Sosok Ayah Untuk Calon Bayi

1888 Words
Chapter Eight “Bunda, Zanna sudah menelpon Mas Axel.” “Sudah? Apa katanya? Dia akan datang kan?” Aku menunduk. “Kenapa, Nak?” tanya Bunda cemas. “Dia sepertinya tidak bisa datang.” “Lho, kenapa?” “Ehm, dia sakit, Bunda.” “Sakit? Sakit apa? Dirawat? Sampai tidak bisa datang!” Aku menggeleng, “Sudahlah Bunda, terima saja usul Zanna. Jangan adakan selamatan.” “Tidak bisa sayang! Anakku.. selamatan tujuh bulan itu harus tetap dilaksanakan meski hanya dengan pengajian kecil-kecilan.” “Tapi Bunda, Mas Axel kan tidak bisa datang.” “Ya sudah biarkan saja kalau begitu, yang penting kita sudah memberitahunya.” “Tapi Bunda,” “Ya Allah anak bunda lagi kenapa? Dari tadi tapi-tapi terus..” “Bagaimana kalau orang tanya soal Mas Axel, Bunda?’ “Jawab saja sedang diluar kota, makanya kamu tinggal di sini.” “Haruskah kita berbohong begitu?” “Ya, itukan hanya rencana kalau ada yang bertanya. Kalau tak ada yang bertanya kan kita tidak jadi bohong. Iya kan?” Ya Allah ada apa dengan Bundaku ini, kali ini aku benar-benar tak mengerti jalan pikiran Bunda. Juga tak paham dengan Bunda yang kekeuh mau mengadakan selamatan. “Iya kan, Nak?” “Ya sudah, bagaimana baiknya saja, Bunda.” Lirihku seraya membantu Bunda membersihkan ayam-ayam yang sudah di potong menjadi beberapa bagian itu. “Nanti, Bunda mau minta antar furqan ke pasar.” “Lho, kenapa?” “Kenapa apanya? Ya biar lebih mudah bawa barangnya. Kan pasti belanja banyak.” “Kan bisa naik taksi, Bunda.” “Lho, kamu ini, memangnya supir taksi mau gotong-gotong sayuran dan daging dari pasar ke mobil? Terus turunin barang dari mobil terus dibawa ke dapur?” Entah apa ini, yang jelas kepalaku pening mendengar semua rencana dan ucapan Bunda. “Janganlah, Bunda, kasian dia nanti repot.” “Enggaklah, dia akan dengan senang hati bantu Bunda. Dia dari dulu kan gitu. Waktu masih kuliah aja sering banget anter Bunda ke pasar beli bahan-bahan buat mie ayam. Dia dulu dan sekarang sama, tidak ada bedanya.” ‘Hah, dia dulu dan sekarang sama? Tidak ada bedanya? Apa sih maksud bunda ini, Ya Allah. Tapi aku enggan berdebat, aku tidak ingin melukai hati Bunda. Bunda melirikku. “Kok tiba-tiba diam?” “Enggak apa-apa, Bunda. Hanya saja Zanna pikir, kasian Mas Furqan nanti mobilnya bau daging.” Bunda tertawa kecil. “Kamu ini ada-ada aja, Zanna. Ckckck..” decaknya heran. “Sudah lanjutkan ya, bilas sekali lagi. Terus bawa ke dekat kompor.” “Iya Bunda.” Kupikir tak ada gunanya memulain debat dengan Bunda. Lagipula Bunda tak salah, beliau benar. Mas Furqan memang sering sekali mengantar Bunda ke pasar, jadi apa salahnya jika sekarang Bunda minta antar ke pasar. Bunda juga benar saat berkata bahwa Mas Furqan masih tetap sama seperti dulu, tak berubah. Ya, itu juga benar, lantas apa masalahnya? Rasanya aku seperti bergulat dengan diriku sendiri, pola pikirku tak bisa luas. Kenapa aku harus bersikap dingin pada Mas Furqan hanya karena dia pernah mencintai aku, itu bukan hal yang benar. Dan juga, bersikap baik pada Mas Furqan kan bukan berarti aku berselingkuh atau semacamnya. Benar! Bahkan banyak istri di luar sana yang bekerja di luar dan memiliki banyak rekan kerja yang berasal dari kaum berbeda jenis. *** Hari itu acara selamatan, pengajian kecil-kecilan akan dilaksanakan malam nanti tepatnya ba’da magrib. Bunda yang mengundang tetangga dekat saja. Untuk syarat saja, yang penting acara itu tetap dilaksanakan. Pagi itu, seperti perkataan Bunda, Mas Furqan datang untuk membantu membeli bahan makanan yang akan dimasak oleh para ibu yang sebagian besar berasal dari kerabat dekat kami dan para tetangga. “Belanjanya kok dadakan sekali? Kenapa tidak sejak kemarin?” tanya seorang kerabat. Bunda hanya tersenyum seraya mengapit dompet di ketiaknya. “Masaknya juga tidak banyak, lagipula ke pasar cuma sebentar kok!” “Ya sudah, jangan lupa beli camilan untuk para ibu di sini!” “Camilan apa ya?” “Apa saja! Kue basah juga boleh!” sahut yang lain. “Oke deh, saya berangkat dulu ya!” Aku tak ikut bicara, larut dengan kentang yang sudah Bunda beli kemarin. Mengupasnya hingga bersih dan merendamnya dengan air dalam baskom besar. Ayah sedang memberi makan ayam jantan, air wajah Ayah nampak tak bisa ditebak. Apakah dia tengah sedih? Ataukah tengah marah pada Mas Axel yang sampai sekarang sama sekali belum menemui Ayah. Argh, terbuat dari apa hati kedua orang tuaku. Mereka tetap diam dan sabar sampai sekarang, tidak ada kata makian yang mereka lontarkan untuk Mas Axel yang telah menyakiti mereka. Orang tua lain mungkin tidak segan-segan mendatanginya dan mencabik-cabik wajahnya. Tapi, orang tuaku tidak begitu. Mereka terlihat lebih tenang setelah aku mencoba meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja, meskipun sebenarnya aku hanya sedang mencoba terlihat baik-baik saja. *** Satu jam kemudian Bunda pulang, kebetulan Ibu Mas Furqan yang tak begitu sehat juga baru saja datang. Wajahnya berubah masam saat dilihatnya Mas Furqan masuk ke rumah membawa barang belanjaan Bunda. “Lho, Furqan!” serunya terkejut. “Ibu, memang sudah enggak pusing? Kenapa kesini?” “Iya, Ibu Furqan istirahat saja di rumah.” Sahut Bunda yang nampak membawa dua buah keresek besar. “Kamu habis darimana, Furqan?” tandas Ibunya dengan wajah tak suka. “Oh, ini Bu! Furqan habis antar Bunda beli bahan masakan!” “Kenapa?” “Kok kenapa, Bu? Masa membantu orang harus tanya kenapa!” Mas Furqan tersenyum saat aku meliriknya sekilas. “Maksud Ibu, memangnya enggak ada orang lain yang bisa antar? Suami Zanna kemana?” tanya Ibu Mas Furqan. “Bu, Furqan tadi beli buah untuk ibu. Sebaiknya kita pulang dan masukan buah ini ke kulkas!” ajak Mas Furqan mengalihkan pembicaraan. Aku agak heran, kenapa Mas Furqan tidak bertanya-tanya soal Mas Axel, seperti Ibunya yang menanyakan hal itu. Mas Furqan nampak tak begitu peduli dengan keberadaan Mas Axel, ataukah Bunda menceritakan masalahku padanya? Oh, tidak mungkin kan? Bunda tidak akan begitu! Mas Furqan membimbing Ibunya keluar rumah kami. Masuk ke mobil dan menderu pergi, menghilang dari pandangan. Aku menghela nafas, yang aku takutkan terjadi satu persatu, pertanyaan yang aku hindari mulai muncul. Aku harus bagaimana? Haruskah aku memaksa Mas Axel untuk datang malam ini? Aku beranjak ke kamarku setelah mencuci tangan. Mencoba memberi pengertian pada Mas Axel tentang acara malam ini, bahwa dia hanya perlu datang tanpa harus pusing soal uang. Meskipun aku ragu, karena dia pasti gengsi karena sejak kecil dia hanya tahu cara menjadi anak orang kaya. Tapi, apa salahnya aku coba sekali lagi. Nada sambung yang aku dengar ini sudah yang kesekian kali, tapi si pemilik ponsel rupanya tidak punya waktu sedikitpun untuk menjawab panggilan dariku yang masih berstatus sebagai istrinya. Tidak ada nafkah lahir dan batin, aku bertanya-tanya apakah setelah ini akan jatuh talak untuk rumah tangga kami ini karena dua hal diatas yang seharusnya jadi hakku itu tak pernah dia tunaikan? Aku menggigit bibirku, meraba kesabaranku yang ternyata masih ada. Menghela nafas dan membaringkan diri di tempat tidur. Tidak usah menangis hari ini, nanti calon bayiku sedih. Bukankah hari ini adalah acara selamatan menyambut kelahirannya? Jangan sampai dia tahu bahwa saat ini Ayahnya tak ada di sisi sang Ibu. Aku bilang jangan menangis! Tapi kenapa airmataku terus saja mengalir, aku menangis tertahan. Tak boleh ada suara yang keluar dari bibirku ini, semuanya harus yakin bahwa Zanna selalu baik-baik saja agar tak bertambah beban di benak Bunda dan Ayah. Sudah kupasrahkan segalanya pada kehendak Sang Maha. Berusaha ikhlas tapi tetap saja sakit yang aku rasakan terasa amat nyata, perih bercampur pahit membelenggu hari yang harusnya dipenuhi rasa syukur dan sukacita ini. Aku duduk, mengangkat wajahku tinggi-tinggi agar rintik-rintik kesedihan ini berhenti turun. Menengadah seperti ini, akankah dia benar-benar terhenti? Di saat seperti ini aku jutsru teringat perlakuan baik Mas Axel sebelum kami menikah. Jujur saja, dia benar-benar pria yang sangat baik yang membuat aku berpikir bahwa tak akan ada pria lain secakap dia yang akan aku temukan di belahan bumi manapun. Hal kecil itulah yang selalu jadi alasan mengapa aku bertahan dengan status istri Axel. Tidak berusaha melepaskan diri dari jerat lara ini. Ya, aku masih bertahan karena yang aku ingat adalah sikap manisnya. Aku akan mendapatkan itu kembali setelah segalanya berakhir, Mbak Clarissa hanyalah pelarian dari rasa frustasi akibat obsesi tiada akhirnya, mungkin dia juga menderita karena spekulasinya sendiri. Aku mencoba mencari-cari alasan untuk bertahan, setiap kali aku merasa ingin pergi saja. Terlebih, calon bayiku butuh sosok Ayah. Menyakitkan sekali jika aku melahirkannya dengan status janda yang kuemban, sungguh aku terkadang tak kuasa untuk mengambil keputusan mana yang terbaik. Aku hanya bisa diam dan menangis. “Zanna! Kamu ngapain dari tadi di dalam?” itu suara Bunda. Ah, sudah lamakah aku di dalam kamar? Aku benar-benar tak sadar. “Iya Bunda!” aku keluar kamar. “Makan dulu, Zanna.” “Nanti saja, Bunda.” “Eh, nanti apa? Ayo sana makan sama ibu-ibu yang lain.” Aku terdiam, tertegun di depan pintu kamarku. Sungguh aku malu berkumpul bersama di sana. Karena selalu banyak pertanyaan terlontar terkait Mas Axel. Aku harus jawab apa? Aku takut justru menangis di depan mereka. “Zanna!” Aku terkesiap. “Ayo!” Bunda meraih lenganku dan membimbingku melangkah ke ruang depan. Di sana sudah terhampar berbagai macam masakan yang nantinya akan dikemas ke dalam box untuk buah tangan para tamu yang hadir mendoakan calon bayiku di acara selamatan ini. Para ibu tengah makan bersama di tempat yang sama. Mereka tampak melambai saat aku datang dan berdiri di ujung ruangan. “Zan, makan dulu!” ajak Bude Tutik yang tengah repot dengan isi mulutnya yang penuh. “Iya, Bude.” Sahutku sambil tersenyum. “Sana, makan!” “Bunda sudah makan?” “Sudah tadi sama bapak!” Aku beringsut dengan lutut mendekati bakul nasi dan piring berisi lauk pauk, mulai menyendok nasi dan meraih sepotong ayam goreng bertabur bubuk kelapa gurih berwarna kecokelatan. “Zan, suamimu mana?” celetuk seorang wanita yang aku lupa siapa namanya, dia duduk di sebelah Bude Tutik, melakukan hal yang sama, sibuk dengan sepiring nasi yang ada dipangkuannya. “Ehm, dia..” “Nanti juga datang! Sudah makan dulu, nanti malah keburu sore!” Bunda datang dari belakang membawa satu baskom penuh buah jeruk. “Ehm, sejak kalian menikah sampai sekarang ini.. Bude baru sekali saja lihat suamimu itu. siapa deh namanya? Raxel??” “Axel, Bude!” “Oh iya, Axel! Namanya susah banget! Kaya bule! Wkwkwk!” kelakar Bude Tutik. “Lah, emang tampangnya juga kaya bule sih!” “Kalau menurutku sih kaya orang china!” “Kaya orang apa saja, intinya dia ganteng!” celetuk yang lain. Para itu itu tertawa, aku tersenyum getir dan buru-buru membawa piringku masuk ke kamar lagi. Ah, Zanna lagi-lagi kamu menghindari itu bak pengecut. Kenapa tidak kau karang saja sebuah cerita yang membuat mereka percaya. ‘Oh, Mas Axel sedang dinas di luar negeri! Atau dia sedang menjamu klien asing di luar kota!’ itu pasti akan lebih mudah dibanding harus menghindar seperti ini. Aku duduk bersandar di dinding kamar, perlahan memasukan butir nasi ke mulut. Meskipun segala hal benar-benar terasa hambar. Aku harus tetap makan demi calon bayiku. Dia tidak berdosa, dia harus lahir dengan selamat dan sehat tanpa kurang suatu apapun. Kuaminkan perkataan itu dalam hati. to be continue *** Halo reader baik, jangan lupa tap love dan follow aku yaaa. Makasih banyak^^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD