Ke-Tiga

1274 Words
Seminggu sejak kepulangannya dari rumah sakit Sonja merasakan tubuhnya tidak seratus persen dalam kondisi sehat. Beberapa kali bahkan dia merasa kepalanya pening. Terlebih setelah berjam-jam duduk di layar komputer seperti sekarang ini. Entahlah, mungkin juga karena dirinya yang sendirian menghandle kerjaan menumpuk akhir-akhir ini. Disandarkannya tubuh ke sofa setelah meneguk infuse water yang selalu dia konsumsi setiap hari, selama sepuluh tahun terakhir. Jadwalnya hari ini penuh sampai malam. Nanti malam adalah grand opening produk make up terbarunya.  I-Maze sudah resmi lima tahun ini bersanding dengan brand-brand make up dengan harga selangit dan kualitas yang tidak lagi diragukan. Senantiasa masuk dalam review make up yang dipakai model-model bukan hanya di negeri sendiri, tapi juga asia, dan bahkan telah masuk ke negeri fashion dunia, Paris. Kalo mengingat kota itu rasanya dia ingin terus mengumpat pada suaminya yang telah menggagalkan grand opening nya di Paris lalu. Emily dan Joceline bahkan masih disana untuk beberapa kegiatan follow up marketing. Sementara Gracia memilih tetap di Hongkong karena menunggu kelahiran bayi pertamanya. Sejak dua tahun lalu dia resmi mengikuti suaminya yang stay karena kerjaan disana. Walaupun beberapa kali tetap kesini, tapi sejak hampir sembilan bulan ini dia hanya sebagai pasif manajer. Deringan ponselnya membuat Sonja membuka mata. "Acara nanti malam sudah clear?”suara Joceline terdengar di ujung sambungan. "Ya, aku baru akan ke lokasi" Sonja mematikan komputernya. Memasukkan beberapa barang yang diperlukan dalam bag abu-abu berlogo I-Maze. "Kau oke mengurus sendiri? Suaramu terdengar sedang tidak sehat" "Hmm, tidak masalah. Semuanya sudah beres. Aku hanya akan memberi statement di inti acara tidak lebih dari setengah jam. Selebihnya menjamu beberapa klien penting. Distribusi dan promosi setelahnya akan diurus Jessica" Lagi-lagi perutnya terasa mual. Sedari pagi hanya setangkup roti gandum yang masuk ke perutnya. "Okay, take care and have fun beib, aku dan Emily sudah booking tiket besok sore,” tutup Joceline setelahnya.   Lift berhenti di basement ketika satu pesan muncul di layar ponselnya. Ibu sdah masak gudeg utkmu. Makan malam di rmh. Sonja mendengus kesal membaca pesan itu. Khas Ibram sekali, tidak ada basa-basinya. Apa kau sudah setua itu utk pikun. Ak ad grand opening malam ini. Sonja didampingi Jessica dan Karen memotong bentangan pita berwarna abu-abu sebagai simbolis peluncuran produk make up I-Maze terbaru. Kilatan kamera memburu ke arah Sonja. Menjadikan kepala wanita itu semakin berat. Berbanding terbalik dengan senyum yang terus terukir pada bibirnya. Pada layar depan, produk terbaru mereka terpampang dengan segala kelebihan dan keistimewaannya. Di gerai kanan sederet make up artis dan beauty vlogger kenamaan memilih para tamu secara acak untuk dilakukan make over dengan produk yang baru saja diluncurkan itu. Sementara berjajar dari kiri etalase mendisplay semua produk I-Maze dari awal hingga terbaru. Sonja melangkahkan kaki jenjangnya dengan riang menyapa para tamu. Model, sosialita, artis, beauty vlogger serta media dari dalam dan luar memenuhi ballroom yang berdesain gold grey ini. "Congrats for your perfect product darl! I can't wait to try it" Sonja balas mencium kedua pipi seorang wanita empat puluh tahunan itu sembari mengucapkan terimakasih. Dia bertemu dengan Mrs. Rebecca pertama kali enam tahun lalu. Ketika dia mengikuti fashion week di Sidney, dan wanita inilah yang menjadi make up artisnya. "Baby, I miss that day so bad, when I paint your angel face" Sonja kembali mengucapkan terimakasih sebelum beralih ke tamu-tamu yang lain. Dia ikut berbincang melingkar bersama rekan sesama modelnya dulu juga beberapa make up artis yang pernah mendampinginya. "So, let cheer for this awesome night angels!” ajak salah satu rekannya. Sonja menerima gelas tinggi berisi white wine yang nampak berkilauan. Ikut mendentingkan gelasnya pelan. Namun baru saja tepi gelas itu menyentuh bibirnya, lengannya ditarik pelan. Dan gelasnya sudah berpindah tangan. Sonja baru saja akan mengumpat pelan kalau saja dia tidak ingat berada di tengah pesta. Alhasil dia hanya menatap tajam pada laki-laki menyebalkan dengan jas hitam itu. "Hai Ibram, long time no see. Its great that I heard your company would make expansion,” sapa salah satu rekannya yang pernah menjalin bisnin dengan perusahaan Ibram. Laki-laki itu berbasa basi sebentar sebelum menyeretnya keluar ballroom. "What are you doing? Get off!" Sonja menyentak kasar lengannya yang ditarik Ibram. "Kau sudah mengacaukan penerbanganku dan sekarang grand opening juga!” teriaknya marah. Masih dengan wajah datar Ibram menghela nafasnya menyaksikan wanita yang meledak-ledak itu. "No more alcohol!" "What! You must be kidding! It just wine" Sonja benar-benar tidak habis pikir dengan lelaki ini. Sejak dirinya berada di dunia model di usia tujuh belas, party, alcohol, nikotin rokok, bahkan peredaran n*****a bukan hal yang baru dikalangannya. Walaupun dirinya sendiri tidak pernah mencicipi semua itu sebatas pada wine. "Get off!” katanya berusaha keras menekan amarahnya dan meninggalkan laki-laki itu untuk kembali ke pesta. ***   Setengah dua malam Sonja baru bisa bernafas lega. Acaranya baru saja berakhir, itupun dia tadi menolak ajakan teman-temannya untuk lanjut clubing. Kakinya terasa seperti jeli. Dia tidak ada kekuatan yang tersisa bahkan hanya untuk menggerakkan kakinya ke mobil. Dengan tanpa bantahan, dia membiarkan laki-laki itu membimbingnya sampai parkiran, membuka pintu mobil untuknya dan duduk di balik kemudi sebelum menjalankan mobilnya. Sonja melepas heels sepuluh sentinya dan memakai flip flop yang selalu dia bawa. Disampingnya Ibram mengemudi dalam bungkam. Ya, laki-laki itu kembali mengikutinya di pesta, berbincang dengan beberapa tamu kenalannya sembari menunggu acara selesai. Lima belas menit berlalu dalam perjalanan dihabiskan Sonja untuk membersihkan make up yang sedari pagi melekat di wajahnya. Sengaja dia memutar sembarang musik hanya untuk mencegah suasana hening karena dia engan berbincang dengan Ibram. Sesampainya di rumah, Sonja mengikuti Ibram yang masuk lewat pintu samping dan langsung menuju kamar mereka. Sonja menghabiskan hampir dua puluh menit di kamar mandi, membersihkan diri. Dia keluar dengan piama biru muda pendek diatas lutut dengan tali spageti. Didapatinya Ibram bersandar di ranjang dengan ponsel di tangan. "Ada yang ingin kubicarakan denganmu" Sonja hanya meliriknya sekilas sebelum merebahkan diri di kasur. "Besok, aku ngantuk,” gumamnya pelan. Ibram baru akan mendebat ketika istrinya itu sudah bergelung nyaman dalam selimut. Beberapa saat dia mengamatinya dalam diam. Akhirnya dia mengalah. Mematikan saklar lampu dan ikut merebahkan diri.   Sonja baru membuka matanya ketika jam menunjuk pukul sembilan. Dia mengerjap sebentar sebelum memutuskan bangun. Perutnya terasa melilit sakit. Ketika dia turun ke dapur, dia mendapati Ibu dan Ibram tengah mengobrol entah apa. Dan langsung terdiam begitu melihatnya turun. Kalau saja perutnya tidak terus meronta, tentu dia akan bergelung di kamar. "Sonja, sudah bangun?" Akhirnya dia tetap melangkah ke dapur. Tersenyum tipis menjawab pertanyaan ibu mertuanya. "Bagaimana acara semalam?" Sudahkan Sonja pernah bilang, kalau ibu mertuanya ini wanita teramah yang pernah ditemuinya. Bahkan ketika dirinya menampilkan sikap datar dan acuh. "Lancar bu,” katanya sebelum meneguk air putih banyak-banyak. "Sarapan dulu. Tadi malam ibu buat gudeg sama kecap daging sapi. Sudah dihangatkan tadi" "Sendiri saja bu,” katanya merasa tidak enak ketika Ibu mengambilkan makan untuknya. "Sudah tidak papa, makan yang banyak" Sonja mengucapkan terimakasih pelan. Bergabung di meja makan untuk menyantap sarapannya yang telat. Ibram dan ibunya kembali berbincang, sementara dirinya makan dalam diam. Sampai kemudian laki-laki itu beranjak dan kembali dengan tiga butir obat dan segelas air. "Aku sudah tidak minum obat,” tolaknya ketika Ibram menyodorkannya untuk meminum. Dia baru saja menghabiskan makannya. Seminggu terakhir perutnya tidak tergugah dengan makanan restoran manapun. Membuat nafsu makannya turun drastis. Tapi tidak ketika dia di rumah dan mendapati masakan olahan ibu mertuanya. Perutnya terus melilit menjeritkan untuk diisi. "Tidak bisakah kau tidak mendebat. Minum obatnya" Sonja baru akan menolak lagi ketika dari ekor matanya melihat Ibu Ibram hanya diam mengamati. Dengan menatap kesal pada Ibram dia menuruti kata lelaki itu. Selepas selesai menyantap sarapan. Sonja mengikuti Ibram yang lebih dulu ke kamar. Laki-laki itu tampak bersandar di jendela yang tirainya telah disingkap. "Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Sonja begitu Ibram tidak juga buka suara. Ibram tidak langsung menjawab, nampak berpikir. Pandangannya masih terarah ke langit pagi yang nampak bersih tanpa awan. Samar, dia menghembuskan nafas panjang sebelum berbalik menatap raut istrinya yang duduk di tepi ranjang-tengah menatapnya. "Apa ini tentang perceraian kita. Kau sudah mengurusnya?” tebak Sonja. Manik Ibram menatap tepat di irisnya. "Aku minta kau berhenti bekerja" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD