Dua Puluh Sembilan

858 Words
 Secara perlahan-lahan tubuh Boy pun kembali normal sebagai anak remaja berusia 17 tahun, dan ia pun terjun terjatuh ke bawah karena tenaganya sudah benar-benar terkuras akibat pertarungan ini.  Kapten Axel pun dengan segera menangkap tubuh kecil Boy yang telah kehilangan sebagian besar tenaganya.  “Aww! Anda telah memenangkan pertarungan ini Tuanku.” Ucap Axel sambil menopang tubuh Boy yang kelelahan.  “Axel, terima kasih telah membantuku,” Lirih Boy.  “Maafkan aku Tuan karena tulang-tulangku ini benar-benar tidak layak menggendongmu.” Kata Axel yang merasa tubuhnya yang tanpa daging itu bisa membuat Boy tidak nyaman.  “Hahaha..” Boy hanya tertawa, dia baru sadar kalau monster tengkorak ini yang membantunya. Untungnya Boy sudah terbiasa dengan keadaan di dimensi lain ini, jika tidak dia akan pingsan ketakutan.  Para monster menyambut kedatangan Boy dengan kegembiraan dan kebanggaan atas kemenangannya melawan Salazar.  Para monster zombie yang dipimpin oleh Jack O’ Lantern bertekuk lutut dihadapan Boy yang masih berada di atas tulang tangan Kapten Axel, mereka menunjukkan penghormatan kepada tuan yang dibanggakannya.  “Selamat atas kemenangan Anda Master Boy!” Ucap Jack dengan penuh hormat.  “Hahaha melihat hal ini membuatku merasa malu. Di Kehidupanku di masa lalu tidak ada yang memberikan rasa hormat kepadaku ketika aku menyelesaikan tugasku, bahkan dengan bertekuk lutut seperti ini.” Kata Boy merasa malu dengan perlakuan yang ditunjukkan oleh para monster yang menganggapnya sebagai tuannya.   “Kau benar-benar hebat sekali Boy-san.” Puji Fay menghampiri Boy dan Axel.  “Nyawwh~ aku tidak tahu darimana asalmu dan juga kekuatanmu, tapi aku sungguh-sungguh berterima kasih karena telah menyelamatkan nyawa kami nyaww.” Kata Luna mengucapkan rasa terima kasihnya.  “Hmm… melihat kekuatanmu rasanya akan menjadi suatu kebodohan jika aku menjadikan dirimu sebagai musuhku.” Kata Avriel yang mulai menunjukkan sikap terbuka kepada Boy.  “Gyahahaha akhirnya kau sadar juga dengan kehebatan tuanku ini! Avriel!” Kata Axel melihat saudari angkatnya yang sudah mengakui kemampuan tuannya itu.  “Fren..ken.. Tuan Boy, cobalah minum ramuan ku ini. Ini adalah potion yang aku buat sendiri dan ini akan memulihkan tenaga mu kembali.” Frenkenstein menawarkan sebotol ramuan potion berwarna biru terang kepada Boy.  “Oh baiklah akan ku coba..Terimakasih.” Mendengar ramuan potion mengingatkan Boy dengan minuman pemulih kesehatan dalam sebuah game RPG yang pernah dia mainkan, lalu dia pun menerima potion yang diberi oleh monster berkepala kotak yang besar itu.  Boy mencoba meneguk blue potion yang diracik oleh Frenkenstein. Lalu berangsur-angsur tenaga Boy pun mulai kembali.  “Huwow! Sebagian tenagaku sudah kembali, sekarang aku mampu untuk berdiri kembali!  Terimakasih banyak Frenken!” Seru Boy setelah merasakan khasiat dari blue potion racikan Frenkenstein yang benar-benar sosok monster jenius yang pernah ada.  “Hehehe Frenkenstein Senang bisa membantumu Tuan.” Kata Frenkenstein yang senang ternyata ramuannya berkhasiat.  “Heeeee! Kau punya potion ini Frenken-san!? Kenapa saat kau terluka tidak kau minum itu?” Tanya Fay.   “Hehehe aku hanya punya satu saat ini, jadi sangat disayangkan kalau aku yang menggunakannya. Lebih baik orang yang benar-benar memerlukannya yang sebaiknya menggunakan potion ini.” Jawab Frenkenstein yang begitu memperdulikan keadaan orang lain daripada dirinya sendiri.  “Nyaawwh~ ternyata kau bisa meracik potion Frenkenstein! Kau memang layak disebut Professor nyaaww.” Puji Luna.  “Ah iya, bukannya kau juga suka meracik-racik sesuatu jugakan Luna?” Fay mengingat kucing hitamnya itu juga suka meracik ramuan sihir ketika berada di ruang penelitiannya di rumah mereka.  “Aaah nyawh, itu karena dulu aku juga se..” Belum selesai melanjutkan kalimatnya tiba-tiba terpotong oleh Putri Avriel.  “Frenkenstein! Aku baru tahu kalau kau bisa berbicara selancar itu?! Dan kau bisa membuat blue potion itu?! Kau membuatku terkejut! Apa kau mempelajari ini semua dari Salvador?” Avriel terkejut melihat monster yang selama ini dia anggap bodoh dan tidak berguna itu ternyata bisa membuat sesuatu yang luar biasa.  “Fren..ken.. Aku sedari dulu mau mengatakan sesuatu padamu Putri Avriel, tapi kau selalu memotong ku dan pergi meninggalkan.” Keluh Frenkenstein yang selama ini ingin memberitahukan sesuatu pada Avriel, tapi sikapnya yang acuh dan merendahkannya membuatnya kesulitan untuk berbicara dengan Sang Penguasa Istana Sayap Barat itu.  “Gyahahaha! Makanya kau harus belajar mendengarkan perkataan orang aww! Dasar putri bodoh yang bahkan tidak mengetahui potensi bawahannya sendiri!” Ejek Axel.  Putri Avriel pun terlihat kesal mendengarkan perkataan Kapten Axel, walaupun sebenarnya perkataannya itu ada benarnya.  Di tengah perkumpulan mereka tiba-tiba La Llorona salah satu monster laba-laba putih berlari sambil menangis ke arah mereka sambil membawa mahkota Sang Ratu Mia ditangannya.   “Rona! Apakah kau sudah menemukan Ibunda Ratu gumo?! Dan apa yang ada ditanganmu?! Bukankah itu milik Ibunda Ratu?!” Tanya Jorogumo melihat adiknya itu datang dengan panik dan sedih.  “Roraa! Labbaalabla roraroorarara” La Llorona si monster laba-laba putih dengan corak ungu menjelaskan pada kakaknya Jorogumo.  “Apa Nyawh! Ratu menghilang dan kau menemukan ini di dalam Gua Camazotz?!” Luna terkejut mendengar cerita La Llorona  “Gumo! Ibunda menghilang bersamaan dengan Aries juga?!” Begitu juga dengan Jorogumo yang semakin khawatir karena sang ratu menghilang ketika bertarung dengan wanita succubus Aries.  Melihat kejadian ini Boy pun meminta mereka untuk menceritakan apa yang tengah terjadi dan keterlibatan Aries yang pernah ia temui ketika pertama sampai di Pulau Kelelawar ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD