Bab 2. Perselingkuhan Mulai Terbongkar

1272 Words
"Rena." Nama itu bergema di kepalanya. Siapa dia? Apakah dia alasan Mas Anan sampai begitu dingin padaku? Intan masih berdiri di dapur, memandangi air yang mendidih di atas kompor. Suara gemuruhnya seolah mengiringi pikirannya yang kusut. Matanya terlihat sayu setelah semalaman nyaris tak tidur, terbayang-bayang pesan yang ia baca di ponsel suaminya. “Aku harus cari tahu siapa sebenarnya Rena?” Tiba-tiba lamunannya buyar saat air dalam cerek akhirnya mendidih, menghasilkan bunyi melengking. Intan pun mematikannya, tapi lupa menuang air ke dalam cangkir. Tubuhnya terasa kaku. Pikirannya kembali pada pesan itu—kalimat yang seolah membawa jawaban atas perubahan Danan sejak mereka menikah. "Tak pernah sekali pun Mas Anan menyentuhku sebagai seorang istri. Apa itu karena …?” Ingatan itu kembali muncul begitu saja. Mereka sudah menikah selama dua tahun, tapi selama itu pula mereka hidup sebagai dua orang asing di bawah atap yang sama. Di mulai sejak malam yang seharusnya menjadi rutinitas pertama mereka sebagai suami istri, Danan hanya berkata dengan nada tenang bahwa ia tidak bisa menyentuhnya selayaknya pasangan suami istri, karena beban mentalnya menganggap ia sebagai adik sendiri. Dan sejak itu, rutinitas mereka tak pernah lebih dari sekadar berbagi ruang tanpa keintiman. Kian hari Intan seperti bukan perempuan yang tidak diinginkan. Namun, mengingat bahwa Danan-lah yang dulu datang melamar dan memintanya sebagai istri, Intan sama sekali tidak pernah berpikir akan diperlakukan seperti ini setelah menikah. "Apa benar dia menikahiku, hanya demi menjadikan aku sebagai penjaga untuk ibunya yang sakit?" Pikiran itu pun kian menusuk perasaan Intan sebagai seorang yang tidak dicintai sepenuh hati. Dulu, sebelum memberikan restu, keluarga Intan sering mengungkit hal ini sejak awal pernikahan mereka. Ayahnya berkali-kali mengingatkan bahwa Danan itu sama sekali tidak mencintainya. Dia cuma butuh seseorang perempuan dengan hati tulus untuk merawat ibunya yang sedang sakit. Billy, sebagai kakaknya sekaligus sahabat dekat Danan pun mengatakan hal serupa. Namun, sebagai pemilik sifat keras kepala seperti dirinya, tentu saja ia enggan mendengarkan. Intan terlalu sayang untuk melewatkan kesempatan bersanding dengan pria yang telah dia kagumi sejak remaja itu. Intan membela mati-matian Danan dan meyakinkan bahwa pria itu tidak seburuk yang dipikirkan keluarganya. Ia bersikeras agar ayah dan kakaknya mau merestui dan membiarkannya menikah dengan Danan. "Kenapa sepertinya aku salah dalam memutuskan? Harusnya aku menolak lamarannya?" batin Intan, merasa miris dengan kehidupannya. Terlebih saat ia menyadari apa yang diperingatkan ayah dan kakaknya mulai terbukti. Sepeninggal Danan ke kantor, Intan memilih menyibukkan diri dengan membersihkan dapur. Tumpukan piring kotor di wastafel menjadi pelarian untuk membuang pikirannya yang semakin kusut. Namun, saat ia mengambil wadah bekal makan siang suaminya dari tempat cucian dan mulai mencucinya, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Terdapat potongan kertas kecil di bagian dalam wadah itu, seperti bekas tulisan pulpen yang sudah memudar terserap oleh sisa kuah makanan yang menggenang. Mata Intan menyipit, coba membaca apa yang tertulis di sana. "Makasih ya, Sayangku." Seketika jantung Intan berdebar keras. Tangan yang memegang wadah dengan gemetar. Siapa yang menulis pesan itu? Pesan yang tidak mungkin ditujukan untuknya. Danan tidak pernah berbicara manis, meski hanya sekadar mengucapkan terima kasih atas bekal yang ia buat. Dengan hati-hati, ia memeriksa wadah bekal lain yang terasa asing baginya. Jelas, itu bukan wadah bekal milik suaminya. Di salah satu sisi, ia menemukan sebuah inisial kecil. "R” Tiba-tiba mama Rena kembali menghantui pikiran Intan. Nama yang muncul di ponsel suaminya semalam kini hadir dalam bentuk pesan tersembunyi. "Jadi, benar ...." gumam Intan pelan, air mata mulai membasahi pipinya. "Memang ada perempuan lain di antara kita.” Rasanya, seluruh tenaganya seolah hilang. Lemah, seperti tak bertenaga saat mendapati kenyataan itu. "Apa aku harus melakukan sesuatu?" batinnya, diliputi berjuta-juta keresahan hati. Ia tidak mungkin membantah apa yang ia temukan dan menganggap semuanya hanya lelucon semata. Rasanya seperti ditikam dari belakang. Pernikahan yang ia kira bisa membawa kebahagiaan, ternyata hanya jebakan yang dirancang untuk menghancurkannya perlahan. *** Siang itu, Intan memutuskan menemui sahabatnya, Niken. Mereka bertemu di sebuah kafe kecil di tengah kota. Intan datang dengan wajah kusut dan Niken langsung tahu ada sesuatu yang salah. "Kenapa wajahmu kayak gitu? Pucet banget, asli! Kamu nggak tidur, ya?" tanya Niken, memulai pembicaraan. Merasa cemas akan kondisi sahabatnya itu. Intan menggenggam cangkir kopinya erat-erat, lalu berkata, "Nik, aku nggak sengaja baca pesan di hp Mas Anan semalam." Niken menatapnya dengan serius. "Apa? Terus, isinya apa?" "Sepertinya dia selingkuh." Suara Intan bergetar saat ia mengucapkannya. Niken terdiam sesaat, lalu berkata, "Kamu yakin? Mungkin itu cuma salah paham kali, Tan." Intan menggeleng pelan. "Nggak mungkin salah paham, Nik. Ada pesan dari perempuan itu. Bahkan setelah aku cek di beberapa postingan medsos rekan kerja Mas Anan, mereka ternyata punya foto bersama." Niken mengembuskan napas panjang. "Tenangkan diri kamu dulu, Intan. Kamu nggak boleh gegabah nuduh mereka tanpa bukti. Kamu ngerti 'kan maksudku?" Intan mengangguk, semakin menunjukkan betapa ia sangat terguncang dengan berbagai penemuannya pagi ini. Wajah gadis itu benar-benar pucat pasi. "Terus, rencana kamu mau ngapain sekarang? Maksudku, tindakan kamu buat menjebak mereka biar mau ngaku, gitu." Intan terdiam. Ia belum tahu harus bagaimana. Kemarahan, kekecewaan, dan rasa sakit bercampur jadi satu. Otaknya benar-benar buntu. "Aku nggak tahu, Nik. Aku cuma pengen tahu kenapa? Kenapa semakin hari dia berubah? Tapi ... aku nggak pernah berpikir, kalau itu karena adanya perempuan lain." Niken menggenggam tangan Intan. "Kalau gitu, kamu harus cari tahu, Tan. Jangan diam aja! Kamu harus tahu apa yang sebenarnya terjadi." "Aku harus memulainya dari mana, Nik? Aku beneran bingung banget." "Kamu nggak mau minta bantuan abangmu?" "Nggak! Aku nggak mau melibatkan Bang Billy. Aku malu ...." "Kalau gitu, aku minta bantuan Mbak Shinta, gimana? Mungkin aja dia bisa bantuin. Secara, koneksi dia itu luas. Sebagai adik, aku aja iri melihat kehebatannya dalam memecahkan setiap masalah," tawar Niken, merujuk pada kakak pertamanya yang merupakan sahabat baik Billy–kakaknya Intan. "Kamu serius, melibatkan Mbak Shinta dalam urusanku?" Tatapan Intan menyiratkan keraguan yang nyata. "Aku yakin banget, Mbak Shinta bisa diandalkan. Dia nggak akan cerita sama abangmu, kalau kamu memintanya buat merahasiakannya." "Boleh. Tolong sampaikan masalahku ini sama Mbak Shinta, ya. Aku beneran nggak tahu, harus gimana tanpa bantuan dari kalian." "Tenang aja, Tan. Cepat atau lambat. Kebohongan akan terbongkar dengan cara yang nggak pernah kita bayangkan sebelumnya." "Aku pamit pulang kalau gitu. Kasihan, aku ninggalin ibu mertuaku sendirian." Intan segera meraih tas lalu menyampirkan pada pundaknya. Niken segera mengangguk, mempersilahkan Intan pulang, tanpa banyak berkata. *** Malamnya, Intan menunggu Danan di ruang tamu, sekaligus menunggu pesan dari Shinta, seperti yang dijanjikan Niken tadi siang. Perasaannya semakin resah saja, tatkala dia mulai mengirimkan kode-kode penemuannya kepada Shinta. Alangkah terharu hati Intan karena ternyata Shinta menyewakan khusus jasa investigasi untuk mencari tahu, siapa perempuan yang tengah dekat dengan Danan saat ini. Intan mengamati layar ponselnya dengan seksama. Pesan akhir dari Shinta membuat tangannya terkepal dengan erat. Ia merasa sangat penasaran, wanita seperti apa yang telah membuat suaminya jadi bersikap buruk padanya, padahal ia istri yang sah. "Rena Puspasari, janda usianya 30 tahun. Sebelumnya dia pernah menikah dengan Romi Darmawan dan memiliki satu putri yang telah meninggal empat bulan sebelum perceraian. Dia merupakan karyawan kontrak yang dimasukkan ke perusahaan atas bantuan Danan ke bagian Public Relations (PR) Specialist di divisi pemasaran," gumamnya pelan saat membaca laporan yang dikirimkan Shinta padanya. Kiriman foto-foto Rena dan Danan yang tertangkap kamera sedang memasuki apartemen yang sama membuat dadanya terasa sesak. Namun, Intan tidak langsung bereaksi. Ia tahu bahwa menghadapi Rena secara emosional hanya akan membuat situasi semakin rumit. Ia memilih pendekatan yang lebih halus dan strategis. Intan menekan tombol call pada layar ponselnya, nama Shinta tertera sebagai orang yang dihubunginya. Dalam hitungan dua detik, panggilan itu langsung diangkat. "Mbak, apa bisa bantu aku? Aku ingin ketemu sama Rena?" tanya Intan dengan suara yang dibuat setenang mungkin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD