-Kecurigaan-

1039 Words
“Mampus! Gue ngambek!” ucap Lauren begitu ia kembali menutup pintu kamarnya. Dengan senyuman miring yang menghiasi wajah cantinya itu. Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi ketukan pintu, Lauren pun langsung membuka pintu kamarnya itu. Ia mendapati Davian sudah berdiri di sana. “Kenapa?” tanya Lauren. “Saya mau balik ke kantor. Kunci lagi pintunya,” ucap Davian. Lauren pun berjalan mengikuti Davian. “Kunci cadangan kamu taruh mana?” tanyanya. “Kenapa nanya kunci cadangan?” tanya Davian kembali. “Supaya kamu bawa. Buat jaga-jaga aja kalau aku nggak ada di rumah atau aku ketiduran nanti,” jawab Lauren. “Kuncinya di kamar saya. Saya malas ambil,” sahut Davian. “Aku ambil, ya. Tunggu sebentar!” ucap Lauren kemudian ia setengah berlari kembali ke lantai 2 untuk mengambil kunci cadangan. “Di laci nakas, Ren!” ucap Davian dengan setengah berteriak. Tidak membutuhkan waktu lama, Lauren kembali ke bawah dan memberikan kunci cadangan itu kepada Davian. “Tapi, kalau kamu ke mana-mana, jangan lupa bilang. Takutnya Papa atau Mama nanyain kamu,” ucap Davian sebelum pergi. “Kenapa harus Papa atau Mama? Kenapa nggak kamu aja yang jadi alasannya?” tanya Lauren sembari menatap mobil Davian yang perlahan menjauh dari pekarangan rumah. Pukul 7 malam. Lauren terbangun ketika mendengar dering ponselnya – yang menandakan sebuah panggilan masuk di sana. Gadis itu, memang menyalakan ponselnya sesaat setelah Davian pergi siang tadi. Tanpa melihat nama siapa yang tertera di sana, Lauren menerima sambungan telfon itu. “Hallo...” “Ren, saya pulang agak lambat, ya?” “Hm.” “Kamu baru bangun tidur?” “Hm.” “Dari kapan tidurnya?” “Nggak tahu.” “Sudah jam berapa ini. Nanti kamu nggak bisa tidur lagi.” “Ini sudah bangun kok. Kira-kira, kamu pulang jam berapa?” “Paling lambat jam 9. Kerjaan saya masih lumayan banyak.” “Ya sudah. Jangan lupa makan malamnya.” Davian tidak menyahut ucapan Lauren, ia memilih untuk langsung memutuskan sambungan telfon itu. Meninggalkan Lauren yang terheran-heran dengan sikap suaminya itu. Meskipun begitu, Lauren tetap merasakan kantuknya, dan pada akhirnya ia melanjutkan tidurnya hingga ia terbangun kembali ketika mentari menelisik masuk melalui celah tirai jendela kamarnya. “Ini kan weekend, nggak mungkin Davian ke kantor,” ucap Lauren pada dirinya sendiri. Lauren pun memutuskan untuk jogging sebelum ia akan memasakkan sarapan untuk Davian. Lauren pun bersiap dan langsung berjalan menuruni anak tangga. Gadis itu terkejut begitu ia sampai di depan rumah, sebab ia melihat Davian sedang memasang sepatu larinya. “Kamu mau jogging juga?” tanya Lauren. “Saya nggak mau bareng kamu,” sahut Davian. Kemudian ia bergegas mengikat tali sepatunya. “IHHH! Mau bareng!” pekik Lauren. “Ren! Jangan seperti anak kecil begitu, apa bisa?!” tanya Davian dengan bentakannya. “Pengin bareng loh,” rengek Lauren. “Kalau lambat, saya tinggalin,” sahut Davian. Kemudian, Davian berjalan lebih dahulu meninggalkan Lauren yang masih memasang sepatunya. Hingga, untungnya Lauren bisa menyusul Davian. Karena, keduanya sama-sama akan jogging di area komplek perumahan saja. “Semalam...kamu pulang jam berapa?” tanya Lauren. “Hampir jam 10 baru sampai rumah,” jawab Davian. “Kenapa semalam nggak nyalakan lampu teras? Sampai saya kira kalau kamu nggak ada di rumah,” ungkapnya. “Setelah kamu nelfon itu, aku lanjut tidur dan baru tadi pagi bangunnya,” ucap Lauren sembari terkekeh pelan. “Jangan bilang kalau tadi malam kamu nggak makan,” ucap Davian. Lauren hanya tertawa pelan dengan ucapan yang terlontar dari mulut suaminya itu. “Awas aja kalau sakit sampai repotin saya. Saya balikin kamu ke rumah Mami,” ancam Davian. “Balikin aja kalau berani!” sahut Lauren dengan sedikit emosi. Lauren pun setengah berlari agar bisa mendahului Davian. Sebab, ancaman Davian tadi benar-benar membuat emosinya naik. Davian hanya bisa mengikuti Lauren dari belakang, hingga akhirnya gadis itu berhenti di depan komplek perumahan. Lebih tepatnya, Lauren menghentikan langkahnya di depan gerobak bubur. “Lucu juga manusia ini,” gumam Davian sebelum menghampiri Lauren. “Jadi ini alasan kamu jogging?” tanya Davian sembari menyilangkan tangannya. “Biar seimbang,” sahut Lauren dengan santai. “Kamu bawa uang lebih?” tanya Davian lagi. Lauren pun memperlihatkan selembar uang pecahan 100 ribu. Melihat itu, Davian pun ikut memesan bubur juga. “Bilang aja mau dibayarin,” gerutu Lauren. “Mau saya kurangin uang jajan kamu?” ancam Davian lagi. “Ampun, Om...” ucap Lauren dengan sedikit ledekan. “Nanti malam saya mau kumpul sama teman-teman saya,” ungkap Davian. “Kamu mau ikut nggak?” tawarnya. Mendengar ajakan itu, seketika Lauren hampir tersedak. “Apa aku nggak salah dengar?” tanyanya. “Enggak. Saya beneran ajak kamu,” sahut Davian. “Pasti teman-teman Davian pada dewasa semua. Mana mungkin aku ikut berkumpul sama mereka. Kalau ikut, pasti disangka bocil nyasar,” Lauren membatin. “Teman saya ada yang perempuan juga kok. Jadi, kamu nggak perlu takut kalau nggak ada teman ngobrol,” ucap Davian lagi. “Kayaknya enggak usah deh. Aku takut nggak bisa berbaur sama teman-teman kamu,” sahut Lauren. “Lebih tepatnya, aku nggak mau bikin kamu malu,” sambungnya. *** Sepulang dari jogging tadi, lauren tidak ada keluar dari kamarnya. Membuat Davian yang sedari tadi duduk di sofa ruang tamu – memikirkan kalimat yang terlontar dari mulut Lauren ketika dirinya mengajak untuk ikut berkumpul bersama teman-temannya. “Seharusnya gua senang, ‘kan? Karena Lauren nggak mau ikut. Ini, kenapa malah bingung?” heran Davian. “Tapi, agak kasian juga sama anak itu. Sudh disuruh izin kuliah selama seminggu, ditambah gua yang jarang temani dia,” sambungnya. Davian pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Lauren. Tok! Tok! Tok! Davian mengetuk pintu kamar Lauren. “Masuk aja, Dav!” ucap Lauren dari dalam sana. Davian pun membuka pintu kamar Lauren. Hal pertama yang ia dapati adalah; Lauren yang sedang menonton drama korea melalui televisi yang ada di kamar gadis itu – dengan camilan di tangannya. “Pantas saja betah di kamar dari tadi,” gumam Davian sebelum ia duduk di ujung ranjang milik Lauren. “Kenapa?” tanya Lauren. "Kamu beneran nggak mau ikut saya?" tanya Davian. "Kenapa Davian kesannya kayak maksa gue buat ikut? Atau...jangan-jangan dia punya niat terselubung?" Lauren membatin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD