2

955 Words
        Pagi ini seusai sarapan aku berjalan ke arah taman yang berada di halaman belakang rumahku. Aku duduk di kursi taman memandangi bunga mawar yang tumbuh di tiap-tiap sisi taman. Hari semakin cerah dan matahari mulai terik sehingga aku memutuskan untuk kembali ke kamar ku.        Saat aku membuka pintu kamar, ku dapati seorang lelaki berambut hitam yang memiliki tubuh tinggi berkulit putih berdiri di meja sisi kanan tempat tidurku. Ia berdiri membelakangi ku dan tampak sedang memandangi foto yang ku letakkan di meja sisi ranjang ku. Sesaat kemudian ia berbalik ke arah ku dan tersenyum lebar. Ia mengenakan baju kemeja putih dan celana jeans berwarna hitam. Ia memiliki potongan rambut bermodel undercut serta memiliki mata berwarna amber. Aku yakin dia adalah Mathias.        "Mathias?" Tanya ku untuk memastikan bahwa itu ialah dirinya. Mathias berjalan mendekatiku dan menarik ku ke ruang santai yang berada di kamar ku. "Apakah kamu baik-baik saja, Eve?" Tanya Mathias dengan tatapan pasti. Aku mengangguk dan tersenyum ke arahnya. Aku pun menatap Mathias lekat-lekat dan menyadari akan sesuatu meskipun aku tak bisa mengingat apapun. Aku yakin aku bisa mempercayai Mathias dan sangat-sangat bisa mempercayainya. Entah mengapa, aku dapat merasakan bahwa kami begitu dekat. "Hey, apakah aku tampan?" Ucap Mathias yang menyadarkan aku dari lamunan menatapnya. Aku pun menunduk dan terkekeh. "Ya, kamu sangat tampan." Jawab ku malu.       "Tentu saja aku tampan bagimu. Kamu tahu mengapa? Sebelum kamu amnesia, kamu sangat mencintaiku. Tampaknya kamu masih belum bisa melupakan aku. Apakah sebegitu cintanya kamu kepada ku, Eve?" Ujar Mathias dengan nada lembut sembari menatapku lekat-lekat menunggu jawaban dariku. Aku membalas tatapan Mathias dan untuk sesaat pandangan kami terkunci kepada satu sama lain. Akan tetapi, tawa Mathias meledak hingga menyadarkan aku untuk berhenti menatapnya. Aku bingung karena tawanya terdengar konyol bagiku. "Kamu sangat mudah masuk ke perangkap ku di saat seperti ini. Aku membohongimu." Ujar Mathias masih dalam tawanya. "Apakah kamu sering melakukan itu padaku, Mathias?" Tanya ku dengan nada kalah. "Tidak juga, kamu sangat sulit dibohongi di saat sebelum kamu amnesia. Dan yang tadi itu aku lakukan hanya untuk melihat wajahmu yang tampak bodoh." ujarnya dengan nada menang. Mendengar jawabannya membuatku memutar kedua bola mataku.      "Eve, apakah kamu sadar? Bahkan disaat kamu amnesia, kamu tetap saja sesekali bertingkah seperti dirimu yang sebenarnya." Jelas Mathias. "Benarkah?" Tanyaku ingin tahu. Ia mengangguk. "Ya. Seperti sebelumnya, saat kamu merasa aku melakukan hal-hal konyol apapun kepadamu, kamu akan memutar kedua bola matamu." Jelas Mathias lagi sembari tersenyum. Aku pun ikut tersenyum mendengar ucapannya. "Nah, bagaimana jika kita pergi berkeliling kota? Aku ingat bahwa kamu sudah lama tidak mengunjungi Cambridge." Tawar Mathias sembari beranjak dari tempatnya. Ia pun mengambil jaket miliknya yang terletak disisi sofa dan mengenakannya. "Baiklah, beri aku waktu 10 menit untuk bersiap-siap." Ujar ku menyetujui ajakannya dan bergegas ke ruang ganti. Usai aku mengganti pakaian, kami pun pergi.        Mathias membawaku berkeliling kota, mall, taman yang sering ku kunjungi, sekolah kami di waktu kecil, hingga sampai ke pantai. "Apakah kita turun ke sisi pantai atau bersantai di dalam mobil saja?" Tanya Mathias. Aku memandangi pantai sejenak. Pantai ini terlihat sepi dan tidak ada pengunjungnya. "Apakah aku dulu sangat suka mengunjungi pantai ini?" Tanya ku memastikan keadaan pantai kepada Mathias. "Ya, sebelumnya saat berada di Cambridge, kamu akan kesini jika sedang ada masalah. Kamu suka disini karna pantai ini tidak ada pengunjungnya. Sebenarnya pantai ini hanya dikunjungi oleh kelompok-kelompok orang yang ingin berkemah saja. Maka karena itu tidak banyak yang mengunjungi pantai ini." Jelas Mathias. Ia pun keluar dari mobil dan mulai berjalan ke sisi pantai. Aku pun mengikutinya.      Kami berjalan menyusuri pantai. Tidak jauh dari tempat ku berada, aku melihat seseorang sedang duduk di pinggir pantai. Ia mengenakan baju kaos bercorak dengan beberapa campuran warna dengan celana pendek polos. Aku bingung mengapa lelaki itu duduk sendiri di sana. "Aku ingin menyapa seseorang yang duduk di sana."ucapku kepada Mathias. Langkah Mathias terhenti dan menetap ke arah sosok pria yang aku tunjuk. "Ok, tapi aku akan tetap di dekat mu. Kita tidak mengenal siapa dia. Jadi harus berhati-hati" balasnya dan melanjutkan langkah kami mendekati lelaki tersebut.      Akhirnya kami sampai di dekat lelaki itu. Dia menatap kearah kami dan tersenyum. "Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya ku ramah. "Ya, tentu. Aku hanya ingin menikmati suasana alam karena sudah lama tidak ke pantai." Jawab lelaki itu sembari tersenyum. Aku pun membalas senyumannya begitu pula Mathias. "Duduklah" ucap lelaki itu sembari menepuk pasir disebelahnya yang mempersilahkan kami duduk. "Baiklah." Jawab ku ramah. Saat aku ingin duduk di sampingnya, salah satu tanganku ditarik oleh Mathias. Ia memberi kode mata yang membuatku paham agar tidak duduk di samping lelaki itu. Aku memandang ke arah lelaki itu yang terlihat sedang memandangi kami. "Jika kalian sedang buru-buru mungkin kita bisa berbincang lagi di lain waktu." Ujar lelaki itu dengan nada ramah sembari tersenyum. "Maaf, kami harus segera pulang. Kamu juga harus segera pulang karena hari akan gelap." Balasku ramah. "Tentu saja." Ucapnya lembut. Aku membalas senyumannya dan berjalan bersama Mathias menuju mobil kami. Saat kami hampir sampai ke mobil, lelaki yang tadi ku sapa memanggil. Aku menoleh kearahnya yang sedang berlari ke arah ku. Mathias dengan sigap menarik lenganku untuk berada dibelakangnya. Ia pun berhenti dihadapan kami dengan nafas terengah-engah.        "Ada apa?" Tanya ku lembut. Lelaki itu memberi isyarat untuk dirinya bernafas. Dan kemudian tersenyum. "Nama kamu.... Aku ingin tahu namamu. Siapa namamu?" Tanya lelaki itu kepadaku. "Nama ku Evelyn." Jawabku ramah. Ia tersenyum lembut. "Apakah sudah selesai? Kami harus segera pulang." Ujar Mathias tegas. Lalu menarik ku menuju mobil. "Sungguh nama yang indah. Evelyn. Kau harus mengingat namaku, Clyde." Teriaknya. Aku dapat melihat ia tersenyum dan tidak mengejar kami lagi. Aku dan Mathias pun segera meninggalkan pantai dan melaju pulang. "Sungguh  lelaki aneh yang menyebalkan." Ucap Mathias dengan nada jengkel. Aku memukul bahunya pelan. "Berhenti berbicara." Ujarku kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD