1
DUARRRRRRRRRRRR!!!!!!!
Terdengar suara ledakan yang sangat besar. Tidak jauh dari tempat ku berada, dapat ku lihat sekilas mobilku dikelilingi kobaran api besar. Ada beberapa orang yang mulai mengangkat ku dan membaringkan ku di atas ranjang dan aku pun tidak sadarkan diri.
1 Bulan Kemudian.......
Aku tersadar dan mendapatkan diriku di atas ranjang pasien. Aku melihat ke sekeliling dan terdapat seorang wanita yang tertidur pulas di dekat ku. Ia duduk sembari tertidur dan kepalanya disandarkan di ranjang yang ku tempati. Aku mencoba mengintip wajahnya namun aku tidak mengenal siapa wanita itu. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi padaku. Namun yang hanya ku ingat adalah suara ledakan saat aku diangkat ke dalam ambulans. Aku tidak dapat mengingat apapun selain itu. Aku bingung dimana saat ini aku berada dan aku tidak mengingat siapa aku.
Wanita itu akhirnya tersadar dan mulai menatap ke arah Ku. Ia menggeleng dan mencoba mengucek matanya serta kembali menatapku. Kemudian terukir senyum di wajahnya dan segera memelukku dengan erat. "Akhirnya kami sudah sadar... Kamu sudah bangun, Sayang." Ujar wanita itu. Ia terlihat sangat bahagia. "Mom akan memanggil Dad dan dokter." Ujar wanita itu yang mulai mengambil handphonenya untuk menghubungi orang yang bernama 'Dad'. "M...Mom??" Ucapku bingung mengulangi salah satu perkataannya. Ia meletakkan handphonenya badan segera berpaling ke arah ku. "Eve, apakah kau baik-baik saja?" Tanya wanita itu yang mulai terlihat panik. Aku hanya bingung dan tak membalas perkataannya. Wanita itu pun segera menekan tombol merah yang berada dekat ranjang pasien yang ku tempati.
Beberapa saat kemudian seorang dokter memasuki ruangan diikuti seorang lelaki dewasa yang tampaknya orang dengan sebutan 'Dad' pun datang menghampiri. Dokter memaparkan beberapa pertanyaan kepadaku yang sulit ku jawab karena aku tidak dapat mengingat apapun selain kejadian ledakan itu. Pasangan tua itu terlihat panik saat dokter menyatakan bahwa aku mengalami amnesia ringan, dimana aku tidak sepenuhnya lupa dengan seluruh ingatanku. Dokter juga mengatakan bahwa ingatanku akan segera kembali secepatnya jika aku rajin menjalankan terapi dan meminum obatku. Dan dokter juga mengatakan bahwa pasangan tua yang terlihat khawatir akan kesehatanku adalah kedua orang tuaku yang panggil dengan sebutan Mom dan Dad. Setelah beberapa hari berada di rumah sakit melakukan perawatan, aku pun diperbolehkan pulang bersama kedua orang tuaku.
Sesampainya di rumah, Mom dan Dad mengantarkan ku ke kamar tidurku. Kemudian mereka meninggalkan ku di kamar agar aku dapat beristirahat dengan tenang. Aku melihat ke sekeliling kamar dan melihat beberapa bingkai foto yang terpajang di atas rak sisi kamar. Aku pun berjalan memandangi foto-foto itu. Pandangan ku akhirnya terpaku pada salah satu foto. Pada foto itu terdapat satu orang gadis kecil dan satu orang anak lelaki kecil saling merangkul satu sama lain. Tawa mereka terlihat bahagia dan mereka memiliki mata berwarna Amber. Mereka tampak sangat mirip. Aku berfikir bahwa gadis kecil itu adalah aku dan anak lelaki itu adalah saudaraku. Aku tersenyum dan membawa foto itu agar ku letakkan di meja sisi kiri kasurku. Namun pada saat aku ingin meletakkan foto itu, aku mendapati ada foto yang sudah terpajang di meja itu. Pada foto itu terdapat aku yang sedang merangkul kuat seorang lelaki berwajah tampan yang memiliki mata berwarna amber. Ia terlihat mirip seperti anak lelaki di foto yang ingin ku letakkan di meja itu. Aku mulai bertanya-tanya apakah benar dia adalah saudaraku. Aku mencoba mengingat dengan keras namun hasilnya nihil.
Terdengar sebuah ketukan di pintu kamar ku dan Mom pun masuk sambil membawa nampan. "Eve, sudah waktunya makan siang. Kamu bisa makan siang di ruang santai saja agar tidak terlalu lelah untuk turun ke bawah. Dan, jangan lupa minum obat mu." Ucap Mom yang kemudian membawa nampan tersebut ke sebuah ruang santai yang berada di sisi kanan kamar ku. Saat mom berjalan menuju pintu kamar ku, aku menghentikan mom dan bertanya padanya, "Mom..! Apakah aku memiliki seorang saudara lelaki?" Tanya ku pada mom. Mom berjalan ke arah ku dan melihat foto yang ku pandangi. "Tidak, Sayang. Dan lelaki yang ada pada kedua foto itu adalah lelaki yang sama yang sudah beranjak dewasa. Namanya Mathias. Kalian sudah berteman sejak kecil." Ujar Mom lembut. Tidak puas dengan jawabannya, aku pun melontarkan pertanyaan lain. "Lalu, apakah dia tau bagaimana keadaan ku sekarang?" Tanya ku ingin tau. "Ya, tentu saja. Dia sempat menjenguk mu beberapa kali dalam 1 bukan ini. Namun sekitar 1 Minggu lalu dia harus kembali ke Seattle untuk urusan bisnisnya. Mungkin dia akan berada disini esok hari. Sekarang kamu harus menyelesaikan makan siang mu dan minum obat mu. Kemudian beristirahatlah." Ujar Mom lembut kemudian dia keluar dari kamar ku. Aku pun segera melakukan apa yang dikatakannya.