bc

Room mates or Soul mates ??

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
love after marriage
opposites attract
arranged marriage
sensitive
independent
decisive
drama
sweet
lighthearted
virgin
like
intro-logo
Blurb

Cerita tentang Zachary yang kehilangan belahan jiwanya dan menemukan cintanya lagi disaat ia berusaha untuk kembali menjalani hidup.

Cerita tentang Shyla yang tidak pernah merasakan dicintai seumur hidupnya dan belajar untuk mengenal rasa Cinta.

Kisah perjalanan hidup dua insan yang mencoba belajar untuk merelakan masa lalu dan menjalani hidup yang sekarang.

Apakah Zachary dan Shyla akan menjalani hidup mereka bersama di masa depan juga? Bisakah mereka berdua tetap bersama dengan beban masa lalu di pundak mereka?

chap-preview
Free preview
Terbangun dari tidur panjang
'The breath of life is in the sunlight and the hand of life is in the wind - Khalil Gibran, The Prophet' Zachary menatap layar laptopnya yang menunjukkan Graphic Chart analysis yang menunjukkan trend naik di Financial reporting bulan ini. Ia harusnya merasa senang karena kerja kerasnya beberapa bulan ini telah berhasil mengeluarkan perusahaan keluarganya dari kondisi keuangan yang cukup parah sejak ayahnya yang merupakan generasi ketiga di perusahaan keluarga ini mengalami stroke dan tidak dapat lagi memimpin perusahaan. Pikiran Zach melayang kepada Lucas, adiknya yang juga menjabat sebagai Chief Financial Officer di perusahaan keluarganya. Setidaknya untuk sementara Lucas tidak akan mencerewetinya lagi dengan keadaan Cash Flow perusahaan yang berada di garis merah ambang kebangkrutan. Tender project - project baru yang di menanginya, project mangkrak yang mulai kembali menggeliat dari tidur surinya sesudah revitalisasi project teamnya, pencairan pembayaran dari project project lama yang menggantung dan aliran dana segar dari beberapa tambahan investor akan membuat cash flow perusahaan di posisi positif paling tidak satu atau dua tahun kedepan. Bayangan Lucas yang tersenyum puas melihat uang mengalir masuk di rekening perusahaan tetap tidak membuat Zach merasa senang. Ia tidak merasakan apa apa, kerja keras dan kesuksesan ini tetap tidak dapat menghilangkan rasa kehampaan di dalam hatinya. Zach menatap bayangan wajahnya yang terpantul di layar laptopnya dan mencoba untuk tersenyum untuk merefleksikan kepuasannya setelah berhasil mengatasi masalah di perusahaannya keluarganya dalam hitungan bulan saja, tapi wajah yang di pantulkan hanyalah wajah bisnis yang dia tampilkan kepada para client dan teamnya di kantor, matanya tetap menunjukkan kekosongan di dalam hatinya. Zach menarik nafas panjang dan meletakkan Laptopnya di jok mobil di sebelahnya. Sosok cahaya yang mengkilat dari punggung tangan kanannya menarik perhatiannya, ia menarik tangan kanannya mendekat ke wajahnya untuk melihat lebih dekat cincin platinum yang melingkari jari manisnya, dan sekali lagi ia merasakan kegelapan kembali menyergapnya. Untuk beberapa saat ia tidak dapat mengalihkan pandangannya dari cincin platinum yang ia pasangkan di jarinya sendiri hampir 3 tahun yang lalu. Dari kehampaan yang di rasakannya, tiba-tiba kelebatan kenangan wajah pucat dengan darah di keningnya mengantamnya dan membuatnya seperti di hisap kembali kedalam kegelapan. Untuk beberapa saat Zach merasa di hisap kedalam pusaran angin yang membuatnya tidak dapat bernafas. "Tuan Zachary!, apa Tuan baik-baik saja?" Zach tersadar dari lamunannya, dan menyadari dirinya tidak lagi berada dalam kegelapan itu dan kembali berada di jok belakang mobil yang di kemudikan Pak Slamet, supir yang telah mengabdi pada keluarganya sejak ia kecil. Ia merasakan dadanya sesak yang membuatnya terbatuk batuk untuk dapat memasukkan kembali Oxigen kedalam dadanya. Setelah batuknya reda, ia menatap ke wajah Pak Slamet yang tengah menatapnya dengan penuh kekhawatiran dari kursi pengemudinya. "Ah .. iya ... saya baik baik saja Pak Slamet" Zach menyunggingkan senyum di wajahnya untuk meyakinkan Pak Slamet. Untuk beberapa saat Pak Slamet hanya menatapnya dalam dalam untuk memastikan apakah Tuannya yang telah dia urus sejak kecil itu dalam keadaan sakit seperti sebelumnya atau tidak, tapi setelah beberapa saat, Pak Slamet mengangguk kecil kepada Zach dan kembali mengalihkan perhatiannya ke jalanan. Zach menatap keluar jendela mobil yang mulai berjalan melewati lampu merah di sebuah persimpangan sibuk di Jakarta. Matahari sudah mulai bergerak turun, tanda sudah mulai sore, tapi jalanan mulai semakin ramai tanda para komuter mulai meninggalkan tempat kerjanya dan memulai langkah panjang harian mereka untuk dapat kembali pulang ke rumah mereka. Ingatan Zach melayang ke rumah tepi danaunya yang tenang, dimana ia tidak melihat orang berlalu lalang, Suara klaskon, deru mobil, polusi .. Zach merasakan mobil melambat dan pemandangan di luar jendelanya tidak lagi mobil yang bergerak, Zach berdecak kesal .. dan padatnya macet di Jakarta di sore hari saat orang-orang pulang kerja. Ia mengutuk dalam hatinya, harusnya ia tidak pulang sebelum jam 9 seperti biasanya, lagi pula apa yang akan menantinya di kamar hotelnya nanti, beberapa botol bir, laptop dan TV lebarnya. Tidak ada tangan hangat yang menyambutnya pulang, seseorang yang menemaninya makan sambil menceritakan apa yang terjadi padanya di hari ini, tawa renyah yang membuatnya merasa tenang dan nyaman. Mobilnya merayap pelan di tengah-tengah arus lalulintas, Zach tidak dapat melihat pemandangan di luar lagi karena tertutup dengan mobil yang juga tengah berada di jalur kemacetan. Zach menghela nafas panjang dan berat, sepertinya hari ini ia akan terjebak ditengah kemacetan. Ia mengalihkan perhatiannya ke laptop yang ada di sebelahnya, dan kembali merasa hampa. Ia tidak memiliki apa-apa selain pekerjaan dalam hidupnya, rasanya begitu lelah dan kosong. Tiba-tiba ekor matanya mengenali sosok siluet tubuh yang sangat ia kenal, ketika ia memfokuskan pandangannya ia melihat seorang wanita tengah berjalan di trotoar di sebelah mobilnya, wanita itu memakai rok katun warna cream dengan motif batik di bagian bawahnya, baju blouse warna senada dimana rambutnya yang berwarna hitam ikal dengan head phone warna Orange yang menutupi telinganya, ia tengah melangkahkan kakinya yang di balut sepatu pantofel datar berwarna hitam di trotar sambil mendengarkan musik. Zach menajamkan tatapannya agar dapat melihat wajah wanita itu, tapi secercah sinar matahari sore menerobos melalui pagar tanaman di trotoar tersebut dan membuatnya tidak dapat melihat sosok wanita itu dengan lebih jelas, tapi Zach merasakan hatinya bergetar, sesuatu tentang wanita itu membuatnya merasa dapat bernafas. Seperti seorang lelaki yang tenggelam, untuk pertama kalinya Zach melihat secercah cahaya di kegelapan, dan cahaya itu bergerak menjauhinya. Tanpa berpikir panjang Zach keluar dari mobil dan berjalan menghampiri sosok wanita yang semakin lama semakin menjauhi tempatnya berada, tertatih tatih Zach mencoba mengikuti langkah wanita itu. Tiba- tiba wanita itu berbelok dan menghilang dari pandangannya, jantung Zach terasa seperti tengah di tekan, untuk sesaat pikirannya kosong dan seperti seekor ikan yang di keluarkan dari air tempatnya berenang ia mulai merasakan nafasnya semakin berat. Dengan setengah berlari, Zach berjalan kearah tempat wanita itu menghilang, dan nafasnya kembali normal ketika melihat wanita itu tengah berjalan menyusuri trotoar di sebelah kirinya. Ia pun ikut membelok ke kiri dan mengikuti langkah wanita itu menyusuri trotoar jalan sambil tetap menjaga jarak darinya. Zach menyadari kalau wanita itu tidak memperhatikan lingkungan di sekitarnya, ia terlalu terhanyut dengan alunan musik dari headphone orangenya. Langkah kakinya kadang kadang berjingkat mengikuti irama musik yang di dengarnya. Zach ikut berjingkat mengikuti irama langkah kaki wanita itu, matanya tidak melepaskan wanita itu dari pandangannya. Sesekali wanita itu menyentuh dedaunan tanaman di pagar pembatas trotoar dengan jemarinya yang lentik, jemarinya menari-nari diantara lembaran dedaunan yang di sinari matahari senja, semilir aroma bunga Christantimun lembut terbawa angin yang menyentuh kulit wanita itu menggelitik indra penciuman Zach. Zach menikmati aroma lembut yang membuatnya terus melangkah mengikuti wanita itu, ia juga mengulurkan jarinya untuk menyentuk dedaunan yang di sentuh wanita itu seakan akan dengan begitu ia dapat mendekatkan dirinya dengan wanita itu. Setelah sekian lama, ia akhirnya merasakan hangatnya matahari sore di wajahnya dan semilir angin lembut yang hangat di kulitnya. Ia teringat sebuah suara lembut yang tengah membaca sebait kutipan dari Buku The Prophet karya Khalil Gibran 'The breath of life is in the sunlight and the hand of life is in the wind' dan akhirnya dia memahami kalimat tersebut. Setelah hampir 3 tahun menjalani hidup seperti Zombie, hari ini ia dibangunkan lagi dari tidur panjangnya dan menyadari bahwa di luar gelembung kecil kesedihannya, kehidupan tetap berjalan seperti biasanya dan hidup itu sebetulnya indah. "Maaf .. bapak mau ketemu siapa?" Zach terbangun dari tidur berjalannya dan baru menyadari kehadiran petugas security di hadapannya. Ia tergagap begitu menyadari kalau dia tidak lagi berada di mobilnya dan tengah berdiri di sebuah ruang lobby sebuah gedung yang tidak ia kenali. Ia menatap wajah petugas security yang tidak ia kenali dengan penuh kebingungan. "Ah ... ini di mana?" Petugas security itu menatap Zack dengan penuh kecurigaan. Zach melayangkan pandangannya ke seluruh ruangan lobi mencari wanita yang di ikutinya tadi, wanita itu tengah berdiri di depan lift menunggu kedatangan lift yang akan membawanya pergi darinya. Zach merasa tangannya mulai terasa kebas, ia mulai di lingkupi rasa ketakutan. "Ini di Apartement Sudirman Resident Pak, bapak ada keperluan untuk bertemu dengan siapa di sini?" Zach tidak melepaskan pandangannya dari wanita yang berdiri sekitar 15 meter darinya itu, dari sisi samping ia dapat melihat jelas wajah wanita yang dari tadi di ikutinya. Zach tersenyum melihat wajah yang amat di rindukannya itu, kemudian menunjuk kearah wanita itu. "Istri saya ... " Zach menyeringai lebar kepada petugas security yang hampir membelalakan matanya ketika menyadari siapa wanita yang di tunjuk oleh Zach.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

HASRAT MEMBARA KAKAK SEPUPU

read
89.0K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
25.9K
bc

GADIS SEKSI MILIK MAFIA HYPER

read
45.5K
bc

Dosa Yang Kupilih: Menjadi Simpanan Boss

read
36.7K
bc

Sweet Sinner 21+

read
933.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
196.8K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
50.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook