Dalam keheningan

1488 Words
' Solo qualche istante Zitti stiamo' - Canto Della Terra from Andrea Bocelli Shyla tengah terhanyut dalam alunan merdu penyanyi Andrea Bocelli sambil menunggu kedatangan Lift apartmentnya ketika seseorang menepuk bahunya lembut, Shyla menengok kearah datangnya tepukan itu dan melihat seorang lelaki paruh baya yang memakai name tag Darman di dadanya tersenyum ramah kepadanya. Shyla menjawab senyuman tersebut dengan senyuman yang sama. "Maaf Mbak Shyla, mengganggu waktunya .." Pak Darman sedikit mengangguk tanda memberi salam. "Ya Pak Darman, apa yang bisa saya bantu?" jawab Shyla menjawab anggukannya dengan sikap yang sama sambil melepaskan heaphone yang menutupi telinganya. "Apa Mbak Shyla kenal dengan Pak Zachary Soedibjo?" Shyla tertegun untuk sesaat, kelebatan nama yang tertulis di buku kecil berwarna hijau yang di tanda tanganinya hampir 6 bulan yang lalu membuatnya menelan ludah. "Ya, saya kenal... ada apa yah pak?" Shyla menatap wajah lelaki yang ia kenal sebagai concierge di apartment yang telah ia tempatin sejak 1.5 tahun yang lalu. "Apa betul beliau adalah Pak Zachary Soedibjo?" Pak Darman menunjukkan jempol kanannya dengan sopan kearah pintu lobby, Shyla mengikuti arah tangan Pak Darman menunjuk dan terkesiap melihat sosok lelaki yang ia lihat tengah berdiri di depan pintu lobby sambil di kawal oleh security pintu depan. Walau agak jauh dari tempatnya berdiri, Shyla dapat mengenali lelaki itu, Zachary Soedibjo ... ia tetap terlihat tampan walau terlihat kusut dengan lengan kemeja biru tuanya yang di gulung sampai ke pangkal lengan dan memamerkan lengannya yang berotot, dasi biru dengan motif hitam yang longgar, dengan dua kancing atas kemeja terbuka menunjukan dadanya yang bidang. Rambutnya yang Shyla ingat di sisir kebelakang dengan wet style rapih, sekarang terlihat mengikal di keningnya. Shyla menghela nafas panjang ketika mata mereka bertatapan, ia teringat dengan mata berwarna coklat tua yang menatapnya dengan penuh rasa kerinduan dan kepedihan yang mendalam yang pernah di lihatnya dari jarak amat sangat dekat sehingga ia dapat melihat dengan jelas warna di dalam lingkaran hitam di pupilnya ada sebersit warna emas yang membuat Shyla terpaku seperti binatang buruan di hadapan pemburunya. "Ya ... betul itu adalah Zachary Soedibjo" Shyla mengalihkan pandangannya dari Zach dan menatap Pak Darman. "Pak Zachary mengaku dia adalah suami mbak Shyla dan keperluannya adalah pulang kerumah, apakah ini benar adanya mbak?" Shyla menelan ludahnya mendengar bahwa Zach mengenalkan dirinya sebagai suaminya kepada orang-orang di apartmentnya, dan memiliki tujuan untuk pulang ke rumah ... Shyla kembali membawa pandangannya kepada Zach yang masih berdiri di tempatnya dan memandangnya penuh kerinduan, dan ia bertanya tanya dalam hatinya apakah ia juga merasakan perasaan yang sama. "Ya, Zach adalah suami saya, kami menikah sekitar 6 bulan yang lalu..." Shyla mengalihkan pandangannya kembali kepada Pak Darman sambil menyunggingkan senyum minta maafnya "Maaf saya belum mengurus perubahan status saya dan memberi tahu management atas pernikahan saya dan surat-surat suami saya karena kami sama-sama sibuk Pak Darman.." Pak Darman menatap wajah Shyla dalam dalam mencoba membaca apakah pernyataan Shyla benar adanya ataukah ia sedang dalam posisi terancam. Tapi Pak Darman tidak dapat menemukan tanda-tanda tersebut. Selama menjadi tenant di apartement yang dia urus, Shyla selalu ramah tapi tidak bersosialisasi dengan siapapun. Kedatangan 'suami' yang tiba-tiba dengan gaya yang mencurigakan ini membuat semua tim lobby langsung bersiaga untuk menjaga Shyla. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh seorang concierge dan team security kalau ini adalah masalah pribadi tenantnya, walau mereka amat menyukai Shyla, tetap saja hubungan antara Shyla dan 'Suaminya' tidak dapat di permasalahkan kecuali hubungan itu mengancam Shyla. "Tidak apa-apa mbak Shyla, nanti surat-suratnya tolong di foto dan WA saja ke saya, nanti saya laporkan ke management" jawab Pak Darman sambil menghias wajahnya dengan senyum sopan seperti biasanya. "Terima kasih banyak atas bantuan dan pengertianya Pak Darman .." Shyla menundukan kepalanya sedikit sambil tersenyum ramah menjawab senyum sopan Pak Darman. "Sama sama Mbak Shyla .." kemudian Pak Darman mengambil walkie talkie yang berada di sakunya dan memberikan kode-kode kepada security di depan pintu agar memperbolehkan Zach masuk ke Lobby. Security tersebut mempersilahkan Zach untuk masuk dengan membukakan pintu Lobby sambil menunduk dengan hormat yang di jawab dengan anggukan kecil dari Zach yang melangkahkan kakinya menuju tempat Shyla berdiri. Untuk sesaat pandangan matanya dan Shyla saling bertemu sebelum Shyla mengalihkan pandangannya kembali kepada Pak Darman yang meminta izin untuk kembali ke postnya. Pak Darman melangkah menjauh dari Shyla sambil memberikan anggukan kecil dengan senyum sopan kepada Zach yang di tanggapi dengan anggukan yang sama, di saat bersamaan bel lift berbunyi dan pintu lift terbuka. Shyla langsung masuk ke dalam lift dan menempelkan access cardnya di panel lift access, Zach mengikuti Shyla memasuki lift dan memposisikan dirinya berdiri bersisian dengan Shyla sambil tidak melepaskan pandangannya dari Shyla. Shyla mengalihkan pandangannya dengan menatap ke panel hitam yang menunjukan nomor lantai yang tengah di lalui oleh Lift tersebut sambil menyibukkan kepalanya dalam diam. Shyla dapat mencium aroma maskulin yang mengoar dari tubuh Zach yang hangat dan berada hanya beberapa cm darinya, ia menyadari dari pantulan dinding Lift bahwa walau Zach berdiri bersisian dengannya, wajahnya menghadap kepada Shyla dan menatap Shyla dalam diam. Shyla tidak berani untuk menatap Zach balik, ia tidak tahu apa keinginan Zach muncul secara tiba-tiba setelah meninggalkannya di malam pernikahan mereka. Ia juga tidak tahu apa penyebab Zach meninggalkannya begitu saja tanpa kabar selama 6 bulan ini. Tiba-tiba bunyi bell lift tanda mereka telah sampai di lantai apartment Shyla menyadarkan Shyla, ia melangkah keluar dari Lift dan berjalan menyusuri koridor menuju pintu apartmentnya dan menempelkan kartu access cardnya ke panel gagang pintu dan membuka pintu masuk ke dalam apartmentnya. Shyla menyadari kalau Zach hanya selangkah di belakangnya, ia memberikan jarak bagi Shyla untuk melakukan rutinitasnya, tapi juga membuat Shyla menyadari kalau Zach selalu berada di sisinya. Shyla melangkah masuk ke apartmetnnya dan menghidupkan lampu dan meletakkan access cardnya di atas buffet meja di sebelah pintu masuk kemudian melepas sepatu pantofelnya dan meletakkannya di rak sepatu di sebelah buffet meja. Shyla melirik ke belakang badannya, dan sekali lagi pandangannya bertemu dengan Zach yang terus menatapnya dari ambang pintu yang masih terbuka. Shyla tidak mengatakan apa apa, ia hanya melangkah masuk lebih jauh ke dalam apartment 2BRnya untuk membuka sliding door yang mengarah ke balkon untuk memberikan udara segar pada ruangan tersebut. Ketika Shyla berbalik badan, ia hampir menubruk Zach yang berdiri di belakangnya. Untuk beberapa saat Shyla berhadapan dengan Zach yang menjulang tinggi di hadapannya, entah kenapa apartment yang selama ini di tempatinya hari ini terlihat kecil dan sempit. Mata Shyla dan Zach saling menatap dalam diam, mencoba menyelami lubuk hati masing masing. Shyla melihat sebersit warna emas di pupil hitam itu makin mendekat, Shyla terpesona dengan warna emas di lingkaran kehitaman yang makin terlihat jelas, ia hanya bisa berdiri terpaku di tempatnya sampai akhirnya ia merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh bibirnya, ia dapat merasakan nafas hangat yang membelai pipinya dan suara nafas yang menderu memenuhi ruangan. Shyla hanya dapat mencoba untuk berdiri tegak sementara ia mulai merasakan lututnya melemah, matanya tetap terbuka menatap mata Zach yang hanya berjarak beberapa cm dari matanya, sesuatu yang hangat dan kenyal menyelusuri bibir Shyla dengan sabar, membuat Shyla membuka mulutnya sedikit agar bibir Zach dapat menjelajah lebih dalam. Menyadari kalau Shyla telah memberikan izin untuk melangkah lebih jauh, Zack tersenyum sambil menyipitkan matanya dengan pandangan yang membuat perut Shyla merasa tergelitik. Shyla terkesiap ketika ia merasakan sesuatu yang basah dan hangat menyapu bibirnya, dan membuatnya membuka mulutnya lebih lebar. Zach mengulurkan tangannya ke bawah telinga Shyla dan menakup wajah Shyla yang mungil dalam kedua belah telapak tangannya dan menuntun agar wajah Shyla mendongak keatas, pikiran Shyla kosong dan ia menutup matanya, ia hanya menikmati sensasi yang dulu pernah dia rasakan dan rindukan. Bibir Zach memagut bibir bawah Shyla dengan rakus, bibir atasnya, menjelajahi ruang dalam mulut Shyla, mengelus lidah Shyla dengan lidahnya, dan membuat Shyla beberapa kali kehabisan nafasnya dan lututnya semakin goyah. Zach dapat merasakan Shyla bergetar dan mulai limbung, tapi Zach tidak mau melepaskannya, ia malah memeluk Shyla erat dan menopang tubuh Shyla dengan tangan kiri di pinggang belakang Shyla dan tangan kanan menopang kepala Shyla yang masih mendongak di bawah tubuh Zach. Shyla hanya bisa patuh mengikuti nalurinya untuk membiarkan Zach melakukan hal ini, karena walaupun ia baru bertemu Zach di pelaminan, pernikahan mereka adalah karena ikatan bisnis keluarga dan kenyataan bahwa Zach meninggalkannya tanpa berita selama 6 bulan, pada akhirnya ia adalah istri sah dari Zachary Soedibjo dan lelaki itu kembali kepadanya hari ini. Hanya itu yang penting bagi Shyla saat ini, fakta bahwa akhirnya ia tidak sendiri lagi di dunia ini dan memiliki seseorang yang memiliki ikatan keluarga dengannya. Sebuah alunan nada yang ia dengar hari ini terngiang di kepalanya .. 'Solo qualche istante Zitti stiamo' atau dalam bahasa inggris 'We are silent for a few moments' .. ia tidak mendengar apa-apa saat ini walaupun sliding door terbuka lebar dengan suara hiruk pikuk jalan raya jakarta dari bawah gedung dan hangatnya angin sore yang biasanya mendenging ketika melewati pintu, kali ini Shyla tidak mendengar apa apa dan menyadari bahwa saat ini mereka dalam keheningan yang memabukkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD