-Sebatas Itu-

1023 Words
"Aku akui kalau aku salah, Dav. Seharusnya aku bilang sama kamu sebelum pergi. Supaya aku tahu, kamu pulang jam berapa dan aku harus meninggalkan kunci rumah atau tidak," sesal Lauren. Ucapan penyesalan Lauren tak kunjung mendapatkan jawaban dari dalam sana. Sekalipun Lauren sesekali mengetuk pintu kamar Davian itu. "Kamu dengar nggak sih, Dav?" tanya Lauren lagi. Ketika itu, Lauren menyenderkan tubuhnya pada daun pintu. Ketika pintu itu dibuka oleh Davian dari dalam, gadis itu hampir saja terjatuh. Untungnya, Davian sigap menahannya. "Berisik, tahu?!" ucap Davian dengan penekanan. Lauren bergegas menegakkan tubuhnya kembali. "Aku cuman merasa bersalah sama kamu," sesalnya. "Lebih baik kamu memikirkan, apa yang akan saya makan nanti malam," ucap Davian sebelum dirinya kembali masuk ke kamar dan kembali mengunci pintunya. Lauren hanya bisa menghela napasnya dengan panjang, kemudian ia berjalan dengan lunglai menuju kamarnya. "Nggak bisa gue kalau begini! Merasa bersalaaahhhh!" lenguh Lauren begitu ia sampai di kamarnya. Sesaat kemudian, Lauren terpikirkan satu ide, yang ia pikir itu akan berhasil membuat Davian memaafkannya nanti. *** Sesaat setelah selesai memasak, Lauren langsung menaiki anak tangga menuju kamar Davian untuk memanggil lelaki itu agar makan malam bersama. "Sekarang, Davian. Nanti makanannya dingin," ucap Lauren. Davian yang tadinya ingin menunda makan malamnya sebentar pun, akhirnya membuka pintu kamarnya meskipun dengan sedikit kasar, kemudian ia berjalan melewati Lauren menuju lantai dasar rumah mereka. "Kamu sibuk ya?" tanya Lauren yang berjalan di belakang Davian. "Menurut kamu aja," sahut Davian dengan ketus. "Daripada makanannya dingin, Dav. Nanti nggak enak makannya," ucap Lauren. Davian tidak menyahuti lagi, sampai ia tiba di meja makan. Dirinya langsung menyantap makan malam yang sudah dimasakkan oleh Lauren itu. "Beneran sibuk, ya?" tanya Lauren ditengah keheningan makan malam mereka. "Kenapa?" tanya Davian. "Aku cuman mau minta temani kamu ke toko obat di depan. Tadi, kepalaku tiba-tiba pusing. Kayaknya darah rendah aku kambuh lagi," ungkap Lauren. "Tapi, kalau kamu beneran sibuk, aku pergi sendiri aja," sambungnya. "Selesai makan, saya temani," sahut Davian. Mendengar itu, Lauren pun tersenyum senang. Rencananya untuk membuat suasana menjadi seperti semula pun, mulai berjalan dengan baik. Seusai makan, Lauren langsung membereskan meja makan dan mencuci piring kotor sebelum ia bersiap untuk pergi ke toko obat yang ada di depan komplek perumahan tempatnya tinggal. "Pakai jaket," perintah Davian yang sudah berdiri di depan pintu kamar Lauren. "Malas, Dav. Lagian cuman ke depan aja," sahut Lauren. "Kamu sudah pakai piyama celana pendek, masih nggak mau pakai jaket juga? Atau mau saya saja yang belikan?" tanya Davian beruntun. Lauren pun langsung meraih jaket jeans-nya dan memakainya. "Ayok!" desaknya. "Jangan sampai darah rendahku berubah menjadi darah tinggi," gerutunya. Lauren terdiam sejenak ketika melihat Davian mengeluarkan motor sport miliknya. Sebab, Lauren pikir kalau Davian akan membawa mobilnya untuk pergi. "Kenapa diam aja sih?" kesal Davian. "Naik motor, Dav?" tanya Lauren untuk memastikan. "Makanya saya suruh kamu pakai jaket," sahut Davian. "Biar cepat juga," sambungnya. Lauren pun naik ke motor Davian dengan bantuan suaminya itu juga. "Kurang tinggi jok belakangnya," kesalnya sembari berpegangan pada pundak Davian. "Badan kamu aja yang kurang tinggi," sahut Davian dengan sedikit ledekan. Baru saja keluar dari blok perumahan, Lauren sudah memindahkan tempat berpegangannya, yang semula di pundak Davian, menjadi ke pinggang lelaki itu. "Kalau aku jatuh, kamu harus tanggung jawab," ucap Lauren. "Belum aja saya ajakin keliling Jakarta pakai ini," sahut Davian sembari tersenyum miring. "Asal sama kamu, aku nggak apa, Dav," Lauren membatin. *** "Semalam, lo naik motor sama siapa, Dav?" tanya Yasa yang barus saja memasuki ruang kerja Davian. "Semalam? Lo lewat mana semalam?" tanya Davian kembali. "Gue lewat depan komplek rumah lo," jawab Yasa apa adanya. "Tadinya, gue pikir kalau gue salah lihat. Tapi, pas gue lihat platnya, benar kok kalau itu motor lo," pungkasnya. "Gua antar Lauren ke mini market semalam," jawab Davian. "Kalau gua bilang ke toko obat, panjang nanti urusannya," batinnya. "Bukannya lo bilang..." "Daripada dia ngadu ke bokap," potong Davian. Yasa kini paham, kenapa sahabatnya itu bisa terlihat dekat dengan istrinya. Yang sebelumnya, Yasa tahu kalau Davian tidak begitu suka dengan perjodohan itu. "Kapan kita ngumpul lagi?" tanya Davian mengalihkan pembicaraan. "Lo bisanya kapan?" tanya Yasa kembali. "Gua bebas kok," sahut Davian. "Mau besok malam nggak?" tawar Yasa. "Sekalian malam mingguan di tempat Aura," sambungnya. "Baru semalam gua jumpa sama anak itu. Pas sama-sama mau beli kopi pula," ungkap Davian. "Gue kira, Aura cuman bisa minum wine sama wishky doang," ledek Yasa. "Lo kalau mau ngeledek, di hadapan orangnya langsung lah," sahut Davian. "Jadi gimana? Besok malam?" tanya Yasa sekali lagi untuk memastikan. Davian menganggukkan kepalanya, tanda ia menyetujuinya. Sementara itu... Lauren sedang sibuk di kamarnya bersama dengan laptop dan boneka babi pink kesayangannya. Pikiran Lauren yang semula fokus dengan skripsi yang tengah ia kerjakan, tiba-tiba ter-distract dengan nama Davian yang muncul di kepalanya. "Gue mau fokus dulu sebentar ya!" bentak Lauren pada dirinya sendiri. Namun nyatanya, Lauren tetap tidak bisa, dan pada akhirnya ia memilih untuk menelfon ke nomor suaminya itu. Untungnya, Davian segera menerima sambungan telfonnya. "Apa?" "Kamu masih di kantor?" "Iya." "Jam berapa pulang?" "Jam 5 an." "Boleh titip sesuatu nggak?" "Pesan pakai ojek online aja. Saya banyak kerjaan. Sore pun pasti macet." "Yasudah!" Setelah mengatakan itu, Lauren pun memutuskan sambungan telfonnya dan meletakkan ponselnya ke atas meja dengan kasar. "Walaupun basa-basi mau titip, tapi gue tetap kesal ya!" ucap Lauren. Karena ia benar-benar kesal, Lauren pun mematikan ponselnya dan kembali fokus dengan laptopnya. Tidak sampai 1 jam setelah mematikan ponselnya, Lauren dikagetkan dengan suara mobil yang memasuki pekarangan rumah. Lauren pun langsung mengintip melalui jendela kaca kamarnya yang bisa melihat langsung ke area depan rumah. "Lah? Davian? Beneran Davian?" heran Lauren. Gadis itu pun bergegas menuju lantai dasar. Karena, ia telah mengunci pintu rumah itu. "Apa karena gue matikan HP ya?" gumam Lauren sebelum membuka pintu utama. "Katanya jam 5 baru pulang," ucapnya ketika pintu telah dibuka dan di sana sudah ada Davian. "Dokumen saya ada yang ketinggalan," sahut Davian. Kemudian, ia berjalan melewati Lauren. Lauren pun berjalan di belakang Davian. Bukan karena ia ingin membuntuti lelaki itu. Tetapi, karena kamarnya dan kamar Davian sama-sama berada di lantai 2. "Kenapa HP kamu tiba-tiba nggak aktif?" tanya Davian. Bukannya menjawab, Lauren malah menyelonong masuk ke dalam kamarnya dan menutup kembali pintunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD