-Perkara Sepele-

1081 Words
“Memang nggak ada yang menyamai kamu tingkah lakunya, Ren,” heran Davian setelah ia mendengar Lauren mengungkapkan penyebab kakinya yang sakit itu. “Suruh siapa ngeselin,” gumam Lauren. Lauren hendak meninggalkan meja makan itu. Namun, Davian menahannya. “Apa loh?” tanya Lauren. “Kamu nggak sarapan?” tanya Davian kembali. “Enggak. Aku nggak lapar,” sahut Lauren. Kemudian, ia pergi dari meja makan itu. Tujuan Lauren, bukanlah kembali ke kamarnya. Melainkan, ia pergi ke garasi untuk memanaskan mesin mobil milik suaminya itu. “Enak banget jadi Davian ya... Punya pembantu gratisan kayak gue,” ucap Lauren asal. Sembari memanasi mesin mobil Davian, Lauren memilih untuk duduk santai di kursi yang ada di teras depan rumah mereka. Mulanya, Lauren menikmati ketenangan pagi itu. Namun, itu hanya berlaku sesaat saja. Lamunan Lauren diusik oleh Davian yang baru saja keluar dari rumah mereka. “Jangan lama-lama duduk di luarnya. Apalagi kamu sambil melamun begitu. Takutnya kesambet,” ucap Davian. “Saya pergi dulu,” pamitnya. Belum sempat Lauren menyahut, Davian sudah pergi lebih dahulu. “Gue kunciin rumah sampai besok, tahu rasa lo,” ucap Lauren sembari menatap mobil Davian yang sudah melaju. Tidak lama setelah Davian pergi, Lauren masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu utama rumah itu. Agenda Lauren pagi ini adalah tidur. Sebab, gadis itu merasa kalau jam tidurnya sangat kurang semalam. *** Sore harinya, Lauren selesai membawa barang-barangnya ke kamarnya. Namun, ia belum menata semuanya. Karena, Lauren pikir, itu akan melelahkan jika ia kerjakan dalam satu waktu. Tidak ingin kelelahan hanya karena barang-barangnya yang terlalu banyak, Lauren memilih untuk pergi dari rumah itu dengan menggunakan taksi online. Tujuan gadis itu adalah sebuah kafe yang ia dan sahabatnya janjikan untuk berjumpa. “Nggak kena marah suami lo sore-sore malah ngayap?” tanya Albert ketika Lauren baru saja duduk di hadapannya. “Palingan sudah izin, Al,” sahut Naira yang ada di samping Lauren. “Ini, kalian berdua baru selesai kuliah?” tanya Lauren mengalihkan. Albert dan Naira langsung bertukar pandang – atas pertanyaan yang diluar prediksi mereka itu. “Kenapa? Ada yang salah sama pertanyaan gue tadi?” tanya Lauren lagi. “Beberapa detik yang lalu, pas gue sama Al nanyain elo, kuping lo ke mana, Ren?” tanya Naira. “Kayaknya tadi sedikit kemasukan debu, sampai gue nggak dengar kalau kalian ada tanya,” sahut Lauren dengan santai. “Sabar, Nai. Mungkin ini efek samping jadi istri diusia muda,” ucap Albert. “Seharusnya kalian paham, kalau gue lagi malas omongin rumah tangga gue,” kesal Lauren. “Sikap Davian beneran diluar nurul?” tanya Albert sembari menatap Lauren intens. “Nurul pula lo bawa-bawa,” sahut Lauren. “Nah! beneran panjang umur suami lo, Ren,” timpal Naira ketika matanya tidak sengaja menatap ke arah pintu keluar-masuk kafe itu. Lauren dan Albert pun langsung mengikuti arah pandangan Naira. Benar saja, Davian baru saja masuk ke sana, namun yang ia tuju adalah meja kasir. “Semoga aja manusia itu nggak lihat gue,” gumam Lauren sembari berusaha menutupi wajahnya dengan tas milik Naira. “Sama cewek, njir!” kesal Naira ketika melihat seorang gadis menghampiri Davian dan langsung berbincang santai dengan lelaki itu. “Lo kenal sama cewek itu, Ren?” tanya Albert. Lauren menggeleng, sebab ia benar-benar tidak mengenal siapa perempuan yang sedang bersama Davian itu. “Mau hampiri nggak?” tanya Naira. Lauren bergegas menggeleng, ia tidak mau menambah perkara dengan suaminya itu. Lauren benar-benar harus berusaha keras supaya Davian tidak melihat keberadaannya di sana. Untungnya, ia berhasil. Sampai Davian keluar dari kafe, lelaki itu seperti tidak menyadari keberadaan Lauren. “Sebelum tinggal seatap, bukannya lo bilang kalau sikap Davian itu manis, ya?” tanya Albert serius. “Iya. Sebelum menikah, bagi gue sikap Davian memang manis,” sahut Lauren. “Yang ternyata, itu cuman buat menutupi kepahitan sikapnya,” sambungnya. “Maksudnya?” tanya Naira yang sedikit tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Lauren barusan. “Contoh kecil aja, Nai. Pada saat gue bilang kalau mau pisah kamar sama dia, dia kelihatan senang banget. Karena, sebelum menginjakkan kaki di rumahnya itu, dia memang kasih gue pilihan. Mau sekamar, atau pisah kamar aja,” ungkap Lauren. “Tapi, lo berdua jangan bilang siapa-siapa, ya!” ancamnya. “Masuk akal nggak sih kalau Davian menikahi elo hanya untuk mendapatkan perusahaan Papanya?” tebak Naira. “Masalahnya, yang untung nggak hanya Davian, tapi Papi gue juga,” sahut Lauren. “Di keluarga kalian, itu memang sama-sama untung. Cuman Lauren yang seperti diperalat,” timpal Albert. “Bisa-bisanya lo ngomong begitu,Al!” tegur Naira. “Benar kok. Gue juga merasakannya,” timpal Lauren. “Ren...” “Meskipun begitu, anggap saja gue lagi balas budi sama Papi dan Mami gue karena sudah membesarkan gue,” timpal Lauren lagi. Belum sempat Albert angkat bicara lagi, ponsel milik Lauren berdering, menandakan sebuah panggilan masuk di sana. Lauren pun bergegas memeriksa ponselnya, ia mendapati ada nama Davian di sana. Tanpa berpikir panjang, Lauren pun menerima sambungan telfon itu. “Kenapa?” “Ngayap kamu?!” “Bisa pelan nggak ngomongnya? Ngapain bentak-bentak begitu?” ”Jawab!” “Aku cuman nongkrong sebentar sama temanku. Capek habis pindahin barang dari kamar kamu. Sebelum gelap, aku bakalan pulang kok.” “Mau kamu nggak pulang, saya juga nggak masalah. Masalahnya adalah, kamu nggak bilang dan nggak meninggalkan kunci rumah.” “Aku pulang sekarang juga!” Sambungan telfon itu pun diakhiri oleh Davian. Lauren bergegas beranjak dari tempat duduknya. “Gue duluan, guys. Davian ngamuk nggak bisa masuk ke rumah. Gue lupa, nggak kasih dia kunci cadangan dan ninggalin kunci,” ucap Lauren sebelum ia pergi dari sana. Albert dan Naira pun hanya bisa menatap kepergian Lauren. Hingga punggung Lauren tidak nampak di pelupuk mata mereka lagi. “Lo percaya kalau Davian nggak bawa kunci cadangan?” tanya Albert. “Sedangkan, yang beli rumah itu kan dia,” sambungnya. “Kayaknya, teman kita kena bodohi, Al,” sahut Naira. *** Setibanya di rumah, Lauren mendapati Davian yang sedang duduk di kursi depan rumah mereka. “Maaf, Dav,” sesal Lauren. Kemudian ia membuka kunci pintu rumah itu. Davian tidak berkata sepatah katapun. Ia hanya berjalan masuk melewati Lauren, kemudian berjalan menuju kamarnya. “Marah nggak ya manusia itu?” gumam Lauren. “Seharusnya enggak, ‘kan?” sambungnya. Setelah mengunci kembali pintu utama rumah, Lauren tidak langsung ke kamarnya. Ia menghampiri Davian ke kamar lelaki itu. “Dav...kamu marah?” tanya Lauren dari depan pintu. Hening...tidak ada jawaban dari dalam sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD