honeymoon. Nanti kalo kerjaan kamu udah beres. Nyusul, ya!
Aku hanya bisa menghela napas panjang. Kala membaca chat yang di kirimkan Kak Audy siang tadi padaku, tetapi baru bisa k****a malam hari.
Memilih mengabaikan pesan itu, aku pun melemparkan ponselku ke pojok tempat tidur, dan merebahkan tubuhku yang terasa penat sekali. Bukannya aku tak ingin membalas chat itu. Hanya saja ... aku cuma bingung harus balas apa?
Pasalnya, Aku baru saja tiba di Hotel, setelah seharian berjibaku dengan masalah kantor cabang yang ternyata cukup rumit. Kepalaku sudah penat, dan tubuhku juga sudah sangat lelah karena belum istirahat sedikitpun dari pagi. Jadi, tolong biarkan aku
tidur dulu. Boleh, kan? Lagi pula, aku harus balas apa, coba?
Oke? Aku gak mau janji. Lihat nanti? Aku tak ingin mereka mengharap. Atau ... ‘gak bisa’, kesannya kasar sekali. Iya kan? Maka dari itu, dari pada pusing lebih baik aku diam saja. Toh, aku juga gak ada keinginan menyusul mereka.
Buat apa? Mereka ‘kan sedang honeymoon. Pastinya, tidak mau diganggu sama sekali. Kalau aku sampai nekat ikut. Aku hanya akan jadi obat nyamuk saja di sana. Terima kasih. Aku cukup tau diri, dan lebih baik tetap di sini.
Selain karena aku gak ada keinginan untuk ikut honeymoon bersama Kak Sean. Aku juga tak mau membuatnya makin tak nyaman dengan kehadiranku.
Cukuplah aku dibenci karena jadi benalu di kehidupan rumah tangga mereka. Cukup moment ijab kabul mereka yang kuhancurkan. Aku tak ingin merusak apapun lagi.
Bagiku, menyandang status sebagai istri Kak Sean saja, itu sudah cukup. Untuk hak dan kewajiban, aku akan mengalah. Karena
memang itulah yang harus aku lakukan, iya kan? Bahkan kalau perlu, aku ingin tinggal terpisah saja dari Kak Sean dan Kak Audy setelah ini. Supaya mereka bisa lebih bahagia tanpa harus memikirkan kebahagiaanku.
Ah, percaya diri sekali aku. Kehadiranku saja sudah jadi masalah. Mana mungkin mereka repot-repot memikirkan kebahagiaanku. Konyol sekali!