-D-Day-

1018 Words
Hari demi hari pun berlalu. Hingga tepat 2 bulan berlalu sejak awal perjumpaan Davian dan Lauren. Hari ini, keduanya akan mengikrarkan janji suci, sumpah untuk bersama seumur hidup. Lantunan musik memenuhi ballroom sebuah hotel bintang 5 yang dijadikan kedua mempelai sebagai tempat untuk pemberkatan sekaligus resepsi. Tepat pada pukul 8 pagi di hari Minggu, Davian dan Lauren sudah berdiri berhadapan, dengan pakaian mereka yang serba putih itu. Keduanya saling berpegangan tangan di hadapan seorang pemuka agama. Kemudian, pengikraran janji suci pun dimulai, dan didahului oleh Davian. Suasana di sana nampak begitu khidmat. Bahkan, tamu undangan untuk menghadiri pemberkatan hanyalah keluarga dan orang-orang terdekat dari kedua belah pihak saja. Seusai pengikraran janji suci dan bertukar cincin, Lauren dan Davian bisa tersenyum lega sembari menatap semua orang yang hadir di sana. Seusai acara pemberkatan, dilanjutkan dengan acara resepsi. Davian bisa mengundang semua koleganya. Berbeda dengan Lauren yang hanya mengundang teman satu kelasnya dan dosennya saja. Bisa dipastikan kalau tamu undangan Davian lah yang paling banyak. “Teman kamu yang cewek, cantik semua, Dav. Heran aku, kenapa kamu menjomblo se-lama itu,” bisik Lauren. “Saya tidak memandang seseorang dari fisiknya,” sahut Davian. “Lalu, dari apanya?” tanya Lauren. “Dari pola pikir dan tingkat kedewasaannya,” jawab Davian. “Tapi, sialnya saya malah dijodohkan dengan bocah sepertimu,” sungutnya. Seketika itu juga, Lauren menatap tajam ke arah Davian. “Tidak terima saya bilang bocah?” tanya Davian menantang. “Kalau aku bocah, berarti aku harus sopan dengan kamu, yang lebih tua dari aku,” ucap Lauren. Ide usil pun muncul di benak gadis itu, bahkan seringainya mampu membuat Davian, ide apa yang ada di kepala Lauren. “Tiba-tiba, saya merinding lihat kamu senyum begitu,” ucap Davian. “Aku ada ide,” ucap Lauren. “Supaya aku terlihat menghargai kamu, sebagai orang yang lebih tua dari aku. Maka, akan aku panggil kamu ‘Om Davian’,” ujarnya. Seketika itu juga, Davian langsung memelototi Lauren. Bahkan, mata lelaki itu sudah seperti hendak keluar dari tempatnya. “Jangan aneh-aneh kamu,” ucapnya. “Ya...kamu harus terima risikonya. Kamu yang katain aku bocah, kok,” sahut Lauren.”Lihat saja, kalau kamu panggil aku dengan sebutan ‘bocah’ lagi. Maka, akan aku panggil kamu dengan sebutan ‘om’,” ancamnya sembari menyipitkan mata. *** Matahari baru terbenam dan Lauren baru saja berganti pakaian untuk ketiga kalinya. Namun, gadis itu sudah mengeluh kelelahan. “Mi...kaki aku sudah mati rasa ini,” keluh Lauren sembari memeluk Mamanya itu dengan manja. “Sabar ya, Sayang. Kamu akan libur kuliah selama seminggu, kok. Jadi, bisa kamu gunakan untuk istirahat,” sahut Mamanya Lauren. Lauren hanya bisa menekuk wajahnya saja. Namun, ketika ada tamu yang menghampirinya untuk bersalaman, ia kembali tersenyum untuk menghargai tamunya itu. “Si Davian malah asik-asik aja ngobrol sama teman-temannya. Nggak lihat apa kalau gue sudah hampir pingsan di sini,” Lauren membatin. Dari jarak sedikit jauh dari tempat Lauren berada, Naira dan Albert malah masih asik menikmati hidangan yang ada di sana. “Lihat kawan kita itu. Kayaknya sudah rindu peluk guling,” ucap Albert. “Kebiasaannya ‘kan jam segini sudah ngegoler aja di kasur dia,” sahut Naira. “Hampiri, yuk!” ajak Albert. Naira dan Albert pun berjalan menghampiri Lauren. Mereka tentu saja memberikan semangat untuk Lauren supaya kuat sampai akhir acara nanti. “Boleh nggak sih kalau gue duluan ke kamar aja?” tanya Lauren dengan raut wajahnya yang nampak memelas. “Capek banget rasanya,” keluhnya. *** Meskipun sudah mengeluh sejak beberapa jam yang lalu, Lauren akhirnya bisa berada di acara itu hingga selesai. Tepat pada pukul 12.30 malam. Lauren duduk sebentar di salah satu kursi yang ada di ballroom itu untuk meminum air putihnya. “Bisa jalan nggak?” tanya Davian yang sudah berdiri di hadapannya. Lauren mendongak sedikit untuk menatap wajah Davian. “Bisa kok,” jawabnya dengan ketus. “Kalau kakinya sakit, biar Davian gendong aja ke kamar, Sayang,” ucap Mamanya Davian kepada Lauren. “Nggak kok, Ma. Aku bisa,” sahut Lauren. Kedua orangtua Lauren dan Davian kembali ke rumah mereka masing-masing. Sedangkan Lauren dan Davian akan tinggal di hotel itu karena Papanya Davian sudah memesankan satu kamar untuk mereka beristirahat malam ini. “Naik ke atas sana, Sayang,” ucap Mamanya Lauren. “Mami sama Papi pulang duluan,” pamitnya. Lauren mengangguk, kemudian ia menyalami kedua orangtuanya itu dan juga orangtuanya Davian. Setelah berpamitan dan melepas kepergian kedua orangtua mereka, Lauren dan Davian pun berjalan menuju lift yang akan mengantar mereka ke lantai di mana kamar mereka berada. “Pokoknya, besok jangan bangunin aku ataupun gangguin aku,” ucap Lauren, ,memberi peringatan kepada Davian. Sebab, Lauren tahu bahwa ia dan Davian akan tidur sekamar malam ini. “Ngapain juga saya bangunin kamu,” sahut Davian dengan nada pelan. “Kalau bisa, saya tidak satu kasur dengan kamu,” sambungnya. “Kalau maunya begitu, tidur aja di lantai,” sahut Lauren dengan ketus. Bertepatan dengan sahutan Lauren itu, pintu lift terbuka. Namun, Davian tidak langsung melangkah dan membiarkan Lauren berjalan lebih dulu. Merasa bahwa Davian tidak mengikutinya, Lauren pun menoleh ke belakang. “Kenapa masih di situ?!” kesalnya. Lauren kesal karena kartu akses berada di tangan Davian. “Ayolah, Dav. Aku sudah capek banget ini,” rengek Lauren ketika Davian diam tanpa menyahuti perkataannya. Melihat raut wajah Lauren yang semakin memelas itu, barulah Davian melangkah mendekati istrinya itu. “Makanya, jangan sok-sokan kalau dengan saya,” ucap Davian. Setibanya di kamar, Lauren langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur dan memejamkan matanya. "Nggak mandi dulu, Ren?" tanya Davian. "Minimal ganti baju juga," tegurnya sembari melepaskan sepatu hak yang dikenakan Lauren. "5 menit aja aku berbaring sebentar. Setelah itu, baru aku mandi," sahut Lauren. "Nanti ketiduran kamu," sahut Davian. "Mau saya bantu ke kamar mandi?" tanyanya. Seketika itu juga, Lauren langsung duduk dan berjalan ke kamar mandi, tanpa menyahuti tawaran yang diberikan oleh Davian tadi. Ketika sudah di kamar mandi, Lauren baru menyadari kalau sepatu haknya sudah tidak melekat di kakinya lagi, padahal ia ingat betul kalau ia belum melepaskannya. Jelas sudah kalau Lauren sampai tidak sadar kalau Davian-lah yang melepaskannya tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD