Beberapa hari setelah mendapatkan laporan dari orang yang disewa Shinta, Intan tidak bisa mengabaikan semua fakta soal hubungan suaminya dengan Rena. Ia pun coba menenangkan diri, meyakinkan hatinya bahwa mungkin tidak ada apa-apa. Namun, naluri seorang istri tidak pernah benar-benar bisa dibohongi.
Ketika undangan acara amal dari perusahaan di bidang fashion tiba-tiba datang, Intan merasa wajib untuk menghadirinya karena kemungkinan besar pertemuan itu sudah diatur oleh Shinta.
Intan menduga, Shinta sengaja mengundang Rena juga sebagai perwakilan perusahaan tempatnya bekerja. Dorongan lembut hatinya menyarankan agar ia tetap datang dengan kepala tegak.
“Jaga kehormatanmu, Tan! Jangan biarkan orang berpikir kamu bukan istri yang pantas untuk Danan,” ujarnya pada diri sendiri sambil memilihkan gaun biru tua dari lemari.
Siang hari setelah berpamitan—pura-pura menghadiri acara pernikahan pada ibu mertuanya, Intan tiba di acara itu dengan penampilan cantik dan anggun.
Rambutnya yang biasanya diikat rapi, ia biarkan tergerai. Senyumnya yang lembut ia pancarkan pada setiap tamu yang menyapa. Namun, semua itu berubah ketika ia melihat seorang perempuan muda berdiri di sudut ruangan, mengenakan pakaian formal yang rapi.
“Rena.”
Meskipun ini pertama kalinya mereka bertemu, Intan langsung bisa mengenali siapa Rena meski sebelumnya hanya melihat perempuan itu dari foto saja. Ia memperhatikan sejenak, coba mengukur siapa sebenarnya orang ini. Rena tampak gugup saat menyadari keberadaan Intan, tapi ia tetap mencoba tersenyum.
Intan menghampirinya. "Rena Puspasari, ya?" sapanya dengan senyum ramah.
Rena tampak terkejut, lalu menjawab dengan suara pelan, "Iya, saya. Anda siapa?"
"Saya Intan, saya istri Mas Danan," ujar Intan dengan sikap tenang.
Senyum Intan tetap hangat, meski di dalam hatinya ada rasa campur aduk. Ketenangannya bukan tanpa alasan karena ia ingin melihat sejauh mana Rena akan bereaksi.
"Aku senang Mas Anan punya rekan kerja sepengertian seperti kamu," ujar Intan, coba menyindir secara halus sekaligus memberikan ultimatum bahwa sebenarnya ia tahu semua tentang hubungan mereka.
Rena seperti kehilangan kata untuk menjawab karena jujur saja, ia sangat kaget dengan keberadaan Intan di acara itu. Penampilannya pun sangat jauh dari apa yang biasa Danan ceritakan tentang bagaimana sosok istrinya. Intan ternyata sangat cantik dan memiliki pembawaan yang elegan juga lembut.
"Kamu sangat bermurah hati, sampai mau repot membuatkan bekal makan siang untuk rekan kerjamu. Hmm, apa kamu biasa melakukan tugas seperti itu untuk semua laki-laki yang jadi rekan kerjamu di kantor?" cetus Intan, memberikan pertanyaan yang jelas saja semakin membuat wajah Rena tampak merah paham.
"Oh, itu ... iya, sesekali saya sering melakukannya karena kebetulan saya hobi masak." Rena tampak kesal dengan caranya menjawab. Entah kenapa, nyalinya seakan menciut, padahal jelas-jelas dialah orang pertama yang mengirimkan sinyal peperangan di dalam kehidupan rumah tangga Danan dan Intan.
"Begitu, ya?"
Rena hanya bisa mengangguk kecil sambil berusaha tersenyum. Percakapan singkat itu sudah cukup bagi Intan untuk menangkap banyak hal. Rena tidak hanya terlihat gugup, tapi juga salah tingkah, seolah-olah ada sesuatu yang ia sembunyikan.
"Hai, Intan. Kamu udah lama datang ternyata?" Shinta langsung merangkul tubuh Intan, begitu menghampirinya.
Tentu saja Intan langsung membalas sapaan dan pelukan itu dengan penuh semangat. Shinta membuat acara sebesar ini dan ia tidak menyangka akan dilibatkan di dalamnya hanya agar bisa bertemu Rena dengan penampilannya yang berkelas.
"Ayo masuk! Banyak tamu yang ingin aku kenalin sama kamu," ajak Shinta, langsung menggamit lengan Intan tanpa mengindahkan tatapan kekaguman Rena yang ditunjukkan padanya. Sebagai desainer terkenal, tentu saja Shinta tahu, dirinya merupakan pusat perhatian dalam acara ini.
Selama sisa acara, Intan menjaga sikapnya. Ia berbincang dengan beberapa tamu, sesekali tersenyum ke arah Rena yang tampak berusaha menghindari kontak mata dengannya. Namun, jauh di dalam hati, Intan tahu, pertemuan ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar ke depannya.
***
Malam harinya, Intan duduk di ruang tamu sambil memegang secangkir teh yang mulai mendingin. Ia menunggu Danan pulang, sengaja tidak langsung tidur meski Ibu sudah lebih dulu masuk ke kamar.
Ketika suara langkah Danan terdengar di depan pintu, Intan mengatur napasnya, mempersiapkan apa yang akan ia katakan.
"Sudah pulang, Mas? Tumben? Kayanya, ini pertama kalinya Mas Anan nggak lembur?" tanyanya dengan nada biasa, seolah tidak ada yang aneh.
Danan terlihat kaget mendengar pertanyaan itu, tapi ia menjawab dengan santai. "Ah, iya. Kebetulan rekapan bulanan udah kelar. Kamu, lagi apa?"
"Aku lagi santai aja. Ibu juga sudah istirahat di kamar."
Percakapan itu berlangsung ringan hingga Intan memutuskan untuk menjatuhkan pernyataan yang sudah ia pikirkan sejak sore.
"Oh ya, Mas, tadi aku ketemu Mbak Rena, loh," ucapnya tiba-tiba.
Danan yang baru saja duduk di sofa seberang langsung membeku. Wajahnya menunjukkan kebingungan yang tidak bisa disembunyikan.
"Rena?" tanyanya dengan nada ragu.
"Rekan kerjamu," jawab Intan sambil tersenyum kecil. "Aku sering lihat namanya di kertas kecil yang ada di tas bekal makan siangmu. Aku pikir kalian teman yang cukup dekat."
Danan terlihat semakin gugup, tapi ia berusaha menjawab dengan nada datar.
"Oh? Kamu ketemu dia di mana?"
"Di acara amal perusahaannya Mbak Shinta, kebetulan acaranya ada di seberang blok kantormu. Aku awalnya cuma mau antar bekal makan siangmu yang ketinggalan. Kebetulan, aku ketemu Mbak Shinta di jalan. Jadi, aku ikut acaranya sebentar. Eh, di acara itu aku malah ketemu sama Mbak Rena. Ternyata dia sering dibantu sama Mas Anan, ya?"
Intan berbicara dengan nada santai, tapi dalam hatinya ia mengamati reaksi Danan dengan cermat. Ia ingin tahu sejauh mana Danan akan bertahan dengan kebohongannya.
"Nggak juga, sih. Cuma beberapa kali aja bantu," jawab Danan, suaranya terdengar bergetar. Ia mengingat, hari ini Rena memang pamitan pergi untuk mewakili perusahaan dalam menghadiri acara amal tadi siang.
“Kamu nggak usah bohong, Mas! Bukannya dia bisa keterima kerja di kantor kamu itu karena kamu, ya?"
Danan menatap Intan dengan mata membelalak, seolah kata-kata itu baru saja menampar wajahnya. Rahangnya mengeras, tetapi ia tak mampu menyembunyikan keterkejutan yang menyelinap ke dalam dirinya.
Bagaimana Intan bisa tahu tentang Rena, padahal ia yakin semua ini telah menyembunyikannya dengan baik. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Kenapa, Mas?” Intan melanjutkan, suaranya terdengar tajam, tapi bergetar oleh emosi yang ia coba kendalikan. “Kamu bingung aku tahu dari mana?”
Danan menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Ia mencoba membalas tatapan Intan, tetapi matanya terus menghindar. Kata-kata itu menusuknya seperti pedang, meninggalkan bekas luka yang tak terlihat, tetapi terasa begitu nyata.
Intan mengambil napas panjang, berusaha meredakan gemuruh di dadanya, tetapi tatapannya tetap terpaku pada Danan. Ia sudah terlalu lama menyimpan kecurigaan ini. Kini, semua itu pecah seperti bendungan yang tak mampu lagi menahan aliran air.
“Kalau dia yang jadi alasan kenapa Mas Anan selama ini nggak mau nyentuh aku dan nggak pernah menganggap aku sebagai istri ...” Intan berhenti sejenak, suaranya mulai pecah. “Ceraikan aku aja, Mas!”
Kata-kata itu menghantam Danan seperti badai. Ia tertegun, tubuhnya terasa berat seperti batu.
“Apa? Tidak, Intan! Aku nggak mau cerai!” Suaranya meninggi, mencerminkan campuran antara rasa takut dan ketidakpercayaan.
“Intan, aku nggak pernah—maksudku, ini semua cuma salah paham!”
Danan mencoba mendekat, tangannya terulur, tetapi Intan mundur selangkah. Jarak di antara mereka kini terasa lebih luas dari sebelumnya.
“Salah paham?” Intan mendengus kecil, matanya menyipit, mengunci pandangannya pada Danan. “Jadi, aku yang salah paham? Semua ini cuma kebetulan? Mas anggap aku nggak tahu apa-apa, ya?”
Danan menggeleng panik, mulutnya terbuka tetapi tak ada kata yang keluar. Perasaannya berkecamuk—antara ingin menjelaskan, membela diri, tetapi juga dihantui rasa bersalah yang tak ia mengerti sepenuhnya.
Namun Intan tidak memberikan ruang untuknya bicara. Dengan suara yang lebih tenang, tetapi sarat emosi, ia melanjutkan, “Kalau memang nggak ada perempuan lain ....” Intan menatap lurus ke mata Danan, tanpa gentar. “Malam ini, sentuh aku sebagai istrimu, Mas.”
Suasana ruangan menjadi hening. Kata-kata Intan menggema di antara mereka, menekan Danan seperti beban yang tak terlihat.
Ia tidak bisa lagi menghindar, tidak bisa lagi mencari alasan. Hanya ada dua pilihan di depannya—dan salah satunya akan menghancurkan segalanya.