“Maaf, Intan. Aku belum bisa memperlakukan kamu sebagai istriku.”
Awalnya, Intan menganggap malam pertamanya akan berlangsung dengan penuh gairah dan romantis. Malam yang tentu saja sangat ditunggu oleh semua pengantin baru. Namun, bukan malah menyentuhnya, Danan justru mengatakan jika dia belum bisa menganggapnya sebagai istri.
“K-kenapa, Mas?” Meski terkejut dengan penuturan Danan, Intan coba untuk bertanya dengan suara yang lembut.
"Sejak dulu, aku selalu menganggap kamu seperti adik kandungku sendiri, Intan. Dan, itu nggak mudah buat aku berubah begitu aja.” Danan menghela napas kasar. Sejenak tertunduk sebelum kembali bicara, “Aku ... aku nggak tega nyentuh kamu."
Intan coba menguatkan hati. Berusaha menyembunyikan rasa kecewanya. Namun, setelah beberapa detik menunduk, ia mengangkat wajahnya dengan senyum kecil.
"Aku ngerti kok," jawabnya lembut. "Aku nggak akan maksa kamu. Aku tahu cinta nggak bisa dipaksakan. Kalau Mas butuh waktu, aku siap menunggu kamu. Aku cuma ingin jadi istri yang baik buat Mas dan ibu."
Meski terbesit tanda tanya besar dalam pikirannya. Ia memutuskan untuk tak bertanya lebih jauh soal apa yang dikatakan Danan. Intan coba memaklumi, mungkin suaminya hanya butuh waktu untuk terbiasa dengan status mereka sekarang.
***
Bulan pun berganti menjadi tahun, rutinitasnya semakin terasa sangat monoton bagi Intan. Pernikahan impiannya ternyata jauh dari harapan. Bahkan, keinginan untuk selalu dimanjakan oleh sosok laki-laki yang telah resmi menjadi suaminya itu pun semakin terkubur bersama angan-angan. Tak hanya saat malam pertama saja, sampai saat ini, dirinya juga masih belum mendapatkan nafkah batin. Ranjang pernikahannya terasa begitu dingin.
Pagi itu, Intan terbangun lebih awal dari biasanya. Matahari baru saja muncul, memancarkan sinar lembut yang menerobos tirai kamarnya.
Ia menoleh ke sisi tempat tidur, berharap menemukan suaminya di sana—memberikan senyuman sebagai pembuka hari. Namun, seperti biasa, tempat itu sudah kosong. Hanya selimut yang terlipat rapi, seolah menyiratkan bahwa kehangatan pernah singgah di sana hanya sebentar.
Intan turun ke dapur. Ia menemukan Danan sedang berdiri di depan mesin kopi, wajahnya serius menatap cangkir yang belum penuh. Ia mengenakan kemeja kerja rapi, dasinya terpasang sempurna.
"Mas Danan," panggil Intan dengan suara lembut.
Danan hanya menoleh sekilas, kemudian kembali memusatkan perhatian pada kopinya.
"Pagi," balasnya pendek.
Intan menelan ludah, berusaha menyingkirkan rasa kecewa yang muncul setiap kali suaminya bersikap dingin. Ia melangkah mendekat, mengumpulkan keberanian untuk memulai pembicaraan.
"Mas, nanti malam kita makan malam bersama, yuk? Aku bakal masak sesuatu yang spesial deh buat kamu."
Danan meminum kopinya perlahan, lalu menaruh cangkirnya ke wastafel.
"Aku nggak janji, Intan. Ada rapat di kantor. Pulangku nanti mungkin juga telat."
Intan mengangguk pelan. Rasanya kata-kata itu sudah menjadi rutinitas yang ia dengar setiap hari.
"Oh, oke."
Danan meraih tas kerjanya, bersiap pergi. Saat ia melewati Intan, wanita itu meraih lengan suaminya, memaksanya berhenti sejenak.
"Mas, apa aku ada salah sama kamu? Kalau iya, tolong kasih tahu aku," ucap Intan, suaranya nyaris bergetar.
Danan menghela napas panjang, kemudian menatap Intan dengan sorot mata yang sulit ditebak.
"Nggak ada yang salah, Intan. Jangan terlalu banyak berpikir, deh. Sebenarnya kamu lagi kenapa sih?"
"Tapi, Mas berubah."
"Berubah gimana?" Kesabaran Danan mulai menipis. Ia merasa kian hari, Intan menjadi semakin rewel saja.
"Dulu Mas selalu punya waktu buat aku. Sekarang rasanya ... kita seperti orang asing yang tinggal serumah."
Danan menatap Intan sejenak, lalu melepaskan genggaman tangannya perlahan.
"Aku cuma sibuk, Intan. Banyak banget kerjaan di kantor. Kamu tahu 'kan, beberapa bulan ini aku baru aja naik jabatan. Jadi tolong, jangan bawa perasaan ke hal-hal yang nggak penting."
Kata-kata itu menusuk hati Intan, tapi ia hanya mampu tersenyum tipis, menutupi luka yang mulai menganga.
Setelah Danan pergi, Intan terduduk di kursi dapur, memandangi pintu yang baru saja tertutup. Hatinya bertanya-tanya, apakah ini memang kehidupan yang harus ia jalani sebagai seorang istri?
Siang harinya, Intan mengunjungi ibunya yang sedang sakit di kamar. Perempuan paruh baya itu terbaring lemah di tempat tidur. Namun, masih menyempatkan tersenyum menyambut dirinya.
"Intan, bagimana harimu, Nak?"
"Aku baik, Bu. Ibu bagaimana, udah enakan?"
"Ibu udah lebih baikan, Intan. Ehm ... kenapa kamu cemberut? Apa Danan udah berangkat kerja?"
Intan tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan perasaannya. "Udah, Bu. Mas Danan sibuk kerja, jadi jarang di rumah. Aku cuma kangen aja bisa ngobrol bertiga kayak dulu."
Ibunya mengangguk pelan. "Masih muda, wajar kalau dia sibuk. Tapi, Intan, jangan terlalu banyak mengalah. Kalau ada apa-apa, kamu harus bicara sama Ibu, biar nanti ibu yang negur dia."
Intan hanya tersenyum tipis, menatap ibunya yang kembali terpejam. Namun, di dalam hatinya, pertanyaan itu terus bergema, apakah ia benar-benar seorang istri, atau jangan-jangan benar seperti yang dikatakan keluarganya bahwa ia hanya dimanfaatkan untuk menjaga ibu Danan yang tengah sakit?
Malam itu, setelah selesai membereskan dapur, Intan kembali duduk di tepi ranjang. Ia memandang cincin yang tersemat di jarinya, bertanya-tanya apakah keputusan menikahi Danan adalah sebuah kesalahan.
Foto pernikahan mereka yang tergantung di tembok ruangan kamar pun seperti sebuah ironi. Wajah Danan di dalam foto itu terlihat kaku, seolah-olah ia dipaksa menunjukkan kebahagiaan yang tidak benar-benar ia rasakan.
Intan memaksa dirinya untuk percaya bahwa cinta yang tulus akan menemukan jalannya. Namun semakin lama, keyakinan itu terasa seperti kebohongan yang ia ciptakan sendiri.
Seperti yang diucapkan Danan tadi pagi soal rapat, malam ini Danan benar-benar pulang larut malam. Intan memilih untuk pura-pura tertidur, tapi ia mendengar langkah kaki suaminya menaiki kamar dengan langkah perlahan, mendekat ke arah ranjang lalu melangkah lagi ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, kasur bergeser saat Danan berbaring di sebelahnya. Intan bisa mendengar, beberapa kali suaminya menghela napas, entah apa sebenarnya yang sedang ia pikirkan.
Entah kekuatan dari mana, keberanian tiba-tiba muncul di hatinya. Dengan suara pelan, ia bertanya, “Mas Anan?"
"Hem? Kamu belum tidur?" Danan menoleh ke arah Intan, dalam temaram lampu yang redup, ia sama sekali tidak bisa melihat bagaimana wajah sang istri. Ia cukup kaget, karena ternyata Intan belum tidur.
"Apa kamu bahagia?”
Hening. Tidak ada jawaban.
Intan menunggu, tapi Danan tetap diam. Entah ia benar-benar tertidur atau sengaja mengabaikan pertanyaan itu, Intan tidak tahu. Ia menahan napas, berusaha mengabaikan nyeri yang perlahan menyelimuti dadanya. Namun, suara notifikasi ponsel suaminya memecah kesunyian. Intan melirik layar yang menyala. Sebuah pesan masuk dari kontak nama yang cukup asing baginya.
Rena: Sampai kapan kita terus begini, Mas? Aku butuh jawaban.
Darah Intan berdesir. Matanya terpaku pada ponsel itu, tetapi tangannya terlalu gemetar untuk bergerak.
Di malam yang hening itu, labirin pernikahannya terasa semakin gelap, sementara pertanyaan baru menggantung di udara.
"Rena? Siapa dia? Apa wanita ini yang jadi alasan selama ini Mas Danan nggak pernah ngasih nafkah batin ke aku?"
Sekuat hati, Intan coba untuk tidak bereaksi, seolah-olah tidak ikut membaca pesan itu.