
Inilah kali pertama, Intan memperlakukannya seperti ini. Jelas ini ada kaitannya dengan kecurigaan Intan terhadap hubungannya dengan Rena tentunya. Ia pun memutuskan untuk menjaga jarak dengan Rena, sampai hubungannya dengan Intan membaik seperti semula.
***
Rena berdiri di tepi jendela besar di lantai atas gedung perkantoran tempatnya bekerja bersama Danan. Pandangannya terpaku pada hiruk pikuk kota di bawah sana, tapi pikirannya melayang jauh.
Pertemuan terakhirnya dengan Intan masih terpatri jelas di benaknya. Ada sesuatu yang berbeda dari perempuan itu. Di balik senyuman lembutnya, Intan memancarkan kekuatan yang sulit didefinisikan.
“Aku terlalu meremehkan dia selama ini,” batin Rena, menggigit bibir bawahnya.
“Kalau aku nggak bertindak sekarang, Danan akan benar-benar sulit untuk lepas dari jeratan pernikahan itu.”
Rasa cemas yang memuncak dalam hati Rena kini berubah menjadi tekad. Dengan langkah percaya diri, ia berjalan menuju ruang kerja Danan. Pintu diketuk ringan sebelum ia masuk tanpa menunggu jawaban.
Danan sedang menelusuri dokumen di mejanya, terlihat sibuk seperti biasa. Namun, saat melihat Rena, ia berusaha untuk pura-pura mengabaikan kedatangannya.
"Pagi, Mas," sapa perempuan itu seraya berjalan ke arahnya. Tidak lupa, memberikan kecupan mesra seperti biasa. Namun, tidak. Kali ini Danan sengaja melengos, sehingga ciuman bibirnya meleset dan hanya mengenai pipi laki-laki itu.
"Kamu kenapa sih?" protes Rena, terlihat sangat kesal dengan sikap Danan yang tiba-tiba menjadi sangat aneh.
"Kamu kenapa pagi-pagi begini udah ke sini?" Danan mengalihkan topik, dengan tidak tersulut perdebatan dengan Rena. Jujur saja, apa yang terjadi antara dirinya dengan Intan, sudah sangat menyedot energinya hari ini.
Danan menoleh sekilas ke arah Rena yang cemberut sambil merapikan tumpukan kertas.
“Enggak, cuma ingin ngajak kamu makan malam. Anggap aja ... perpisahan kecil sebelum kita mulai jaga jarak seperti yang kamu inginkan tadi pagi.”
Danan mengangkat alisnya. Perpisahan? Nada bicara Rena membuatnya agak lega, mau bagaimanapun, hubungan mereka harus dijeda beberapa saat, sampai kecurigaan Intan mereda. Ia bahkan berencana untuk lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, sampai kemarahan Intan melunak.
"Aku seneng kamu mau memahamiku, Ren," ucap Danan, kini raut wajahnya tidak setegang beberapa detik lalu.
"Maaf, tadi udah bikin kamu marah. Aku nggak seharusnya nelepon kamu pagi-pagi. Aku terlalu cemas, sampai lupa kalau kamu ...." Rena menampakkan wajah bersalahnya pada Danan. Ia tidak mau kemarahan Danan berlarut-larut, yang bisa saja memperburuk hubungan mereka ke depannya.
"Aku harap, kamu jangan pernah ulangi lagi kejadian serupa. Jangan pernah menelepon aku, kalau bukan aku duluan yang menghubungi kamu."
"Iya, iya! Aku janji. Tolong jangan marah lagi dong," rayu Rena, pada akhirnya merasa lega setelah memastikan adanya kelembutan dari tatapan Danan kepadanya.
"Jadi, gimana? Makan malam bisa 'kan? Anggap aja sebagai perpisahan kecil, karena setelah ini aku yakin, hubungan kita nggak akan sebebas biasanya."
“Boleh. Kebetulan aku juga mau bicara soal Intan. Ada sesuatu yang ... aku pikir kamu perlu tahu,” ucapnya, suaranya terdengar berat.
Kata-kata Danan menciptakan lubang kecil di hati Rena. Apa maksudnya. Apa yang ingin dia bicarakan. Tapi, Rena menahan diri untuk tidak menunjukkan kegelisahannya. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum kecil, pura-pura santai.
“Oke. Aku akan atur tempatnya nanti,” balas Rena sambil melirik ponsel Danan yang tergeletak di meja.
"Baiklah sampai nanti. Lekas balik ke ruanganmu. Aku mau rapat dulu," pamit Danan kemudian.
Rena langsung menunjukkan senyuman semanis mungkin saat Danan menatap ke arahnya. Namun, begitu pintu ditutup senyuman itu pudar seketika, berganti dengan tatapan sengit.
Rena bergerak cepat. Ia mengambil ponsel Danan dengan hati-hati. Jantungnya berdegup kencang saat membuka layar, tapi tangan cekatannya tetap tenang. Ia mencari kontak Intan dan mengetik pesan singkat.
“Aku ingin kita bertemu di luar, Tan. Restoran di alamat ini, jam delapan nanti, ya."
Dengan hati berdebar-debar Rena menunggu balasan dari Intan, karena ternyata perempuan itu langsung membaca dan terlihat mengetik balasan.
Intan : katanya mau antar chek up ibu siang ini?
"Apa? Danan berniat nganterin ibunya check up sama istrinya? Hah, jangan harap!" desis Rena, merasa sangat tidak rela Danan berubah sok baik di hadapan istrinya.
"Maaf, ternyata aku harus lembur, jadi kita langsung ketemu di sana aja. Oya, pesan ini nggak usah dibalas, aku buru-buru mau rapat. Sampai ketemu di sana.”
Pesan itu terkirim dalam hitungan detik. Setelah memastikan statusnya terbaca, Rena segera menghapus jejaknya dari riwayat percakapan.
"Oke. Urusan Intan sudah beres." Wajah Rena kini dipenuhi dengan senyum penuh kemenangan.
Saat Danan kembali ke ruangan, ia tampak kebingungan.
"Kenapa, Mas?" tanya Rena, berbasa-basi sambil berjalan hendak meninggalkan ruangan Danan.
“Kamu lihat ponselku nggak? Dari tadi aku nyari, tapi nggak nemu.”
“Oh, itu di sebelah mesin fax,” sahut Rena santai sambil menunjuk sudut ruangan.
Danan menghela napas lega sambil meraih ponselnya. “Ya ampun, aku jadi pelupa belakangan ini,” gumamnya sambil mengecek notifikasi. Tidak ada yang mencurigakan, pikirnya.
“Sampai ketemu malam ini, Mas,” ucap Rena lembut. "Oya, ntar siang jangan lupa ada undangan makan siang bareng. Ada rekan kita yang lagi ngerayain ultah."
Danan hanya melambaikan tangan, pikirannya sudah teralihkan oleh jadwal yang padat.
Celakanya, ia benar-benar melupakan janjinya bersama Intan, untuk mengantarkan ibunya check up ke rumah sakit.
Danan juga tidak menyadari, karena Intan pun sama sekali tidak mengingatkannya, dengan sekadar berkirim pesan. Ia pun mengganggap, pasti Intan tidak akan marah, karena memang biasanya mereka pergi berdua menggunakan taxi.
Malam pun tiba, dan Rena bersiap dengan hati yang penuh antisipasi. Ia yakin malam ini akan menjadi langkah besar menuju tujuannya.
Dengan gaun terbaiknya, ia melangkah menuju restoran, membayangkan Intan yang pasti akan datang dalam kebingungan.
Namun, apa yang menantinya malam itu jauh dari ekspektasinya. Ada sesuatu—atau seseorang—yang mengintai dari balik tirai rencana Rena.
Satu langkah kecil yang ia pikir sempurna ternyata membawa sebuah celah fatal yang tidak pernah ia duga.
Langkah Rena menuju restoran itu mungkin akan menjadi langkah terakhirnya dalam permainan ini.