Pagi itu, suasana di kafe cukup lengang. Beberapa pekerja dengan jas rapi terlihat sibuk memesan kopi sebelum bergegas menuju kantor. Aroma biji kopi yang baru digiling bercampur dengan bau roti panggang yang hangat. Intan duduk di pojok ruangan, sengaja memilih meja yang sedikit tersembunyi dari pandangan orang lain. Ia menggenggam cangkir kopinya, tapi tidak meminumnya. Tatapannya kosong, pikirannya penuh dengan kejadian-kejadian yang masih menghantui. Insiden kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya itu membuatnya sulit tidur beberapa hari terakhir. Dan pagi ini, ia harus menghadapi seseorang yang selama ini dianggapnya takkan sanggup menyakitinya lagi. Danan datang terlambat sepuluh menit. Langkahnya tampak ragu saat memasuki kafe, matanya segera mencari sosok Intan. Ketika melihat

