-Tempat Curhat-

1204 Words
Naira menatap heran ke arah Lauren yang sedang menatap papan tulis di hadapannya sembari tersenyum. “Heran gue sama lo. Dijodohin bukannya marah, malah senang begini,” ucap Naira lalu berdecik beberapa kali. “Gimana gue nggak senang, Nai? Coba lo bayangkan, lo jomblo bertahun-tahun dan setelahnya langsung dapat calon suami yang ganteng, mapan lagi,” Lauren menyahuti ucapan sahabatnya itu setelah membuyarkan lamunannya. “Wajahnya memang ganteng. Tapi, apa lo tahu gimana sifat cowok itu?” tanya Naira. “Dari umurnya sih, seharusnya dia dewasa,” sahut Lauren seadanya. “Kedewasaan bukan diukur dari umur, Ren,” kesal Naira. “Tapi, pas ketemu kemarin, dia bagaimana?” tanya Naira lagi. “Dia nggak banyak ngomong dan lebih banyak diwakilkan sama orangtuanya. Kayaknya, kata yang keluar dari mulutnya itu bisa dihitung dengan jari aja,” sahut Lauren sembari menunjukkan kelima jari tangan kanannya. Helaan napas yang panjang pun berhasil lolos dari mulut Naira, membuat pandangan Lauren seketika terarah padanya. “Lo jangan khawatir, Nai. Kalau Davian sakitin gue, gue cerita kok sama lo,” ucap Lauren menenangkan. Jelas saja Naira khawatir kalau calon suami Lauren nanti akan membuat sahabatnya itu sakit hati lagi. Mengingat bagaimana sakitnya Lauren ketika melepas pacar terakhirnya dulu. *** Seusai kelas kedua hari ini bertepatan dengan jam makan siang. Naira sibuk mengeser-geser layar ponselnya untuk mencari referensi makan siang di sekitar kampus. “Ketemu nggak?” tanya Lauren sembari melirik ke ponsel yang ada di genggaman Naira. “Itu-itu aja, Ren. Bingung gue,” sahut Naira tanpa melepaskan pandangannya dari benda persegi panjang yang ada di tangannya. Sebuah ide pun terlintas di benak Lauren, mata gadis itu seketika berbinar dengan bibir yang terangkat naik. “Awas aja kalau lo ngide yang enggak-enggak,” ucap Naira ketika melihat raut wajah sahabatnya itu. “Negatif thinking terus sama gue,” sungut Lauren. “Gue ada ide, nih!” serunya. “Dari ekspresi lo aja, sudah bikin perasaan gue nggak enak, Ren,” ucap Naira. “Gimana kalau kita ajak Davian?” usul Lauren. “Sudah gue bilang kalau perasaan gue nggak enak, dan benar aja,” gerutu Naira. “Mau nggak?” tanya Lauren. “Daripada lo bingung mau makan di mana,” ujarnya. “Coba dulu. Mau nggak dia temani lo,” sahut Naira. Lauren pun menyalakan ponselnya dan langsung menelfon ke nomor Davian. Untungnya, Davian langsung menerima sambungan telfon darinya. “Halo, Dav.” “”Hm. Kenapa?” “Sibuk nggak?” “Saya kerja. Langsung saja katakan. Ada hal apa kamu telfon saya?” “Aku sama temanku mau makan siang. Tapi, kami bingung mau makan apa. Boleh nggak kalau aku sama temanku makan siangnya bareng kamu?” “Saya sibuk.” Tuuuttt... Sambungan telfon itu diputuskan secara sepihak oleh Davian hingga membuat Lauren terdiam sembari menatap Naira yang duduk di hadapannya. “Nggak mau, ya?” tebak Naira dengan hati-hati. “Ternyata benar apa kata Papi,” ucap Lauren. “Manusia itu hidupnya hanya untuk kerja,” sambungnya. “Lo sih! Baru kenal semalam dan sudah ajak untuk lunch aja,” sahut Naira. Naira pun menarik tangan Lauren untuk keluar dari kelas. “Kayak sudah dapat referensi aja,” ucap Lauren. “Justru kalau kita di kelas aja, kita nggak akan dapat referensi. Yang ada, jam istirahat kita habis cuman buat mikir doang,” sahut Naira. Keduanya pun pergi meninggalkan area kampus dengan menggunakan mobil milik Naira. Yang tentunya, sang pemilik lah yang menyetir. Hingga akhirnya Naira memarkirkan mobilnya di basement sebuah mall yang berada tidak begitu jauh dari kampus. “Kita mau lunch, Nai. Bukan mau shopping,” ucap Lauren. “Memangnya di mall ini cuman jual pakaian aja?” tanya Naira. Lauren hanya tertawa pelan. Lalu, setelah Naira memarkirkan mobilnya dengan baik, ia pun mematikan mesin mobilnya itu dan keluar dari sana. Diikuti oleh Lauren. “Kayaknya sushi enak, Nai,” ucap Lauren ketika ia melihat restoran jepang di sana. Lauren dan Naira pun masuk ke dalam restoran itu dan memesan beberapa sushi untuk makan siang mereka. “Lo nggak mau beliin buat calon suami lo itu, Ren?” goda Naira sembari menyikut pelan siku Lauren. Seketika itu juga, Lauren menatap Naira dengan tatapan tajam. Sebab, Lauren yakin kalau Naira tahu bahwa dirinya masih kesal dengan tanggapan Davian di telfon tadi. “Lo pesan segitu, tapi makannya kayak nggak semangat, Ren,” tegur Naira ketika melihat Lauren tidak bersemangat menyantap makan siangnya. “Gue masih kepikiran, Nai. Sikap Davian tadi, benar-benar bikin mood gue nggak baik dalam sekejap mata,” sahut Lauren. “Lama nggak jatuh cinta, sekalinya jatuh cinta, lo malah dapat modelan dia,” ucap Naira dengan nada pelan, namun tetap bisa didengar dengan jelas oleh Lauren. *** Sementara itu, di Skybern Corp. Lebih tepatnya, di kantor perusahaan Davian. Lelaki itu baru saja selesai menyantap makan siangnya dan ia langsung kembali bekerja. Tanpa memperdulikan beberapa pesan yang masuk dari Papanya. Merasa diabaikan, Papanya Davian pun menelfon anak bungsunya itu, dan dengan terpaksa Davian mengangkatnya. “Kenapa pesan Papa nggak dibaca?” “Aku masih banyak kerjaan, Pa. Kenapa memangnya?” “Mamamu tadi telfon Papa, bilang kalau temannya kayak lihat Lauren di mall. Lagi makan sama temannya. Kamu nggak jadi lunch bareng dia?” “Tadi ada dia ajak aku. Tapi, aku tolak. Karena aku rasa, nggak ada hal penting lagi, jadi aku tutup telfonnya.” “Jangan terlalu cuek begitu, Nak. Dia calon istrimu.” “Tahu, Pa. Sudah dulu, ya. Aku mau jalan. Lihat proyek pembangunan perumahan yang sudah hampir rampung itu.” Davian pun memutuskan sambungan telfonnya. “Apa mau berangkat sekarang, Pak?” tanya Maya, sekretaris Davian. “Mobilnya sudah siap?” tanya Davian. Maya mengangguk, kemudian berkata, “Sudah, Pak. Mobilnya sudah siap.” Davian kembali bangkit dari kursi putarnya, ia membenarkan jasnya sebelum berjalan keluar dari ruang kerjanya itu. Baru tiba di lobby kantor. Davian berjumpa dengan Damian, kakak kandung Davian. “Ke mana lo?” tanya Damian. “Mau survei proyek,” jawab Davian apa adanya. “Ikutlah gua,” ucap Damian. Jadilah, mereka berdua yang pergi. Di perjalanan menuju tempat pembangunan, Damian mencecari Davian pertanyaan seputar perjodohan semalam. “Gua heran aja, Bang. Bisa-bisanya Papa jodohin gua sama bocah ingusan,” kesal Davian. “Bocah dari mana coba?” tanya Damian. “Memangnya Abang tahu orangnya?” tanya Davian kembali. “Sebelum lo jumpa sama orangnya semalam, Mama kirim foto Lauren ke gua. Makanya gua tahu,” sahut Damian. “Lo sebut dia bocah ingusan, itu karena lo terlalu cuek, Dav,” ujarnya. “Kalau dia bukan bocah ingusan, dia nggak akan ganggu jam kerja gua, Bang,” sahut Davian. “Lauren ajak lo makan siang setelah dia memastikan ke Papa kalau pada saat dia telfon elo, dia nggak akan ganggu elo,” ucap Damian. “Lo belain dia, Bang?” heran Davian. “Bukannya membela. Hanya saja, supaya hati dan mata lo terbuka buat perempuan,” sahut Damian. “Nyesal gua curhat sama lo,” sungut Davian. “Walaupun anak tunggal, Mama bilang kalau Tante Patricia dan Om Liam nggak pernah memanjakan Lauren,” ungkap Damian. “Nanti akan gua buktikan, apa dia manja atau enggak,” sahut Davian. “Gua pantau lo. Awas aja kalau kerjain Lauren," ucap Damian dengan nada sedikit ancaman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD