-Pemaksaan-

1032 Words
Davian membiarkan Lauren tidur selama yang gadis itu inginkan. Bahkan, sampai dengan Davian pergi ke kantor, Lauren tak juga bangun dari mimpi indahnya. Namun sayangnya, ketika Davian tiba di kantor, ia berjumpa dengan Damian di lobby. Bertepatan saat keduanya sama-sama hendak masuk ke dalam lift. “Bagus ya, Dav. Lo baru nikah semalam dan sudah masuk kantor hari ini,” ucap Damian seraya menatap adiknya itu. “Kemarin lalu lebih tepatnya, Bang,” sahut Davian. “Ngapain lo ke sini?” tanya Damian. “Nyari istri kedua! Ya jelas kerja lah, Bang. Mengada aja pertanyaannya itu,” sahut Davian dengan nada bicaranya yang terdengar kesal. “Lo disuruh Papa istirahat selama seminggu, Dav. Akan lebih bagus lagi kalau lo bawa Lauren jalan-jalan. Bukan malah ke kantor,” tegur Damian. “Kelamaan berdebat cuman bikin waktuku terbuang sia-sia, Bang,” ucap Davian. Kemudian, ia menekan tombol agar pintu lift terbuka. Saat pintu lift itu sudah terbuka, Davian pun masuk ke dalamnya, diikuti oleh Damian. “Gua bakalan atur liburan buat kalian berdua. Mau tidak mau, kalian harus berangkat,” ucap Damian. Kemudian, ia sibuk dengan ponselnya. “Sejak kapan Bang Damian suka mengatur aku?” heran Davian. “Supaya anak gua ada temannya nanti,” sahut Damian dengan sedikit ledekan. “Kalau liburan sekarang, kasian Lauren, Bang. Dia baru angkut semua barangnya. Kemarin, dia sibuk beres-beres rumah seharian. Pas aku pergi tadi aja, dia belum bangun,” ungkap Davian. Dengan harapan, Damian bisa mengerti bahwa dirinya tidak ingin pergi berlibur. “Justru karena itu, Lauren pasti butuh refreshing supaya nggak berasa capeknya,” sahut Damian. Davian pun menghela napasnya dengan panjang. Kemudian, ia berkata, “Sebelum Bang Damian mencari tiket untuk kami. Coba tanya sama Lauren dulu. Dia mau atau enggak pergi. Aku nggak mau maksa-maksa orang.” Damian pun langsung menyetujui hal itu dan ia menelfon ke nomor Lauren. Namun, 2 kali Damian melakukan panggilan suara kepada adik iparnya itu. Tidak ada terjawab sama sekali. “Mungkin masih tidur. Coba aja telfon lagi nanti,” ucap Davian. *** Lauren terbangun dan dikejutkan dengan 5 panggilan tak terjawab dari Damian dan 5 panggilan tak terjawab dari Davian. “Kenapa kakak-beradik ini nelfonin gue?” gumam Lauren. Lauren jelas menelfon ke nomor Davian terlebih dahulu, dan untungnya, suaminya itu langsung menerima sambungan telfon darinya. “Baru bangun kamu?” “Iya, Dav. Aku mau tanya, Bang Damian kenapa nelfonin aku, ya?” “Dia suruh kita pergi liburan. Saya bilang saja nggak bisa karena kamu sudah kecapean setelah beberapa hari kemarin. Karena Bang Damian kurang percaya, makanya telfon kamu untuk make sure.” “Lalu, kenapa kamu telfonin aku juga?” “Saya pikir, kamu kenapa-napa di rumah. Sudah hampir siang dan tidak ada tanda-tanda kamu akan menelfon balik ke nomor Bang Damian. Makanya saya telfon juga. Sampai di sini, apa masih ada pertanyaan?” “Siang ini aku lunch bareng temanku, ya?” “Terserah!” Setelah mengatakan itu, Davian pun memutuskan sambungan telfonnya secara sepihak dan tanpa konfirmasi ke Lauren. “Kenapa nggak lo tanya, dia bisa atau tidak pergi liburan?!” kesal Damian yang rupanya sedari tadi berada di ruang kerja Davian untuk membantu pekerjaan adiknya itu. “Kayaknya, dari ucapan dia aja sudah jelas kalau dia setuju dengan ucapanku tadi,” sahut Davian. Tak ingin ragu-ragu lagi dalam mengambil keputusan, Damian pun menelfon ke nomor Lauren. “Halo, Ren.” “Iya, hallo. Kenapa, Bang?” “Intinya, lo mau nggak pergi liburan sama Davian? Kalau lo mau, gua bakalan cari tiket untuk kalian.” “Kalau Davian nggak bisa, aku juga nggak bisa maksa, Bang.” Damian memberikan isyarat kepada Davian agar mengiyakan. Namun, Davian malah menggeleng – bersikeras kalau tidak ingin pergi. “Yasudah, Ren. Gua ngomong sama Davian dulu.” “Iya, Bang.” Panggilan itu pun berakhir. Membuat Damian menjadi marah kepada lelaki yang duduk di hadapannya itu. “Liburan bisa kapan aja, Bang. Aku juga memikirkan kesehatan Lauren. Pas pindahan kemarin, dia juga sempat demam. Aku nggak mau kalau pas sama aku, anak itu malah sakit-sakitan,” ungkap Davian. Damian terdiam sejenak, lalu, barulah ia bertanya, “Kenapa lo baru bilang?” “Anak itu demam cuman semalaman aja. Besokannya pecicilan lagi,” sahut Davian dengan santai. *** Ketika jarum jam menunjukkan pukul 12.40 siang, Lauren telah siap dan hendak pergi menuju tempat di mana ia dan teman-temannya sudah janjian hendak makan siang bersama. Namun, ketika Lauren baru saja mengunci pintu utama rumahnya, ia baru teringat kalau mobilnya masih berada di rumah orangtuanya. “Masa gue telfon Davian? Akh! Ada taksi online, kenapa gue harus pusing?” Lauren menggerutu sendiri sebelum dirinya memesan taksi online. Namun, belum sempat ia menekan pemesanan pada ponselnya, sebuah mobil yang berhenti di hadapannya, membuat Lauren sedikit terkejut dan keheranan. Terlebih lagi, ketika sang empu mobil menurunkan kacanya. “Kok pulang?” tanya Lauren kepada lelaki yang ada di dalam sana. “Kamu mau pergi jalan kaki?” tanya lelaki itu yang tidak lain adalah Davian. Lauren pun langsung masuk ke dalam mobil itu dan memasang sabuk pengamannya. “Nanti temani aku ambil mobil di rumah Mami, ya?” pinta Lauren ketika mobil sudah dikemudikan oleh Davian. “Kalau saya nggak sibuk,” sahut Davian. “Berarti, kalau nanti pas aku sudah masuk kuliah, kamu yang antar-jemput kalau mobilku nggak diambil,” ucap Lauren. Davian hanya melirik sekilas ke arah Lauren, kemudian ia kembali fokus dengan jalanan di depannya. “Diam berarti setuju,” ucap Lauren lagi. “Saya lagi pusing memikirkan Bang Damian, Ren. Jangan kamu bikin saya tambah pusing lagi,” keluh Davian. “Ada apa dengan Bang Damian?” tanya Lauren. “Bang Damian maksa kita untuk liburan,” ungkap Davian. “Kalau Davian pusing memikirkan itu. Artinya Davian nggak mau liburan sama gue. Apa gue se-enggak berarti itu di mata dia? Bahkan, untuk liburan bersama pun dibuat pusing,” Lauren membatin. "Malah kamu yang diam sekarang," ucap Davian dengan sedikit rasa kesal. Sebab, keluhannya malah ditanggapi dengan diam oleh Lauren. "Nanti biar aku yang bilang sama Bang Damian," ucap Lauren. "Intinya, kamu nggak mau pergi, tapi kamu juga nggak mau orangtua kamu tahu alasannya, 'kan?" tanyanya. "Memangnya kamu tahu, kenapa saya nggak mau pergi?" tanya Davian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD