Chapter 10 Pagi harinya aku terbangun, makhluk mungil dalam perutku sejak tadi bergerak-gerak. Aku dapat merasakannya yang mulai demikian aktif. Biasanya, ibu muda lain akan mendapat kecupan di perutnya saat pagi hari, juga belaian lembut dari sang suami. Tapi, mungkin aku belum waktunya merasakan itu. Jadi Nak, pagi ini biar Ibu yang membelai kamu ya. Tidak perlu cemaskan apapun, kamu hanya harus selalu sehat dan lahir dengan sempurna. Perutku mulai membesar, seraya kubelai lembut dari luar pakaianku yang mulai terkena tetesan hangat yang keluar begitu saja dari kedua mata ini. Berkali-kali kututurkan maaf kepada calon bayiku yang pasti ingin mendengar suara sang Ayah. “Maaf Ayah belum bisa bersama kita, Nak. Maafkan dia.” Lirihku sambil tersenyum, titik-titik bening terus meleleh dan

