“Besok saya harus ke kantor.”
Ucapan yang baru saja keluar dari mulut Davian itu hampir saja membuat Lauren menyemburkan minumannya yang baru saja masuk ke rongga mulutnya.
“Nggak salah aku dengar?” tanya Lauren untuk memastikan.
“Terlalu lama tidak ke kantor, hanya akan membuat pekerjaan saya semakin menumpuk,” jawab Davian dengan santai.
“Tapi, ini belum seminggu sejak pernikahan kita, Dav. Apa kata orang nanti kalau seorang lelaki yang baru beberapa hari menikah ini sudah kembali bekerja lagi?” ucap Lauren panjang lebar.
“Mendengarkan perkataan orang lain, tidak membuat kekayaan saya bertambah,” sahut Davian.
“Kalau begitu, besok aku juga mau masuk kuliah,” ucap Lauren menantang.
“Kamu mau kena marah Papa?” tanya Davian.
“Kamu sendiri?” tanya Lauren kembali.
“Ini beda hal, Ren. Saya bisa masuk ke kantor kapan saja. Sedangkan kamu, sudah dirujukkan surat izin selama satu minggu,” ujar Davian.
“Kalau begitu, boleh nggak kalau aku ikut ke kantor?” pinta Lauren sembari menatap Davian dengan penuh harapan.
“Boleh-boleh saja. Asalkan jangan mengganggu saya bekerja,” jawab Davian.
“Deal kalau begitu!” seru Lauren kesenangan,
“Lihat aja kalau gangguin saya kerja. Saya usir kamu,” ancam Davian.
“Coba aja kalau berani usir aku,” sahut Lauren yang nampak tidak takut dengan ancaman Davian.
Tak mau perdebatan itu semakin panjang, Davian pun memutuskan untuk mengalah dan diam.
Selesai makan bersama, Davian langsung berjalan menuju sofa ruang tengah dan ia membuka ponselnya yang sejak tadi ia tinggalkan di sana. Sedangkan Lauren, ia membereskan semua barang belanjaannya tadi dan meletakkannya di tempat seharusnya.
“Gue sudah bolak-balik, ke depan, ke belakang. Manusia ini nggak bergerak dari tempatnya. Benar-benar kurang ajar. Nggak ada inisiatif bantuin gue gitu?” gerutu Lauren ketika ia hampir menyelesaikan pekerjaan rumahnya.
“Ren, kalau sudah nggak sibuk, tolong bikinkan saya kopi, ya,” pinta Davian sembari tetap fokus dengan ponselnya.
“Bisa-bisanya masih suruh gue,” gerutu Lauren.
“Ren, apa kamu dengar apa yang saya katakan tadi?” tanya Davian.
“Dengar!” sahut Lauren ketus.
“Gulanya jangan terlalu banyak, ya,” pinta Davian.
“Banyak maunya,” kesal Lauren.
Namun, meskipun begitu, Lauren tetap mau membuatkan kopi untuk suaminya itu.
“Ngedumel apa kamu tadi?” tanya Davian ketika Lauren meletakkan secangkir kopi panas di atas meja hadapannya.
Lauren menggeleng, kemudian berkata, “Salah dengar kali.”
Setelah mengatakan itu, Lauren pun naik ke lantai 2 – menuju kamarnya.
“Kayaknya tadi salah banget gue bilang mau ikut ke kantor besok” ucap Lauren ketika melihat barang-barang yang ia bawa dari rumah orangtuanya masih belum ditata. Bahkan semua bajunya masih berada di dalam koper.
Lauren berpikir sejenak, di mana ia akan menata barang-barangnya itu. Terlebih lagi, semalam ia bisa mengingat dengan jelas, kalau Davian memberikannya pilihan. Apa ingin tidur sekamar dengannya atau berpisah kamar saja.
Seketika itu juga, Lauren langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Ia sudah cukup pusing dan terlalu lelah dengan segala hal yang ia kerjakan tadi.
“Kenapa hal begini aja bikin hamba-Mu ini pusing, ya Tuhan,” keluh Lauren sembari menutup wajahnya dengan bantal yang ada di sana.
Hingga hampir setengah jam lamanya untuk Lauren berpikir. Akhirnya, ia memilih untuk tetap berada di kamar itu. Lauren berpikir kalau dirinya bisa semakin dekat dengan Davian jika tidur satu kamar.
Lauren pun mulai membereskan barangnya. Diawali dengan, ia menarik 3 buah kopernya ke dalam closet room yang ada di kamar itu.
“Luas juga tempat ini,” ucap Lauren seraya membuka pintu-pintu lemari yang ada di sana.
“Ren, kamu di dalam?” tanya Davian yang baru saja masuk ke kamar.
“Iyaaa,” sahut Lauren dari dalam closet room.
Davian pun masuk ke dalam sana, lalu ia duduk di kursi yang ada di sana sembari menatapi Lauren yang sedang meletakkan baju-bajunya ke dalam lemari.
“Ngapain sih?” kesal Lauren ketika melihat Davian hanya duduk diam menatapnya tanpa membantunya.
“Saya hanya mau memastikan kalau kamu tidak mengutak-atik pakaian milik saya,” ucap Davian.
“Suruh siapa punya rumah nggak bilang-bilang,” kesal Lauren sembari melanjutkan aktivitasnya.
“Saya rasa, hari ini kamu terlalu banyak ngomelnya,” tegur Davian.
Lauren pun kembali menghentikan aktivitasnya. Kemudian, ia berdiri di hadapan Davian dengan bertolak pinggang. “Jelas aja aku marah-marah. Coba kalau kamu bilang sebelum hari pernikahan, aku pasti akan datang ke sini untuk membereskan barangku dan semua barang untuk keperluan di rumah ini. Nyatanya apa? Siapa juga yang repot? Dari tadi, kamu ada bantuin aku nggak?”
Kekesalan Lauren benar-benar meluap saat itu juga. Bahkan, setelah ia meluapkan amarahnya itu, ia langsung keluar dari kamar.
Meskipun Davian sudah menahannya, namun ia berhasil menepisnya.
“Ren...makanya saya nggak bolehkan kamu untuk ke kampus besok, ‘kan? Maksud saya, supaya kamu bisa membereskan barangmu besok-besok saja. Tidak harus selesai hari ini,” ucap Davian yang berjalan mengikuti Lauren.
“Jangan ikutin aku, Dav!” ucap Lauren dengan emosinya yang benar-benar sudah memuncak.
“Nggak bisa. Saya harus ikutin kamu,” sahut Davian.
"Dav!" bentak Lauren.
Lauren yang menghentikan langkahnya, lalu menghadapkan tubuhnya ke hadapan Davian. Saat itu juga, Davian melipat tangannya di depan d**a.
"Nggak bisa ya berpikir dewasa? Sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit salahkan orang. Emosi boleh, Ren. Tapi, harus kamu kontrol juga," tegur Davian.
Lauren yang tadinya menatap Davian dengan berani, kini ia langsung mengalihkan pandangannya itu. Gadis itu juga berusaha mengatur napasnya.
Melihat mata Lauren yang memerah, Davian pun langsung menarik gadis itu ke pelukannya. Lalu, Davian berkata, "Saya tahu kamu capek, makanya bersikap begini."
Pelukan itu seperti sebuah palu yang memukul kaca, hingga membuat kaca itu jatuh berserakan. Ya...Lauren menangis di pelukan Davian.
Selang beberapa menit, tangisan Lauren berhenti. Suasana pun juga menjadi tenang. Lauren bergegas masuk ke dalam kamar kembali, lalu ia masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam sana.
"Pantasan hari ini emosi gue kayak petasan," ucap Lauren dengan pelan ketika ia melihat ada noda darah di dalamannya. "Kayaknya, dari sekian banyak barang yang gue bawa semalam, gue nggak bawa pembalut. Akh! Untung tadi gue beli."