Ketika Lauren sibuk mengusap kakinya yang sehabis terkena troli orang lain, Davian dan orang yang menabraknya tadi malah saking tukar pandangan – bahkan keduanya sama-sama seperti tidak percaya bahwa mereka bertemu.
“Dav...” ucap Lauren yang langsung terhenti. Sebab, ia melihat Davian mematung menatap orang lain itu.
“Apa kalian berdua saling mengenal?” tanya Lauren dengan hati-hati.
Pertanyaan itu juga yang membuat keduanya menghentikan lamunan.
“Long time no see, ya,” ucap orang itu sembari menatap Davian dengan tatapan penuh arti.
“Demi apa pertanyaan gue diabaikan?!” kesal Lauren di batinnya.
“Semoga jumpa di lain waktu, ya. Aku masih ada keperluan,” ucap orang itu lagi. Kemudian, ia menatap Lauren dan berkata, “Sekali lagi, aku minta maaf. Beneran buru-buru sampai nggak sengaja nabrak kamu tadi.”
Lalu orang itu langsung pergi dari hadapan Lauren dan Davian.
“Aku tebak, dia itu mantan kamu, ya?” ucap Lauren. “Apa jangan-jangan yang diceritakan Aura semalam?” tanyanya.
“Sudah saya bilang kalau semalam Aura itu mengarang, masih aja dibahas,” sahut Davian. Kemudian ia berjalan lebih dahulu.
Lauren bergegas menyamai langkah Davian. Hingga, dirinya kini berjalan tepat di belakang lelaki itu.
“Kamu beneran nggak mau kasih tahu aku?” tanya Lauren lagi.
Sebab, Lauren benar-benar penasaran, siapa wanita tadi hingga membuat Davian seperti tidak bisa berkutik di hadapannya.
“Namanya Sabrina,” ungkap Davian.
Lauren terlihat menunggu, kata apa yang akan keluar dari mulut lelaki itu setelah menyebutkan nama perempuan tadi. Nyatanya, Davian hanya memberitahu namanya saja.
“Ih! Aku nungguin loh,” kesal Lauren.
“Kamu mau tahu apa tentang dia?” tanya Davian.
“Statusnya lah,” sahut Lauren.
“Benar kok apa kata kamu tadi. Kalau dia itu...mantan saya,” ujar Davian.
“Jangan-jangan, itu mantan terindahnya Davian. Sampai-sampai, dia nggak bisa ngomong pas ketemu lagi. Apalagi...ada aku yang lagi jalan sama dia,” Lauren membatin.
Setelah mendapatkan informasi yang dirinya inginkan, Lauren tidak berbicara apapun lagi. Bahkan, ketika diajak Davian berkeliling super market, ia hanya mengambil barang seperlunya saja. Sebab, yang ada di benak Lauren sekarang adalah, Davian masih sayang dengan mantannya itu.
***
“Kamu pusing lagi, Ren?” tanya Davian yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Lauren dan langsung menghampiri Lauren yang sedang duduk bersandar di ranjangnya.
Lauren menjawabnya hanya dengan menggeleng saja.
“Kamu nanti malam mau makan apa?” tanya Davian. “Kalau yang kamu mau saya bisa masakin, akan saya masakin,” sambungnya.
“Nanti aku masak sendiri aja,” sahut Lauren ketus.
“Jangan bilang kalau anak ini cemburu sama Sabrina,” Davian membatin.
“Kalau nggak ada keperluan, mending kamu keluar. Ganggu aku nonton tau nggak?” ucap Lauren lagi.
“Saya masak, ya? Apapun itu, kamu harus makan,” ucap Davian sebelum ia keluar dari kamar Lauren.
Hanya berselang beberapa detik setelah Davian meninggalkan kamarnya. Lauren mendapatkan panggilan suara dari Mamanya Davian.
Lauren bergegas menerima sambungan telfon itu.
“Hallo, Ma.”
“Yuana bilang kalau darah rendah kamu kambuh lagi. Beneran, Sayang?”
“Sudah mendingan kok, Ma.”
“Kok bisa kambuh sih, Sayang? Davian bikin kamu capek, ya?”
“Enggak kok, Ma. Malahan...Davian yang rawat aku sampai aku nggak pusing lagi. Dan...namanya juga penyakit, Ma. Pasti ada saatnya dia kambuh.”
“Jaga kesehatannya ya, Sayang. Jangan terlalu capek juga. Mama nggak tenang kalau dengar kamu sakit begitu.”
“Jangan dipikirkan, Ma. Ada Davian yang selalu siaga kok.”
“Papa dan Damian lagi carikan ART untuk di rumah kalian. Kali ini, kami nggak terima penolakan dari kalian.”
“Tapi, Ma...”
“Ini untuk kamu juga, Sayang. Jadi, kalau Davian lembur, kamu nggak sendirian di rumah.”
“Y-yasudah, Ma. Aku kasih tahu Davian dulu.”
“Iya, Sayang. Nanti kalau sudah dapat, akan Mama kabari lagi.”
“Hm. Iya, Ma. Thank you...”
TUUUTTT...
Sambungan telfon itu berakhir.
Lauren menghela napasnya dengan panjang, kemudian ia menuruni ranjangnya dan berjalan keluar dari kamarnya itu menuju dapur.
Melihat Lauren yang berjalan gontai ke arahnya, Davian langsung menghampiri gadis itu dan membawanya untuk duduk di sofa.
“Aku kira, kamu sudah mulai masak,” ucap Lauren.
“Masih cari resep,” jawab Davian. “Kok turun?” tanyanya.
“Tadi Mama telfon. Kak Yua ngasih tahu kalau darah rendah aku kambuh. Dan sekarang, Papa dan Bang Damian lagi cari ART buat di sini,” ungkap Lauren.
Kemudian, Lauren langsung memeluk Davian yang duduk di sampingnya itu. Isak tangis mulai terdengar dari mulut gadis itu.
“Kan aku sudah bilang sama Kak Yua, sama Bang Damian juga. Kalau jangan sampai Papa dan Mama tahu,” ucap Lauren di tengah isak tangisnya.
“Nanti akan saya tanyakan ke mereka. Kenapa bisa sampai ke telinga Mama dan Papa,” ucap Davian menenangkan.
Lauren mulai tenang. Yang tersisa hanya suara sesegukan saja ketika ia merasakan tangan Davian yang mengusap punggungnya dengan lembut itu. Kemudian, tanpa melepaskan pelukannya, Lauren menaikkan pandangannya untuk menatap Davian. Lalu...ia kembali menangis di sana.
“Ehhh...kok malah nangis lagi sih?” tanya Davian yang terkejut.
“Kita harus kerja keras beresin kamar, Davian,” sahut Lauren.
“Kenapa harus begitu?” tanya Davian lagi.
“Kalau ART-nya tahu kita beda kamar, terus dia ngadu ke Papa, gimana?” tanya Lauren kembali.
Davian mulai berpikir, bahwa apa yang diucapkan Lauren ada benarnya juga. Namun...ada sebuah pertanyaan yang tiba-tiba singgah di benaknya.
“Kenapa pada akhirnya Mama bilang kalau Papa dan Abang nyarikan ART untuk kita?” tanya Davian.
“Mama berasumsi kalau darah rendah aku kambuh karena aku kecapean urusin rumah,” jawab Lauren.
Tanpa melepaskan pelukannya terhadap Lauren, Davian meraih ponselnya yang semula ia letakkan di atas meja yang ada di hadapannya.
“Kamu nelfon siapa?” tanya Lauren seraya menatap Davian dengan matanya yang sudah sedikit sembab.
“Nelfon Abang,” jawab Davian.
Lauren bergegas menjauhkan tubuhnya dari Davian. Ia menarik beberapa lembar tisu dan menyeka wajahnya.
Davian yang melihatnya, ia hanya bisa menahan tawanya, menatap Lauren yang nampak menggemaskan baginya itu.
"Apa lihatin aku begitu?!" kesal Lauren.