Suasana kamar masih gelap, hanya diterangi remang cahaya dari lampu meja. Danan berdiri di depan Intan, wajahnya ragu namun terlihat memaksa untuk memenuhi permintaan istrinya. Ia merasa terpojok oleh situasi.
Tubuhnya mendekat perlahan, dan tangannya menyentuh wajah Intan dengan lembut. Namun di balik kelembutan itu, hatinya penuh dengan pertentangan.
“Kalau ini bisa buat kamu memercayai aku lagi, aku akan melakukannya untukmu, Intan,” bisik Danan, suaranya terdengar serak.
Intan menatap mata suaminya, degup jantungnya kian tidak beraturan. Ia bisa merasakan ketulusan yang dipaksakan, seolah Danan hanya melakukannya untuk membuktikan sesuatu—bukan karena cinta atau kerinduan. Meski hatinya mencelos, ia tetap membiarkan sentuhan itu berlanjut.
Ia akan membiarkan, sampai sejauh mana Danan akan menggunakan topeng kepalsuan dalam mengarungi bahtera rumah tangga dengannya.
Danan mulai mencium keningnya, gerakan itu cukup terukur dan perlahan turun ke pipi. Namun, setiap sentuhannya terasa dingin, hambar. Apa yang ia lakukan ini bukanlah solusi, tapi lebih seperti tameng—tameng untuk menutupi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kebersamaan mereka malam ini.
Intan hanya diam, membiarkan sentuhan itu terjadi. Ia memejamkan mata, mencoba mengabaikan kegelisahan yang merayap dalam hatinya. Bibir Danan menyentuh keningnya, perlahan turun ke pipi. Tapi setiap sentuhan terasa kosong, tanpa rasa, tanpa jiwa.
Intan tahu. Ia tahu.
Intan berusaha menguatkan dirinya, menekan semua rasa sakit yang semakin menyeruak. Tetapi, ketika tangan Danan mulai menjelajahi tubuhnya lebih jauh, sesuatu di dalam dirinya mendadak membeku.
Tanpa sadar, Intan menahan tangan Danan yang baginya mulai tidak terkendali. Ia bisa merasakan, suaminya mulai terbawa suasana, menikmati apa yang ada pada dirinya.
Rasa jijik pun tiba-tiba menyeruak dalam diri Intan, jiwanya seakan telah terkoyak. Tubuhnya menegang seperti baja. Hatinya memekik, memohon agar semua ini lekas berhenti. Memori tentang berbagai bukti perselingkuhan Danan dan Rena berputar hebat dalam angannya.
Mata Intan pun segera terbuka, memberikan penolakan kuat pada gerakan Danan yang mulai memandu tubuh mereka untuk segera menyatu.
“Mas, berhenti!”
Danan tertegun, begitu merasakan ketegangan dalam diri Intan, tidak seperti beberapa menit lalu, padahal dirinya saat ini benar-benar sudah merasuk ke dalam alam buaian yang menggelora.
“Kenapa? Bukankah ini yang kamu mau?”
Intan menggeleng pelan, tangannya lagi-lagi secara tegas menahan pergelangan tangan Danan. “Sudah cukup, Mas. Aku udah nggak mau lagi.”
"Kamu nggak lagi bercanda, 'kan?"
"Tolong minggir!" Intan segera menepis tangan Danan, sedikit memberikan dorongan agar pria itu segera melepaskan gayutan tangannya.
Danan pun terpaksa mundur sedikit, kebingungan bercampur frustrasi terpancar jelas dari wajahnya.
“Kenapa, Tan?” tanyanya, napasnya masih tersengal. “Bukankah ini yang kamu mau? Bukankah ini ... cara kita untuk memperbaiki semuanya?”
Intan menarik napas dalam, matanya tajam menatap Danan. Namun, di balik ketegasan itu, ada air mata yang siap runtuh.
“Aku nggak bisa, Mas. Bukan seperti ini. Aku nggak mau lagi.”
"T-tapi kenapa?"
“Sebaiknya Mas mandi dulu. Aku mau ke dapur sebentar buat ambil minum.” Suara Intan terdengar dingin, seperti embun beku yang jatuh di tengah malam.
Sebelum Danan bisa membalas, ia segera bangkit, menjumputi pakaiannya tanpa menatap Danan lagi, lalu melangkah keluar kamar.
Langkah kakinya terdengar cepat di lorong yang gelap. Sampai di dapur, tubuh Intan melemah, bersandar di meja. Tangannya mencengkeram permukaan kayu keras itu, tubuhnya bergetar hebat.
Air matanya jatuh tanpa suara.
“Bukan ini kebahagiaan yang aku impikan,” gumamnya pelan, menggigit bibir untuk meredam isak tangisnya. “Aku tahu Mas Danan melakukannya bukan karena cinta ... tapi hanya untuk menutupi semuanya.”
"Sudah cukup, Tan. Jangan membiarkan dia yang memperalat hidupmu lagi."
Setelah menenangkan diri, Intan memutuskan untuk menemui ibu mertuanya. Wanita tua itu terbangun ketika Intan mengetuk pintu dan masuk ke kamar dengan senyum yang dipaksakan
"Intan," sapa ibu mertuanya dengan wajah letih dan mengantuk.
“Kenapa Ibu masih belum tidur?” tanya Intan sambil duduk di sisi ranjang.
"Udah, tapi tiba-tiba aja ibu kebangun," sahut perempuan itu sambil tersenyum manis.
Entah kenapa tiba-tiba saja Intan merasa sangat terharu saat memandang perempuan yang telah melahirkan suaminya ini.
“Intan?" panggil perempuan itu lagi.
"Hm?" sahut Intan pelan.
"Ada apa, Nak? Tumben malam begini kamu ke sini,” jawab sang ibu dengan suara lembut.
Intan tersenyum kecil, lalu menggenggam tangan wanita tua itu. “Bu, maaf kalau selama ini Intan belum bisa jadi menantu yang sempurna untuk Ibu. Intan hanya ingin Ibu tahu, Intan benar-benar sayang sama Ibu.”
Sang ibu terdiam, memandangi wajah Intan yang tampak lelah tapi tetap cantik. “Kenapa kamu ngomong kayak gini, Tan? Kamu menantu yang baik. Kalau ada apa-apa, bilang saja sama Ibu.”
Intan hanya mengangguk, memaksakan senyum, lalu berpamitan. Ia kembali ke dapur, meneguk segelas air dingin sebelum memutuskan untuk masuk ke kamar.
Larut malam, Intan akhirnya masuk lagi ke kamar. Danan sudah berbaring di tempat tidur, tapi matanya masih terbuka, menatap langit-langit dengan pikiran yang melayang.
Intan berhenti sejenak di tengah ruangan, sambil memandangi suaminya dengan tatapan gamang. Dalam bayang-bayang remang, ia melihat pria yang dulu begitu ia cintai, tapi kini terasa begitu asing.
Hatinya berteriak, ingin sekali menuntut kejelasan, tetapi ia tahu, tidak ada jawaban yang bisa membuatnya merasa lebih baik. Tanpa berkata apa-apa, Intan mengambil selimut tipis dari lemari dan berbaring di sofa kecil di sudut kamar.
“Intan?” Danan memanggil pelan, tapi Intan tidak menjawab.
Ia hanya memejamkan mata, berusaha meredam rasa sakit yang kembali menghantam.
Pagi harinya, cahaya matahari menembus jendela, membuat Danan terbangun lebih dulu. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi Intan yang masih terlelap di sofa. Wajah istrinya terlihat lelah, matanya pun sembab, meskipun begitu tetap saja memancarkan kecantikan alami yang membuat hatinya semakin tak menentu.
"Aku benar-benar belum siap kalau harus bercerai dengannya," batin Danan risau.
Namun, lamunannya terhenti ketika ponselnya berbunyi. Nada dering itu memecah keheningan, menarik perhatian Intan yang mulai membuka mata.
Danan melirik layar ponselnya, dan wajahnya langsung pucat. Nama “Rena” terpampang jelas di sana.
Intan bangkit perlahan, menatap ponsel itu dengan tatapan sayu. Sebelum Danan sempat bertindak, Intan dengan cepat merampas ponsel tersebut.
Tanpa ragu, ia menekan tombol untuk menjawab panggilan dan mengaktifkan loud speaker.
“Halo?” Suara Rena terdengar dari seberang, lembut penuh kegugupan. “Mas, kenapa nggak jawab pesanku semalam? Aku khawatir ....”
Intan menatap Danan dengan senyum getir, lalu berkata dengan nada datar, “Rena, ini aku, Intan. Istri Mas Danan.”
Suasana menjadi hening. Wajah Danan memucat, sementara suara Rena terputus, seolah-olah ia baru saja kehilangan semua kata.
Intan mengembalikan ponsel itu ke Danan. “Jawab teleponnya, Mas. Mungkin Rena lebih butuh kamu daripada aku.”
Ia bangkit dari sofa, meninggalkan Danan yang kini hanya bisa duduk terpaku, terperangkap dalam kebisuan yang menghancurkan.