Ke-Lima

1174 Words
Seolah mengingatkan keadaan yang mesti dijalaninya sekarang, pagi selepas bangun Sonja memuntahkan apa yang ada di perutnya, hanya karena mencium bau makanan rumah sakit. Wanita itu kini berjongkok di closet, dengan Ibram di sampingnya memijat tengkuknya pelan dan mengusap punggungnya. Begitu merasakan perutnya tidak lagi bergejolak, dia berdiri dan membasuh mulut serta wajah pada wastafel. Wajah pucat dan lesu itu tidak biasa menghias, yang sekarang sudah tiga hari menempel di rautnya. Sejak dia mengetahui ada janin di perutnya, sejak itu pula dia tidak mau bicara sepatah katapun dengan Ibram. Delapan minggu, Itu usia kandungannya. Dia benar-benar hamil. Sonja mendengar sendiri bagaimana dokter mengatakan sendiri bagaimana kondisi dirinya dan janin dua bulannya itu. No more alcohol. Jaga kesehatanmu, jangan sampai kelelahan. Kata-kata Ibram tempo hari tidak mau berhenti berputar di kepalanya. Lelaki b******k yang masih menyandang status sebagai suaminya itu sudah tahu sejak dia pingsan pertama kali dan dilarikan ke RS. Dan lebih brengseknya lagi, ibu dan Arimbi juga sudah tahu. Lelaki itu dengan semena tidak memberitahunya apapun, membiarkannya dalam kebodohan. Bukan hanya itu, Sonja terus merutuk akan kilasan malam dua bulan lalu itu. That bastard! Lagi-lagi dia terus menyumpah serapah. Pasalnya, sudah berkali-kali dia mengingatkan Ibram untuk pakai protection saat mereka b******a. Tapi tidak satu kalipun lelaki keras kepala itu menurutinya. Dan lihat apa yang terjadi sekarang. Dia harus terus berbaring di rumah sakit, pekerjaannya delay entah sampai kapan. "Mau minum?" "Aku mau pulang,” jawabnya ketus mendengar tawaran Ibram. Sedang Ibram hanya menghela nafas pelan melihat kekeraskepalaan Sonja. Wanita itu kembali meringkuk dalam selimut, enggan menatapnya. "Aku akan minta izin dokter untuk kamu bisa pulang, asal kamu bersedia bedrest di rumah,” katanya akhirnya. Sonja terus membelakanginya tidak merespon apapun. Sementara Ibram juga tidak mengalihkan tatapannya pada wanita yang tengah meringkuk itu. Bahu kecilnya tertutup selimut rumah sakit. Dan wajah pucat wanita itu dua hari ini membuat Ibram tidak pernah mendapatkan jam tidur normalnya. *** Kisah lalu~Dua bulan sebelumnya Sonja merapatkan selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Nafasnya masih terengah, ketika dia beralih pada remote Ac untuk menurunkan suhunya. Disampingnya, Ibram juga tengah meredakan nafasnya yang memburu. Kalau pasangan pada umumnya b******a digunakan untuk mengekspresikan perasaan masing-masing, tidak dengan keduanya. Biasanya seusai b******a mereka akan langsung tidur, tapi tidak untuk malam ini. Ibram menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. Sebelah tangannya mengamit sebatang rokok. Laki-laki itu bukan penggila batangan nikotin. Hanya terkadang dia menyesapnya, disaat pikirannya terasa penuh. Sonja mencoba untuk tidak mengomel saat laki-laki itu merokok di kamar mereka yang berAc. "Apa ini? Untukku?” tanya Sonja ketika Ibram menyodorkan bag kecil berwarna abu-abu. Matanya berbinar melihat apa yang ada di dalamnya, kotak navy beludru dengan ukuran lebih kecil, berukir merk perhiasan terkenal, Graff. Dan dia menemukan kalung yang cantik sekali dengan tiara kecil yang sangat indah. Sekali lihatpun dia tahu tidak sedikit nominal yang dikeluarkan Ibram untuk membelinya. Sonja sendiri sudah hampir tiga tahun ini menjadi brand ambassador Graff. Dia yakin perhiasan yang Ibram berikan ini hanya bisa dimiliki oleh sedikit orang dari seluruh belahan dunia. Karena Graff jewelry biasanya hanya memproduksi dalam jumlah terbatas, itupun terkadang detail motifnya berbeda. Sonja menatap Ibram menyelidik. "Tumben kau memberiku hadiah" Pasalnya lelaki yang telah berstatus suaminya itu sangat jauh dari tipe romantis, yang suka membanjiri istrinya dengan hadiah maupun pujian. Seingatnya, selama menikah Ibram tidak pernah memberinya barang apapun. Hanya kartu Atm dengan nominal yang terus bertambah setiap bulannya, yang dia sendiri juga tidak pernah mengambil. Ibram meletakkan rokoknya di kotak asbak nakas, membantu istrinya memakai kalung yang diberikannya. Sonja tersenyum melihat kalung itu melingkar cantik di lehernya. Dia mendekat pada Ibram untuk mengecup sekilas bibir laki-laki itu. Lalu mengucapkan terimakasih pelan. "Jadi, ini untuk apa?” tanyanya kemudian. Ibram kembali menghisap panjang rokoknya. Tidak langsung menjawab, mengamati Sonja yang melepas kalung itu, mengembalikan pada kotak dan menaruhnya di nakas. Tidak ingin kalung dengan nominal tidak sedikit itu putus atau lecet ketika dia bergerak dalam tidurnya. "Kalau kubilang sebagai sogokan agar kamu tidak minta cerai, apakah berhasil?" Kerutan samar muncul di dahi Sonja, sebelum kemudian senyum kecil menghias di bibirnya yang bengkak. Dia merapat pada Ibram, menyandarkan tubuhnya pada d**a suaminya sembari memeluknya. "Beri aku satu alasan kenapa kita tidak bercerai?" Beberapa saat kemudian Sonja tidak mendapatkan jawaban dari mulut laki-laki itu. Menjadikan senyum getir tipis menghias bibirnya. "See? Kau juga tidak menemukannya kan. Kita tahu persis bagaimana ini bermula, kita hanya menjalankan alur sesuai situasi yang ada sampai di tahap ini. Kupikir ayo kita akhiri saja, aku telah menulis banyak rencana setelah kita pisah. Dan kamu juga bisa melakukan apapun yang ingin kamu lakukan" Sonja mengakhiri kalimatnya. Nafasnya perlahan teratur. Namun matanya enggan terpejam. Menatap pada fokus yang entah dimana. "Senin besok, ada pekerjaan ke Swiss, ikutlah denganku" "Dan menjadi bonekamu karena kau akan terus bekerja tanpa ingat waktu, dan membiarkanku sendirian menjelajah ke negeri itu, tidak terimakasih,” katanya tanpa menoleh. Ibram melingkarkan tangannya yang sudah bebas dari memegang rokok pada pinggang istrinya. "Bukannya kau bilang ingin kesana, bulan madu kedua" Kali ini Sonja mendongakkan kepalanya, menatap pada manik Ibram yang hitam kecoklatan. Mencoba membaca apa yang laki-laki itu pikirkan. Kenapa dia begitu berbeda dari biasanya. Ibram suaminya tidak pernah membujuk, biasanya laki-laki itu akan memaksa tanpa ingin dibantah. "Memberiku hadiah, mengajak bulan madu lagi, kau mau jadi suami idaman hmm?" "Kita sudah terlanjur menikah, mungkin kau juga akan hamil" Tawa Sonja terdengar begitu merdu di malam yang senyap. Dia mengusap lembut rahang Ibram yang berhias jambang tipis. Tidak habis pikir Ibram bisa berkata begitu dengan ekspresi yang benar-benar datar. "Kamu mau punya anak?" Seolah tampak berpikir sebentar, Sonja menambahkan,"Hamil akan membuatku jelek, tubuhku akan berubah gendut, dan karirku akan terhambat" Lagi, dia merapatkan tubuhnya pada tubuh Ibram. Rasanya menyenangkan berbincang mengenai angan-angan seperti ini seolah mereka pasangan bahagia alih-alih berada pada ujung pernikahan. "Kau akan bertambah cantik saat hamil" Bibir Sonja kembali menguarkan senyum,"Ini pertama kalinya kau bilang aku cantik" "Ikut aku ke Swiss,” ajak Ibram lagi. Kali ini dengan nada lebih tegas. "Aku juga punya pekerjaan, bukan pengangguran yang bisa pergi kemana-mana tanpa beban" "Minta izin pada teman-temanmu, mereka bisa menggantikan sementara,” kata Ibram tidak mau kalah. Sonja melepaskan diri dari rengkuhan Ibram. Berganti duduk di sisi laki-laki itu sembari menatapnya. "Kenapa aku harus ikut denganmu?" Baru saja Sonja akan beralih saat tidak juga mendengar jawaban Ibram. Laki-laki itu menangkup sebelah pipinya, balas menatap di iris matanya. "Kamu istriku, dan aku mau istriku ikut denganku,” katanya dengan penekanan. Keduanya bertatapan di manik masing-masing. Rasa hangat dari telapak Ibram menjalar di pipinya. Saat Sonja tidak lagi bersuara, pelan ditariknya tubuh wanita itu untuk merapat di tubuhnya kembali. Diusapnya bibir merah yang tampak sedikit bengkak itu. Lalu dikecupnya lembut sebelum mengulumnya dalam. Dalam pelukannya, Sonja tampak bergeming. Menelaah situasi yang melingkupi mereka berdua. Barulah saat bibir Ibram menjelajah semakin dalam, dia mengerjap pelan sembari menarik diri. Namun lelaki itu tidak membiarkannya. Membaringkan tubuhnya kembali ke kasur dengan tubuh laki-laki itu melingkupinya di atas. "Ikut aku ke Swiss,” bisik Ibram di sela lumatannya. Sonja mendorong tubuh di atasnya ketika merasakan suhu tubuh keduanya kembali meningkat. Menuntut untuk semakin merapat satu sama lain. "Ibram,” lirihnya dengan nafas tersenggal akibat ciuman laki-laki itu yang menuruni lehernya, mengecup garis selangka kirinya. Menjadikan kulit Sonja meremang saat bergesekan dengan jambang Ibram. Ibram merapatkan tubuh keduanya, tidak membiarkan Sonja untuk berpikir lebih jauh. Sementara nafas Ibram sendiri sudah kembali memburu. "Kita tidak harus bangun pagi besok,” lirihnya serak.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD