“Abang di mana?”
“Di jalan. Baru dari tempat Mama.”
“Kenapa harus bilang sama Mama kalau Lauren sakit?”
“Si Yuana keceplosan tadi.”
“Mempersulit hidup aku aja, Bang. Sumpah!”
“Makanya, Mama dan Papa memberi perintah itu, langsung dituruti. Bukannya malah keras kepala terus.”
“Masalahnya, Lauren ngadu ke aku sampai nangis-nangis setelah ditelfon sama Mama.”
“Kenapa sampai nangis? Lo marahin dia?!”
“Dia nggak mau bikin Mama khawatir, Bang. Tapi, kalian malah kasih tahu ke mereka. Makanya Lauren sampai nangis pas cerita ke aku tadi. Akh! Sudahlah. Kayaknya Abang nggak akan paham.”
Tuuttt...
Davian memutuskan sambungan telfon itu secara sepihak.
“Kenapa bilang kalau aku ngadu sampai nangis ke kamu?! Tambah malu-maluin tau nggak?!” kesal Lauren. Ia melempar bantal sofa ke arah Davian. Kemudian, beranjak pergi dari ruang tamu itu.
“Nanti biar saya yang pindahin barang-barang saya ke kamar kamu, Ren!” ucap Davian dengan sedikit berteriak karena Lauren sudah berada di tangga.
Lauren tidak menjawab apa yang diucapkan oleh Davian. Namun, ia tetap mendengarkannya dengan baik.
Setibanya di kamar, Lauren langsung mengambil handuk mandinya dan melakukan ritual mandinya.
Namun, baru saja gadis itu memasuki kamar mandi, seseorang memanggilnya – seperti sudah berada di dalam kamarnya.Sebab, kamar mandi berada di dalam kamar gadis itu.
“Reeennn.”
“Apa?!” tanya Lauren dari dalam kamar mandi. Setelah ia tahu bahwa yang memanggilnya adalah Davian.
“Enaknya banyakin garam atau banyakin micin?” tanya Davian dari depan pintu kamar mandi.
“Aku nggak pernah pakai micin dan nggak pernah beli micin,” sahut Lauren.
“Terus, yang letaknya di samping kiri garam itu apa?” tanya Davian lagi.
“Dav...kalau nggak bisa masak, nggak usah dipaksakan. Aku cuman takut keracunan,” ucap Lauren.
Hening, tidak ada lagi terdengar suara Davian dari luar kamar mandi. Hingga Lauren bisa melanjutkan ritual mandinya.
Setelah selesai, Lauren langsung kembali ke lantai dasar. Dirinya melihat Davian sedang memotongi wortel dan kentang.
“Karena saya nggak bisa masak dan takut meracuni kamu dengan masakan saya. Jadi, saya akan bantu memotongi ini semua. Kamu tinggal nyalakan kompor aja,” ucap Davian.
Lauren menaikkan alis sebelah kanannya sebelum ia meraih panci yang ada di sana.
“Kenapa ini nggak dibalikin ke tempatnya?” tanya Lauren ketika melihat sebuah toples kecil berada tidak pada tempatnya.
“Saya masih penasaran, Ren. Itu apaan?” sahut Davian.
Lauren pun membuka toples itu, lalu berkata, “Ini kaldu jamur. Pengganti micin.”
Davian pun mengangguk tanda mengerti.
“Ternyata, masak itu ribet juga ya,” gerutu Davian.
“Baru tahu, ‘kan?” batin Lauren ketika mendengar gerutuan itu.
***
“Beneran bisa kuliah hari ini?” tanya Davian sekali lagi untuk memastikan kalau Lauren akan bisa kembali dengan perkuliahannya setelah 1 minggu penuh tidak menginjakkan kaki di universitas – pasca menikah.
“Sekali lagi kamu tanya, beneran kelahi aja kita,” sahut Lauren yang sudah kesal. Sebab, pertanyaan itu sudah berkali-kali Davian tanyakan.
“Kalau begitu, biar saya antar kamu,” ucap Davian.
“Enggak perlu ya, Dav. Aku bisa menyetir sendiri kok,” sahut Lauren.
“Nanti kalau kamu kenapa-napa, saya juga yang repot, Ren,” ucap Davian lagi.
“Kalau aku ada keperluan mendadak di luar kampus, gimana? Sedangkan, kamu sibuk, Dav,” sahut Lauren.
“Saya pastikan saya siap sedia kalau kamu membutuhkan saya,” sahut Davian.
Kali ini, Lauren tak lagi bisa melawan Davian. Ia kalah dari suaminya itu.
Pada akhirnya, Lauren pergi ke kampus dengan diantar oleh Davian.
“Malas banget kalau sudah begini,” Lauren menggerutu sebelum masuk ke dalam mobil Davian.
***
Baru saja Lauren memasuki kelas, ia sudah disambut oleh teriakan Naira.
“Akhirnyaaa. Lo kuliah juga, Ren!” pekik Naira.
“Nggak usah pakai teriak, Nai. Kuping gue sakit dengarnya,” ucap Lauren sebelum ia duduk di samping Naira.
Ketika Lauren duduk, Naira baru menyadari kalau mata Lauren nampak sedikit sembab. Gadis itu menatap Lauren dengan intens, kemudian ia bertanya, “Lo habis nangis?”
“Pertanyaan macam apa itu?” tanya Lauren kembali.
“Siapa yang sudah bikin lo nangis?!” tanya Naira lagi.
Lauren pun menceritakan apa yang tejadi semalam.
“Gue capek, Nai. Gue kira, penderitaan gue hanya sampai tinggal seatap sama orang yang baru gue kenal. Nyatanya, itu adalah awal kehancuran gue, sebelum kehancuran lainnya muncul,” ucap Lauren.
“Bukannya lo bilang kalau lo punya perasaan ke Davian ya?” tanya Naira. “Seharusnya, ini kabar gembira buat lo, ‘kan?” sambungnya.
“Lo lupa sama hal yang pernah gue ceritakan ke elo?” tanya Lauren. “Tentang hal yang gue dengar dari mulut Davian,” ungkapnya.
Naira baru teringat akan hal itu.
“Kesalahan gue, Nai. Nggak bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang enggak,” ucap Lauren.
“Saran gue. Akan lebih baik kalau lo terima apa adanya aja. Gue nggak tega lihat elo, Ren. Baru seminggu jadi istri Davian. Badan lo sudah mulai kurus aja gue lihat-lihat,” ucap Naira.
“Kalau keadaan mulai membaik, gue mau minta sama Davian buat tidur di rumah Mama aja,” ucap Lauren lagi.
“Heh! Kemarin aja lo mau minggat dan malah menjadi masalah lagi, ‘kan?” sahut Naira.
Belum sempat Lauren menyahuti perkataan Naira, seorang dosen memasuki kelasnya dan mereka pun menghentikan pembicaraan.
***
Di sisi lain.
Sembari menatap layar komputernya, Davian memijat pelipisnya yang terasa sakit.
Suara pintu terbuka tanpa kata permisi maupun ketukan, membuat Davian mengalihkan pandangannya.
Didapati Davian, Damian lah yang memasuki ruang kerjanya.
“Aku sudah bilang sama Maya, kalau hari nggak bisa rapat seharian. Terutama, gantiin Abang,” ucap Davian.
“Belum juga gua ngomong,” sahut Damian. Kemudian, ia duduk di hadapan adiknya itu.
“Terus, apa tujuan Abang datang ke sini?” tanya Davian.
“Tadi gua ada sedikit urusan. Jadi, sekalian aja hampiri elo,” ungkap Damian. “Sekalian juga, gua mau bilang kalau ART sudah dapat. Gua suruh beliau datangnya sore. Gua juga sudah kasih alamat rumah kalian dan nomor kontak elo,” ungkapnya.
Davian hanya bisa mengangguk saja.
“Yuana bilang, sampaikan maafnya ke Lauren. Karena Yuana yang keceplosan semalam,” ucap Damian. “Soalnya...Mama kayak mancing juga pas ngobrol,” sambungnya.
“Sudah terjadi juga. Nggak akan bisa waktunya diulangi lagi,” sahut Davian ketus.