-Permintaan Maaf-

1012 Words
Atas perasaan bersalah Yuana terhadap Lauren. Wanita itu berencana untuk kembali menyambangi kediaman Lauren, bersama dengan suami dan anaknya juga. Malam ini, tepat pukul 8 malam. Keluarga kecil itu tiba di kediaman Lauren. “Pak Damian, silakan masuk,” ucap Bi Ina. ART yang baru saja bekerja di rumah itu hari ini. “Mana mereka, Bi?” tanya Yuana. “Kayaknya lagi di kamar, Bu,” jawab Bi Ina. “Silakan duduk dulu, biar saya panggilkan,” sambungnya. Bi Ina pun menaiki anak tangga menuju kamar Davian dan Lauren. Kemudian, wanita berusia hampir 40 tahun itu mengetuk pintu kamar. “Tuan...ada Pak Damian dan Bu Yuana di bawah,” ucap Bi Ina dari balik pintu. Di dalam sana, Lauren dan Davian hanya bisa saling bertukar pandangan, sesaat kemudian mereka tersadar. “Abang ada bilang kalau mau ke sini?” tanya Lauren. Davian menggeleng, “Nggak ada,” jawabnya. Davian pun keluar dari kamar, diikuti oleh Lauren di belakangnya. Kedaan di ruang tamu menjadi canggung sesaat. Sebab, Lauren jelas masih merasa sedikit kesal dengan Yuana yang telah membocorkan tentang kesehatannya kepada mertuanya. “Aku ke sini mau minta maaf sama kamu, Ren. Aku benar-benar keceplosan sama Mama kemarin,” sesal Yuana. Lauren menatap Davian sekilas, kemudian ia menatap ke arah Yuana dan berkata, “Nggak apa kok, Kak. Lagian...Mama pasti punya feeling sampai pancing Kakak begitu.” Senyuman yang dilontarkan Lauren justru membuat Yuana semakin merasa bersalah di lubuk hatinya. Melihat raut wajah Yuana yang tidak bisa dibohongi itu, membuat Lauren terenyuh. “Jangan terlalu dipikirkan, Kak. Aku nggak mau bikin Kakak stress dan malah mengganggu ASI ekslusif Deon,” ucap Lauren lagi. “Iya, Ren. Nggak akan aku buat stress kok. Terima kasih telah memaafkan aku, ya,” sahut Yuana. Setelah berbincang ringan sebentar, Damian dan Yuana pun berpamitan untuk pulang. Hingga, tinggalah Lauren dan Davian di sana. “Sudah sama saya aja, marah sampai nangis. Giliran pelakunya datang, lembutnya ngalahin sutera,” Davian menggerutu. “Mau marah juga kasihan sama Deon, Dav,” sahut Lauren yang mendengar gerutuan itu. “Aku juga paham situasi kali!” kesalnya. *** Beberapa hari kemudian. Keadaan mulai kembali normal. Davian pun juga sudah membiarkan Lauren mengemudi lagi. Dengan syarat, jika pergi ke manapun, Lauren harus memberikan laporan kepada suaminya itu. “Menurut lo gimana, Nai?” tanya Lauren. “Gue harus laporan kalau gue pergi manapun. Tapi, gue nggak ada minta apapun dari dia,” ungkapnya. “Wajar nggak sih kalau Davian bilangin elo begitu?” tanya Naira. “Secara, terakhir kali lo mau nyetir itu pas lo mau kabur. Jelas aja hal itu bikin dia was-was,” sambungnya. “Menurut lo, dia was-was karena apa?” tanya Lauren lagi. “Karena dia takut, lo tiba-tiba ngadu ke orangtua lo atau ke orangtua dia,” sahut Naira. Atas jawaban itu, Lauren yang mendengarnya pun merasa puas. “Karena, sepertinya ucapan Davian di club malam itu, masih berputar di kepala gue,” Lauren membatin. *** Di sisi lain. Davian, Yasa, dan Aura sedang makan siang bersama. “Gimana Lauren? Nggak lo ajak, Dav?” tanya Aura. “Gue mau bebasin dulu. Kasihan juga dia. Beberapa hari ini benar-benar gue kekang,” jawab Davian. “Jujur sama gue, apa yang sebenarnya lo takuti kalau Lauren memutuskan untuk pisah sama lo?” tanya Yasa. “Kenapa lo tiba-tiba tanya begitu?” tanya Davian sembari menatap Yasa dengan tatapan tajam. “Kenapa kalian malah kayak mau berantem sih?” tanya Aura. “Gue agak heran aja sama Davian, Ra. Pas awal-awal, dia cuek banget sama Lauren. Ketika keadaannya sudah seperti sekarang ini, dia kayak nggak mau lepasin Lauren,” ucap Yasa. “Jujur, Sa. Lo ada tahu sesuatu kah?” tanya Aura. Yasa menggeleng, lantas berkata, “Bukannya gue mau mengikut campuri urusan keluarga lo, Dav. Tapi, gue nggak mau kalau hubungan kalian malah toxic. Kalau lo nggak suka sama Lauren, sejak awal lo bisa menolak perjodohan itu. Kalau lo menerima perjodohan itu hanya karena lo mau posisi lo yang sekarang, kata gue, lo jahat. Gue nggak mau punya teman orang yang jahat, Dav.” Davian hanya bisa menghela napasnya dengan panjang saja. Tutur kata Yasa yang cukup panjang itu berhasil membuat dirinya sedikit sadar diri. Betapa kejamnya dia menghantam perasaan Lauren. “Yang memaksakan hubungan Davian dengan Lauren, bukan Davian sendiri, Sa. Tapi, orangtuanya,” timpal Aura yang nampak ingin membela Davian. “Sudahlah. Nggak usah dilanjutkan lagi. Ini permasalahan gua dan gua akan menyelesaikannya sendiri nanti,” ucap Davian. *** Di sisi lain. Lauren baru saja tiba di rumah Maminya. Dengan dalih ingin mengambil beberapa bukunya yang masih ada di sana, Lauren berhasil lolos dari kecurigaan orangtuanya perihal hubungannya dengan Davian yang semakin hari semakin buruk itu. “Tapi, kamu bilang nggak sama suamimu kalau kamu ke sini?” tanya Maminya Lauren. “Bilang kok. Tapi, chat aku nggak dibalasnya. Kayaknya dia sibuk,” sahut Lauren. “Mau Mami bantuin cari bukunya nggak?” tawar Maminya. Lauren menggeleng, lantas menjawab, “Aku bisa sendiri, Mi.” Kemudian, Lauren pun berjalan menuju kamarnya dan ia masuk ke dalam kamar yang dulu ia tempati. “Seandainya gue bisa balik ke masa lalu, gue pengin punya pacar dan nggak akan berakhir dijodohkan begini,” ucap Lauren dengan nada pelan sembari membuka tirai jendela kamarnya. Lauren dengan sengaja merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya itu. Kemudian, ia memutar musik dari ponselnya. Alunan musik yang menghanyutkan itu, berhasil membuat dirinya larut hingga tertidur di sana. Mode hening pada nada dering ponsel yang ia nyalakan sebelumnya, membuat Lauren tidak tahu bahwa sudah masuk beberapa panggilan suara di sana. “Pantas aja suaminya nelfon sampai ke Mami. Taunya dia tidur enak di sini,” ucap Maminya Lauren ketika membuka pintu kamar gadis itu dan mendapatinya sedang tidur pulas. Ketika malam mulai datang. Barulah Lauren bangun. Itupun karena Lauren tidak bisa tidur dalam kegelapan. Hal pertama yang Lauren lakukan ketika bangun tidur adalah memeriksa ponselnya. Sesuai dengan dugaannya, Davian telah mengiriminya beberapa pesan, bahkan menelfonnya beberapa kali. "Selalu aja begini kalau gue nggak ada kabar. Coba kalau tukar posisi, apa pernah gue nyariin dia sampai sebegininya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD