BAB 3 Menjauh

1017 Words
Pengumuman kejuaraan disekolah akan segera dilaksanakan, seluruh siswa berkumpul dihalaman sekolah tak terkecuali aku dan sahabatku. Setelah seminggu berkonsentrasi dengan ujian semester akhirnya kini kami akan mengetahui hasilnya. Walau sempat mengabaikan perasaan dan pandangannya selama ujian karena aku berkonsentrasi dengan ujianku, namun tak sedikitpun senyum dibibir Dana berubah untukku. Aku semakin tak mampu menolak hatiku, tak mampu membohongi diriku bahwa aku merasakan getaran yang berbeda ketika berhadapan dengannya.  Akhirnya kejuaraan pun diumumkan, aku menjadi Juara 1 dikelas XD. Naik ke atas panggung untuk menerima hadiah dari sekolah, dan hal pertama yang kulihat adalah pandangan mata Dana dari bawah panggung. Dia duduk sambil melempar senyumnya padaku. 'manis sekali' gumamku. Sempat kecewa karena tak masuk dalam 3 besar juara umum nilai terbaik kelas X, namun tetap bahagia karena sebagai siswa ada bahagia yang bisa kubawa pulanng untuk orang tuaku. Ayah ibu memang selalu menanyakan prestasiku setiap penerimaan raport dan aku selalu berjanji dalam hatiku untuk mengukirkan senyuman itu dibibir ayah dan ibuku. Selalu berharap ada kebanggaannya memiliki anak seperti diriku. "Selamat atas prestasinya" bisiknya ditelingaku saat aku berjalan menuju kelas. Aku tentu saja kaget, Dana seperti bayangan yang cepat sekali muncul dan pergi. Dia berjalan berlalu setelah mengatakan kata-kata pamungkas itu. Berbalik dan memberikan jempol serta senyuman manisnya, membuatku pusing namun bahagia. "awas jatuh De, ditegur pangeran" kali ini Darma, sahabat Dana mengolok olokku sambil berlalu mengejar Dana. Aku hanya bisa tersenyum melewati rentetan senyuman mereka. Sebelum pulang kerumah, aku lihat Moning mendekat dengan senyum khasnya "Dana minta waktumu, 5 menit aja katanya" pintanya kepadaku. "Untuk apa?" cicitku, namun mampu didengar dengan baik oleh Moning. "Kayaknya dia mau nembak kamu deh, ha ha ha aaaa" Ketiga sahabatku kompak tertawa. Tentu saja aku jadi malu dan tak mampu menjawab apapun. Setelah beberapa bulan saling mencuri pandang dan melempar senyum, akupun semakin bahagia memikirkan dia, semakin semangat bila bercerita tentang dia dan tentu saja semakin semangat datang kesekolah karena akan bertemu dengan dia. 'Setelah penerimaan raport, libur seminggu' pikirku. Mungkin dia akan merindukanku, tambahku lagi dalam hati. "Oke, aku siap ketemu dengan dia" Jawabku tegas dan kali ini aku merasa siap untuk menatap mata nya. ‘Sepertinya ini perasaan yang nggak boleh disepelekan lagi’ pikirku. "Horeee" serentak mereka menjawab. Aku hanya bisa geleng- geleng kepala saja melihat kelakuan unik sahabat- sahabatku itu. * Setelah bercerita tentang rencana liburan masing-masing, Moning segera minta pulang duluan dengan dijemput Sila, pacarnya. Awalnya Moning enggan meninggalkanku karena dia yang ingin mengantarkan Dana padaku. Tapi aku meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja. Moning mengingatkanku untuk menunggu Dana didepan kelas 10 menit lagi. Aku mengangguk tanda menyetujui permintaannya. Suci dan Siti pun demikian, namun mereka memutuskan untuk menungguku bertemu dengan Dana karena pacar mereka bersedia menunggu pula. Setelah hampir 30 menit, Dana tak kunjung datang.  Kami sepakat untuk pulang dan tak menunggunya, ada rasa kecewa dalam hatiku. Inilah yang kutakutkan, saat jatuh cinta dan memiliki harapan, semuanya sirna begitu saja. Tapi aku menutupi rasa itu dan memutuskan untuk segera pulang bersama sahabat- sahabatku. Tak ada kesedihan yang kutampilkan, bertopeng kebahagiaan mendapat prestasi akademik, membuat orang lain tidak mengetahui rasa sedihku karena kecewa bertemu orang yang mulai mengisi hatiku itu.  "Liburan jaga hati untukku ya" Steve kekasih Siti menasehati sahabatku itu. Iapun terkekeh malu namun langsung mengangguk tanda setuju. "Kamu juga" sambungnya. Mereka tersenyum dan saling pandang penuh kasih, tampak bahagia. Walaupun masih remaja, kisah cinta ini seperti sangat menyenangkan. Harapanku jadi semakin besar akan rasa cintaku yang baru tumbuh ini.  "Hai kak Puja, nunggu apa disini?" Suci mendapati kak Puja siswa kelas XII IPA 2 itu berdiri sendirian saja sekitar 200 meter dari sekolah. Dia tersenyum kearahku dan menarik tanganku "Jangan pacaran dengan siapapun ya, aku itu dijodohin sama kamu sejak kecil oleh orang tua kita dan aku nggak terima kamu dekat dengan laki-laki manapun" kata-katanya sangat tegas. Siti dan Suci mendengar dengan sangat jelas. Didepan sana aku melihat sekilas pandangan Dana berpaling dariku. Deg..deg..  hatiku langsung tak menentu. Kenapa Dana tak memberikan senyum khasnya padaku, apa yang terjadi, kenapa kak Puja mengatakan hal ini padaku, kenapa Dana melupakan janjinya untuk menemuiku sebelum liburan berakhir' pikiranku sedikit kacau. Dana justru pulang tanpa memberi kabar, dan perubahan sikap itu membuatku terluka. Bahkan sebelum mengerti apa itu rasa bahagia. Tapi Suci meyakinkanku dengan senyumnya seolah berkata semua baik-baik saja.  "Lepaskan tanganku kak, jangan ngaco deh. Mana ada perjodohan? Emangnya ini jaman Siti Nurbaya?" Aku sedikit kesal dengan kata- kata kak Puja. Dia tersenyum dan berlalu begitu saja menyusul teman- temannya namun dengan pandangan yang menakutkan. Kenapa dengan kak Puja dan kenapa dengan Dana? "Rasanya harus bersabar ya hati, Liburannya menghayal dulu" Suci menggodaku. Namun aku hanya tersenyum tipis dengan pandanganku terus melebar kearah Dana. Tak ada senyum itu lagi kuterima darinya, ia berlalu pergi tanpa kutau kenapa. Dia bahkan tidak menyampaikan alasannya. 'Apakah kak Puja mengatakan sesuatu pada Dana? Sehingga Dana tiba- tiba menjauh tanpa sebab? lalu cinta seperti apa yang meninggalkan bahkan sebelum menggenggamnya? ‘gumamku lirih. Sekarang aku mengerti kenapa aku harusnya tidak memandang senyum itu sebagai cinta. Harusnya diriku sadar, buku adalah tempatku bercinta ketika disekolah. Hingga sampai dirumah, aku harus berbahagia menyampaikan keberhasilanku pada ayah dan ibuku. Walaupun kakakku Putra sudah juga menceritakannya pada mereka. Ayah dan Ibu tersenyum hangat padaku dan memelukku bahagia.  "Liburan seminggu, bantu ayah dan ibu kerja bekerja ya nak" Ayahku membubarkan lamunanku. Bisnis ayah memang membutuhkan banyak bantuan sehingga aku, adik dan kakak- kakakku terbiasa membantu orang tua saat sedang libur agar kami mulai terbiasa dengan dunia kerja, itulah harapan kedua orang tuaku.  "Iya ayah" sambil memberikan dua jempolku pada mereka. Orang tuaku sangat menginginkan diriku yang tetap lugu dalam urusan cinta karena alasan satu-satunya adalah prestasi yang sejak masih di bangku sekolah dasar ini selalu memberikan mereka sebuah kebanggaan. Ya, orang tua mana yang tidak ingin anaknya berprestasi? Pasti semua ingin anak- anaknya berhasil dan membuat mereka bangga karena itu adalah bentuk keberhasilan orang tua dalam mendidik anak- anak mereka. * Seminggu tanpa kabar dan selama itu pula aku membiarkan diriku tak lagi memikirkan Dana juga tak lagi memikirkan rasa. Kesibukanku mampu mengusir segala gundahku akan perasaaan ini, fokus pada kegiatanku bersama ayah dan ibu serta kakak dan adikku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD