Davian membuang napasnya dengan perlahan, ia tak mau meluapkan emosinya di hadapan orangtuanya yang baru saja mengatakan bahwa dirinya telah diputuskan untuk dinikahkan dengan anak sahabatnya.
Davian tidak memiliki pilihan lain selain menyetujui itu. Sebab, jika ia menolaknya, maka Davian harus bersiap untuk turun jabatan.
“Abang saja tidak dijodohkan begini,” gerutu Davian.
“Bahkan, Abangmu menikah setelah Papa berikan satu cabang perusahaan Papa, Dav. Sedangkan kamu, sudah Papa percaya untuk memegang kantor pusat, sampai usia kamu yang hampir kepala 3 ini, kamu tidak sekalipun membawa perempuan ke rumah ini,” sahut Papanya Davian panjang lebar.
Mamanya Davian hanya bisa menatap anak bungsunya itu dengan tatapan sayu. Yang mana, sang Mama jelas tahu, bahwa Davian sejak dulu memang acuh terhadap percintaan dan selalu mengutamakan pekerjaan.
“Lusa kita akan berkunjung ke rumahnya, dan sekalian kita akan merencakan tanggal pernikahan,” ucap sang Papa sebelum beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan ruang keluarga.
Davian hanya bisa menatap punggung Papanya itu. Ia benar-benar tidak bisa berkutik lagi karena keputusan yang sang Papa berikan sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat.
“Kalau kamu mau menolak perjodohan ini, kamu punya jalan kok, Nak,” ucap Mamanya Davian.
Seketika itu juga, kening Davian berkernyit dengan sempurna, dengan kedua maniknya yang langsung tertuju pada Mamanya itu.
“Gimana caranya, Ma?” tanyanya.
“Kamu cari aja pacar, lalu secepatnya bawa kemari dan bilang sama Papamu kalau kamu sudah punya pacar sejak lama,” jawab sang Mama.
“Mana bisa secepat itu, Ma,” sahut Davian. “Lagipula, Papa bilang kalau pertemuannya lusa, dan nggak mungkin secepat itu aku dapat pacar,” sambungnya.
Kini, giliran Davian yang beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
Semangat Davian seolah dipatahkan dengan perjodohan itu. Meski hampir semua teman-temannya sudah berkeluarga, ia seperti tidak begitu tertarik untuk memiliki keluarga kecil juga.
***
Hingga tiba di malam, di mana Davian akan dipertemukan dengan seorang gadis yang akan dinikahkan dengannya.
Tepat pukul 8 malam, keluarga Davian tiba di sebuah rumah berlantai 2 dengan pemandangan yang begitu mewah.
Mobil keluarga Davian langsung dipersilakan masuk ke pekarangan rumah itu. Lalu, mereka langsung disambut hangat oleh sang empu rumah.
“Apa sudah lama menunggu kami?” tanya Papanya Davian kepada teman baiknya itu yang telah menunggunya di depan pintu utama.
“Tidak, Vid. Saya juga baru saja berdiri di sini,” jawab Liam, sang empu rumah.
Kemudian, Liam mempersilakan sahabatnya itu untuk masuk ke dalam rumahnya.
Di ruang tamu, Davian disambut hangat oleh istrinya Liam. Namun, Davian tidak melihat adanya gadis di sana.
“Di mana anak gadismu itu?” tanya Mamanya Davian.
“Tadi masih bersiap, pasti sebentar lagi akan turun,” sahut Patricia, selaku istri Liam.
Benar saja, baru selesai Mamanya Davian bertanya, seorang gadis dengan surai panjang berwarna cokelat itu menuruni anak tangga dengan begitu anggunnya. Terlebih lagi, gadis itu tengah mengenakan dress selutut dan menampakkan sebagian bahu indahnya.
“Lauren, salaman dulu sama Om dan Tante,” ucap Liam kepada anak gadisnya itu.
Dengan senyuman manisnya, Lauren menyalami kedua orangtua Davian secara bergantian, kemudian, ia mempersilakan tamu Papanya itu untuk duduk karena ia akan ke dapur untuk membuatkan minuman.
Sekalipun sang Mama nampak senang dengan Lauren, namun Davian bahkan tidak menatap gadis itu sedikitpun.
“Mami bilang kalau dia sudah hampir kepala tiga. Tapi, dia seperti baru lulus kuliah,” Lauren membatin ketika ia menatap Davian.
Lauren pun meletakkan cangkir-cangkir teh di atas meja, kemudian mempersilakan tamu Papanya itu untuk meminumnya selagi masih hangat.
“Papa dengar kalau kamu masih kuliah, ya?” tanya David kepada Lauren.
“P-papa?” heran Lauren sampai terbata.
“Jangan memanggil ‘om’, ya? Panggil Papa saja,” sahut David sembari tersenyum.
“Memangnya boleh secepat ini?” Lauren membatin.
“Jangan melamun, Nak,” tegur Mamanya Lauren.
Lauren hanya tersenyum dan mengangguk dengan samar – tanda bahwa dirinya menyetujui permintaan sahabat Papanya itu.
***
Keputusan yang dibuat begitu singkat dalam waktu semalaman itu menyisakan lamunan untuk Davian.
Lelaki itu duduk termenung di sisi tempat tidurnya sembari menatap langit malam ini.
Meski waktu telah menunjukkan pukul 1 dini hari, Davian nampak tidak mengantuk sama sekali.
Hingga saat, lamunan Davian buyar ketika sebuah pesan masuk di ponselnya. Sebuah nomor yang tidak ia kenali namun ia tahu siapa pengirimnya.
Tanpa pikir panjang, Davian membuka ponselnya dan menelfon ke nomor itu.
“Kenapa chat saya jam segini?”
“Kupikir kamu sudah tidur. Apa jangan-jangan, kamu terganggu karena pesan dari aku?”
“Tidak. Saya hanya tidak bisa tidur sejak tadi. Ada hal penting kah?”
“Tidak ada. Maaf jika aku mengganggu.”
Panggilan suara itu diputuskan secara sepihak oleh pihak seberang. Yang tidak lain adalah Lauren.
***
Sementara itu.
Lauren buru-buru menyalakan mode senyap pada ponselnya dan meletakkan benda persegi panjang itu sedikit jauh dari tempat ia berbaring sekarang.
“Bagaimana bisa gue se-salting ini?!” rutuk Lauren sembari menutup wajahnya dengan bantal.
Gadis yang baru menginjak usia 22 tahun itu seperti baru kali pertama jatuh cinta. Meski ia tahu, kepada siapa ia sedang menaruh harapan dan rasa.
“Oke, Lauren! Lo harus tidur sekarang juga. Meskipun besok lo kelas siang, bukan berarti lo nggak tidur sepanjang malam,” ucap Lauren kepada dirinya sendiri.
Tidak sampai 5 menit setelah Lauren memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur, sebuah pikiran liar terlintas di benaknya. “Bagaimana kalau ternyata Davian itu punya pacar dan pacarnya belum siap untuk dibawa ke hubungan yang serius? Makanya, orangtuanya sampai berpikir kalau Davian tidak pernah pacaran sama sekali?”
***
“Nanti kalau Lauren bangun, bilang saja kalau kami ada urusan mendadak ya, Bi. Anak itu kelas siang hari ini. Makanya saya biarkan bangun agak lambat,” ucap Patricia kepada asisten rumah tangganya itu.
“Iya, Bu. Nanti saya beritahu,” sahut Bi Ayu.
Selesai bersiap dan memastikan bahwa tidak ada barang yang tertinggal, kedua orangtua Lauren pun pergi dari rumah secara bersamaan.
“Apa Nona akan menikah secepat ini? Kenapa rasanya saya sedikit tidak rela kalau Nona akan pergi dari sini?” Bi Ayu merutuk sendiri sembari membereskan meja makan. “Saya sudah terbiasa dengan keberadaan Nona di sini,” sambungnya.
Tepat pada pukul 11 pagi, Lauren sudah bangun dan siap untuk pergi ke kampus. Namun, sebelum itu tentu saja ia pergi ke dapur untuk mencari apa yang bisa ia makan.
“Pasti Mami ikut sama Papi, ya?” tebak Lauren sembari menatap Bi Ayu yang sedang menjemur pakaian.
“Eh! Nona ini bikin saya kaget saja,” ucap Bi Ayu. “Iya, Non. Ibu lagi pergi sama Bapak, ada urusan mendadak katanya,” ungkap Bi Ayu.
“Bi Ayu mau tahu nggak? Urusan mendadaknya itu apa?” tanya Lauren sembari menggoda ART-nya itu.