-Persiapan-

1003 Words
Di tengah hiruk-pikuknya kafe dimalam sabtu ini, Lauren duduk sendirian di kursi dekat jendela kaca. Ia sedang sibuk memikirkan tentang undangan pernikahannya dengan Davian yang harinya sudah semakin dekat. Tepukan lembut dibahunya, membuat Lauren sadar dari lamunannya dan menatap ke sampingnya. Rupanya, itu adalah Davian. Lauren sendirian sedari tadi karena ia menunggu lelaki itu. “Cowok kok ngaret,” gerutu Lauren. “Sudah berapa lama di sini?” tanya Davian sesaat setelah ia duduk di kursi yang ada tepat di hadapan Lauren. “Nggak lama sih. Tapi, sempat hampir lumutan,” sahut Lauren. “Saya serius bertanya, wahai Nona Lauren yang terhormat,” ucap Davian dengan kesal. “Hampir setengah jam aku di sini,” sahut Lauren. “Lagian, kamu ke mana dulu sih? Janjiannya jam berapa, datangnya jam berapa,” ujarnya dengan nada kesal. “Kan tadi saya sudah bilang kalau sepertinya saya akan datang terlambat,” sahut Davian. “Untung aja aku nunggunya di sini, bukan di butik,” ucap Lauren. Ucapan itu, sontak membuat Davian mengernyit heran. Ia pun bertanya, “Memangnya kenapa kalau kamu menunggu di butik?” “Kalau aku menunggu di sana, pasti mereka tanyai aku banyak hal, dan aku malas dengan itu,” jawab Lauren. Bisa dipungkiri jika Lauren akan dicecari banyak pertanyaan oleh orang butik yang akan mereka datangi. Sebab, pemiliknya adalah teman baik orangtuanya. “Ayok, kita ke sana sekarang,” ajak Davian. Lauren mengangguk, kemudian ia membereskan mejanya dan memastikan kalau tidak ada barangnya yang tertinggal di sana. “Aku ke kasir dulu sebentar,” ucap Lauren. Ketika Lauren mengambil langkah untuk menuju meja kasir, tangannya ditahan oleh Davian. “Apa?” tanya Lauren. “Tunggu sebentar,” sahut Davian. Davian pun mengeluarkan dompetnya dan memberikan satu kartu berwarna hitam dari dalam sana dan memberikannya kepada Lauren. “Bayar pakai ini saja. Akan saya kirim pin-nya,” ujarnya. Lauren tidak bisa menolak kartu itu, karena Davian meletakkannya di telapak tangan Lauren. Setelah selesai membayar, Lauren pun menghampiri Davian yang sudah menunggunya di depan kafe. Ia mengembalikan kartu yang diberikan oleh Davian tadi. “Simpan saja, dan gunakan seperlunya. Jangan boros,” ucap Davian. “Papi kasih aku jatah bulanan kok. Kamu jangan khawatir,” ucap Lauren. “Simpan saja. Nggak baik kalau menolak pemberian orang,” sahut Davian. Kemudian, Davian berjalan terlebih dahulu menuju butik yang berada tepat di samping kafe tadi. Kedua manik Lauren tak bisa lepas dari jejeran gaun putih yang tergantung di butik itu. Model dan motif yang berbeda-beda membuat dirinya semakin bingung menentukan pilihan. Hingga seorang wanita paruh baya keluar dari salah satu ruangan yang ada di sana. Ia tersenyum tipis ke arah Lauren sembari melangkah mendekati gadis itu. Lauren yang menyadarinya, ia pun juga balik menatap wanita itu dengan senyuman. Kemudian, Lauren menyalaminya. “Apa kabar, Tante?” tanyanya. “Baik, Ren,” sahut wanita itu. “Lama nggak jumpa sama kamu, sekalinya jumpa, sudah mau menikah saja,” ujarnya. Lauren hanya tertawa pelan saja. Kemudian, ia menarik Davian untuk berkenalan juga. Setelah berbincang ringan, wanita paruh baya itu membawa Lauren dan Davian ke ruangan yang sudah ia siapkan. Di dalam ruangan itu, sudah ada 6 gaun dan 6 setelan jas dengan warna yang berbeda. “Mami bilang, Tante Hana sudah siapkan yang terbaik,” bisik Lauren kepada Davian. “Lalu, kita ke sini untuk apa?” tanya Davian dengan berbisik juga. Seketika itu, Lauren menatap kesal ke arah Davian. “Kayaknya, otak kamu nggak sampai mikirnya. Kapasitasnya hanya untuk pekerjaan kantor saja, ‘kan?” ucapnya. Davian mendecak kesal. “Mami suruh kita ke sini untuk memastikan, apakah kita suka dan cocok dengan modelnya atau tidak,” jelas Lauren. Lauren mencoba satu persatu gaun yang ada di ruangan itu. Hingga, Lauren kembali dibuat bingung memilihnya. “Gimana, Dav?” tanya Lauren. “Terserah kamu. Kamu yang pakai kok,” sahut Davian. “Kalau mau mencoba yang lain, akan Tante suruh anak buah Tante untuk mengambilkan barang lain,” ucap Hana. “Sepertinya yang ini saja, Tan,” sahut Lauren. “Kalau mencoba yang lain lagi, takutnya aku malah semakin bingung,” sambungnya. Pilihan Lauren jatuh pada 2 gaun saja. Ia akan mengenakan gaun pertama untuk pemberkatan dan gaun kedua untuk resepsi. “Aku pilih 2 ini saja, Tante,” ucap Lauren. “Tante siapkan 3, untuk melengkapi serangkaian acara kamu nanti. Tante kasih lihat 6 gaun, supaya kamu bisa memilihnya,” ungkap Hana. “Kenapa sekarang malah hanya 2 gaun yang kamu pilih?” tanyanya. “Kenapa jadi 3?” tanya Lauren heran. “Untuk pemberkatan, resepsi, dan juga untuk pesta di malam harinya,” sahut Hana. “Dav, sepertinya aku nggak akan sanggup kalau acaranya dari pagi sampai malam,” ucap Lauren. “Mau tidak mau harus begitu. Apalagi, kamu tahu sendiri, siapa orangtua kita,” sahut Davian. Lauren menghela napasnya dengan panjang ketika ia sudah berada di luar butik. “Baru dengar rangkaian acaranya saja, sudah capek aku dibuatnya,” keluhnya. “Mau langsung pulang nggak?” tanya Davian. “Memangnya mau ke mana lagi?” tanya Lauren kembali. “Kayaknya, tadi Mami hanya suruh ke sini,” sambungnya. “Mumpung saya baik, makanya saya tanya kamu. Siapa tahu kamu mau ke mana. Untuk isi energi kamu yang sepertinya hampir habis ini,” sahut Davian. Lauren berpikir sejenak, kemudian ia berkata, “Ayok makan ramen!” Seketika itu juga, Davian memutar bola matanya dengan malas. “Kayaknya, di kafe tadi, kamu makan kue. Apa nggak cukup kenyang?” tanyanya. “Kue nggak bikin aku kenyang, Dav,” sahut Lauren. “Ayolah...aku mau ramen,” rengeknya. “Baiklah!” sahut Davian. Kemudian, mereka berdua memasuki mobil yang dibawa oleh Davian, dan mereka pun pergi ke restoran Jepang. Di perjalanan menuju restoran Jepang yang diinginkan oleh Lauren itu, Davian menyetel radio mobilnya. Namun, lantunan musik yang terdengar membuat mulut Lauren gatal untuk mengikuti alunan musiknya. Meskipun pelan, Davian tetap bisa mendengar beberapa bait lagu yang keluar dari mulut Lauren. “Suaranya bagus juga. Nggak bikin telinga gua sakit. Beda hal kalau pas dia ngomel,” Davian membatin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD