Liburan telah berakhir dan pagi ini bel berbunyi tanda apel pagi dimulai. Apel disekolahku dimulai pukul 06.45 karena tepat jam 07.00 pembelajaran jam pertama sudah dimulai.
Dana tak seperti biasanya, dia berbaris disebelahku hari ini. Dia kembali tersenyum manis, menampilkan sisi terindahnya yang sempat aku lupakan selama liburan.
"Apa kabarmu" bisiknya padaku. Aku tersenyum "baik Dan, kamu juga baik kan?" sambungku. Ia mengangguk. "Sebentar tunggu aku ya, sebelum pulang" Ia melanjutkan. Aku mengangguk.
Aku bahkan tak mampu menghindarinya, walaupun rasanya ingin menjauh tapi hatiku tak mampu untuk melakukannya.
'Kenapa dengan diriku' pikirku.
Tetap berkonsentrasi untuk mengikuti pembelajaran seperti biasa, aku takut tak berprestasi lagi. Pak Agus mengajar mata pelajaran Kimia dan hari ini materi tentang Alkana, Alkena dan Alkuna dengan penuh semangat didepan kelas. Pandanganku hambar ketika memikirkan akan bertemu Dana lagi sekali ini. Kenapa aku harus mengiyakan, sedangkan lalu dia pergi meninggalkanku begitu saja. Aku mendesah pelan dan Siti mendengarnya, ia mengalihkan pandangannya padaku.
"Tenang De, semua akan baik-baik saja. Rasanya Dana tidak akan bisa menutupi perasaannya kali ini dan jika rasa itu juga kau rasakan jangan menghindarinya De. Terimalah perlakuannya padamu, aku lihat dia tulus dan serius padamu" Walau pelan, tapi dapat meresapi kata demi kata kalimat yang dilontarkan sahabat sebangkuku itu. Aku mengangguk.
"Bantu aku" pintaku padanya dan dengan senyum khasnya, Sahabatku ini memberikan pandangan dukungan padaku.
"pasti De kau sahabatku" tambahnya lagi.
*
Aku duduk ditaman kelasku ketika Dana datang mendekatiku. Suci dengan segera memberikan kesempatan kepada Dana untuk mendekatiku. Dia duduk bersebelahan denganku dengan pandangan manisnya. Aku bahkan terlena, ingin rasanya pingsan dan dipeluk olehnya. Tapi aku sadar betul ini disekolah dan banyak teman-teman yang memperhatikan aku.
Setelah seminggu tak bertemu, rasanya ini adalah pertemuan terhangat bagiku, walaupun dia pergi saat sebelum liburan, rasanya aku tak menahan rasa rindu dan dendam dalam diriku.
"Aku minta maaf" lirihnya tanpa memandangku. Aku telusuri pandangan mataku, dia berkaca-kaca saat mengucapkan kata itu.
Aku menarik napas kasar "untuk apa?" balasku.
"Kau pasti bertanya, kenapa aku tak menepati janjiku padamu saat itu?" dia memandangiku dengan intens hingga aku tak sanggup dan akhirnya menunduk. kemudian akupun mengangguk.
"Aku tak menyangka kau gadis yang pintar De, juara kelas, cantik, dari keluarga terpandang dan rajin, lah aku? siapa?" kata- katanya terlalu tajam dan menyakitkan, terasa dia sedang memasang dinding pemisah antara kami yang begitu tinggi dengan kata-kata yang disampaikannya.
"Aku sadar siapa aku dan apa batasanku serta kepantasanku" sambungnya. Aku bingung dia seperti tak terima dengan prestasiku mungkin.
"Lalu, apa aku salah dengan prestasiku? Wajahku dan juga keluargaku" tatapanku tajam padanya.
"Aku lelaki bodoh yang tak layak untuk wanita sesempurna dirimu De, bahkan untuk semua yang kau miliki rasanya menjadi temanmu saja aku tidak pantas" hatiku langsung hancur mendengar pengakuannya. Aku melihat keraguan dimatanya dan juga rasa sedih yang tak mampu digambarkan. Semua perkataannya tidak aku bantah, membiarkan dia terus berargumentasi tentang kepantasan yang menurutnya dia harus lebih baik dariku, mungkin sebagai lelaki dia merasa harga dirinya terkoyak dengan mendampingiku yang notabene prestasiku lebih baik darinya.
Tapi pengakuan-pengakuannya membuatku sakit. Mataku berkaca dan ia tau itu, saat itu dia langsung menimpalinya.
"Jangan tampilkan kesedihan dihadapanku De, aku nggak akan sanggup, tersenyumlah karena kau pantas mendapatkannya" sambungnya.
Aku tak ingin membela diri atau membantah ucapannya, dia merasa tak pantas untukku tapi dia tidak mau berjuang untuk itu. Hingga saat itu tiba-tiba kak Puja dan kak Antara melihat kami bercerita, Dana yang menyadari itu langsung berlari dari hadapanku tanpa mengucap sepatah kata apapun padaku. Aku jadi curiga dengan semuanya namun tidak berani bertanya pada mereka karena kak Antara dan kak Puja adalah sahabat kakakku Putra, jadi aku takut kabar kedekatanku dengan Dana sampai ditelinga kakakku yang terkenal sangat galak pada adik perempuannya.
"Deal nich diterima atau nggak si Dana? ucap Moning yang mendekatiku dikelas. Aku menggeleng saja dan Moning menarik badanku untuk berhadapan denganku.
"kenapa De?, kamu menolaknya?" Moning bertanya dengan penuh penekanan.
"Dia ga nembak aku Mon, sumpah. Malahan dia cuma mau bilang kita nggak cocok." Aku menceritakan semua yang dikatakan Dana padaku. Moning berusaha mencerna setiap kalimat yang aku sampaikan. Mereka seperti percaya dan tidak dengan kata- kataku namun akhirnya mengangguk paham.
"Kayaknya ada yang nggak beres nich" Moning bergumam dan aku mengangguk serta mengatakan padanya bahwa aku juga merasakan hal yang sama dengannya. Kemudian Suci dan Siti mendekatiku dan menggodaku sekali lagi. Namun pandanganku mengartikan bahwa mereka salah.
*
"Apa yang salah Dan?" Moning bertanya pada Dana ketika mereka bertemu.
"Aku nggak pantas untuknya Mon, dia terlalu sempurna untukku, aku takut dia nolak aku" Jawaban Dana sangat mengagetkan Moning, Suci dan Siti.
"Bukankah kau bilang bahwa kau mencintai Dea, Dan?" kali ini Suci menambahkan. Dana mengangguk, ada keraguan dalam dirinya dan itu nyata dalam pandangan mata dan setiap ucapan-ucapannya.
"Aku mencintainya Mon, bahkan kalian nggak akan tau seberapa dalam perasaan ini" Dana mulai meneteskan air matanya. Moning terkesiap menyaksikan Dana begitu tersiksa dengan perasaannya.
"Lalu?, cinta seperti apa yang kau punya ini Dan?" Siti kembali bersuara.
"Cinta yang akan selalu menjaganya dalam diam dan memantaskan diri untuk mampu meraihnya demi bahagianya" Dana mengucap lirih kemudian berlalu dari pandangan mereka.
"Setidaknya kau harus berusaha untuk berjuang Dan" teriak Suci, kemudian Dana mengangguk tanpa mau menoleh kebelakang. Dana pergi begitu saja dengan sedikit menampilkan aura putus asa akan diri nya sendiri.
“aaaaaaahhhhh” Dana berteriak frustasi kali ini.
“Katakan Dan, kami sahabatmu” Suci memaksa kali ini
“Tolong bantu aku” cicit Dana pelan namun didengar dengan baik oleh mereka.
“Aku terlalu mencintai Dea, hingga aku tidak mau dia terluka” Dana terlihat menggenangkan air matanya lebih lama dengan melihat keatas sebelum akhirnya air mat aitu jatuh ke pipinya.
“Puja dan kak Putra mengancamku akan melaporkannya ke ayahnya Dea, bila berani mendekati Dea. Aku tidak mau Dea kenapa-kenapa” sambung Dana sambil menatap langit yang juga mendung disana.
“Lalu, apa yang akan kamu lakukan Dan?”
“Besok kau akan tau, aku duluan ke kelas. Titip Dea sama kalian” tanpa menunggu jawabannya, Dana langsung pergi meninggalkan Moning, Siti dan Suci dalam kebingungan.
Semua ancaman yang Dana dapatkan dari Puja yang mengaku orang yang akan dijodohkan dengan Dea karena berasal dari keluarga yang hampir setara dengan Dea menjadikan nyali Dana menciut. Bagi Dana, ia harus membuat Dea tidak berada dalam bahaya saat bersamanya, Ketika dengan menjauh membuat Dea tidak menderita maka hal itulah yang akan dilakukannya dalam rahasia hatinya itu pada cinta pertamanya.
"Aku bingung Ci, bagaimana menyikapi mereka berdua, rasanya kepalaku mau pecah mikirinnya, saling mencintai tapi merasa tak pantas dan dipenuhi rasa takut" Siti kembali bersuara dan dianggukkan kepala Suci dan Moning tanda mereka setuju.
"Tenang De, Dana mencintaimu dan kami tau kaupun sama, jangan kubur perasaan itu. Kalian saling mencintai, tunggulah saat yang tepat" kini Moning meyakinkanku saat dia mendekatiku yang masih setia dengan buku- buku di atas mejaku. Bagiku membuka buku adalah salah satu hal yang bisa aku lakukan saat aku bosan dengan semuanya.
"Atau, kamu aja yang nembak dia De" kali ini Suci menyambung dengan meyakinkanku sedalam itu. Aku menggeleng dan meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja. Mengatakan pada mereka bahwa perasaan ini biasa-biasa saja, bahwa aku tidak sehancur yang mereka pikirkan.
Setelah kejadian itu, kami tak bertemu lagi. Aku tau Dana menghindariku dan begitu pula denganku. Seminggu tak bertemu, tak ada pandangannya dan tak ada senyumnya lagi. Aku pikir dia sedang memikirkan cara untuk kembali menampakkan batang hidungnya dihadapanku. Alih-alih mencarinya, aku memutuskan untuk berkonsentrasi pada pelajaranku walaupun tak bisa dipungkiri ingatanku tentang Dana selalu ada, bahkan aku semakin merindukannya.
'ah.. rasanya aku kangen dengan dia' aku mengacak rambutku sendiri. Ada apa denganku, gumamku.
Setelah seminggu ini mencoba melupakan kedekatan hatiku dengan Dana, aku semakin menghindarinya dan yang lebih sering adalah aku semakin rajin belajar untuk mengusir rasa rinduku pada wajah Dana.
Tiba-tiba dari dalam kelas aku melihat Dana menggandeng seorang wanita berjalan disamping kelasnya.
'Apakah ini kebenaran' pikirku dalam hati.
Aku tak ingin menyelediki lebih lanjut, seperti sebelum-sebelumnya aku lebih memilih cuek dan memendam rasa ini dalam hatiku.
"De, aku minta maaf" Suci mendekatiku yang sedang serius mencari rumus senyawa Alkena dalam buku kimiaku. Aku memandangnya sambil tertawa lebar, lucu rasanya tak ada angin dan tak ada hujan dia meminta maaf.
"Udah aku maafkan" kataku sambil tertawa terus, Siti menatapku dengan lembut, dan menarik napas dalam-dalam kemudian melanjutkan ceritanya.
"Sabar ya De, aku nggak tau harus memulai dari mana cerita ini, tapi.." dia menghentikan kata-katanya, aku semakin penasaran dibuatnya.
"Ada apa ini, apa ada yang serius ti?" aku mulai menuntut.
Kali ini Moning mendekatiku "Dana pacaran dengan Anti, siswa kelas X E De dan kali ini aku juga bingung kenapa Dana melakukan ini?" dia terlihat sangat kesal dan pandangannya setengah membenci.
Rasanya lemas sudah semuanya, aku memandangi mereka bertiga dan tak ada kebohongan bahkan aura sedih sangat nampak dalam diri mereka. Aku tidak tau harus berbuat apa, tapi aku segera sadar bahkan kekuatanku harus besar untuk kutunjukkan dihadapan mereka.
"Ya udah, kalian nggak usah sedih deh, berarti selama ini dia nggak serius dengan ucapannya Mon, laki-laki seperti itu nggak layak diingat apalagi ditangisin," tambahku. Aku menjadi kuat karena melihat sahabatku ini. Aku nggak akan bersedih walaupun sebenarnya hatiku hancur. Cinta seperti apa yang dimiliki Dana hingga sekarang dia memutuskan untuk pacaran dengan orang lain setelah sekuat hatinya meyakinkan aku dan sahabatku tentang perasaannya?' pikirku dalam hati. Aku tetap menampakkan senyum terindahkan dihadapan sahabat-sahabatku.
"Kamu nggak sedih De?" Suci memandangku lekat, seolah nggak yakin dengan jawabanku.
"Sedih?" mereka mengangguk. Berusaha kuat namun pertanyaan- pertanyaan sahabatku justru membuatku lemah dan bersedih.
Tiba-tiba air mataku jatuh tanpa kuminta, rasanya sakit sekali. Cinta itu datang saat tidak kuminta dan kemudian pergi bahkan saat aku belum sempat meraihnya. Mereka memelukku dan menjadikanku kuat untuk bangkit kembali.
"Kami selalu ada bersamamu De," dan akupun tersenyum, memaksakan bibirku bahagia demi sahabat-sahabatku itu dan aku yakin mereka mengerti dengan keadaanku ini.
Aku justru berterima kasih dengan semua ini bahwa aku belum menjadikan Dana pacarku, ‘right’ aku tetap jomblo ya.