"Bu! Bangun! Ibu kenapa bisa begini?" Tangisnya pecah ketika ia menyadari ibunya tidak lagi bernapas. Tubuhnya gemetar, air matanya mengalir deras tanpa bisa dihentikan. Ia mengguncang-guncang tubuh ibunya dengan putus asa, berharap ini hanya mimpi buruk. Namun, kenyataan terlalu kejam untuk diabaikan. “Bu tolong bangunlah … aku minta maaf … Aku minta maaf!” raung Danan, suaranya serak dan penuh kepedihan. Tetangga-tetangga yang mendengar tangisannya mulai berdatangan. Mereka berdiri di ambang pintu, beberapa masuk untuk mencoba menenangkan Danan. Namun, pria itu tetap menggenggam tubuh ibunya, menolak melepaskannya meski mereka berusaha memisahkan keduanya. “Danan, cukup! Dia sudah pergi,” ujar salah seorang tetangga dengan nada lembut, tapi tegas. Danan menatap pria itu dengan mata

