Alih-alih marah seperti biasanya, Sonja justru tertawa mendengar penuturan Ibram barusan.
"Kalau kamu terlalu sibuk, oke aku yang akan mengurus perceraiannya,” katanya santai.
Ponsel yang baru saja Sonja raih dari nakas diambil Ibram dan dimasukkan dalam saku celananya.
"Aku minta kau berhenti bekerja,” laki-laki itu lalu mengulurkan kartu kecil padanya.
"Pakai itu sesukamu"
Alih-alih melonjak gembira, Sonja melempar Atm unlimited yang diberikan padanya. Sebelumnya laki-laki itu sudah memberikan dua kartu Atm padanya. Satu diberikan sebelum pernikahan, untuk segala kebutuhan pernikahan mereka. Dan satu lagi diberikan setelah dia berstatus sebagai istri sah laki-laki itu.
"Kau jadi sombong setelah perusahaanmu membangun cabang di Sidney, huh?” Sonja tertawa mengejek.
"Sayangnya aku tidak memerlukan sumbangan darimu"
Bahkan satu Atm dari pria itu tidak pernah disentuhnya. Yang selalu mendapat transfer dari Ibram tiap bulan.
"Aku akan bekerja sesukaku dan kau tidak bisa melarangku!” teriaknya marah melihat wajah tenang suaminya.
Sonja beranjak dari duduknya, mendekati Ibram,"Kembalikan ponselku!"
Kedua tangan Sonja yang berusaha mengambil ponsel dari celana Ibram dicekal laki-laki itu.
"Sudah kubilang padamu tidak ada perceraian. Kau istriku memiliki kewajiban untuk mematuhi suamimu,” katanya dengan penekanan per kata.
Manik Sonja balas menatap iris gelap kecoklatan Ibram dengan tajam.
"Kenapa aku harus berhenti bekerja?” tuntutnya.
Tidak serta merta Ibram menjawab. Menjadikan Sonja kembali mendengus pelan.
"Berhenti bertindak sebagai suami posesif yang menyebalkan. Kau bahkan tidak punya alasan kuat dibalik permintaan konyolmu?"
Sonja melepaskan cekalan pria itu dari tangannya. Dan sebelum tangannya kembali ke saku Ibram untuk mengambil ponselnya. Dia merasakan kepalanya didongakkan dan sedetik kemudian bibirnya dilumat pelan.
Sebentar dia terkejut, sebelum kemudian membiarkan Ibram menciumnya semakin dalam beberapa saat. Laki-laki itu mengecup pelan sebelum mengakhiri ciumannya.
"Kau tanya alasannya?” bisik Ibram pelan di depan bibirnya. Setelah mengambil jeda beberapa detik.
Sonja tidak mengeluarkan protes apapun. Menunggu kelanjutannya. Dia hanya menatap Ibram dengan kening berkerut. Samar dapat dirasakan nafas hangat laki-laki itu menerpa pipinya.
"Aku tidak mau istriku kelelahan karena bekerja. Kurangi pekerjaanmu dan jaga kesehatan"
Selepas mengatakan itu, Ibram keluar tanpa menunggu respon istrinya. Sonja sendiri masih mematung, mencerna maksud perkataan Ibram barusan dengan kepala yang tiba-tiba terasa pening.
Selama enam bulan usia pernikahan mereka, Ibram tidak pernah memintanya satu kalipun untuk berhenti bekerja. Laki-laki itu sendiri bahkan juga gila kerja. Hanya beberapa kali saat melihat dirinya pulang larut malam berturut-turut dia akan mengomelinya sambil lalu. Ibram sama sekali jauh dari kata laki-laki pengatur atau posesif. Dia cenderung tidak ikut campur dengan berbagai pekerjaan dan segala aktivitasnya.
Lagi-lagi Sonja merasakan kepalanya semakin pening. Diteguknya habis air putih yang memang selalu ditaruh di nakas samping tempat tidur. Dia kerap kali merasa haus saat tidur. Dan setiap bangun pagi selalu menghabiskan sebotol penuh air putih. Kebiasaannya saat mulai menjadi model dulu kebawa sampai sekarang.
Memutuskan untuk tenang, Sonja kembali berbaring di ranjang. Melanjutkan tidurnya yang akhir-akhir ini sangat minim.
***
"Jadi traine kami akan memakai produk make up dari I-Maze. Pada malam grand final, kami juga minta dari pihak I-Maze untuk menjadi juri. Jadi dalam beberapa sesi yang kami lakukan nanti juga minta kesediaan anda untuk mengisi"
Sonja mencerna dengan rinci lembaran kegiatan dan konsep yang diajukan dalam kerjasama kali ini. Pasalnya dirinyalah yang akan menangani kersajama ini. Sementara Joceline sibuk dengan produk parfum yang menjadi terobosan baru I-Maze. Dan Emily menangani promosi make up yang baru launching.
Setelah menimang apa saja keuntungan dan kerugian yang akan diterima. Sonja menutup notenya.
"Baiklah, saya sudah mendengar dan memahami konsepnya. Selanjutnya silahkan kirimkan kontrak kerjasamanya secara resmi. Untuk lebih lanjut rincian kegiatan yang perlu I-Maze isi. Untuk produk yang diperlukan nanti bisa berkoordinasi dengan Karen"
Karen yang duduk di sebelahnya mengangguk kecil pada Tante Nening, klien mereka.
"Kami berharap kerjasama ini lancar dan saling menguntungkan kedua belah pihak, kami juga minta banyak ilmunya dari Miss Sonja sendiri yang sudah lama di dunia modeling,” tuturnya.
Sonja tersenyum kecil, lalu mempersilahkan mereka - Tante Nening dan stafnya- untuk berkoordinasi masalah administratif dengan Karen. Pasalnya dia sudah tidak mampu menahan gejolak perutnya lagi. Sedari tadi dia berusaha fokus dan mengabaikan sakit di perutnya.
Pelan, telapak tangannya mengusap lembut perut. Setelah izin ke toilet, Sonja berjalan tertatih menuruni tangga menuju toilet di lantai satu. Langkahnya semakin berat seiring nyeri yang dirasakannya. Ketika masuk ke bilik toilet, Sonja menyingkap pelan dressnya.
Seketika wajahnya pucat pasi, darah mengalir di paha bagian dalamnya. Kasar ditariknya tisu toilet untuk menyeka darah yang mengalir pelan. Kepalanya berputar mencari kemungkinan yang terjadi.
Apakah ini jadwal menstruasinya?
Tapi baru kali ini dia mengeluarkan darah sampai sebanyak ini. Perutnya semakin meneriakkan rasa nyeri. Merambat ke tangannya yang gemetar. Diraihnya ponsel di saku blazer untuk menghubungiku Karen.
Beberapa saat kemudian yang dia ingat adalah wajah panik asistennya sebelum matanya perlahan menutup.
***
"Mbak Sonja... mbak sudah sadar?"
Suara itu perlahan menyusup ke telinga saat Sonja mengerjapkan mata beberapa kali. Begitu melihat dengan jelas, wajah Arimbi yang pertama kali memenuhi pandangannya. Sebelum kemudian langit-langit putih, botol infuse, dan ranjang rumah sakit.
Lagi...
Dua kali dalam sebulan dia di rumah sakit.
"Mbak Sonja mau minum?"
Sonja menerima saja ketika Arimbi membantunya meminum air putih melalui sedotan.
"Kenapa aku ada disini?"
Arimbi tampak gelisah, wanita yang menjadi adik iparnya itu menggigit kecil bibir bawahnya.
"Mbak pingsan trus dibawa sama Mbak Karen ke rumah sakit. Kata dokter mbak harus opname,” jelasnya setelah jeda beberapa saat.
"Aku cuma datang bulan, tidak perlu sampai opname segala,” gerutunya pelan.
"Rimbi panggil bang Ibram di luar dulu ya mbak"
Selepas mengatakannya, Arimbi segera keluar meninggalkan Sonja sendirian dalam kamar VIP rumah sakit.
Arimbi kembali masuk dengan Ibu dan Ibram serta seorang suster di belakangnya.
"Perutnya masih sakit?"
"Sedikit,” jawab Sonja pada suster yang memeriksanya. Dia melirik pada Ibram sekilas, laki-laki itu tampak datar.
Setelah memeriksa detak jantung dan tensinya, sang suster kembali bersuara.
"Istirahat ya bu, dan makannya juga dijaga. Nanti malam lebih lanjut dokter akan kembali visit"
Dirapatkannya selimut rumah sakit. Tubuhnya entah kenapa menggigil.
Dan perutnya masih terasa nyeri, rasanya dia ingin meringkuk.
"Masih sakit, nak?"
Usapan lembut ibu terasa di perutnya. Menawarinya makanan yang dia jawab dengan gelengan.
Dari ekor mata Ibram meraih remote Ac dan mengecilkannya. Sonja merapatkan kedua kelopak matanya. Berusaha keras untuk tidak meringis sakit.
Setengah jam kemudian Ibu dan Arimbi pulang. Meninggalkannya berdua dengan Ibram. Sonja membalikkan tubuhnya hingga telentang. Sebelum kemudian meringis kecil saat berusaha duduk. Ibram membantunya dalam diam.
"Katakan"
Suaranya terdengar dingin dan serak.
"Apa?"
Sonja menghela nafas antara jengkel dan lelah. Dia menunggu untuk bisa bicara berdua dengan suaminya itu. Di kepalanya sekarang terdapat dugaan-dugaan yang datang silih berganti. Membuat kepalanya semakin pening. Belum lagi seluruh tubuhnya yang terasa lemas.
"Bedrest selama seminggu,” kata Ibram pelan.
Sonja yang sedari tadi enggan menatap Ibram, kali ini menantang manik pria itu,"Kenapa aku harus bedrest?! Aku hanya perlu satu-dua hari istirahat saat sedang menstruasi!"
Amarah wanita itu perlahan muncul, ditambah sikap datar laki-laki itu yang semakin membuatnya ingin berteriak di depannya.
"Am I pregnant?"
Gumpalan besar terasa menyumbat kerongkongannya. Menjadikannya sakit saat mengeluarkan kalimat pendek itu. Dia bahkan tidak bisa memercayai dirinya sendiri ketika gagasan itu menyusup di kepalanya. Pemikiran yang di umurnya sekarang tidak pernah sedikitpun menempati ruang di kepalanya.
Tapi melihat Ibram memalingkan wajahnya, tidak berani menatapnya, membuat embun di kedua mata Sonja. Manifestasi dari segala perasaannya sekarang ini.
"Jawab aku! Jangan hanya berdiri bodoh disana, jawab aku! Katakan kalau itu tidak benar!"
Kasar, Sonja berusaha melepaskan selang infus dari tangannya. Membuat Ibram serta merta mencekal kedua lengannya. Wanita itu tidak menangis, tapi kedua matanya memerah karena amarah.
"Aku membencimu! Dasar b******k! Aku benar-benar membencimu!"
Berulang kali Sonja melayangkan pukulan pada d**a suaminya. Dengan amarah memuncak, dia mengeluarkan semuanya pada laki-laki yang sudah membuatnya berada dalam posisi ini.
Ibram tidak mengeluarkan sepatah katapun. Diraihnya Sonja dalam pelukan, ketika wanita itu tidak berhenti memukulinya.
"Tolong jangan sakiti dirimu"
***