BAB 2 Diperhatikan

1473 Words
Moning lagi asyik cerita dengan Sila saat pelajaran telah selesai, aku memilih membaca kembali materi pelajaran yang sudah dijelaskan oleh guru. Suci dan Siti sedang belanja ke kantin sekolah, kali ini aku memilih tidak ke kantin karena merasa tidak berselera. Pikiranku sedang tidak tenang, ‘kok tumben aku peduli dengan seorang pria’ pikirku, ‘aku kan masih keci’ pikiranku kabut sendiri. Setelah 3 bulan pertemuan awalku dengan cowok yang namanya Dana, tapi anehnya aku belum hapal sekali dengan wajahnya. Hah... jelas saja tidak hapal. karena setiap bertemu, aku nggak pernah memperhatikan tampannya wajahnya itu. Ada banyak pria tampan disekolahku yang adalah sekolah favorit ini.  "Hai..." Suci mengagetkanku. Dia langsung tersenyum padaku dan ekspresinya membuatku merasa geli. "Apaan sih" gerutuku. "Dana pengen cerita katanya sama kamu, mau nggak?" Suci melanjutkan kata-katanya kemudian mengedipkan matanya padaku menandakan permohonan agar aku menyetujuinya. Aku menggeleng tanda tak mau.  "Kenapa De" lanjutnya. Aku mendesah dan berfikir, apa aku harus jujur kali ini. "Aku takut Jatuh cinta Ci. Dia terlalu tampan menurutku" sambil melirik dan menggoda sahabatku. kemudian menatap netra mata sahabat-sahabatku itu. Mereka serentak tertawa dan bersorak. Aku tentu saja terkejut, kenapa respon mereka begini. "kenapa? kok kalian tertawa sih" sambungku, aku jadi bingung sendiri melihat ekspresi teman- temanku. "hmmmm..., itu tandanya kamu waras De" Moning kali ini menatapku genit, kemudian sedikit mencubit pinggangku untuk menyadarkan aku. "Kok..." aku bingung "Yah, mungkin kamu mulai ada perasaan lawan jenis. Wajarlah De. Dikit lagi kita dewasa, bahkan kita ga tau diumur berapa seseorang kita akan melamar kita dan menjadikan kita tulang rusuknya, sebagai perempuan kita menyiapkan diri dan memantaskan diri untuk calon kita" tutur Siti panjang lebar. “Hus, sok dewasa benget sih” kesalku. Sahabat-sahabatku ini sangat lihai urusan percintaan, mungkin karena pengalaman putus cinta. Benar kata pepatah, pengalaman adalah pelajaran yang paling berharga, aku perhatikan sahabatku juga begitu. "Trus gimana nich, mau cerita nggak sama Dana?" Moning kali ini kembali menuntut. Mereka memperlihatkan tatapan memohon agar aku mau cerita dengan Dana. Tapi aku hanya diam dan menggeleng "Belum saatnya, hmm" jawabku singkat. Mereka memperlihatkan wajah kecewanya padaku. Tapi sebagai sahabat, mereka memahami diriku dan tidak memaksa. Itulah istimewanya sahabat-sahabatku ini. Aku merasa keputusanku tepat, karena aku memang memasang dinding tinggi dalam urusan cinta saat ini, karena urusan pendidikan menjadi yang utama. * Tak terasa seminggu lagi ujian semester ganjil akan dimulai. Hari ini adalah pembelajaran terakhir mata pelajaran penjaskes, sebelum menghadapi ujian semester ganjil. "Baiklah anak- anakku, kalian berbaris dan akan saya bagi kelompok. setiap kelompok akan berlomba untuk mencari pemenang pertama dalam lari 100 meter kali ini. kelompok 1 adalah....." aku memperhatikannya dengan seksama hingga aku tau kelompok 3 aku akan berlomba bersama Moning sahabatku. "Kamu enak, badanmu kecil, enteng aja kalau lari" Moning disebelahku berbicara dengan nada kecewa karena menyadari kalau berlomba denganku pasti dia tidak akan menang. Aku tersenyum saja dan gemes melihat badan gemuknya tapi imut bagiku. "Nikmati aja Mon, ha ha ha haaa". Hingga akhirnya didapatkan pemenang 1 dalam setiap kelompok akan kembali berlomba memperebutkan juara 1 dikelas XD.  "Suci Pradipta, Dea Amanda, Gissele Putri, Yuyun Lumulan dan Siti Khotijah, silahkan mengambil posisi" absen yang disampaikan oleh pak Rusli, guru penjaskes kami. Saat menuju lapangan, aku kaget karena Dana yang berjalan disampingku. Aroma tubuhnya yang wangi Maskulin itu bisa aku rasakan karena dia sangat dekat denganku, membuatku deg degan. Tapi secepat itu aku menepisnya dan segera menuju garis start, hingga aku mendengar Dana memberikan kata- kata semangatnya. "Semangat ya, lari yang kencang dan jadilah pemenang. Aku support kamu" kemudian Dia berlari menuju luar lapangan. Tentu kata-kata itu memicu gerak jantungku lebih cepat dari biasanya. 'Kenapa dia harus menyaksikan ini semua', gumamku dalam hati. Saat sudah berdiri, aku melirik keluar lapangan dan melihatnya melambaikan tangan dan memberikan semangat dengan lengannya. Aku hanya tersenyum. Sahabat-sahabatku memberikan semangat padaku dan Suci yang sama-sama berada dalam perlombaan ini.  "Bersedia, Siap..... Ya..." Aku berlari sekencang-kencangnya dan tidak melihat lagi yang lainnya dibelakang dan sampai finish terlebih dahulu. Aku memang menyukai olahraga ini sejak kecil karena badanku yang kecil dan ramping maka memudahkanku untuk berlari. "Selamat" bisiknya dari samping. Aku terkejut dan bahkan langsung berlari ke arah Suci. Dana hanya tersenyum manis melihat ekspresiku yang seperti orang ketakutan. Aku mengabaikan Dana yang sekarang bercerita dengan teman-temannya. Rasanya jantungku terpompa lebih kencang kalau berhadapan dengannya dan diperhatikan oleh pria setampan dia. "Karena dapat semangat dari Dana nih, larinya cepet banget De" Moning mengagetkanku.  "Ah. nggak gitu Mon. Kamu tau kan kalau aku memang seneng lari.. heheee" Jawabku "Larimu memang cepat, termasuk lari dari perasaan hatimu" Moning menyenggolku dengan lengannya. "uhuk.. uhuk..." Aku memuntahkan air minum yang aku tegak. Kaget mendengar pernyataan dari sahabatku itu. "Apaan sih Mon" Jawabku sekenanya. Moning mengejarku yang berjalan menuju kelas untuk berganti pakaian, 'dia seperti mak comblang aja' pikirku.  "Dana suka sama kamu De, kayaknya dia Mencintaimu deh" Moning mengejutkanku.  Deg... Deg..... Jantungku semakin cepat terpompa. Kutarik nafas dalam-dalam dan kutatap netra mata sahabatku itu, tak ada kebohongan dimatanya. Tapi kenapa Moning tau banyak tentang perasaannya Dana? "Kok kamu tau itu, Mon?" tanyaku "Sebenarnya sudah sejak 3 bulan yang lalu, dia mengatakannya kepada kami bertiga" Sambil menatap Suci dan Siti. Mereka mengangguk. "Dia mengatakan, melihatmu adalah hal terindah saat berada disekolah De" Sambung Suci. "Bahkan Dana selalu memperhatikanmu saat belajar, makan dan saat waktu pulang, dia ingin menjagamu De saat disekolah ini. Dia jatuh cinta saat pandangan pertama denganmu" imbuhnya lagi. Bagiku adalah hal yang lucu berbicara tentang cinta saat mereka masih di usia semuda ini. Hatiku sepertinya memang sudah terpaut dengannya, merasakan angin segar mendengar kata-kata itu. memang harus aku akui, beberapa hari ini aku sangat terganggu dengan perasaanku sendiri. Aku tidak mampu mengartikan rasa ini. Mungkin aku ragu pada diriku sendiri, apakah ini cinta? atau hanya rasa kagum pada ketampanannya dan kesederhanaannya? Aku memilih diam sekali lagi dihadapan sahabat-sahabatku. "Tapi kau selalu menghindar, Dana hanya ingin mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkannya padamu" kali ini Suci kembali menyambungnya. Aku menghela napasku dengan kasar. "Aku tidak tau dengan perasaanku, yang jelas aku bahagia memikirkan dia" senyumku mengembang pada sahabatku. "yeeeeeeee... " mereka tertawa bersama "Mungkin ini juga cinta, De" sambil tertawa Siti menggodaku. Aku tersenyum malu bercerita dengan mereka tentang perasaanku. Perasaan yang dengan sudah payah aku hindari agar tetap fokus pada pembelajaran. kali ini aku berjanji pada hatiku, bahkan pembelajaran akan tetap menjadi yang utama. * Jam Istirahat, aku menuju taman bersama sahabatku dan tiba-tiba mereka pergi dari hadapanku sambil tersenyum. Dari belakang aku merasa ada yang mendatangiku, dan aku berbalik. Betapa kagetnya aku melihat Dana datang menghampiriku. Aku merasa sahabatku kali ini sedang menjadi kaki tangannya Dana. 'Ah si cowok keren ini' pikirku. "De, duduk sini" Sambil menunjuk tempat duduk di depan taman kelas sekolahku. Sahabatku hanya memandang dari jarak yang agak jauh. Aku hanya menurut dan tak berani menatapnya, jantungku bekerja lebih cepat dari biasanya. "Kamu apa kabar?" Dana memulai perbincangannya. "Aku? Ba - baik, Kamu?" Jawabku perlahan dan terasa seperti orang ketakutan aku membalasnya. "Aku lagi nggak baik", Dana menambahkan, tapi dia tersenyum setelah mengatakan itu. Aku jadi salah tingkah dihadapannya. “Kenapa?” kata itu tiba-tiba keluar dari mulutku.s Aku sendiri kaget dengan kata-kataku dan langsung menatapnya serta dengan penuh tanya dipandanganku untuknya. Ingin langsung menanyakan lebih banyak lagi tapi bibirku tertutup dan tak mampu berbicara. Menatap betapa indahnya pandangan matanya, aku kagum dan bahkan tak mengedipkan mataku. "Aku sedang jatuh cinta sama seseorang" imbuhnya sambil menatapku lebih dekat, aku menghindari tatapannya. Dia menjelaskan bahwa dia takut ditolak oleh wanita yang di incarnya. Aku berusaha untuk tidak kegeeran dibuatnya. "Nanti juga kamu tau" sambil mencoel hidung mancungku, dia tertawa melihat pipiku yang merona. Aku malu dan sangat malu berdua dengannya.  "Kalau seandainya ada yang suka kamu, gimana De?" Dana kembali bertanya.  "Aku belum tau Dan, " Jawabku cepat dan aku tetap berusaha tenang. "Kenapa?" "Aku belum pernah pacaran, jadi aku masih takut aja" Jawabanku membuatnya tersenyum. Aku sadar betul bahwa aku mulai menyukainya. Caranya bercerita denganku begitu lembut. Aku terharu. Rasanya jantungku mau copot setiap akan bertemu atau hanya memikirkan tentang Dana. Dana mulai mendekatiku, menarik pergelangan tanganku dan duduk didepanku sambil berkata "De, sebenarnya aku…" Tiba-tiba Dana menghentikan kata-katanya saat seseorang menghampiri kami. "Haiiiii..." panggilan itu menghentikan ucapan Dana dan melihat kearah suara itu. ‘Kak Putra’ lirihku. Aku menundukkan kepala, ketakutanku mulai datang. Kakakku sejak kapan melihatku duduk dengan cowok, pikirku. "Ayo masuk kelas, sudah bel kan" Kakakku menyambung kata-katanya. Aku mengangguk dan berjalan pergi meninggalkan Dana, aku melihatnya tersenyum. Tidak ada sedikitpun pandangannya yang menunjukkan sikap marah atau kaget. Kemudian aku melihat Moning dan Suci mendekati Dana. "Dia kakaknya, Putra namanya" Moning mengatakan pada Dana sebelum mengikutiku masuk kekelas. Aku melihat Dana melambaikan tangannya padaku. Perasaanku kali ini semakin tidak menentu, rasanya aku ingin lebih lama bercerita dengannya. 'Entah apa yang ingin Dana katakan padaku' gumamku sendiri dalam hati. Rasanya ini sangat berbeda. Mungkin ini rasanya cinta? Aku tersenyum sendiri. Sepertinya aku jatuh cinta padanya, pikirku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD