-Serba Salah-

1052 Words
Lauren benar-benar puas dengan tidurnya. Sekalipun ia melewatkan sarapannya. Sebab, gadis itu baru bangun dari tidurnya ketika jarum jam menunjukkan pukul 2 siang. Gadis itu duduk sebentar di atas ranjang, kemudian ia mengedarkan pandangannya. Menatapi seisi kamar yang sepertinya hanya ia yang berada di sana saat itu. Terlebih lagi, seperti tidak ada aktivitas di kamar mandi. Suara pintu utama dibuka membuat arah pandangan Lauren langsung terarah ke sana. Ia bisa menebak, siapa yang masuk. “Habis dari mana?” tanya Lauren kepada seorang lelaki yang baru saja masuk ke dalam kamar itu. Ia tidak lain adalah Davian. “Kamu tidak perlu tahu,” sahut Davian dengan ketus. Lauren hanya bisa mendecak kesal, kemudian ia bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. “Mau saya pesankan makan siang apa?” tanya Davian sembari menatap Lauren yang sedang berjalan itu. “Apa aja,” jawab Lauren sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan rapat. Davian pun langsung mengambil buku menu yang ada di kamar mereka itu. Kemudian, setelah melihat buku menu itu, ia pun menggunakan telfon kamar untuk memesan makan siang. Berselang 15 menit setelah Lauren masuk ke kamar mandi tadi. Ia pun keluar dari sana dan langsung meraih ponselnya yang ada di atas nakas samping tempat tidur. “Kamu ya yang charger HP aku semalam?” tanya Lauren ketika melihat daya baterainya sudah penuh terisi. Davian hanya mengangguk, itu pun dengan samar saja. “Apa susahnya bilang ‘iya’ gitu,” sungut Lauren. “Kita check-out jam 4 sore,” ucap Davian mengalihkan pembicaraan. “Kita ke mana? Rumah orangtuaku atau orangtuamu?” tanya Lauren. “Rumah kita,” jawab Davian. “Kita?” tanya Lauren keheranan. Davian yang tadinya sibuk dengan Ipad-nya, kini ia pun mengalihkan pandangannya ke arah Lauren yang masih duduk di sisi ranjang. “Kamu nggak tahu kalau saya sudah siapkan rumah untuk kita?” tanyanya. Lauren menggeleng. Sebab, ia memang tidah tahu-menahu soal rumah yang rupanya telah disiapkan Davian sebelumnya. “Intinya, sekarang kamu sudah tahu akan hal itu,” ucap Davian. Kemudian, ia kembali fokus ke ipad miliknya itu. “Kalau kita ke sana, barang-barangku bagaimana?” tanya Lauren lagi. “Kamu atur saja sendiri,” sahut Davian dengan santai. “Kalau begitu, kamu kasih aku alamat rumahnya, nanti aku ke sana dengan bawa barangku,” ucap Lauren. Tatapan tajam pun Davian layangkan kepada gadis yang sudah berstatus sebagai istrinya itu. “Kenapa lagi?” tanya Lauren. “Kamu pikirlah, Ren. Kalau kamu pulang sendiri dan kemas barangmu sendirian. Apa kata orangtuamu nanti?!” kesal Davian. Lauren pun memanyunkan bibirnya. Ia tidak menyangka jika saat ini, ia berada dikeadaan serba salah. Hingga makan siangnya pun diantar oleh salah seorang pegawai hotel tempat mereka menginap itu. Rupanya, Davian pun belum makan siang hingga makanan yang datang adalah porsi untuk 2 orang. Davian pun makan dengan santai sembari tetap fokus dengan ipad-nya, alias, ia sedang mengerjakan pekerjaan kantornya. Sedangkan Lauren, ia hanya mengaduk-aduk makanannya saja. Karena, mood-nya sudah rusak dibuat Davian tadi. Davian menyadari akan hal itu ketika ia hampir menghabiskan setengah makanannya. Ia pun menatap Lauren dengan menaikkan alis sebelah kanannya. “Kenapa, Ren? Nggak suka dengan menunya?” tanyanya. Namun, Lauren seperti tidak mendengar ucapan Davian hingga ia masih mengaduk-aduk makanannya itu. “Ren!” panggil Davian dengan sedikit bentakan. Lauren pun langsung menaikkan pandangannya, menatap Davian yang duduk di seberangnya itu. “Kenapa?” tanyanya. “Tadi saya tanya kamu, apa kamu tidak dengar?” tanya Davian. “Tanya apa?” tanya Lauren kembali. Davian pun menghela napasnya dengan panjang sebelum melontarkan pertanyaan yang tadi. “Bukan nggak suka. Tapi, tiba-tiba aja aku nggak selera makan,” sahut Lauren. “Mau ganti menu?” tanya Davian lagi. Lauren menggeleng, kemudian berkata, “Yang ada, aku buang-buang makanan nanti.” Suara Lauren yang terdengar lesu membuat Davian bertanya-tanya, tentang apa yang terjadi pada gadis di hadapannya itu. Namun, tingkat gengsi Davian mengalahkan segalanya. Hingga akhirnya, Davian membiarkan Lauren tidak memakan makanannya itu. *** “Kamu bawa apa aja sih, Ren? Sampai sebanyak ini?” heran Davian ketika membantu Lauren membawa barang-barang gadis itu ke dalam mobil. “Cuman baju dan perlengkapan kuliah, kok,” jawab Lauren apa adanya. “Kalau kebanyakan, tinggal aja. Sekalian akunya yang ditinggal di sini,” ucapnya. “Masa begitu ngomongnya?” tegur Mamanya Lauren. “Lagian. Coba kalau bilang dari kemarin. Kan aku bisa bawa barangku sedikit demi sedikit,” sahut Lauren membela diri. “Kalau suka nyahut begini, tegur ada, Dav,” ucap Papanya Lauren kepada Davian. “Iya, Pi,” sahut Davian. *** Lauren dan Davian sampai di rumah mereka ketika langit sudah gelap. Bahkan, saking tidak inginnya akrab dengan Lauren, Davian membiarkan Lauren mengeluarkan barang-barangnya dari bagasi mobil. “Bantuin kek!” teriak Lauren ketika melihat Davian berjalan meninggalkannya. “Barang kamu, urus sendiri!” sahut Davian sembari terus berjalan menuju pintu utama. “Tapi, aku nggak tahu kamarnya di mana,” ucap Lauren. Davian pun menghentikan langkahnya dan mengisyaratkan kepada Lauren untuk mendekatinya. Lauren yang paham, ia pun berjalan menghampiri Davian. “Apa?” tanyanya. “Sebelum kamu keluarkan barangmu itu, biar saya tunjukkan ruangan-ruangannya,” ucap Davian. Lauren mengangguk saja. Ia tak mau menguras tenaganya untuk berdebat dengan lelaki itu sekarang. “Sebelum ke atas, saya beri kamu pilihan. Mau satu kamar dengan saya atau pisah kamar saja?” tanya Davian. Lauren terdiam sejenak. Ini benar-benar diluar dugaannya. Sebegitunya Davian bersikap terhadapnya. “Terserah kamu, Dav. Aku malas pilih-pilih,” sahut Lauren. Kini, Davian baru menyadari, bahwa suara Lauren semakin melemah. Ia pun menatap wajah Lauren yang nampak pucat itu. Lalu, tangan Davian terangkat naik untuk menyentuh kening Lauren. Benar saja, suhu tubuh gadis itu ada di atas suhu tubuh normal. “Ngapain sih?” kesal Lauren sembari menepis tangan Davian. "Kamu sakit, Ren?" tanya Davian yang nampak sedikit khawatir. "Palingan cuman kecapean, Dav. Dari kemarin 'kan banyak yang diurusin," jawab Lauren. "Ayok naik. Biar aku bisa bawa barangku ke kamarku," ujarnya. Davian menggelengkan kepalanya, kemudian ia menarik tangan Lauren dengan lembut menuju salah satu kamar yang ada di lantai 2 rumah itu. Sesampainya di kamar, Davian menyuruh Lauren untuk langsung istirahat. "Barangku masih di mobil, Dav," ucap Lauren sembari menatap Davian dengan tatapan lesu. "Biar saya yang urus itu. Kamu istirahat saja," sahut Davian sebelum meninggalkan kamar itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD