Davian kalah dalam perdebatan malam itu. Sebab, ia tak tega melihat Lauren yang kelelahan sampai daya tubuhnya menurun.
Bahkan, Davian yang sebelumnya sudah menyiapkan kamar terpisah untuknya dan untuk Lauren, akhirnya ia memutuskan untuk tinggal satu kamar dengan gadis itu.
“Pas di hotel aja, kamu suruh aku jauh-jauh tidurnya,” ucap Lauren kepada Davian yang menempelkan handuk dingin di keningnya.
“Kalau kamu meninggal dalam waktu dekat, saya juga yang akan repot,” sahut Davian.
“Orang lagi sakit, bukannya dihibur, malah didoakan meninggal,” ucap Lauren. Kemudian, ia melepaskan handuk basah itu dari keningnya kemudian memiringkan tubuhnya untuk memunggungi Davian.
“Kalau badan kamu masih nggak enak besok, jangan salahkan saya,” ucap Davian. Lalu, ia pergi keluar dari kamar itu.
Ketika mendengar pintu telah ditutup kembali, Lauren langsung mengeluarkan isi hatinya saat itu juga. “Laki-laki macam apa coba? Habis doakan orang meninggal, terus ditinggal gitu aja,” ucapnya sembari menyeka air matanya yang tiba-tiba berhasil lolos dari kelopak matanya.
“Kenapa harus nangis sih?!” kesal Lauren pada dirinya sendiri.
Namun, hanya berselang 15 menit, pintu kamar itu terdengar kembali dibuka. Membuat Lauren langsung menutup seluruh wajahnya dengan selimut yang tadinya hanya menutupi tubuhnya saja.
“Kamu nggak lapar, Ren?” tanya Davian. “Tadi siang belum makan, sampai sekarang juga, ‘kan?” sambungnya.
Rupanya, Davian keluar dari kamar tadi untuk mengambil makanan yang ia pesan melalui ojek berbasis daring.
“Nanti kamarnya bau kalau makan di sini!” bentak Lauren ketika aroma makanan yang dibawa Davian sudah menusuk sampai ke hidungnya.
“Kamu suka udang, ‘kan? Mau saya habiskan sendirian udang-udang ini?” goda Davian.
Pada akhirnya, rasa lapar itu mengalahkan ego Lauren. Ia membuka selimut yang menutupi wajahnya tadi, dan dengan raut wajah yang masih kesal, ia menatap Davian yang sedang duduk di ujung ranjang dengan memegang sepiring udang asam-manis kesukaannya.
“Mau saya suapin?” tanya Davian.
Lauren pun duduk, dan ia makan disuapi oleh Davian.
“Saya tahu, usia kamu memang belum menginjak 22 tahun. Tapi, bukan berarti kamu bisa bersikap kekanak-kanakan terus, ‘kan?” tegur Davian sembari terus menyuapi Lauren. “Mogok makan bukan solusinya, Ren. Kamu juga harus bertahan hidup walaupun bagi kamu itu sulit,” sambungnya.
“Kalau tahu sifatku kekanak-kanakan, kenapa tetap mau menikahi aku?” tanya Lauren.
“Perlukah saya beberkan lagi alasannya?” tanya Davian.
Lauren langsung menggeleng, ia tak mau mendengarkan kata-kata yang menyakiti hatinya lagi sekarang.
***
Meskipun memiliki sedikit dendam terhadap Davian. Lauren tetap memenuhi kewajibannya sebagai ibu rumah tangga. Seperti pagi ini, ia yang baru saja bangun tidur dan melihat Davian masih tertidur pulas di sampingnya, ia perlahan turun dari ranjang dan berjalan menuju dapur.
“Mau masak apaan kalau di sini kosong?” gerutu Lauren ketika melihat tidak ada satupun bahan masakan di dapur. Jangankan bahan untuk memasak, garam pun tidak ada di sana.
Lauren yang tidak nyaman dengan suasana di dapur itu, ia pun perlahan masuk kembali ke dalam kamar untuk mandi dan bersiap membeli bahan-bahan untuk di dapur sekaligus untuk di rumah itu.
Namun, baru saja Lauren mengambil kunci mobil milik Davian, ia dikejutkan dengan suara Davian yang memanggil namanya.
“Bikin kaget aja tau nggak?!” kesal Lauren.
“Lagian, kamu kenapa mengendap kayak maling?” sahut Davian.
“Aku takut ganggu tidur kamu, makanya pelan-pelan,” sahut Lauren.
“Mau ke mana?” tanya Davian sembari menatap kunci mobilnya yang sudah ada di tangan Lauren.
“Mau belanja buat keperluan rumah,” jawab Lauren apa adanya.
Davian melambaikan tangannya – isyarat agar Lauren mendekatinya. Lauren yang tentunya paham, ia pun mendekati Davian.
Davian pun menarik tangan Lauren agar gadis itu sedikit menunduk supanya dirinya bisa menyentuh kening istrinya itu.
“Sudah mendingan kah?” tanya Davian.
“Sudah, kok,” jawab Lauren. Lalu ia mundur sedikit supaya tidak terlalu dekat dengan Davian.
“Tunggu sebentar, biar saya temani kamu belanja,” ucap Davian. Kemudian ia berjalan menuju kamar mandi.
“Kalau capek, biar aku saja.Aku bisa kok,” ucap Lauren.
“Tunggu sebentar saya bilang!” bentak Davian.
Lauren sudah tak bisa membantah lagi. Ia juga tidak ingin membuat suasana pagi ini menjadi rusuh.
***
“Kamu punya mantan nggak sih, Dav?” tanya Lauren sembari memilih barang-barang yang harus dibeli.
“Kenapa tiba-tiba tanya hal itu?” tanya Davian.
“Siapa tahu ketemu di sini,” sahut Lauren.
“Kamu pernah dengar rumor tentang saya tidak?” tanya Davian lagi.
“Pernah,” jawab Lauren. “Tapi, kamu lama sendiri bukan berarti kamu nggak pernah dekat sama cewek, ‘kan?” tanyanya.
“Kamu tahu apa saja tentang saya?” tanya Davian.
“Aku tahu kamu punya banyak teman cewek yang cantik-cantik dan seksi-seksi,” sahut Lauren. “Aku rasa, karena itulah kamu menyendiri. Bukan karena kamu nggak suka cewek, tapi, karena kamu susah menentukan, mana yang mau kamu jadikan pasangan,” sambungnya.
Davian menghela napasnya dengan panjang, ia melontarkan tatapan malasnya kepada Lauren yang berjalan di depan troli yang ia dorong.
“Kenapa diam?” tanya Lauren.
Namun, sepersekian detik kemudian, Lauren beraduh ria karena troli yang didorong Davian menabrak kakinya. Sebab, Lauren juga mendadak menghentikan langkahnya.
“Salah sendiri, kenapa mendadak stop jalannya,” ucap Davian.
“Orang kesakitan, malah diomelin,” sungut Lauren sembari mengusap-usap kakinya yang sakit.
“Sakit banget, Ren?” tanya Davian.
“Nggak kok,” jawab Lauren dengan santai. Kemudian, ia kembali melanjutkan langkah kakinya.
“Saya lempar pakai kaleng minuman juga kamu, Ren,” kesal Davian.
Namun, karena Davian berbicara pelan, Lauren tidak mendengar itu.
***
Setibanya di rumah, Davian juga membantu Lauren untuk membawa belanjaannya dari dalam bagasi mobil ke dalam rumah.
"Letak di mana, Ren?" tanya Davian.
"Taruh di dapur aja," jawab Lauren yang juga membawa belanjaannya. "Aku siapkan makanan ini dulu, ya. Takutnya dingin nanti,
" ujarnya.
Davian mengangguk, kemudian ia berkata, "Biar saya yang keluarkan barang-barangnya."
"Nggak apa-apa kamu sendirian?" tanya Lauren. "Masih banyak kan di bagasi tadi?" tanyanya lagi.
"Nggak apa-apa. Sudah tugas laki-laki untuk angkat-angkat barang," sahut Davian.
Lauren pun tersenyum senang. Meskipun kadang ucapan Davian bisa dibilang menusuk ke hatinya. Namun terkadang, Davian bisa juga perduli padanya.