Aku menghela napasku kesal saat membaca pesan dari pengusaha sawit itu. Pengusaha sawit yang seharusnya bertemu aku hari ini, untuk membicarakan salah paham gara-gara si Marissa. Berhubung aku sudah terlanjur memesan minum, aku menilih untuk duduk-duduk sebentar di sini. Lagi pula, aku sedang tidak ada kerjaan juga. Kerjaan di butik sudah mulai dibantu Ghiska sambilan kuliah. "Kak Dio," panggilan pelan dari dua meja di depanku membuyarkan segala macam lamunanku. Di meja depan sosok Aghni melambaikan tangannya semangat. Dia duduk sendirian dengan segelas green tea frappe. Tanpa aku minta, Aghni berjalan pindah ke mejaku, dia membawa serta gelas minuman yang masih penuh. "Wah gak nyangka aku ketemu kakak ipar di sini," ujar Aghni yang kini duduk di kursi kosong sebelahku. Aku tersenyum

