Ke-Dua ~ Kisah Lalu

1149 Words
Udara dingin pagi di kawasan puncak Bogor membelai lengan telanjangnya. Sonja berlama-lama mengamati sepasang sejoli yang tidak berhenti mengukir senyum sembari menerima ucapan selamat. Tapi dia yakin sebentar lagi senyum itu akan segera lenyap. Dengan ketenangan yang selama ini dilatihnya, Sonja melangkah membelah pesta. Mengabaikan tatapan para tamu undangan yang melihatnya tanpa berkedip. Menatap heran karena black maxi dress yang dikenakannya begitu kentara diantara dress code putih untuk para undangan. Senyumnya terpasang sempurna ketika mendekati kedua mempelai. Berbanding terbalik dengan senyum mereka yang perlahan surut. "Happy wedding for you both, hope your marriage full of blessed and love,” katanya dengan senyum manis. Sonja memecah keterkejutan keduanya dengan memeluk sang pengantin wanita. "Finally we know who is the winner. So, congrats!" Sonja tahu dibalik punggungnya para tamu undangan menatap tak lepas dari interaksinya dengan sang mempelai. Pelan, dia kembali berbisik,"And happy pregnant to you. I believe your kiddo so happy right now, in his parents wedding, right?" Sonja mengusap pelan perut Arimbi dengan telapak tangannya yang dingin. Detik ketika dia merasakan tubuh Arimbi membeku, dia tahu informasi dari Emily tidak salah. *** "Kau tidak datang ke pesta mantan tercintamu saat SMA itu?” tanya Emily ketika mendapati Sonja masih berkutat dengan pekerjaan. "Berhenti mengarang, kalau dia indah takkan jadi mantan" ujarnya. "Well, spesial kalo gitu, karena dia laki-laki satu-satunya yang memutuskanmu. Setelah berselingkuh, kalo boleh kutambahkan" Sungguh, Sonja sudah lupa dengan kisah SMA nya itu. Terlalu lama untuk diingat. Tapi ya, apa yang dikatakan Emily tadi memang benar. Brian adalah laki-laki bodoh yang berani berselingkuh dan memutuskannya untuk wanita yang begitu jauh berbeda darinya. Dan Hell! Hubungan mereka begitu langgeng sampai pernikahan yang akan diadakan besok pagi itu. "Mau dengar hot secret dariku? Mungkin bisa mengobati luka hatimu" Sonja mengabaikan hiperbola Emily. Wanita itu tahu persis dia tidak sakit hati. Tidak pernah sampai sekarang. Egonyalah yang terluka. Dan baginya itu jauh lebih penting daripada masalah hati. Dia baru saja akan beranjak tidur ketika Emily berkata lirih. "Dia hamil" "WHAT!” Sonja membatalkan dirinya yang akan bergelung di kasur. Arimbi. Wanita yang 180 derajat berbanding terbalik darinya. Adik tingkat yang dua tahun di bawahnya. Terlihat alim dan polos hanya dengan sekali lihat itu. Gadis yang dijuluki malaikat karena keterlaluan baiknya itu. Hamil? "Darimana berita bodoh itu? Aku akan sama bodohnya kalau percaya. Keluar kamarku aku mau tidur" Ditariknya selimut sampai ke bahu sebelum dia bergelung dengan selimut dalam pelukan. "Aku bertemu dengannya saat mengantar kakak iparku periksa ke dokter kehamilan. Dan aku yakin baby bump di perutnya bukan karena buncit makanan," ujar Emily sembari menyeringai. Sonja terlalu bingung dengan fakta yang diterimanya. Arimbi? Hamil? Sonja keluar dari gelungan selimutnya. "Sebaiknya aku pakai gaun apa untuk hari besar besok?” gumamnya sembari membuka lemari. Tidak ada informasi yang mujarab kecuali dengan membuktikan langsung kan? Lagi pula sedikit bermain dengan masa lalunya itu merupakan obat tersendiri bagi egonya yang sudah terlampau lama dilukai. *** Ketika dia melepaskan pelukannya, bukan hanya senyum yang hilang dari wajah Arimbi, namun juga rona wajah wanita itu. Dibalik make up yang menutupi, wanita itu sepucat s**u. Disampingnya Brian bertanya khawatir. "Tidakkah seharusnya kalian membagi kebahagiaan lain kepada para tamu. Emm... pasti si kecil juga ingin dikenalkan,” tambahnya masih dengan nada lembut. Brian menatap tajam ke arahnya, dengan sebelah tangan menopang tubuh istrinya yang limbung. "Pergi dari sini Sonja!" Senyum manis terukir di wajah Sonja mendapati wajah murka Brian dan wajah pucat Arimbi. Dia baru saja akan mengulurkan sebuket mawar merah untuk sang pengantin perempuan ketika lengannya ditarik kasar. Sebelum menyadari siapa pelakunya, telapak tangan Sonja yang tadinya terulur ditarik dan digenggam kuat untuk setengah diseret laki-laki di depannya. "Apa yang kau lakukan!” teriaknya marah ketika mereka menjauh dari taman dan laki-laki itu melepaskannya. Sonja mengamati jarinya yang nyeri, dan mendapati jari tengahnya tertusuk duri mawar yang tertinggal di tangkai. Wanita itu mengumpat pelan sebelum menatap tajam ke laki-laki di depannya. "Jangan buat kekacauan disini. Itu peringatan pertama dan terakhir untukmu!" Bukannya takut mendengar nada dingin itu, Sonja justru mendengus kesal. Sepuluh tahun lebih tidak membuatnya lupa siapa laki-laki ini. Ibramana Bharatasena. Kakak dari Arimbi, adik kelas yang menjadi pacar dari mantan bodohnya itu. Bukan, bukan tanpa alasan dia mengingat jelas laki-laki ini. Sewaktu hubungan Brian dan Arimbi terkuak, teman-teman Sonja dengan tanpa komandonya telah terlebih dulu mengerjai wanita itu. High school life. Bullying, sedikit isengan, dan sebagainya. Sonja sendiri tidak terlalu memikirkannya. Tapi egonya yang terluka juga tidak lantas mencegah perbuatan teman-temannya pada Arimbi. Sampai ketika, ditengah waktu pulang sekolah yang penuh siswa. Di gerbang sekolah, seorang laki-laki yang tidak dikenal menghampirinya. "Jangan ganggu Arimbi. Itu peringatan pertama dan terakhir untukmu!" Kalimat itulah yang dilontarkan padanya. Waktu itu dia mengabaikannya begitu saja. Sampai seminggu kemudian, laki-laki itu kembali mendatanginya, di rumahnya kalau boleh menambahkan. Dan dengan kegilaannya, melakukan hal yang tidak pernah terbayangkan oleh dirinya pada umur tujuh belas tahun. "Langgar lagi apa yang kuperingatkan padamu, dan kau tahu persis dimana ini akan berakhir,” ucapnya tajam lalu berbalik pergi. Sonja hanya mampu berdiri sedetik sebelum tubuhnya luruh. Merasakan bibir mudanya bengkak karena kelakuan laki-laki yang mengaku sebagai kakak Arimbi. Lebih dari itu dirinya -yang hanya memakai tank top abu saat itu- merasakan selangka kanannya nyeri dan panas bersamaan karena sentuhan bibir dan lidah dari laki-laki yang saat ini berdiri di depannya itu. Tapi itu dulu, ancaman Ibram sekarang tidak lagi berpengaruh apapun padanya. Dengan senyum kecil dia menatap balik pria di depannya,"Kalau aku langgar apa kau akan melanjutkan tindakanmu tiga belas tahun lalu?" Pelan, dia menyesap jarinya yang sedikit berdarah bersamaan dengan pandangannya yang tidak beralih dari kakak Arimbi itu. "Pergi dari sini dan jangan muncul lagi di depan Arimbi dan Brian" Tawa kecil menguar dari bibir merah Sonja. Baru saja dia akan membalas perkataan tersebut. Dari kejauhan dia melihat seseorang yang berjalan mendekat. "Entah kenapa aku jadi tertarik untuk melanggarnya" Sedetik kemudian, Sonja mengalungkan tangannya di leher laki-laki itu. Kemudian mendekatkan bibirnya nyaris menyentuh bibir yang tadi mengeluarkan ancaman untuknya itu. "Aku penasaran sampai sejauh mana ini akan berlanjut,” bisiknya di depan bibir Ibram. Untuk kemudian dikecupnya dagu laki-laki yang mematung itu. "Bang Ibram, dicariin ibu. Kata ibu emm... temannya suruh diajak” Seorang wanita yang muncul dibalik Ibram menatap ke arah Sonja. Raut wajahnya yang segan membuktikan kalau dia melihat kejadian barusan. Mengangguk kecil pada Sonja, wanita itu kemudian berbalik. "Pergilah,” ujar Ibram sebelum ikut berbalik dan meninggalkan Sonja disana. "Bagaimana aku bisa tidak sopan begitu, nyonya rumahnya mengundangku mana mungkin aku pergi begitu saja,” teriak Sonja ketika laki-laki itu sudah menjauh. Entah mendengarnya atau tidak. Dia segera berjalan menyusul Ibram yang telah jauh di depan. ***   "Tidak mau mengenalkan teman abang pada ibu?" Ibram menoleh ke belakangnya, mengikuti arah pandang sang ibu. Dengan senyum secerah matahari, Sonja telah lebih dulu mendekat sembari mengulurkan tangannya. Mengabaikan tatapan tajam Ibram. "Sonja,” katanya mengenalkan diri sendiri. Tersenyum manis pada wanita paruh baya dengan gurat keibuan yang kental itu. Entah kenapa ada yang mengusik dadanya ketika melihat senyum tulus wanita di depannya ini. Ketika dia akan melepaskan tangannya, dirinya terpaku saat ibu Ibram telah lebih dulu memeluknya sembari mengusap pelan punggungnya. "Teman Ibram ya, kenapa baru kesini?" Detik itu juga, entah kenapa Sonja merasa pertemuannya dengan keluarga ini tidak akan selesai disini, seperti yang direncanakannya awal ketika dia memutuskan pergi ke pesta Arimbi dan Brian. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD