TARUHAN 50 JUTA
Gelas wine merah di tanganku bergetar pelan.
Bukan karena aku mabuk. Aku belum nyentuh setetes pun malam ini.
Tapi karena 3 kata yang baru keluar dari mulut Nara.
"Kau kalah taruhan."
Suasana rooftop bar di lantai 45 gedung SCBD mendadak senyap di telingaku. Musik DJ, tawa orang, gemerincing es di gelas... semuanya menghilang.
Yang tersisa cuma suara jantungku yang berdebar terlalu kencang.
"Lelucon macam apa ini?" tanyaku, berusaha ketawa. Tapi suaraku pecah.
Nara nggak ketawa. Dia malah nyender di sofa kulit, nyilangkan kaki, dan nyodorin HP iPhone 15 Pro Max nya ke arahku.
Di layar, muter video 15 detik.
Itu aku. Rambut acak-acakan. Lipstik luntur. Pegang mic karaoke di kantor seminggu lalu pas acara perpisahan bos.
Dan di video itu, dengan suara paling keras sedunia aku berteriak:
"GUE BERANI!!! Gue berani bikin Draven Kiero jatuh cinta sama gue dalam 60 hari!!!"
Dunia runtuh.
Draven Kiero.
Nama itu kayak kutukan.
CEO Kiero Group. Umur 29. Kekayaan 8 triliun. Dingin kayak kulkas. Wajah kayak patung Yunani. Dan gosipnya... dia alergi sama wanita.
Terakhir kali asistennya cerita, ada 20 cewek cantik, pinter, seksi, udah nyoba deketin. Hasilnya? Diusir satpam semua.
"Dan," Nara melanjutkan sambil menyeruput wine nya elegan. "Hukumannya kalau kau gagal ada 2 pilihan."
Aku menelan ludah. "Apa?"
"Pilihan pertama: Bayar gue 50 juta. Tunai. 7 hari setelah hari ke-60."
"Pilihan kedua: Jadi sekretaris pribadi gue selama setahun. Tanpa gaji. 24 jam on call. Termasuk nemenin gue meeting sama klien bule jam 2 pagi."
Aku hampir muntah.
50 juta. Aku bahkan buat bayar kos bulan ini masih nunggak 2 bulan.
Jadi sekretaris Nara? Mending mati. Dia itu queen of toxic.
"Nara, aku mabuk waktu itu. Kau tau aku kalau udah mabuk..."
"Semua orang juga tau kau mabuk," potong Nara cepat. "Tapi videonya udah aku sebar ke grup kantor. Ke grup alumni. Ke grup arisan ibu-ibu komplek. Kau mau tarik omongan?"
Aku diam.
Ini jebakan. Jebakan paling kotor yang pernah Nara bikin. Sejak SMA dia emang hobi bikin taruhan absurd. Tapi ini... ini taruhan paling gila.
"Kenapa harus Draven?" bisikku.
Nara senyum. Senyum yang paling aku benci. Senyum "gue tau rahasia lo".
"Karena seminggu lalu kau juga yang bilang: 'Cowok kayak es batu itu gampang luluh kalau dikejar cewek yang bener-bener tulus'. Ingat?"
Aku ingat. Sial.
Aku menatap lagi video itu. Diriku yang bodoh 7 hari lalu. Sombong. Mabuk. Sok jagoan.
Sekarang aku harus bayar.
"Misinya dimulai kapan?" tanyaku akhirnya. Suaraku pelan, kalah.
"Besok," kata Nara. "Senin jam 8 pagi. Kau resmi jadi karyawan magang di Kiero Group. Divisi Marketing. Meja kau tepat di depan ruangan CEO."
Aku nyaris keselek air liur sendiri. "APA?!"
"Tenang. Aku yang nyogok HRD. 10 juta. Lumayan kan daripada kau bayar 50 juta ke aku nanti." Nara mengedip. "Anggap aja ini investasi."
Investasi neraka.
Aku menatap keluar jendela. Jakarta malam ini terang. Gedung-gedung pencakar langit. Dan diantara semua lampu itu, ada satu gedung paling tinggi. Gedung Kiero. 60 lantai. Kantor Draven Kiero.
60 hari.
60 kali ketemu.
60 kali kesempatan buat bikin pria tanpa hati itu luluh.
Atau 60 hari buat aku jatuh lebih dalam dan hancur.
"Aturannya?" tanyaku pasrah.
Nara mengeluarkan kertas dari tas Chanel nya. Kontrak. Beneran kontrak bermaterai.
"Aturan 1: Dilarang menggunakan kekerasan. Dilarang nyogok. Dilarang memaksa."
"Aturan 2: Harus natural. Harus bikin dia suka sama 'kau yang asli'."
"Aturan 3: Setiap hari kau wajib lapor ke aku. Foto, chat, bukti. Kalau bolos 1 hari, dianggap gagal."
"Aturan 4: Yang paling penting..." Nara menatap mataku tajam. "Dilarang jatuh cinta beneran."
Aku tertawa getir. "Kenapa?"
"Karena Draven Kiero itu kutukan, Ra. Dia bikin semua wanita yang deketin dia jadi gila. Terus dia buang. Kau gak mau kan jadi berita selanjutnya: 'Magang bunuh diri karena ditolak CEO'."
Dingin.
Tapi aku gak punya pilihan.
Aku ambil pulpen. Tangan masih gemetar. Dan menandatangani kontrak itu.
Tinta hitam membekas di atas nama: *Aira Maheswari*.
Selamat datang di neraka, Aira.
---
*Pukul 07.30 Senin pagi. Gedung Kiero Group.*
Aku berdiri di depan gedung kaca setinggi langit. Jantung mau copot.
Kemeja putih yang aku setrika 3x. Rok hitam selut. Heels 5cm yang bikin kaki lecet. Dan map berisi CV yang kemungkinan besar gak dibaca siapa-siapa.
"Semangat ya Mbak," kata satpam. "Lantai 60. Lift khusus karyawan."
Lift. 60 lantai. Naik bersama orang-orang yang gajinya 10x lipat dari aku.
Pintu lift kebuka. Isinya 5 orang. Semuanya pakai jas. Wangi parfum mahal. Ngobrolin saham.
Aku nyelip di pojok. Paling pendek. Paling miskin. Paling gugup.
Ting. Lantai 59.
Ting. Lantai 60.
Pintu kebuka.
Dan disanalah dia.
Draven Kiero.
Dia berdiri di depan meja resepsionis, punggung menghadap lift. Jas hitam tailored, rambut hitam rapi, bahu lebar. Asistennya, Pak Hendra, membungkuk 90 derajat di sebelahnya.
Dia belum nengok. Tapi auranya... Tuhan. Dinginnya bisa bikin ruangan ber-AC ini tambah 5 derajat.
"Pak Hendra, tolong batalkan semua meeting hari ini kecuali dengan investor Jepang jam 3," suaranya rendah. Serak. Berwibawa. Tiap kata kayak perintah.
"Siap, Pak."
Baru setelah itu dia menoleh.
Mata kami bertemu.
Mata hitam. Tajam. Menilai. Dari ujung rambutku sampai ujung heels.
1 detik. 2 detik.
Tidak ada senyum. Tidak ada kedipan. Tidak ada apa-apa.
Kayak dia lagi liat hiasan meja.
"Lagi?" gumamnya pelan. Cuma aku yang denger karena lift masih kebuka.
"Lagi ada magang baru yang nyasar ke lantai ini."
Sakit.
Aku buru-buru nunduk dan keluar dari lift. Wajah panas.
"Ikut saya, Mbak," kata resepsionis, Mbak Dita. "Meja Anda di area open space. Depan ruangan Pak CEO."
Depan. Ruangan. CEO.
Nara beneran gak main-main.
Mejaku kecil. Laptop second. Dan tepat 3 meter di depanku, ada pintu kayu hitam dengan tulisan emas:
*DRAVEN KIERO - CEO*
Aku duduk. Nafas masih kacau.
Pukul 08.00. Hari pertama. Hari ke-1 dari 60 hari.
Pintu kayu itu kebuka.
Draven keluar. Tanpa menoleh ke arahku sama sekali. Dia jalan cepat ke arah pantry, diikuti 3 direktur.
Tapi sebelum masuk lift, dia berhenti. Menoleh sekilas ke arahku.
Lagi.
"Namamu?"
Suaranya bikin bulu kudukku berdiri.
Aku berdiri refleks. "A-Aira, Pak. Magang baru divisi Marketing."
Dia mengangguk sekali. Singkat. "Jangan berisik."
Terus dia masuk lift. Pintu ketutup.
Dan aku ditinggal berdiri dengan jantung yang rasanya mau keluar dari d**a.
60 hari.
Misi dimulai.
Target: Pria paling dingin di Jakarta.
Status: Dia bahkan gak ingat namaku 5 detik kemudian.
Tapi aku Aira Maheswari.
Dan aku gak mau bayar 50 juta.
Game on, Pak CEO.